'Happy Old Year': Gerakan Anti Minimalisme

Gaya hidup minimalis telah banyak digaungkan oleh para influencer. Dengan dalih agar hidup lebih bahagia, minimalisme menjadi sebuah paham baru yang diyakini sebagai sebuah tolok ukur.

Beberapa waktu lalu, saat baru saja menonton dan membaca buku tentang minimalism, saya mencoba untuk menerapkan gaya hidup tersebut ke dalam gaya hidup saya. Setidaknya pada waktu itu, saya merombak tata ruang kamar saya dengan dalih minimalisme.

Belakangan saya menyadari bahwa gaya hidup tersebut tidak cocok untuk diri saya, yang cenderung emosional terhadap sesuatu. Maksudnya saya punya beberapa barang yang cukup sentimental. Tidak lagi fungsional, tapi tetap saya simpan. Misalnya erphone-earphone rusak yang masih saya simpan tanpa tahu mau diapakan selanjutnya.

Pasca Hello, My Name is Doris (2015), saya tidak yakin lagi ada film yang membuat saya suka karena hubungan emosional dengan suatu barang, misalnya. Sampai saya menonton film Thailand berjudul, Happy Old Year (2019) yang diperankan oleh Chutimon Chuengcharoensukying dan idola kaum hawa Sunny Suwanmethanon.

'Happy Old Year': Gerakan Anti Minimalisme

Premis ceritanya kurang lebih tentang seorang perempuan bernama Jean yang tengah beberes rumah dalam rangka merenovasi rumahnya menjadi gaya minimalis, namun menemukan barang pemberian mantannya.

Jika sering menonton film-film produksi GTH dan GDH, mungkin ini akan sangat berbeda dari ekspektasi sedih-luculucuan yang selama ini ditanam dikepala kita. Bisa dibilang, ini adalah terobosan GDH dan Nawapol untuk membuat drama yang serius dengan alur cerita yang dibagi layaknya bab pada buku, rasio yang tidak biasa, serta pace film yang lambat guna memberikan ruang gerak pada karakternya.

Membawa dan memasangkan Chutimon Chuengcharoensukying dan Sunny Suwanmethanon adalah langkah yang cukup menarik. Pasalnya, Chutimon dikenal sebagai siswa SMA dalam Bad Genius dan Sunny yang banyak bermain dalam film komedi. Chutimon disini terlihat lebih dingin dan tertutup, sedangkan Sunny menjadi pria cool dan kalem tanpa embel-embel kocak.

Happy Old Year menjadi film kedua antara Nawapol bersama Chutimon dan Sunny dalam Die Tomorrow (2017) dan Heart Attack (2015). Disini, kita bisa melihat sisi lain dengan aura yang berbeda dari Chutimon dan Sunny saat pertama kali bertemu. Seakan-akan, kita sudah tahu kejadian pahit yang terjadi di masa lalu.

'Happy Old Year': Gerakan Anti Minimalisme

Lapisan emosi yang dimiliki Jean cukup beragam sepanjang film. Kita bisa melihat transisi polos dalam menekuni dunia minimalis sampai kemudian mempertanyakan apakah ini memang yang ia inginkan. Dari karakter teman Jean, kita ditunjukkan relasi yang cukup dekat dengan kejadian sehari-hari: apakah kita menghargai barang pemberian atau hanya menyimpannya menjadi barang biasa yang kapan saja dapat dibuang.

'Happy Old Year': Gerakan Anti Minimalisme

Hubungan Jean dan Aim, mantan kekasihnya tidak berjalan baik. Pertemuan berikutnya membawa Jean pada dunia Aim yang lebih jauh. Aim ternyata punya pacar baru bernama Mi dan mereka tinggal serumah. Namun Jean merasakan ada sesuatu yang tidak berubah dari Aim.

Disamping dari upaya Jean untuk berdamai dengan mantannya, ia juga kembali dihadapkan dengan masalah internal dalam keluarganya yang dimana Ibunya masih berada dalam satu keadaan untuk tidak melupakan masa lalu bersama Ayahnya yang meninggalkan mereka. Ini memang menjadi fokus utama yang coba ditabrakkan antara pilihan Jean (minimalisme) dan problem keluarganya.

Happy Old Year mencoba melawan stigma gaya hidup minimalisme dan saya suka itu karena setuju. Seperti narasi pada awal film: "gaya hidup minimalisme ibarat filosofi Buddha. Intinya merelakan.". Kita tahu, sepanjang film kita akan disuap dengan prinsip merelakan melawan potongan masa lalu yang dijahit sedemikiran rupa membentuk rasa sakit dan ketidakrelaan.

Jika ada satu adegan yang cukup membekas, itu adalah adegan Aim, mantan kekasih Jean mengungkapkan segala perasaannya selama ini. Bahwa pada pertemuan awal mereka dimana Jean datang meminta maaf, ia dalam keadaan marah tapi tidak diluapkan. Aim berkata, semua yang dilakukan Jean dari meminta maaf dan menyuruhnya bersama Mi, mantan pacarnya, adalah agar Jean terbebas dari rasa bersalah karena dulu mencampakkan Aim. Deep.

'Happy Old Year': Gerakan Anti Minimalisme

Pada akhirnya, sebagai manusia kita pasti punya satu kenangan dikepala yang cukup membekas. Mungkin kenangan itu menyamar jadi boneka kecil di tepi kamar, kaset Rocket Rockers, atau jaket jeans buluk yang sering kita kenakan. 

Pra-minimalis, semua itu normal. Bahkan orang-orang yang terjebak pada satu keadaan untuk merasa benar-benar hidup tenang dengan masa lalunya. Jika sudah begitu, saya berpikir bahwa minimalis adalah produk budaya yang coba dibuat oleh orang-orang yang mencoba untuk melupakan masa lalunya tapi tidak mau sendiri.

Post a Comment

13 Comments

  1. Saya kurang setuju sih kalau dibilang minimalis itu untuk melupakan masa lalu saja. Saya sendiri sudah menerapkan gaya hidup ini sejak dua tahun terakhir dan memang lebih banyak manfaatnya. Saya jadi tidak impulsif lagi adalah salah satunya. Dan barang-barang yang ada di kamar saya hampir semuanya adalah barang-barang yang beneran masih sering saya pakai. Kalau tidak, saya keluarkan dari kamar, atau saya jual, atau saya kasih ke orang lain. Sama sekali tidak ada hubungannya dengan merelakan atau melupakan masa lalu. Anyway, jauh sebelum adanya gaya hidup minimalis, saya memang tidak pernah menyimpan barang pemberian mantan. Jadi mungkin itu juga membantu saya dalam mengubah gaya hidup.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Saya tidak bilang 'saja'. Tapi saya tidak masalah jika ada yang berpikiran hal yang bersebrangan. Karena pas ngikutin gaya hidup ini, yang saya tau adalah menyimpan barang yang fungsional saja. Sayangnya saya tidak bisa begitu

      Delete
  2. Deep banget filmnya, mas Rahul 😄

    Eniho, biasa menonton film Thailand di mana, mas? Lately sepertinya banyak yang bilang film Thailand bagus. Jadi penasaran 🙈

    Soal gaya hidup minimalis, saya salah satu yang melakukannya sekarang 😂 hehehehe. Namun bukan karena saya nggak bisa pisah sama masa lalu (tapi nggak mau sendirian alias ajak-ajak orang), melainkan karena si kesayangan hidupnya memang minimalis dari sananya jadi saya keikut dia 🤣 dan itupun bukan karena si kesayangan nggak mau minimalis sendirian sampai ajak-ajak saya hahahahaha 😆 tapi karena saya memang merasa ternyata hidup dia enteng banget nggak memikirkan barang dan ini itunya, since then saya berpikir memang hidup nggak perlu punya banyak barang 😂

    Mungkin karena saya tipe yang nggak begitu punya attachment sama barang kali yah, sebab kalau barang itu rusak, meski itu pemberian, tetap saya buang 🤣 hehehehe. However, kalau memang nggak bisa hidup minimalis, nggak apa-apa banget, itu bukan keharusan 😍 setiap orang punya cara hidupnya masing-masing. Teman saya salah satu yang nggak bisa minimalis, buat dia hidup dia itu maximalis hahaha. As long as she is happy, why not kan 😄

    Jadi jangan sampai buang barang berharga kalau memang ternyata nggak mau dan nggak bisa membuangnya. Eniwei, thank you untuk review film-nya mas 😍

    ReplyDelete
    Replies
    1. Banyak sih tempatnya, tapi untuk 'Happy Old Year' saya nontonnya di Netflix.

      Sebenarnya, hidup seperti itu bagus. Ngga terlalu emosional terhadap barang. Tapi beberapa kasus ada yang sampai tidak peka dengan sekitar. Dari dulu, saya anaknya kolektor abis. Jadi sampe ke sini sangat susah untuk berubah.

      Yap, benar sekali kak Eno. Barometer setiap orang berbeda-beda. Dan tidak bisa dipukul rata. Ada yang senang di rumah, ada yang senang hangout.

      Iya kak Eno. Sama-sama dan selamat menonton 😁

      Delete
  3. Wah kok ini premis filmnya menarik sekali!

    Menurut saya pun gaya hidup minimalis itu nggak hanya sebatas mengurangi barang-barang atau bahkan mengosongkan isi rumah kita. Setelah menelan banyak informasi tentang gaya hidup ini (dan mulai menerapkannya perlahan), minimalisme itu sebenarnya adalah mindset. Bebenah barang hanya bentuk implementasi kecil yang kita lakukan setelah menanamkan mindset tersebut. Jadi yang harus 'dibenah' sebenarnya pola pikir aja sih 😊 dan setuju dengan Mba Eno, tolak ukur kebahagiaan seseorang itu berbeda-beda. Lagipula, happiness bukan goal, melainkan sebuah perjalanan, menerapkan pola hidup minimalis salah satu prosesnya (:

    Tapi kalau soal memori dalam berupa barang, sejujurnya saya punya beberapa, dan kebetulan nggak ada yang berhubungan dengan mantan 🙈

    Btw, habis ini saya coba ceki-ceki filmnya deh. Udah lama juga nggak nonton film Thailand. Makasih mas untuk review dan tulisannya!

    ReplyDelete
    Replies
    1. Awalnya saya sangat antusias karena ini GDH, pasti akan seru-seruan. Apalagi ada Sunny. Tapi pas liat adegan pembukanya, saya langsung tau untuk tidak membawa ekspektasi itu.

      Benar kak Jane, minimalis itu tentang pola pikir. Tapi menyangkut minimalisme sendiri, kadangkala sering diidentikkan dengan membuang semua barang di kamar kita.

      Bahas tentang kutipan kak Jane, saya jadi ingat pernah baca buku "Hector and The Search for Happiness".

      Siap kak Jane, sama-sama dan selamat menonton juga 😁

      Delete
  4. Konsep hidup minimalis ini pertama kali saya dengar dari komedian Raditya, saya cuman tahu secara general bahwa hidup minimalis berarti hanya memakai dan menyimpan barang yang sering digunakan saja. Saja juga tidak menerapkan lifetyle itu.

    Btw review filmnya keren, saya jadi tertarik buat nonton dan lidah saya belibet ketika baca nama pemainnya haha.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya, Raditya Dika adalahbsalah satu yang mempopulerkan itu di Indonesia.

      Nama orang Thailand menang sukar untuk dilafalkan. 😁

      Delete
  5. Sejak menonton ini saya jadi mau mengeluarkan banyak barang dari kamar, tapi hasilnya masih belum bisa dibilang signifikan karena... sama kayak ibunya Jean yang masih menganggap suatu barang akan bisa dipakai nanti-nanti. Jadi ikatan emosional sama barang-barang juga berpengaruh. Tapi yah sudah mulai terpikirkan untuk preloved atau ngehibahin barang-barang aja sih saat ini.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya, Ibu jean itu punya nilai sentimental dengan barang di rumahnya. Sama seperi karaktet Doris dalam film My Name is Doris.

      Saya belum kepikiran jual apa-apa sih saat ini. Buku sudah banyak yang jarang dibaca dan masih sering belanja buku. Kalo sudah tidak punya tempat, mungkin akan kepikiran jual beberapa

      Delete
  6. kumerasa tertohok baca ini dongggg :D
    Karena beberapa hari lalu, saya beberes laci, saking sebal banget banyak debu dan lacinya tuh nyaris jebol saking banyak buku dan kertas dan banyak perintilan.

    dalam hati udah bertekad, pokoknya buang, semua yang nggak berfungsi lagi!

    Lalu bukalah saya si laci tersebut, dan ada beberapa kotak, isinya cash hape lama, hape-hape lama setumpuk, dan semua itu historinya melekat, lalu saya lap debunya, masukin laci lagi wakakakak.
    Kapan cobaaa bisa beneran minimalis :D

    Btw saya barusan nonton kedua orang ini di film lain sih.
    Ganteng juga ya, nggak kalah ama oppa Korea, yang ini malah lebih laki hahaha

    ReplyDelete
    Replies
    1. Beberapa orang memang disetting untuk seperti itu. Entah dianggap terjebak masa lalu atau menghargai history-nya. Tapi ngga masalah selama tidak menyiksa diri sendiri.

      Iya, Sunny memang main banyak film bagus

      Delete
  7. Aku jaraaang banget nonton film Thailand. Tapi sepertinya banyak yg bagus yaaa, termasuk film ini :). Ntr aku coba cari juga nih mas, walo agak kuatir jd kecanduan, sama kayak aku kecanduan Drakor hahahaha

    Hidup minimalis, sbnrnya udh lamaaa mau aku jalanin. Tp kok ya susah kalo partner hidup kita ga bisa ngelakuin hal yg sama.

    Suamiku tipe yg sayang ngebuang barang. Mungkin ajaran dari keluarganya .sementara aku, sebisa mungkin barang keep yg penting aja. Beli 3 baju berarti harus siap membuang 3 baju yg lama. Bukan malah ditambah.

    Jd kdg aku dan suami bentrok masalah begitu. Sampe2 aku prnh ngebuang sepatu dia yg menurutku paliiiing ga dipake. Dan ternyata Ampe sebulanan pun dia ga inget. -_- . Syukurlah :D

    Tp kalo barang dari mantan, aku ga terlalu suka nyimpen, kecualiiiii yg dikasih itu BUKU :). Aku g akan bisa berpisah dari buku2ku. BRG lain silahkan aku buang, tapi ga untuk buku :p

    ReplyDelete

Terimakasih sudah membaca. Sila berkomentar terkait tulisan ini.