Semesta John Carney

Elemen musik dalam sebuah film sangat menunjang atensi dan reaksi penonton. Maka tak heran, elemen ini sering menjadi hal yang saya notice. Tak jarang saya mencari sebuah lagu dari film-film yang saya tonton. Meski begitu, bisa dikatakan saya jarang menonton film musikal.

Film musikal yang saya tonton mungkin bisa dihitung jari. Kecuali jika dihitung dengan film-film Bollywood, mungkin bisa menolong.

Bagi saya, musik dalam film musikal tidak hanya sekedar musik. Tidak hanya tempelan agar filmnya menjadi meriah dan tidak kosong. Musik dalam film musikal harus bernyawa. Harus mewakili perasaan dan suasana hati karakter. Disukai adalah bonusnya.

Sepanjang menonton film musikal, ada dua tokoh yang sering saya bawa dalam perbincangan. Itu adalah John Carney dan Damien Chazelle. Meski begitu, jika disuruh memilih saya akan tegas memilih John Carney.

Semesta John Carney

Pertemuan saya dengan John Carney bermula dari Twitter. Saat itu saya sedang scroll timeline seperti biasa. Kemudian muncul poster Begin Again (2014) beserta ulasan singkatnya. Beberapa waktu kemudian, saya berkesempatan menontonnya. Pada saat itu, dengan begitu kebetulan saya baru saja mengalami patah hati. Film itu sangat membekas kepada saya.

Baca juga: Musik, Playlist, dan Selera

Saya menyukai hampir semua lagu dari album soundtracknya. Dulu, saat pertama kali menonton kelas 3 SMP. Saya sampai berniat ingin maju saat prom membawakan lagu Lost Stars. Dengan kerennya berdandan ala Adam Levine diakhir film. Saya masih ingat membayangkan riuhan penonton, ada satu mata yang saya tangkap. Harpaan itu masih ada sampai sekarang.

Begin Again bercerita tentang seorang perempuan penulis lagu yang berusaha move on dari mantannya yang selingkuh, namun bertemu orang dengan masalah yang sama. Perjalanan Gretta James diuji saat ia ditantang untuk membuat album. Dan semua isi albumnya terdengar sangat personal, sama seperti lagu-lagu Pamungkas.

Tak heran, dipostingan kak Eno dan kak Jane saya menyebutkan lagu-lagu dari soundtrack album Begin Again sebagai favorit saya. Tidak berlebihan, jika mengatakan Begin Again adalah film yang saya tonton setahun sekali. Bernostalgia sambil bernyanyi. Setiap kali mendengar Adam Levine sampai dibait

And I thought I saw you out there crying
And I thought I heard you call my name
And I thought I heard you out there crying
Just the same

 

..mata saya berkaca bahkan meneteskan air mata. Memori itu seperti kaset, saya hanya perlu memutarnya lagi untuk menyaksikannya. Dan musik bagi saya adalah kapsul waktu yang nyata. Begin Again bagi saya lebih besar dari sebuah film. Terlepas dari semua intrik eksternalnya.

Saat sedang menulis ini, saya iseng memutar Coming Up Roses. Dan ini jujur, saya merinding. Bulu dibelakang leher saya naik. Dentuman suara drum, petikan gitar, dan suara Keira Knightley. Gila. Seperti ada rewind dalam kepala saya.

Pasca Begin Again, saya menonton beberapa film John Carney lainnya. Diawali dengan Once (2007) lalu ke Sing Street (2016). Tiga film dari John Carney ini macam trilogi yang mesti ditonton ulang setiap kali bingung mau nonton apa.

Semesta John Carney
Carney's Movies

Dalam film Once, adalah bentuk lain dari Begin Again. Sama-sama tentang impian, cinta, dan musik. Once bercerita tentang seorang pengamen dan penjual bunga keturunan Ceko, bertemu secara tidak sengaja dan membicarakan musik. Kalau di Begin Again Glen Hansard hanya menulis lagu, di Once ia bermain. Glen Hansard sendiri adalah sahabat dan teman band John Carney.

Kalo dalam film Begin Again ada Lost Stars, dalam film Once ada Falling Slowly dan When Your's Mind Made Up. Saya tidak begitu paham sinematografi, tapi dari film Once saya sangat senang dengan pengambilan gambarnya yang shaky macam mockumentary. Ini menjadikan kita tidak berjarak dengan filmnya.


Sedikit berbeda dari kedua film itu, Sing Street (2016) menyorot kisah seorang remaja dalam lingkungan kota Dublin, Irlandia tahun 80-an. Ia membentuk band untuk membuat seorang wanita terkesan dengannya. Lagu-lagunya asik, dibikin oleh John Carney, Adam Levine, dan Glen Hansard, sama seperti Begin Again dan Once.


Musik dalam film-film John Carney bukan hanya pengiring biasa. Bukan hanya sekadar tempelan untuk mengiringi suasana film. Musik dalam film John Carney adalah nyawa dari filmnya. Bagi saya, Begin Again tetap akan jadi romance bagus tanpa musik John Carney. Tapi dengan musik John Carney, Begin Again jadi mahakarya yang akan tetap hidup dikepala saya.

Saya tau ini terdengar sangat melankolis, tapi tidak masalah. Saya belum pernah berterimakasih kepada John Carney secara verbal. Mungkin ini sedikit persembahan untuk terimakasih saya pada film-filmnya, musik-musiknya.

Sejauh yang saya tau, belum ada film baru dari John Carney. Hanya sebuah series bertajuk Modern Love yang belum saya tonton. Mungkin masih menciptakan lagunya, saya juga tidak tau. Saya tidak masalah karena masih bisa menonton ulang 3 film itu sewaktu-waktu.

Kalau punya waktu luang, coba tonton 1 diantara 3 film ini. Kalau tidak suka dengan filmnya, saya yakin ada 1 lagu yang akan kamu suka. Mungkin akan membekas seperti saya, mungkin hanya sekedar suka. Tapi yang saya jamin, itu tidak akan sia-sia. 

Post a Comment

4 Comments

  1. hiks aku kurang update nih. kalau adam levine favorit.
    memang kalau udah liat film dan merasa soundtrack yang mengiringinya oke, penonton suka cari cari info lebih lanjut.
    cuman film si john carrey ini aku yang belum pernah nonton. aku coba kepoin dulu aja kalo gitu
    nah waktu mba eno post soal lagu favoritnya yang menjadi "soundtrack lifenya",, hanya beberapa lagu aja yang aku tau.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya, apalagi kalo senang sama filmnya, kadang nyari referensi film lain yah dari circle sutradara, penulis, sama pemainnya.

      Delete
  2. Gawat nih, saya paling nggak bisa skip kalau ada yang review film yang membekas di hati gini.

    Seolah pengen memperpanjang waktu biar bisa nonton dengan puas, sementara saya masih tertatih menonton drakor 1 yang ga selesai-selesai hahahaa

    ReplyDelete
    Replies
    1. Cuma butuh satu sih, prioritas aja. Karena 24 jam semua orang pasti sama. Jadi yah gimana itunya aja dibenerin.

      Delete

Terimakasih sudah membaca. Sila berkomentar terkait tulisan ini.