Ritual Membeli Buku

Karena senang baca buku, ritual beli buku jadi hal yang sangat sakral. Ada perbedaan yang cukup signifikan antara cara beli buku dulu dan sekarang. Dan itu banyak dipengaruhi oleh perkembangan teknologi dan pola pikir.

Perlu saya katakan, dulu harga buku tidak semahal saat ini. Mungkin karena pajak, jumlah produksi kertas dan lain-lain, saya juga tidak begitu mengerti. Yang jelas, dulu saya bisa seminggu sekali main ke Gramedia dan membungkus satu atau bahkan dua judul buku untuk dibaca.

Baca juga: Mengenal Cerita Lewat Buku

Perkembangan bacaan juga sangat terlihat. Dulunya, saya dikenalkan dengan personal literature. Personal literature saat itu semacam genre untuk buku yang berisi pengalaman pribadi penulis. Itu adalah masa keemasan Raditya Dika di dunia perbukuan. Buku-bukunya laris dan dapat adaptasi film.

Buku-buku waktu itu condong ke arah sana. Sampai akhirnya, semua berubah karena opsi hiburan sudah semakin banyak. Ini juga banyak diobrolkan bersama Moammar Emka dan Raditya Dika di podcastnya.

Baca juga: 5 Podcast Favorit di Indonesia

Seiring waktu, harga buku terasa semakin mahal. Intensitas membeli buku jadi menurun. Sempat sebulan sekali, tiga bulan sekali, sampai sekarang saya mencoba untuk mematenkan waktu tersebut menjadi dua semester.

Semester pertama adalah pertengahan tahun, dan semester kedua adalah diakhir tahun (pada saat Harbolnas, biasanya).

Ritual ini cukup worth it kepada saya. Saya jadi punya waktu untuk membuat daftar buku yang ingin dibeli, sebelum akhirnya membeli borongan buku pada waktu tertentu. Biasanya, saya akan beli empat sampai delapan buku.

Banyak? Tidak juga sih. Soalnya jarak waktunya enam bulan. Waktu baca dan menghabiskan cukup panjang untuk dua atau tiga buku saja. Tapi tak jarang, menyisakan buku yang masih tersegel pada tenggat waktu pembelian buku baru.

Semester 2 tahun 2018, saya sempat membeli borongan dari paket Mojok. Dapat 8 buku dengan harga yang cukup murah. Meski begitu, masih ada dua buku yang belum saya tuntaskan. Belakangan saya berpikir untuk mulai kembali rajin membaca. Ini juga dipertimbangkan dengan intensitas saya dalam membeli buku. Takutnya saat mau membeli, masih banyak buku yang belum selesai.

Ritual Membeli Buku

Kemudian disusul dengan belanja kedua karena pada waktu itu Gramed sedang cuci gudang. Ada banyak buku yang dijual murah. Saya membeli 3 buku antara lain 1 komik dan 2 novel.

Ritual Membeli Buku

Semester 2 tahun 2019 agak berbeda. Saya hanya membeli dua buku. Uncommon Type karya Tom Hanks dan Nyonya Bovary karya Gustave Flaubert. Itu karena beberapa buku masih belum dibaca. Sehingga, saya hanya membeli buku yang benar-benar saya inginkan.

Meski telah ada pembagian semester, tak jarang saya tergoda Pre Order dan paket-isi-banyak-harga-murah. Terakhir, saya mengikuti PO buku Helen dan Sukanta karya Pidi Baiq. Terlepas dari itu melanggar peraturan dua semester, buku itu akhirnya jadi bahan penelitian saya pada tugas kampus.

Perubahan selanjutnya adalah cara membeli buku. Yang dimana dulunya saya rajin ke Gramedia, sekarang saya lebih senang menjelajahi toko buku daring yang variasi bukunya beragam. Tak jarang, buku di toko daring tidak dijajakan di Gramedia. Jadi, belanja online adalah pilihan tepat saat ini.

Saya tinggal mencari satu toko agar tidak double biaya ongkir, dan memasukkan daftar buku-buku di keranjang. Tak jarang, ada beberapa buku di toko yang berbeda. Dan itu menjadi pertimbangan yang cukup serius saat menyangkut biaya ongkos kirim. Perlu ditekankan bahwa biaya ongkir adalah masalah yang cukup serius. Apalagi hitungan Jawa-Sulawesi, 1 kilo sudah setara 1 harga buku.

Baca juga: Perihal Meminjam Buku

Maka dari itu, untuk pintar mencari diskon dan cashback adalah jalan ninjaku. Ada banyak toko buku yang menawarkan potongan harga dengan total belanja yang sudah ditentukan, dan itu cukup membantu mengimbangi biaya ongkos kirim ke Sulawesi yang cukup mahal.

Semester 1 tahun 2020 ini, saya membeli 8 buku dengan harga yang relatif murah dari 2 toko daring. Saya akan membahasnya pada postingan yang lain.

Ritual membeli buku adalah hal yang sakral bagi saya. Ada banyak pertimbangan dan itu telah menjadi proses yang menyenangkan. Bagaimana sebuah buku kadang bolak-balik dari katalog ke keranjang belanja, sampai akhirnya benar-benar dibayar. Terkait uang, kita semua memang sekritis itu.

Saat kurir telah sampai, saya jarang ada di rumah dan menerima secara langsung. Paling nyasar dulu ke tetangga atau diterima oleh Mama saya. Karena dulu terlalu sering membeli buku, Mama dan Tante saya cukup sering bertanya,"untuk apa sih beli banyak-banyak buku?"

Waktu SMP-SMA, saya tidak punya jawaban yang cukup untuk memuaskan pertanyaan mereka. Apalagi waktu itu, saya kedapatan beli buku "Belajar Mencintai Kambing karya Mahfud Ikhwan". Pikiran mereka sudah mengarah kemana-mana.

Mungkin dikepala mereka, saya sudah mengkultuskan kambing sebagai sesembahan seperti dalam film Sebelum Iblis Menjemput. Atau mengira saya tidak lagi menyukai manusia. Saya hanya bisa diam saat itu.

Tapi karena telah Kuliah, dan sudah menginjak semester-semester sibuk, saya jadi punya alasan,"referensi bahan kuliah, Mama."

Post a Comment

23 Comments

  1. Sebagai yg tinggal di Pulau Jawa, harga buku hari ini emang udah kelewat mahal (banyak kesalahan berkat sistem pasar Gramedia). Apalagi ditambah ongkos kirim yg mencekik.

    Ebook saya pikir muncul jadi solusi buat ini. Saya sekarang lebih banyak baca via Google Books, meski masih juga baca buku fisik.

    Soal Helen dan Sukanta, pengen sombong kalau saya jadi salah satu 'konsultan sejarah' dan proodreader novel itu. Ga nyangka juga jadi bisa makan jengkol bareng surayah haha.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya sih, tapi kayaknya keuntungannya juga banyak kalo tinggal di Pulau Jawa. Mungkin karena mayoritas penjualnya ada di sana juga yah.

      Sampai sekarang, masih belum terbiasa membaca ebook. Saya lebih senang dengan fisik (diluar dari harganya).

      Eh, jadi pengen ketemu dan ngobrol bareng Ayah

      Delete
    2. Ada alternatif lain, misalnya kayak koran, di tiap daerah ada penerbitannya sendiri, pusat tinggal ngasih salinannya, nanti dicetak sendiri2. Penerbit internasional juga sistemnya macam gini, bikin percetakan di Singapura, ini buat ngejangkau yg di Asia Tenggara, biar ongkir ga mahal.

      Saya juga dulu yg termasuk anti ebook, ternyata setelah dicoba malah ketagihan, dan seringnya pake ini, malah jumlah buku yg dibaca jadi lebih banyak. Biasa baca lewat hape. Logikanya sih kita bisa baca timeline medsos sampe berjam2 kok baca ebook ga bisa.

      Padahal Helen Sukanta itu mau ada rencana roadshow, udah ditandain buat jadi pengulas soal aspek fiksi dan fakta sejarah novel itu. Kemarin cuma sampe acar tur di Bandung buat novel itu.

      Delete
    3. Kalo seperti ini, kayaknya semua jauh lebih mudah dan murah. Tapi gapapalah, kalo kemurahan juga saya nanti hanya keranjingan beli aja.

      Logika itu pernah saya terapkan. Tapi sayangnya tidak bisa. Paling dihape cuma baca-baca blog, cerpen, dan puisi. Sekali waktu pernah baca novel juga, dan tamat. Meski agak sulit, saya rasa itu karena memang pace-nya enak dan tulisannya cukup ringan untuk dibaca.

      Iya, saha juga liat itu. Saya sih sekarang nunggu filmnya saja, karena berharap ikut roadshow-nya juga sangat mustahil

      Delete
  2. Saya sepertinya kalau dibanding dulu sudah jarang beli buku, mas 😁 semisal jaman dulu sebulan bisa 4x ke Gramedia, sekarang mungkin setahun cuma 2x saja haahahahaha. Paling kalau ada buku yang saya inginkan, akan saya cari di Dojo Buku Tokopedia langganan saya 😂

    Mungkin karena kesibukan sudah berbeda, waktu senggang juga sudah nggak begitu banyak dan prioritas pun sudah meningkat, alhasil buku bukan lagi di daftar urutan utama 😆 hehe. Bicara soal genre, kesukaan saya masih itu-itu saja, nggak jauh dari, biografi, business dan financial 😁 kadang diselipi buku-buku quotes simple seperti NKCTHI, Self Acceptance endeblabla 😍 namun untuk novel, sudah nggak ingat kapan terakhir baca 🙈

    ReplyDelete
    Replies
    1. Sekarang memang toko daring adalah solusi yang cukup efektif, baik dari segi waktu dan harga

      Delete
  3. lah iya, trik membeli sistem borongan dan sabar2 nunggu kekumpul uangnya dan harga bukunya turun gitu menarik juga. asal pas harbolnas, bukunya gak ketahan terlalu lama. ada yg baru dikirim setahun kemudian. :(

    saya kadang baca gugel book, lagi banyak yg digratisin juga kemarin. atau ke ipusnas. pada mahal buku2 sekarang. tapi ngeluh mahal pun, dianggap tidak menghargai penulisnya nanti. bingung.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Itu juga sih yang nyesek, kurir datang tapi kita sudah lupa pernah mesan.

      Iya, Ipusnas kadang jadi tempat saya buat nyari-nyari buku. Selain gratis, juga aplikasinya ngga ribet

      Delete
  4. Wah.. Bukunya pasti banyak bangetbya mas... Saya suka baca buku sih, tapi jarang banget beli. Seumur hidup beli buku cuma 2 kali. Itu aja milihnya lama bener, kalau pengen baca buku paling ke perpustakaan kot atau cari buku buat dibaca online.

    Itu ibunya pasti kaget banget ya anaknya kok beli buku "belajar mencintai kambing"😂
    Ada-ada aja kisahnya...

    ReplyDelete
    Replies
    1. Dibilang banyak sih tidak, tapi sedikit juga tidak. Lumayan lah.

      Tidak masalah sih. Setiap orang punya prioritasnya masing-masing. Kebetulan, saya cenderung ke buku.

      Iya, aslinya sih lebih absurd dan canggung. Ha ha ha.

      Delete
  5. Eh iya juga ya, kamu di Sulawesi ya, Hul. Pasti ongkirnya besar banget. Emang kudu bersiasat deh buat beli buku dari toko buku daring.

    Saya beruntung tinggal di Jakarta. Apalagi setelah kuliah. Jadi banyak relasi yang rekomen toko buku murah di sekitar Jabodetabek~

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya, mau beli buku saja pake strategi segala

      Delete
  6. Buat konsumen di luar pulau Jawa memang terasa mahal, Hul. Saya masih ingat jelas beda harga di Gramed Jakarta dengan daerah di Kalimantan dan Sulawesi tuh bisa 25k. Kalau mau beli secara daring pun bakal terasa sama aja terkait ongkir kan. Mau enggak mau kudu beli borongan biar bisa murah sekalian.

    Tapi saya akui kebiasaanmu bisa beli buku dalam seminggu sekali itu kemewahan. Saya sejak dulu palingan tuh sebulan sekali. Diri sendiri cuma menetapkan pengeluaran minimal dalam sebulan bisa beli satu buku. Tiga tahun terakhir ini udah jarang ke toko buku langsung sih. Lebih suka beli di toko daring, sebab lebih murah dan dapat pembatas buku gratis. Belum lagi kayak yang kamu beli paket borongan dari Mojok atau apalah itu. Pernah juga 100k dapat 4 buah.

    Sekarang saya beli buku langsung cuma ketika ada bazar demi bisa dapat yang lebih banyak dengan budget seadanya. Tapi sejak pandemi ini belum sama sekali. Bersyukurlah ada iPusnas yang gratis. Haha.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Kalo itu sih bukan kemewahan. Tiap orang punya prioritas, kebetulan aja prioritasku ada di sana.

      Paket borongan memang jadi solusi paling relevan untuk saya. Meski tidak dapat dipungkiri, ongkirnta juga ikutan naik saking beratnya.

      Eh, saya juga sering baca disitu. Gratis. Karena IPusnas, tugas catatan saya jadi lebih cepat beres.

      Delete
  7. Anjirlah, awkward banget itu kayaknya ngeliat nyokap menatap dengan tatapan, "ANAKKU MENYUKAI KAMBING?"

    Btw, waktu harbolnas 2017 atau 2018 gitu kan Gramedia free ongkir ke seluruh Indonesia tuh. Kamu beli berapa buku waktu itu?

    ReplyDelete
    Replies
    1. Sama seperti orangtua konservatif lainnya, mau dijelaskan bagaimanapun pasti susah.

      Eh, saya ngga tau yang itu. Kalo tau mungkin saya beli tuh.

      Delete
  8. Saya juga merasa harga buku semakin mahal, novel-novel lokal pun harganya ikut naik. Tapi sejujurnya nggak menutup keinginan saya untuk tetap kalap sih kalau ke toko buku.

    Sayangnya sejak pandemi ini mengunjungi toko buku fisik itu adalah hal yang sangat langka untuk dilakukan. Belakangan ini saya hanya baca ulang koleksi buku yang ada di rumah. 1-2x sempat beli buku bekas import incaran di akun IG @fatchickenbooks (kalau minat buku import bekas bisa ngulik di mas, kali ada yang cocok, harganya juga nggak terlalu mahal). Dua tahun lalu sempat ada situs pinjam-meminjamkan buku secara online, namanya Bookabuku. Saya cukup aktif pinjam dan meminjamkan buku di sana. Sayangnya tahun lalu mereka resmi tutup. Saya sedih banget soalnya bisa menghemat budget untuk beli buku baru. Mudah-mudahan suatu hari nanti mereka bisa re-open.

    Btw, saya juga sama kalo belanja buku lebih baik cari satu toko yang menjual semua judul yang diinginkan. Hemat ongkir ✔

    ReplyDelete
    Replies
    1. Saya tidak begitu tertarik pinjam-meminjam sih. Tapi itu inovasi keren. Kalo beli buku bekas kayaknya menarik. Yang penting masih layak baca dan murah.

      Hemat ongkir adalah koetnji.

      Delete
  9. Asyiknya kalau punya banyak buku, kalau saya jarang banget beli buku, biasanya beli buku kalau kegoda iklan dari penulis terkenal, kayak bukunya Asma Nadia, dia kan sering branding dan tulisannya tuh jleb dan bikin penasaran.

    Jadi buku yang pernah saya beli online itu kebanyakan bukunya Asma Nadia, kalau beli langsung di toko buku, biasanya saya beli buku psikolog atau pengembangan diri, tapi jarang juga sih, lebih banyak ngalah beliin anak-anak :D

    ReplyDelete
    Replies
    1. Ngga banyak-banyak sih, mba. Cukuplah untuk dibaca ulang. Tapi memang sih, semakin kesini buku penulis favorit cukup tolok ukur mau beli buku atau tidak

      Delete
  10. Maaf salah fokus sama buku Jodi Picoult-nya karena belum lama baca itu. Buku yang bagus walaupun agak bertele-tele di bagian tengah. Apa Kak Rahul udah selesai bacanya?

    Saya juga setuju kalau harga buku makin lama makin naik. Dulu harga komik cuma 10rb, sekarang udah 25rb, udah hampir 3x lipat harganya 😂

    Jaman Raditya Dika lagi hitz banget, aah jadi keinget, dulu saya fans banget sama buku-bukunya. Sampai sekarang, masih ngefans sama Bang Radit, sama stand-upnya yang receh itu huahahaha.

    Harbolnas juga salah satu hari belanja buku fav saya! Ingat beberapa tahun lalu waktu Gramedia harbolnas diskon 50% sampai bingung mau beli yang mana karena semua ingin dibeli, eh pas udah beli, datengnya sampai 2-3 bulan. Terus nggak jelas statusnya gimana, CS yang satu dan yang lain nggak sinkron. Belakangan, mereka nggak berani diskon gila-gilaan kayak gitu lagi. Sedih 😂

    Di Sulawesi apakah ada Gramedia? Kalau ada, bisa langsung hubungi Gramedia terdekat dan minta dikirimin bukunya. Kalau kayak gitu, lebih hemat ongkir harusnya.

    Terakhir, saya juga kalau jadi mama-nya Kak Rahul, pasti akan mengira anak saya udah menyembah setan, secara baca buku judulnya "cara mencintai kambing" wkwkw. Mohon maaf tapi ini isi bukunya tentang apa? 😂

    ReplyDelete
    Replies
    1. Belum saya baca 😁

      Nah, pernah dengar juga yang diskon 50%, tapi ngga sempat ikutan. Tapi itu lama juga sih, 2-3 bulan nunggu buku. Sudah keburu lupa pernah pesan.

      Ohiya, ada. Tapi jarang sih saya melakukan cara seperti itu. Paling main ke Gramedia, kalo ada suka beli, kalo tidak yah pulang. Sekarang, lebih senang beli online dengan cara pembagian semester. Lebih efektif juga.

      Ha ha ha. Mau dijelaskan juga percuma. 😁

      Delete
    2. Iya, saya sampai lupa pernah pesan buku apa tapi tim gramedia ngingetin mulu lewat email 😂

      Sayangnya sekarang kalau harbolnas nggak semantul saat itu, buku-buku yang diskon itu terbatas pilihannya.

      Memang main langsung ke toko buku lebih asik ya! Lihat koleksi buku-buku yang ada dengan mata sendiri lebih asik hahaha.

      Delete

Terimakasih sudah membaca. Sila berkomentar terkait tulisan ini.