Tangan Kanan Memberi, Tangan Kiri Menjepret

Beberapa waktu yang lalu, viral sebuah video penjual jalangkote yang dirundung oleh beberapa orang. Penjual jalangkote tersebut bernama Rizal. Oknum perundung, sudah diamankan. Sampai saat ini, saya tidak tahu lagi perkembangannya. Yang saya tahu, Ferdian sudah bebas karena korban telah mencabut gugatan.

Setelah insiden itu, Rizal mendapatkan banyak rejeki dari pemberian orang-orang. Mulai dari uang tunai sampai sepeda motor. Tentunya itu sangat memantik empati masyarakat untuk saling bergotong royong dalam membantu.

sumber: pinterest

Dalam waktu yang berbeda, saya sebelumnya menyaksikan satu video TikTok. Isinya ada seorang pemuda India memberi sembako bersama temannya yang menjadi juru rekam. Karena pada dasarnya video TikTok itu entertaining, jadi video tersebut dibuat menjadi semacam sketsa komedi.

Seorang bapak dari rumah tersebut keluar dan terlihat bingung dengan adanya kamera. Lalu, ia masuk kembali dan keluar dengan pakaian rapi, meminta agar sendal pemberi sembako ia gunakan dan bertingkah seolah-olah menjadi orang yang memberikan sembako. Ternyata, India tidak hanya sarat makna pada film-filmnya saja. Bahkan dari video TikTok, diantara ribuan konten joget-joget.


Melihat itu, saya tersenyum getir. Kemudian saya berpikir dengan situasi yang saat ini terjadi kepada Rizal, atau bahkan orang-orang yang berjuang di tengah pandemi. Pemikiran saya berujung pada satu pertanyaan: apakah harus ada sebuah bencana untuk membantu seseorang? Banyak sekali cabang dari pertanyaan itu. Tapi itu yang terus terngiang dikepala. Berkali-kali. Pertanyaan tersebut belum terjawab, ada lagi turunan besarnya: apakah perlu mendokumentasikan penerima bantuan?

Persis dengan Rizal, kasus Ferdian Palaeka juga seperti itu. Mayoritas kita semua sibuk berdiri atas nama pembelaan terhadap transpuan di sosial media. Tapi saya agak ragu dengan sikap kita di lingkungan sekitar. Apakah kita memang pro terhadap eksistensi transpuan di tanah air. Sebab, salah satu alasan dicabutnya kasus Ferdian itu karena masih dianggap tabu.

Satu waktu, ini sebelum pandemi dihari Jumat. Bertiga dengan teman saya, kami salat Jumat di salah satu Mesjid dekat kosan teman saya. Selain karena dekat, di sana ada pemberian makanan gratis setelah salat. Beberapa kali kami ke sana dan saya mulai bertanya kepada teman saya.

"Nil, kenapa harus difoto?" kepada teman saya Danil.

"Mungkin untuk diperlihatkan kepada para donatur," katanya singkat sambil masih mengunyah.

Jika alasannya seperti itu, mungkin terdengar cukup masuk akal. Donatur meminta foto agar ia bisa melihat apakah hasil donasinya sudah tersampaikan atau belum. Yang terjadi dengan beberapa kasus adalah ini dijadikan ajang unjuk diri di dunia maya. Saya rasa tidak etis saja menjadikan penerima donatur ini sebagai objek. Apalagi, seakan-akan menunjukkan,"Saya yang kasih, lhoooo". Diluar daripada tujuannya adalah untuk memantik kesadaran orang lain.

Situasi ini juga disinggung halus pada drama Korea Itaewon Class. Pada episod perdana, perusahaan Jangga yang dahulu memberi sponsor kepada anak yatim berhenti dan pindah ke orangtua-orangtua yang menjadi isu hangat saat itu. Persis dengan kasus Rizal saat itu, dimana orang-orang berbondong-bondong memberi. Bukan mau negatif thinking, tapi masih banyak orang-orang seperti Rizal di luar sana, yang kalau tidak terekspos dan menjadi sebuah isu tidak mendapatkan apa-apa.

Saya bingung, apakah ini memang konsep empati era digital? Saya bukan orang yang suci, putih, bersih, berseri. Tapi (lagi-lagi), saya melihat ini sebagai persoalan. Dan yang bisa saya lakukan hanya mencatat. Saya tidak membahas perbuatan para perundung karena merasa tidak lebih baik dari mereka. Semoga, kita semua menjadi lebih baik dalam bersikap.

Post a Comment

23 Comments

  1. Saya mikirnya, baguslah mereka mau berbuat baik. Balik lagi, tergantung niat masing-masing mau gimana. Saya mah yang nonton seneng aja, termotivasi juga hehehe

    ReplyDelete
  2. Saya juga ga bisa menilai pakai nilai baik-buruk, benar-salah, sih untuk fenomena ini. Tapi teknologi perekamanan, dan keinginan manusia untuk tampil, ga bisa ditarik kembali, realitas yg akan terjadi terus ke depan.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya, maka dari itu saya juga tidak bisa menghakimi. Saya tutup dengan tanda tanya untuk membuka ruang diskusi.

      Delete
  3. Sebenarnya masih banyak kok di luar sana orang yang membantu tanpa mendokumentasikan. Bahkan nominalnya jauh lebih besar. Kenapa yang kita tahu hanya beberapa dan kelihatan eksposurnya besar sekali? Ya itulah kekuatan media sosial dan media daring yang semakin membuatnya terlihat besar. Bahkan seringnya dibesar-besarkan.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Algoritma sosial media memang semengerikan itu~

      Delete
  4. Hmmm cukup merenung juga aku membaca ini..

    Tapi ga bisa dipukul rata juga sih yang kasi bantuan dan diabadikan itu tujuannya unjuk diri, mungkin beberapa orang iya. Tapi beberapa yang lain tetep tulus membantu. Eh tapi semua kembali ke hati masing2 sih ya...mungkin juga kalau ada badannya, keperluan bab dokumentasi ini karena untuk ngrekap laporan pertanggungjawabannya.... hehe (jadi kayak semacam kegiatan sosialnya responsibility (csr) organisasi atau badan tersebut dan mungkin di belakang layar harus ada laporannya, jadi ada acara dokumentasinya)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya juga sih, makanya saya sempat kepikiran atas jawaban teman saya. Bahwa ternyata, itu hanya kebutuhan dokumentasi. Kalau sudah mengarah pada publisitas, itu lain lagi.

      Delete
  5. Memang kadang aku juga bingung, apakah orang yang memberikan bantuan lalu didokumentasikan itu murni karena niat menolong ataukah hanya untuk popularitas nya saja. Padahal kalo benar benar niat menolong karena Allah tidak perlu rekaman video segala ya.

    Tapi mungkin juga dia merekam agar orang lain ikut terketuk hatinya dan menolong orang lain.

    ReplyDelete
  6. Nah ini saya pernah baca tulisan yang serupa. Lupa saya detailnya bagaimana, tapi intinya tulisan tersebut juga membahas 'Kenapa sih kalo kita memberikan bantuan harus difoto?'. Hem saya sepakat mungkin didokumentasikan itu gunanya agar para donatur tau bahwa donasinya telah sampai ke yang membutuhkan hehe

    Salam kenal ya, terima kasih telah berkunjung ke blogku :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya, makanya saya juga tidak membuat pernyataan, tapi mempertanyakan. Mencoba membuka ruang diskusi.

      Delete
  7. Kebetulan saya kurang tahu tentang video viral tersebut. Tapi kalau menurut saya pribadi, memang kita hidup di era media sosial yang apa-apa musti di-posting, sehingga mungkin beberapa orang jadi salah fokus dengan tujuan utama dari apa yang mereka lakukan (termasuk saya tentunya 😅). Jadi kayaknya harus kembali lagi sih ke hati masing-masing, apa yang menjadi motivasi dan tujuan di balik semua yang kita lakukan.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya, tergantung niat masing-masing. Bisa saja saya salah. Tapi, itulah yang saya yakini saat ini.

      Delete
  8. Saya juga sering mikir begitu. Apa kalau sedekah harus difoto dulu, harus banget orang tahu kalau kita sedekah. Buat apa sih, biar orang tau kita baik?
    Yah, walaupun nggak dilarang. Tapi menurut saya lebih baik bersedekah hanya Allah yang tahu.
    Karena pemikiran itu, saya jadi males bikin status wa karena merasa orang nggak perlu tahu apa yang saya lakukan.
    Saya rebahan di rumah aja sih😁
    Intinya, niat kita aja. Mau bersedekah atau dilihat bersedekah.

    ReplyDelete
  9. Sudut pandang.
    Semuanya kembali ke sudut pandang sih kalau menurut saya.
    Dan menurut saya lagi, selama itu tidak merugikan salah satu pihak, saya rasa sah-sah saja.

    Karena sesungguhnya meski ada mudharatnya, juga banyak manfaatnya, salah satunya menginsirasi orang lain untuk mau berbagi juga, dan juga sebagai bentuk tanggung jawab terhadap donatur.

    Mungkin yang harus diperbaiki adalah komunikasinya.
    Di mana, saat kita memberi kita nanya, boleh nggak didokumentasikan? jika keberatan akan di blur wajahnya, atau dalam kondisi wajahnya tidak terlalu jelas menghadap kamera.

    Mengenai pandangan netizen memang beragam, yang jelas pasti ada yang pro dan kontra :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Bener banget, komunikasi itu nomor 1. Mendokumentasikan penerima donasi saat makan adalah tindakan yang kurang baik bagi saya. Kecuali memang disetujui, atau donaturnya ikut foto bersama.

      Delete
  10. Yang penting berbuat baik aja dulu, dan yang memerlukan bantuan bisa di tolong. Perkara sebagai ajang unjuk diri di dunia maya itu urusan Dia dengan Tuhannya, IMO 😅😁 (asalkan, setelah menyumbang lalu foto-foto di pajang di Sosmed sedekahnya gak diambil lagi, kan nyesek jadinya 😅)

    ReplyDelete
  11. selanjutnya yang akan kamu bingungkan, Hul, kemungkinannya adalah "kenapa dalam menanggapi hal aneh yang di situ kita melihat kesalahan, orang hanya berucap yg penting niatnya, yang penting baik, yang penting ini yang penting itu" yang ujungnya tak akan mengubah apa-apa. orang akan tetap dibantu selama viral, dicerca jika viral, dan berbuat semaunya asal bisa viral.

    niat tidak bisa kita kihat. kebaikan jika hanya untuk satu orang, itu pilih kasih dan topeng cari muka doang...

    ya selamat berbingung saja dengan kelakuan manusia~

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya sih, niat (baik dan tidak) kadang abu-abu

      Delete
  12. Ga heran deh yg kayak begini, tpi sih mudah"an emang niatnya memberi itu iklas ga sekedar ajang promo diri di medsos, mudah"an yg lain jg terketuk hatinya

    ReplyDelete

Terimakasih sudah membaca. Sila berkomentar terkait tulisan ini.