zsnr95ICNj2jnPcreqY9KBInEVewSAnK0XjnluSi

Selebgram dan Lidahnya

Dari jaman baheula, ada saja cara promosi yang sangat hiperbola. Misalnya iklan teve memperlihatkan seorang perempuan yang digelapkan kulitnya, bermonolog pada penonton,"ah, aku benci kulit ini.". Kemudian seorang teman entah darimana datang,"kamu mau kulit putih? bersih?". Disinilah kita paham, bahwa selanjutnya adalah promosi suatu produk pemutih kulit.

Seiring waktu, platform promosi mulai berubah. Dari teve perlahan pindah ke digital, dimana para pengiklan menggunakan jasa selebgram untuk mempromosikan produknya. Jaman berubah, busukya tetap sama. Bedanya, hanya cara penyajianya. Misalnya promosi atau endorsement suatu pakaian,"hai, aku baru aja dikiriman sama teman aku nih. Baju ini halus banget, nyaman, kapan yah terakhir kali pake baju senyaman ini?"

Atau

"Hai, aku baru dapat baju dari @kedaimail, bajunya keren banget. Sumpah, matching banget dengan sepatu dan celanaku. Ngga rugi deh beli disana."

Itu kalau pakaian. Beda lagi dengan makanan, yang kalau diperhatikan lebih absurd dan narasi template yang sangat kebaca,"Hai, aku baru dikirimin Nasi Cumi Bakar Oseng-Oseng Balado Sambal Matah. Kita cobain yah," selebgram mulai mencocol, dengan tampilan muka selayar agar tampak ekspresi saat mencoba,"Ehm, sumpah ngga ngerti lagi. Cuminya itu loh, berasa banget cuminya. Oseng-Osengnya crunchy, ehmm. Sambal matahnya juga, pedisnya berasa gaes. Untuk yang mau beli, cek ignya di @kedaimuthu. Suaip ap."

Dengan template yang itu-itu saja, saya jadi bertanya-tanya tentang barometer enak atau tidaknya suatu makanan. Saya tahu, semua makanan yang diendorse pastinya layak makan. Tapi dengan meng-endorse rujak hari ini dengan bilang,"Ini rujak terenak yang pernah aku makan. Kalian harus cobain.", kemudian lusanya mengatakan hal yang sama pada penjual rujak yang berbeda.

Mungkin bagi beberapa orang termasuk saya, yang jarang atau bahkan tidak pernah memesan makanan dengan barometer Selebgram, itu tidak masalah. Yang masalah adalah, orang terdekat yang kebetulan menjadi 1 dari jutaaan followers selebgram tersebut. Kita tidak tahu apa yang dilakukan setelah 15 detik stories itu berakhir. Apakah ia akan tetap memakai baju itu, melanjutkan makanan yang ia sebut enak itu, kita tidak tahu.

Cara yang digunakan para selebgram itu, mematikan rasa dari makanan. Beberapa orang yang tergiur membeli dan merasa kecewa, jadi tidak tahu lagi apa yang harus ia percaya. Perkataan selebgram atau lidahnya sendiri.

Selebgram dan Lidahnya

Meski begitu, ada juga selebgram yang cukup idealis dalam memilih produk. Misalnya, ia memakai seminggu atau sebulan barang tersebut kemudian baru memberi impresi. Jadi, ia tahu kekurangan dan kelebihan barang tersebut. Biasanya, ini golongan selebgram yang cukup mapan. Ia punya power untuk tidak mengambil semua tawaran yang ada.

Kepercayaan yang diberi, kadang-kadang disalahgunakan oleh selebgram dengan dalih,"produknya bagus.". Tapi saya coba berpikir kembali, bagaimana jika saya terpaksa mengambil suatu produk, misalnya, untuk dipromosikan. Baik untuk menyenangkan pemasang iklan dan tidak mengikis kepercayaan orang.

Seperti yang sudah-sudah, saya mungkin akan mencoba produknya terlebih dulu. Kalau itu baju, saya pakai. Kalau itu makanan, saya coba. Misalnya makanan, saya akan coba dan menilai secara objektif. Kalau ada rasa yang tidak enak, saya catat dan bertanya ke pemasang iklan apakah boleh saya katakan. Kalau boleh, saya teruskan. Kalau tidak, saya batalkan.

Jika sudah begitu, saya akan mulai mengulas dari segi rasa terlebih dahulu. Mungkin kurang lebih akan seperti ini,"Terima kasih @kedaimuthu yang sudah mengirimkan Nasi Goreng Telur Dadar. Meski bisa dibuat homemade, tapi kalau pesan di @kedaimuthu bisa menghemat waktu dan tenaga," sambil menyendok nasi,"rasanya juga tidak beda jauh dengan nasi goreng rumahan. Enak dan bumbunya pas. Asinnya tidak terlalu kuat, ada sedikit rasa manisnya. Mungkin perlu ditambah rasa pedas sedikit biar rasanya balance. Untuk telurnya juga enak, teksturnya lembut. Buat yang mau beli, silahkan ke @kedaimuthu."

Standar memang, dan cenderung biasa saja. Tapi itulah endorse dari saya yang objektif jika akan melakukan hal tersebut. Pemasang iklan mungkin kurang puas, tapi saya juga tidak mengikis kepercayaan pengikut dan idealisme saya. Apple to apple.

Meski begitu, jadi selebgram mungkin kurang cocok untuk saya. Jika bisa memilih, saya mungkin akan mencoba jadi Brand Ambassador saja. Lebih konsisten dan jujur. Saya bisa setia pada satu produk tanpa menjelekkan produk yang lain. Tapi inilah saya, bukan selebgram bukan juga Brand Ambassador, hanya orang yang sering menggerutu dan kebetulan punya wadah.
Related Posts

Related Posts

34 comments

  1. Iya ya, kalau dilihat-lihat, banyak banget selebgram yang tiap hari kerjaannya endorse itu selalu mengucap dengan template yang mirip-mirip. Mungkin nggak mau nyakitin hati sang pemasang iklan.
    Banyak juga selebgram yang jujur yang kalau tidak cocok sama produknya, maka dia tidak akan review, dan saya lebih suka dengan selebgram yang seperti ini. Jadi, misalnya suatu waktu dia endorse barang, berarti benar bagus atau enak rasanya karena dia milih-milih.
    Tapi beban menjadi selebgram nggak mudah sih, saya malah belum kebayang gimana rasanya kalau harus mengiklankan suatu produk πŸ˜‚
    Tapi sikap Rahul yang pengin jujur dalam mereview, patut diacungi jempol. Tetap dijunjung hal yang seperti ini ya sampai nanti kalau ada yang mau endorse Rahul πŸ‘πŸ»

    ReplyDelete
    Replies
    1. Saya sih ngga masalah kalau barang yang diendorse dipuji-puji, kan memang dibayar untuk itu. Tapi setidaknya ada value juga yang dikasih. Misalnya, nasi goreng yang dicoba enak karena apa. Mungkin karena bumbunya, mungkin karena toppingnya. Saya bukan pakar juga sih, jadi solusi saya mungkin ngga bener juga. Tapi itulah yang saya yakini.

      Delete
  2. Saya tidak bermain Instagram makanya kurang tahu bagaimana selegram mengiklankan produknya, aku punya akun sosmed cuma Facebook saja.

    Cuma di Facebook juga sama saja menurutku, jika ada iklan biasanya membagus-baguskan produknya, padahal belum tentu produk itu bagus. Aku pernah beli baju kelihatannya bagus, Setelah bajunya datang ternyata biasa saja.πŸ˜‚

    ReplyDelete
    Replies
    1. Biasanya yang main Facebook dan ngga main Instagram umurnya langsung keliatan πŸ˜…

      Tapi bener sih, kalo mau beli barang di market place saya kadang liat deskripsi dulu. Kalo bisa, saya minta foto asli barangnya. Bukan dari foto yang dipajang. Karena biasa sudah didesain untuk terlihat keren untuk kebutuhan promo.

      Delete
  3. Aha..ha...iya juga ya masπŸ˜‚ rata-rata endorsment emang begitu, selalu memuji produknya. Emang kerjanya begitu sih...
    Tapi emang lebih baik kalau review jujur ya.. Bohong juga kan dosa.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Saya bukan mau ngurusin moral sih. Urusan masing-masing saja. Tapi kall menyangkut banyak orang, urusannya jadi agak beda.

      Delete
  4. ahahah bener banget Mas Rahul :DDD jadi mati rasa yekaaan. jujyurrr gitu enak banget ini ga paham lagi omg.......

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya, segala hal dibilang "aku ngga pernah makan seenak ini"

      Delete
  5. "Seenak itu gaes", "parah nggak ngerti lagi, mau mati rasanya" 🀣

    Mungkin sebaiknya selebgram juga belajar referensi kata-kata lain untuk review produk makanan kali, ya. Jadi nggak template dan itu-itu aja. Sebagai followers, aku kadang juga bingung, "seenak itu" tuh seenak apa?? Cuma iya sih paham, terkadang saking enaknya juga bingung ya mendeskripsikannya hahaha. Beda kalau yang review itu benar-benar seorang food blogger, bahasa mereka lebih apik. Tapi ya lagi-lagi, balik deh ke si selebgramnya sendiri hihi

    ReplyDelete
    Replies
    1. Saya tadinya mau bahas dua kalimat template itu. Tapi sudah dibahas oleh banyak orang.

      Iya, saya pengennya liat endorse itu beragam. Jadi biarpun ada iklan, kitanya juga enak untuk nonton. Kalo ngomongin food tester dan review, saya paling senang dengan Benu Buloe. Program lama yang paling senang saya ikuti. Kalo habis nonton itu, saya berasa langsung ingin masak dan makan menu episod itu. Selain menarik, Benu juga informatif. Ia tau bahan masakannya dan cara masaknya juga dijelaskan. Sayangnya sudah jarang liat beliau. Terakhir liat dia pas di YouTube.

      Kalo sekarang sih sudah banyak food vlogger keren. Ada Tanboykun, Ria Sw, atau Nex Carlos.

      Delete
    2. Yesss, Ria Sw! Kayaknya food youtuber yang aku ikutin cuma dia deh (selain channel masak-masak kayak Will Goz atau Eddy Siswanto). Seneng banget tiap kali Ria review kuliner yang jarang dibahas di pasaran. Enak aja gitu liat dia makan sambil benar-benar menikmati makanan apa adanya. Nggak jaim, tapi tetep elegan.

      Delete
    3. Tiap liat Ria SW makan pedas dalam hati saya "kok ada orang sekuat itu yah?". Padahal, Ria SW-nya biasa saja

      Delete
  6. Saya jarang mengikuti apa yang dilakukan oleh selebgram. Buka insya story juga sangat jarang. Cuma karena banyak ngikuti akun blogger, jadi tahu dikit tentang hal2 yang biasa mereka ucapkan.

    Hal ini hampir sama kalau blogger sedang campaign atau abis meliput event. Tulisan mereka hampir sama semua. Hehe.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya, beda platform caranya sama saja. Yang membedakan individunya saja.

      Delete
  7. Betul, kamu gak cocok jadi selebgram dengan contoh yang kamu kasih itu. Konsep yang harus dipake adalah "sedikit lebih beda lebih baik daripada sedikit lebih baik", yang dalam hal ini adalah lebay kalau merujuk kasus-kasus yang ada di lapangan. Namun, saya pun akan sebisa mungkin menjadi idealis dalam mengulas sebuah produk. Kalau jelek bilang jelek, bagus bilang bagus. Brandnya gak suka? Ya udah, berarti sistemnya jangan endorsement, beli pake uang sendiri. Lama-lama produk yang memang bagus akan berdatangan dengan sendirinya. Contoh: David Brendi yang mengulas produk teknologi. Kalau mau contoh luar, ya MKBHD sih, tetep tekno wkwk.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Ha ha ha. Saya mungkin tidak cocok, tapi masih bisa nyoba lebih baik. πŸ˜…

      Kata Pandji memang cukup melekat, tapi sebelum beda harusnya sudah bagus dulu.


      David GadgetIn memang contoh yang sangat relevan. Rekomendasi jujur dari dia yang bikin saya percaya untuk beli hape yang sekarang saya pake

      Delete
  8. Jadi selebgram yang pake template pake itu selebgram yang kurang mapan ya, yang semuanya dihajar eheheh. Ada juga yang mapan terkenal luar biasa tapi gak bisa mikir, dikasih kepsyen lah dicopas percis sampai ada teks dialog antara ahensi kwkwkw.

    Kalau saya yang punya usaha makanan, tentu saja milih-milih selebgram yang akan mempromosikan makanan saya. Nyari yang sesuai, nyari yang nggak "Sumpah makanannya enak banget, kek mau meninggal". Bhuahaha

    ReplyDelete
    Replies
    1. Mungkin kita semua akan tergoda dengan banyak uang didepan mata yang bisa disendok secara instan. Dan untuk urusan moral, itu bukan urusan saya dan tidak mau juga. Terlepas dari baik-buruknya, semua urusan individunya.

      Delete
  9. iyaa slalu denger komentar yang itu-itu aja. Makanya ku ga pernah follow selebgram itu dan jarang juga si mainan instagram. Lebih suka blogwalking baca tulisan-tulisan para blogger dan belajar dari tulisannya eheehe

    ReplyDelete
    Replies
    1. Saya main hampir semua sosial media konvensional. Tapi karena massa sata cuma teman-teman terdekat, jadinya kayak blogwalking aja.

      Saya sih harapnya blogwalking tidak sesimpel saya like foto IG kamu, nanti kamu like balik. Saya pengennya, orang komen karena menang ada sesuatu yang pengen direspon.

      Delete
    2. wooow aktif di semua sosmed kak?

      iya sbnrnya blogwalking tergantung dari pribadi masing-masing juga.. Kalo yang ikutan list BW pasti komennya mau ga mau di post yang dilistkan. Makanya sbnrnya aku lebih seneng BW pribadi karena bisa milih mao baca pos yang mana..sesuai dengan minat sendiri hehehe

      Delete
  10. Kalau review makanan saya nggak begitu terpengaruh sih biasanya, hahaha. Karena saya termasuk picky jadi nggak hobi icip icip kecuali betul-betul suka dan makanan yang dijual memang selera saya :))) jadi mau selebgram bilang enak banget sampai mau mati rasanya, yasudah saya pun biasa saja :D

    Namun lain hal kalau yang dibahas peralatan rumah tangga seperti juicer dan sejenisnya :3 kadang bisa keracunan semisal memang bagus review-nya hahahaha untung nggak sering-sering lihat ~ dan belanja tetap sesuai kebutuhan :P ditambah sudah jarang tengak-tengok IG, jadi lebih bisa tahan diri untuk nggak ikut beli-beli barang :))

    Semoga kalau one day mas Rahul jadi reviewer, bisa memberikan informasi yang sesuai dengan value yang mas punya :D semangat!

    ReplyDelete
    Replies
    1. Sama kak Eno, saya pun jarang terpengaruh sama endorsement makanan. Waktu jamannya es kepal milo, saya mungkin orang yang sangat terlambat untuk mencoba. Meskipun tante saya ada usaha jualan es kepal milo.

      Sampai sekarangpun, saya ngga pernah tau rasanya seblak. Saya sering liat, tapi untuk benar-benar mau sih tidak.

      Kalau cewek mah, yang gini-gini pasti doyan. Sama seperti Mama saya. Untungnya, Mama saya tipe orang yang jarang keluar. Paling sebulan sekali. Karena bahan masakan sering lewat di depan rumah, juga ada tante yang pergi belanja.

      Ha ha ha. Aamiin kak Eno. Semoga saya amanah 😁

      Delete
  11. wkwkwkwkwkwkwkw ngakak!
    Tau nggak berapa harga 15 detik instastories itu?
    Selebgram biasa mungkin masih sekitar 900ribuan, tapi kalau yang udah sering wara wiri di dunia instagram biasanya sampai di atas 2 atau 3 jutaan.
    Bayangkan kalau sehari instastoriesnya sampai titik-titik.
    Mungkin ada kali ya di atas 30an endorse.
    Nilainya uwow hahahah.

    Sebenarnya, sama kayak sinetron indosiar yang setiap saat dibully banyak orang, bahkan sejak dulu yang namanya sinetron di Indonesia selalu dihina, tapi selalu tayang, mengapa?
    Karena ratingnya terus tinggi, kalau enggak, nggak mungkin banget terus ditayangkan.

    Sama dengan selebgram, mereka hanya peduli dengan target marketnya, jadi meski banyak yang puyeng liat template promosi mereka gitu-gitu aja, tapi selalu menguntungkan loh buat yang endorse, meskipuuuunnn zaman now nggak semua selebgram bisa seperti itu.

    Alasan lain mengapa selebgram pakai template sama semua gitu.
    Lah 15 detik, mau ngomong secepat apapun kagak bisa dong kalau dijelasin semuanya.
    Jadi tugas mereka tuh cuman menggiring followernya ke akun atau web yang mereka promosikan :D

    Saya sering nerima job story instagram soalnya, briefnya sih cukup 1 IGS, tapi saya biaasanya jadi 4 IGS, karena saya basicnya blogger, kalau jelasin ya kudu detail, mana mungkin cukup dengan 15 detik.
    Adanya 1 menit, itupun setelah melewati editing biar nggak menuhin IGS hahaha

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya, saya sudah pernah dengar memang harganya cukup fantastis. Istilahnya, banyak-banyak lama jadi gunung everest.

      Lalu lintas pengguna memang banyak di Instagram, makanya kebanyakan selebgram promonya di IG. Saya cukup yakin kedepannya TikTok akan menyusul.

      Iya sih, benar juga. Apalagi yang sudah menerima banyak endorse. 1 produk harus dibuat seminimal mungkin agar produk lain bisa terlihat.

      Artinya kak Rey bisa dibilang selebgram dong? Ha ha ha, senang rasanya bisa dapat opini dari sisi bersebrangan seperti ini.

      Delete
  12. Hihihi , kadang akupun geli kalo liat para selebgram yg ngomongnya terlalu lebay gitu :D. Apalagi kalo produk yg mereka tawarkan agak ga masuk akal, cthnya pengganti behel yg bisa bikin gigi jd rata seperti bintang iklan Pep*odent :p. Duuuh lgs maleees. Justru mencelakakan iklan begitu

    Aku milih2 kalo soal produk yg ditawarkan selebgram. Aku liat dulu reputasi mereka, produk yg ditawarkan dll nya. Itulah kenapa aku jarang tergila2 ato fanatik Ama 1 seleb :p. Takut ntr jd ga objektif lagi memilih produk2nya :D.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Meski agak menganggu, saya tidak ada urusan dengan moral mereka. Saya mungkin berkata seperti ini karena lagi tidak menjadi selebgram. Beda cerita kalo saya jadi selebgram 😁

      Delete
  13. Sekarang memang jarang banget ditemuin influencer atau selebgram yang cukup "kredibel" buat kasi review produk yang diendorse ke dia. Malahan saya kalau sesekali nemu nem selebgram yg semacam itu langsung tak unfollow hahaha, karena sebel juga kalo harus dengerin materi promo yang sama tiap harinyaπŸ˜† Untungnya beberapa yang saya follow semuanya punya keberanian buat nyoba dulu produk-produk yang mau diiklanin, jadi gak asal-asalan. Lebih adem liat yg seperti itu kayaknya, jujur, kalau ada yg minusnya dikasih tau minusnya. Toh itu kan buat kebaikan si yang punya usaha juga😌

    ReplyDelete
  14. Duh suka sama ulasannya terkait lidah selebgram. Khususnya selebgram yang ngereview makanan yah, rata-rata sudah tercetak dengan template yang sama..."Ehm, sumpah ngga ngerti lagi...." Mungkin ini kalimat legendaris yang hampir menjadi pasaran kala selebgram ngereview. Gak heran sih, mereka dibayar untuk review tersebur. Review gratisan (aka ngomong biasa) tentu akan sangat objektif dalam menilai. Sangat kecil kemungkinan suatu produk makanan gak ada kelemahannya. Beda orang beda lidah, tentu ulasan pasti berbeda-beda :3

    ReplyDelete
    Replies
    1. Tapi itu malah lebih fair. Meski kekurangannya, kalo memang rasanya biasa saja imbasnya ke warung atau restorannya itu.

      Delete
  15. hehehe pernah nih dilingkungan temenku bahas beginian, si endorser kayak nggak konsisten gitu, maklum temen aku juga ada yang terima beginian. apalagi kalo udah ujungnya cuan nih :D
    nah masih mending kalau jadi brand ambassador, dia mengedukasi orang lain supaya mau memakai produk yang ditawarkan.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Sama aja sih, bedanya cuma privilege-nya saja. Selebgramnya bisa bilang bagus-sebagusnya, tapi masih bisa 'dipercaya', karena orang taunya dia pake atau makan itu setiap hari

      Delete
Terimakasih sudah membaca. Sila berkomentar terkait tulisan ini.