zsnr95ICNj2jnPcreqY9KBInEVewSAnK0XjnluSi

Perihal Meminjam Buku

Sejujurnya, saya paling tidak suka pinjam-meminjam buku. Alasannya sesederhana saya tidak mau berutang dan tidak mau diutangi. Tapi diluar dari itu, ada alasan kuat kenapa saya tidak senang meminjamkan barang, dalam hal ini buku.

Beberapa waktu lalu saya membaca tulisan teman blogger, Robby Haryanto. Dalam beberapa postingannya, ia bercerita banyak bagaimana relasi dengan buku-buku yang ia punya. Dari cerita bagaimana buku Dilan-nya berpindah dari orang ke orang sampai ia memegang prinsip untuk meminjamkan buku-bukunya karena beberapa alasan.

Baca juga: 3 Buku Terbaik Tahun 2020, Sejauh Ini..

Berangkat dari situ, saya berpikir sejenak bagaimana relasi saya dengan buku-buku yang saya punya. Beginilah kira-kira yang bisa saya uraikan untuk kiranya menjadi rujukan orang-orang yang ingin meminjam buku.

DILANKU, BUKAN DILANMU

Dalam postingan Robby Haryanto yang berjudul Dilanku, Dilanmu, Dilan Kita Semua, ia bercerita bagaimana ia pada masa SMA meminjamkan buku Dilan kepada teman-temannya dan kembali dalam kurun waktu satu tahun. Hal menarik, Robby belum tuntas membacanya. Saat buku itu kembali, ia membaca tuntas kemudian menjualnya. Dari situ, ia kemudian menjadi orang yang senang meminjaman bukunya.

Terakhir saya lihat, ia menggagas wadah peminjaman buku. Membaca postingan Robby, saya menggeleng-geleng. Sebab, rencana mulianya sangat bertolak belakang dengan yang saya yakini.

sumber: blog.mizanstore

Ini bukan perkara pelit ilmu. Lebih jauh dari itu, ini masalah nilai sentimental saya terhadap buku. Sejauh yang saya ingat, tidak ada satupun dari koleksi buku di lemari saya hasil dari pembelian atau pemberian orang lain. Sejauh yang saya ingat, hampir 90% dari buku saya adalah hasil beli sendiri. Dari tabungan uang jajan, THR dan lain-lain. Jadi, emosi sudah tercipta saat berada di depan kasir.

Baca juga: Fenomena Dilan

Maka saat ada orang yang datang dengan tujuan meminjam buku, saya akan berkata tidak. Ini Dilanku, bukan Dilanmu.

BUKU PERTAMA

Cerita ini sepertinya sudah pernah saya tulis, tapi akan saya ceritakan kembali. Beberapa tahun saat masa SMP, itu adalah pertama kali mengenal buku. Maksud saya, benar-benar mengenal buku dari sisi emosional. Sebelumnya, saya hanya tau ada buku pelajaran, cerita fabel di perpustakaan, dan cerita horor 2 ribuan di depan SD.

Buku tersebut adalah Marmut Merah Jambu karya Raditya Dika. Saya tertarik membeli buku itu karena melihat seorang teman membeli buku Manusia Setengah Salmon. Karena penasaran, saya iseng baca secuil. Eh, tau-tau suka dan akhirnya beberapa hari kemudian saya kembali ke Gramedia dan membungkus buku dengan judul yang lain.


Saya masih ingat, pertama kali ke Gramedia seorang diri menggunakan angkutan umum. Gramedia waktu itu masih berada satu gedung dengan Rabam. Saya masih ingat juga,  saat berada di perjalanan pulang tidak menyentuh buku tersebut hingga benar-benar tiba. Setelah di kamar, baru saya merobek plastik buku dengan perlahan, dan menemukan satu kesenangan lagi: aroma buku.

Baca juga: Mengenal Cerita Lewat Buku

Dari sanalah, saya mulai rajin ke Gramedia. Membeli satu atau dua buku setiap dua minggu. Waktu itu, buku masih terbilang murah. Dengan tabungan uang jajan seminggu, saya sudah bisa membeli satu buku. Sekarang, entah perasaan saya saja tapi buku sudah semakin mahal.

HELLO, MY NAME IS DORIS

Kalau kata Mama saya,"kamu itu kayak pengepul saja,". Sebab, saya menyimpan barang-barang yang pada manusia normal seharusnya dibuang saja. Misalnya, earphone-earphone rusak bekas saya. Ada beberapa yang saya simpan, mungkin 5 atau 7. Saya juga tidak tahu gunanya, tapi saya merasa masih punya nilai emosional disana.

Ini hanya tinggal sebagian

Maka tak heran, jika buku-buku punya saya (meski kurang terawat) tetap saya jaga sebisa mungkin. Saya bersihkan setahun sekali, saya baca ulang beberapa buku, bahkan saya menata ulang setiap merasa tak elok dimata saya. Mungkin, jika ada yang menggambarkan saya pada karakter film, itu adalah Doris dalam film Hello, My Name is Doris (2015).

Film tersebut bercerita tentang perempuan lansia yang mencoba mendapatkan hati seorang berondong. Yang menarik adalah karakter Doris, dimana ia mempunyai kepribadian menyimpan barang-barang bekas. Ia merasa punya hubungan emosional dengan barang-barang tersebut. Sehingga, jika kita melihat rumahnya dipenuhi oleh barang-barang tersebut.


Jika sudah menonton, saya tak perlu lagi mendeskripsikan isi kamar saya. Ada beberapa barang yang menurut Mama saya sudah patut berada di tempat sampah. Tapi bagi saya, selama masih punya ruang di kamar saya kenapa tidak disimpan saja. Meski sebenarnya, bertolak belakang dengan Seni Hidup Minimalis karya Francine Jay yang pernah saya baca.

ALASAN ALTERNATIF, KLISE, TAPI SEBENARNYA ESENSIAL

Disamping dari alasan-alasan tersebut, ada alasan utama yang jika dikatakan cukup klise. Saya tahu, saya bukan orang yang tepat menjaga barang. Maka dari itu, saya mencoba meminimalisir dalam meminjam. Perasaan takut, was-was, dan cemas ketika menghilangkan barang sering saya rasakan.

Waktu itu, saya masih ingat meminjam buku catatan seorang teman. Tiga hari berselang, saya mengembalikannya. Ia tidak berkata apa-apa. Tapi peminjaman buku selanjutnya, ia menolak. Katanya, saya telah membuat bukunya kusut. Setelah saya lihat, ternyata benar. Saya berbalik arah dan kembali ke tempat duduk. Mungkin karena iba, sepulang sekolah ia meminjamkannya.

Dari situ, saya mulai berpikir untuk tidak lagi meminjam apa-apa jika tidak benar-benar terdesak. Karena kebutuhan riset, beberapa waktu lalu saya membuat kartu Perpustakaan Daerah. Saya sempat meminjam beberapa buku dan akhirnya memilih untuk tidak lagi meminjam. Saya capek, harus kembali seminggu sekali untuk memperpanjang masa peminjaman. Sulit bagi saya membaca buku dengan keadaan seperti itu.

Ternyata, langkah paling baik bagi saya adalah mengumpulkan uang dan membelinya sendiri, memilikinya sendiri, dan menikmatinya sendiri. Sehingga, saya bisa berlama-lama membaca dan menikmatinya kapan saja.

Baca juga: Ritual Membeli Buku

Saya menutup diri meminjamkan buku karena hal-hal tersebut. Hal-hal yang tidak sesepele kata: pelit. Bahkan, setiap alasan mempunyai background story-nya sendiri. Saya tidak ingin meminjamkan buku karena takut bukunya robek, kusut, atau hilang dan terkena air. Sebab, perjuangan untuk memiliki satu judul buku bisa berhari-hari, berminggu-minggu.

Saya membeli buku dari SMP. Koleksi buku saya masih sangat sedikit. Sampai detik ini, belum ada niat semulia Robby, belum ada niat membuat perpustakaan untuk teman-teman, belum ada niat membuat taman baca atau meminjamkannnya. Tidak ada. Mungkin belum saat ini.
Related Posts

Related Posts

8 comments

  1. Waaah, menarik. Kayak reaction dari tulisan saya, Hul. Huehehe. Mantep lah. Dilanku, bukan Dilanmu. Lucu juga :D

    Gapapa Hul, tiap orang bisa ketemu titik tertentu kebahagiaannya dengan buku. Saat ini saya suka meminjamkan buku, ke depannya belum tentu. Dinamis. Doain ya bro bisa bawa banyak manfaat dari buku-buku yang bertumpuk *promosi

    ReplyDelete
  2. Gak tau iseng aja pengen baca tulisan yang ini. Keren juga ulasannya, mewakili segenap manusia yang memiliki rasa was-was untuk meminjamkan buku. Oiya btw saya juga udah baca tulisannya Robby, pas baca tulisan yang ini berasa ada sudut pandang yang berbeda ya. Setiap orang memang punya kacamata yang berbeda-beda😅

    Lihat cover Marmut Merah Jambu, saya ingat beli buku itu pas SMA. Kami ada tugas bikin resensi buku, serta bukunya disumbangkan ke perpustakaan. Dulu harganya masih sangat menjangkau, entah kenapa rasanya sekarang harga buku udah mulai melangit. Apalagi kalo penulisnya terkenal, dahlah pasti mahal. Tapi, gak bisa dielakkan sih, namanya juga barang komersial. Ada aja pasti yang ingin mendongkrak pendapatan :')

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya, baik untuk Robby mungkin belum tentu baik untuk saya. Yang saya percaya, tidak ada niat buruk dari berbagai alasan tersebut.

      Hahaha, kalo kamu belinya pas SMA, gimana saya yang SMP. Berasa tua sekali.

      Delete
  3. Saya juga nggak suka minjem buku ke orang lain karena takut orang yang meminjami saya buku tsb jadi kecewa atau tidak suka akan perlakuan saya ke buku-nya dan itu membuat saya jadi nggak nyaman buat pinjam buku ke orang lain, apalagi kalau orang tsb memiliki nilai emosional terhadap buku-bukunya kayak dirimu. Tapi saya nggak masalah meminjamkan buku ke orang lain, asal dijaga betul pas bacanya hahaha.

    Makanya sekarang saya lebih senang minjem di perpus aja. Btw, ada perpus indie di Jakarta yang bisa minjem buku lewat online, perpanjang lewat online, semua mudah. Jadi nyaman kalau mau minjem buku, lumayan menghemat kantong juga hahaha.
    Semoga sistem kayak gini juga ada di Sulawesi, jadi menumbuhkan minat baca ya 😊

    ReplyDelete
    Replies
    1. *tambahan :

      Saya suka tulisan-tulisanmu tentang buku. Menarik sekaliii.
      Jarang banget nemu blogger laki-laki yang tulisannya ringan tapi berbobot kayak Rahul (saya panggil nama aja ya, karena ternyata saya lebih tua hahaha)

      Salam kenal 😊

      Delete
    2. Di Sulawesi, khususnya kota saya sudah ada aplikasi peminjaman buku elektronik. Inovasinya bagus, mengikuti jejak IPusnas. Tapi sayangnya, bukunya sangat sedikit. Kalo ada satu handphone dengan kapasitas memori minimal instal 1 aplikasi, lebih worth it instal IPusnas.

      Terima kasih Kak Lia. Saya cuma pengen bahas perihal meminjam buku yang ditulis Robby, tapi dari perspektif yang lain. Biar ada komparasi untuk orang lain.

      Delete
    3. Wah, semoga aplikasi perpunas di daerahmu bisa update terus ya. Jadi pilihan bukunya semakin banyak 😁

      Ipusnas memang keren. Saya juga nggak nyangka kalau pemerintah bisa bikin aplikasi kayak gini. Bermanfaat banget buat menambah minat baca masyarakat.

      Sama-sama. Keep writing ya!

      Delete
Terimakasih sudah membaca. Sila berkomentar terkait tulisan ini.