zsnr95ICNj2jnPcreqY9KBInEVewSAnK0XjnluSi

Christina Colondam, Dudi Dam hingga Koboy Kampus

Mari membingungkan anak-anak sekarang. Ada yang ingat lagu favorit masa kecilnya? Joshua? Trio Kwek-Kwek? atau Chicha Koeswoyo?

Tentu saja, pilihan tersebut sangat menentukan umur kita masing-masing. Saya cukup beruntung untuk tumbuh besar sebelum era gadget. Disokong oleh orangtua dengan lagu-lagu anak yang menyenangkan. Saya mendengarkan Cit Cit Cuit milik Joshua, mendengarkan Bolo-Bolo milik Tina Toon, tapi yang sangat membekas dalam kepala saya adalah lagu-lagu milik Christina Colondam.

sumber: YouTube

Untuk yang lupa, saya ingatkan. Christina Colondam adalah seorang penyanyi anak-anak pada tahun '90an akhir. Ada beberapa lagu yang ia nyanyikan, yang paling populer adalah lagu-lagu dalam album Bagi Dua. Mungkin karena liriknya yang familyable.

Tahun kemarin, saya lupa sedang ngapain sampai-sampai langsung kepikiran Christina Colondam. Waktu itu, saya lupa namanya. Makanya, berangkat dari itu saya langsung searching pake YouTube dengan kata kunci: "lagu sayangkuuuuuuu bagi dua"

Nostalgia dan Kontemplasi

Untuk yang se-era, pasti ngerti betapa lucunya Christina Colondam pada masanya. Suaranya unik, lucu, dan menggemaskan khas anak-anak. Kalau sekarang, mungkin mirip suara Elda, vokalis Stars on Rabbit. Memori belasan tahun kembali saat memutar lagu Bagi Dua dalam video YouTube. Meski gambarnya tidak jernih, tapi saya masih bisa merasakan ada kekuatan yang begitu dekat.

Ingatan itu masih sangat jelas, ketika pada hari Minggu setelah bangun, saya meminta agar Mama atau Tante saya memutar vcd Christina Colondam dalam album Bagi Dua-nya. Dengan kusyuk, saya mendengarkan Christina bernyanyi dari lagu ke lagu. Saya sangat gembira mendengarkan lagu Dudi Dam. Meski sampai sekarang, saya tidak tahu apa makna dari kata Dudi Dam.


Kalau dibedah, lirik lagu anak memang seperti itu. Simpel dan interaktif. Tidak ada embel-embel metafora dan pesan tersirat dari penulis lagu. Sehingga anak juga tugasnya hanya mendengarkan dan merasa gembira. Kalo tidak percaya? Mari kita bedah lirik lagu Dudi Dam.

Dudi Dudi Dam Dam
Dudi Dudi Dam
Dudi Dudi Dam Dam 
Dudi Dudi Dam

Selesai bait pertama. Intro yang simpel namun tetap punya kekuatan untuk yang mendengarkan ikut bernyanyi. Buktinya, lirik Dudi Dam sampai saat ini masih memorable pada banyak kepala anak yang lahir pada era 2000-an awal. Bayangkan, sekarang lagu anak-anak sudah tidak serame dulu. Saya pun tidak pernah lagi mendengar lagu anak-anak selain dari Romaria dengan Malu Sama Kucing. Itupun Romaria sudah tumbuh dan tak lagi menjadi anak-anak.

Saya kebayang, anak-anak sekarang mendengarkan lagu Hindia untuk menemani masa anak-anaknya. Pada suatu Minggu misalnya, saya di semesta alternatif tumbuh diera digital. Saya berpikir, hari Minggu serunya ngapain yah? Saya buka spotify, kemudian membuka Top Hits Indonesia. Memutar Secukupnya milik Hindia.

Kapan terakhir kali kamu dapat tertidur tenang?
(Renggang)
Tak perlu memikirkan tentang apa yang akan datang
Di esok hari
Tubuh yang berpatah hati
Bergantung pada gaji
Berlomba jadi asri
Mengais validasi

Sampai pada hari Senin, saya masuk sekolah dan bertanya pada guru disela-sela sesi tanya jawab,"Bu, kapan kali terakhir kali Ibu dapat tertidur tenang? Maksud saya tak perlu memikirkan tentang apa yang akan datang di esok hari. Misalnya, tubuh yang berpatah hati, bergantung pada gaji, berlomba jadi asri, atau mengais valida.."

"Keluar!"

Christina dan Burung

Sejauh yang saya ingat, ada dua lagu dengan lirik muatan burung dalam lagu Christina. Yang pertama Begini Begitu, yang kedua Burung Kecilku. Bagi yang pernah senang mendengar Dudi Dam dari Christina, pasti juga pernah sedih dengan lagu Burung Kecilku. Padahal, isi lagunya tentang kegalauan seorang anak yang ingin melepas burung peliharaannya. Kalau dipikir-pikir, kok bisa sedih yah dengan lirik seperti itu. Bukan tentang Orangtua ataupun pacar, tapi bisa bikin semewek itu pada masanya.


Saya beranggapan, mungkin karena pada waktu itu saya masih kecil dan seyogyanya anak kecil yang menangis karena hal-hal sepele. Hatinya gampang tersentuh dengan segala hal. Hingga pada satu waktu, burung peliharaan saya di rumah mati. Saya tidak sampai menangis, tapi tetap bersedih. Burung itu diambil saat masih kecil, saat acara aqiqah adik saya yang ketiga.

Kalau dikalkulasikan, mungkin hampir 10 tahun burung itu bersama kami. Sempat dilepas bebas, tapi tidak pergi kemana-mana. Ia hanya bertengger pada pohon ketapang di depan rumah. Saat lapar, ia turun dan diberi pisang. Saat mati, benar-benar memukul semua perasaan kami. Tante saya menangis, Bapak dan Mama saya bersedih karena sudah menganggap burung itu sebagai anak kecil mereka. Bahkan saat malam tiba, burung itu dibiarkan begitu saja di dalam rumah. Ia berjalan ke sana-kemari tanpa orang-orang perlu risau. Hingga pada saat ia pup sembarang tempat, kakinya dipasangkan tali agar tak berkeliaran.

Orang-orang yang datang ke rumah, mau itu dekat ataupun tidak, selalu memperhatikan burung lebih awal. Petanyaan mereka selalu sama,"Burung ini gigit?". Selalu dijawab dengan jawaban yang sama,"Tidak.". Baru mau memegang kepalanya, burung itu sudah memasang ancang-ancang.

Saat mati dan dikuburkan, saya baru tau kenapa lagu burung kecilku bisa semenyedihkan itu. Saya berasumsi, yang menulis lirik lagu Burung Kecilku waktu itu sedang mengalami kembimbangan untuk melepas burung kesayangannya agar bisa hidup dialam bebas, tidak bergantung pada gaji dan mengais validasi.

Maba di Koboy Kampus

Saya cukup senang dengan karya-karya Pidi Baiq. Makanya, beberapa buku dari Ayah saya beli, hampir semua film Ayah saya tonton. Tahun lalu, saya kesampaian nonton Koboy Kampus di Bioskop. Hari itu, saya hanya ada kuliah siang atau sore seingat saya. Karena bosan di rumah, terus ada pilihan bahwa hari itu Koboy Kampus sudah tayang.

sumber: Kompas

Sejujur-jujurnya, saya hanya ingin lihat Jason Ranti dan Danilla main film. Selebihnya, tentang negara The Panasdalam saya sudah cukup banyak tau dari tulisan Ayah. Sampai beberapa waktu, ada satu pemeran cewek yang cukup menarik perhatian saya. Dalam Koboy Kampus, ada adegan ospek mahasiswa baru. Salah satu maba, ditaksir oleh Ninik, yang diperankan oleh Ricky Harun.

Pulang dari rumah, saya searching nama pemeran maba tersebut. Christina Colondam. Awalnya saya tidak begitu ngeh. Hingga waktu saya kepikiran untuk nulis ini, saya meriset rekam jejak Christina dan menyadari satu hal yang tidak saya sadari.

---

Saya memang senang hal-hal yang berbau nostalgia. Saya beberapa kali mencari hal atau memori yang pernah secara langsung atau tidak langsung membersamai saya. Beberapa waktu, saya mendownload game Diamond Quest: Dont Rush untuk mengenang game masa kecil saya Diamond Rush yang sering saya mainkan pada hape Nokia E63.

Bukan masalah lebih baik atau tidak, tapi itu masalah nilai sentimental yang masih begitu kuat. Kadang-kadang, saya merasa seperti lagu Raisa, Terjebak Nostalgia. Biarlah tetap begitu, sebab beginilah adanya.
Related Posts

Related Posts

17 comments

  1. Aku-pun selalu suka untuk bernostalgia ke masa kecil, dimana era sekarang dan dulu berbeda sekali. Aku ingat nada lagu dudi dudidam ini tapi hanya bagian dudidam itu aja, bahkan penyanyinya siapa, aku baru tahu sehabis baca tulisan Rahul ini. Terima kasih ya sudah memecahkan salah satu misteri dalam hidupku :)

    Kalau Trio Kwek-kwek dan Joshua obok-obok, serta Tasya si anak gembala, aku tahu karena keseringan dengar lagu-lagu mereka bahkan sampai punya kasetnya yang sekarang entah hilang kemana karena banjir :(

    Aku juga sepakat tentang lagu anak-anak kecil versi lokal jaman sekarang udah sangat minim ditemukan. Bahkan, beberapa tahun lalu saat boyband lokal masih berjaya, satu-satunya lagu anak kecil yang terdengar adalah lagu dari Coboy Jr. yang liriknya "kau bidadari jatuh dari Surga, dihadapanku.. Eaaaa" yah, masa masih kecil nyanyi-nya cinta-cintaan :(

    Btw, aku pernah dengar juga lagu "Malu sama Kucing" ini waktu sedang naik bus entah kemana. Di dalam bus, ada anak kecil yang putar lagu ini berkali-kali sampai bagian reff-nya aku hafal saat itu juga dan lagunya masih terngiang sampai sekarang. Tapi, aku senang, karena anak itu masih mendengarkan lagu anak-anak :)

    Semoga kedepannya, bisa lebih banyak lagi lagu anak-anak versi lokal ya. Walaupun sepertinya sulit karena anak-anak sekarang lebih suka diperdengarkan lagu-lagu anak versi Internasional.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Coboy Junior pada masanya, menurut saya, adalah lagu anak-anak juga. Tapi lebih ke cinta monyet anak SD-SMP.

      Semoga yak kak Lia. Saya masih nyari lagu anak terbaru nih. Mau liat, tema lagu anak sekarang apalagi.

      Delete
  2. Astagaaa Christinaaa, ini penyanyi cilik idola saya dulu :D
    Saya paling suka lagu anak-anak, sampai saya punya anak, ajaibnya malah nggak suka lagi lagu anak hahahaha.

    Dulu tuh selalu semangat kalau ada acara lagu anak-anak, nontonin Christina, Triw Kwek Kwek, Agnes Monika, Eno Lerian, Tina Bolo Bolo hahaha, siapa lagi ya?
    Banyak banget, yang kayak Bo bo Ho juga.

    Duh kangen masa dulu ya, ajaib aja sekarang kalau liat para anak-anak kecil itu udah jadi mamak-mamak malah, mengingatkan kalau saya juga udah tuwah hahahaha.

    Btw sedih juga ya, burung yang udah nenamin kia bertahun-tahun akhirnya mati, kalau saya dulu pernahnya kucing dan ayam, sedih banget rasanya :(

    ReplyDelete
    Replies
    1. Woah, saya jadi pengen bahas Boboho abis ini 😁

      Kadang, masa lalu ada untuk mengingatkan bahwa kita sudah tidak lagi muda. Makanya, sering ngecek masa lalu aja ka Rey, biar nanti ngga terlalu kaget πŸ˜…

      Delete
  3. Sayapun setuju apa yang dikatakan mbak Rey...Zaman saya kecil dulu lagu anak2 yang terkenal pada era 90,an kebawah cukup banyak.😊😊

    Seperti Melisa, Chikita Meidy, Serina, Termasuk si Christina dan Eno lerian serta Joshua.😊😊

    Cuma mirisnya sekarang ini sangat jarang aneka ria musik untuk anak seperti era saya kecil dahulu. Bahkan untuk mencari lagu anak harus buka youtube anak.

    Dan untuk regenerasi penerus lagu anak era sekarang ada tetapi tidak semeriah dulu mungkin. Sebagai contoh artis cilik era zaman saya dahulu sekarang sudah besar tentunya dan regenerasi penerusnya bahkan tak ada..😊😊

    Semoga album2 musik anak bisa berkembang kembali seperti dulu lagi. Biar bisa jadi kenangan tersendiri bagi sang anak bila ia besar nanti.😊

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya, era 80-90'an adalah era keemasan lagu anak-anak. Dan, bukan cuman satu nama, tapi banyak. Dan tiap nama mewakili era tertentu.

      Mungkin prioritasnya yang berubah. Saya berharapnya, meski 1-2, tetap ada lagu anak-anak. Setidaknya biar varian lagu odong-odong jadi beragam.

      Delete
  4. Mas Rahul, aku baru tau donk lagu Dubidubi dam yang dinyanyiin Chistina. Selama ini, dan dari kecil, aku tau nya kalau lagu Dubidubidam ya lagu Eno Lerian, inget banget dulu yg video klip nya Eno pake topi koki. Bahkan sampe skrng aku masih suka puter untuk dinyanyiim bareng anak2. 😁

    ReplyDelete
    Replies
    1. Mungkin Eno Lerian itu era sebelum Christina. Christina mempopulerkan kembali lagu itu. Saya baru ngeh juga meski sebelumnya sudah pernah liat

      Delete
    2. Oh iyaa baca komen mbak Thessa, aku ingat pernah liat video klip Eno Lerian ini di instagram instagram kalau gak salah, pakai topi koki nyanyi Dudi Dam. Makanya dulu sempat ngira kalau ini lagu tentang semangat masak memasak🀣

      Akhirnya sekarang tau kalau ternyata ada beberapa versi lagu Dudi Dam. Bisa tidur nyenyak, dehπŸ˜†

      Delete
  5. Sepertinya Christina ini remake lagunya Eno Lerian yang Dudi Dam, sebab di-era saya which is lebih tua dari mas Rahul, penyanyi Dudi Dam yang saya tau itu Eno Lerian seperti yang mba Thessa bilang πŸ˜‚

    Terus saya penasaran versi Christina bagaimana, setelah lihat video di atas langsung senyam senyum mengingat masa kanak-kanak hahahahaha. Seriously saya masih hapal lagu Dudi Dam sampai sekarang dan tanpa sadar ikut bersenandung ketika mendengarnya πŸ˜† thanks for bring back the memories, mas πŸ’•

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya kak Eno, dipopulerkan kembali sama Christina. Makanya, pada era kak Eno ada Eno Lerian, pada era saya ada Christina.

      Beberapa lagu anak yang saya dengarkan kembali, masih saya hapal tanpa liat subtitel. 😁

      Delete
  6. Aduh kayanya enggak kenal sama orang-orang di atas. Maklum saya lahir era Atta Halilintar.

    ReplyDelete
  7. artis cilik kesukaan aku dulu hahahaha, kalau liat acara tv dan yang diputer ini seneng aja gitu hahaha
    dari lagu pertama nya dia, duh lupa judulnya,, oohh mungkin sayangku bagi dua itu lagu pertamanya,, trus lagu lagu dia yang lain juga, selain yang burung ada lagi, lupa judulnya :D, yang hits pada jamannya, aku update kalo soal lagu anak anak wkwkwk
    ehh sekarang nggak nyangka kalo dia pernah jadi presenter acara gosip kalo ga salah, pas liat pertama kali, mikir "ini beneran christina artis cilik itu", ehhh iyaa, mukanya masih imut imut aja

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya, Christina juga sempat jadi presenter. Saya juga tidak begitu ngeh.

      Mungkin yang dimaksud Boneka Barbie, Dr John, atau Nyamuk-Nyamuk Nakal. Tiga itu yang cukup populer.

      Delete
  8. Yaampun Rahuuul, saya baru tau kalau penyanyi cilik yang nyanyi Dudi Dam itu namanya Christina Colondam😱😱 saking udah melekat di telinga, plus pada waktu dulu nggak ada google, jadi nggak benar-benar mau cari tau siapa penyanyinya, karena biasa dengar lewat audio daripada televisi.

    Jadi inget dulu masa kecil saya selain dengar lagu-lagu anak ini pasti hobinya nonton winnie the pooh, tom & jerry, disney yang lain, sama barbie. Entah nonton dvd, atau sekadar di acara televisi, karena tontonan anak-anak banyak banget dulu, nggak kayak sekarang😫

    Memang mengenang masa-masa seperti itu kegiatan yg menenangkan sebetulnya. Minimal kita jadi punya rasa syukur akan beberapa pengalaman berkesan sebagai anak-anak, mungkin salah satunya rasa syukur karena tumbuh di era dimana teknologi visual sebatas televisi, bukan serba digital seperti sekarang. Selama nostalgia itu nggak menjadikan kita lupa untuk berjalan di masa kini, gak apa² sesekali terjebak di dalamnya:')

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya Aina, Christina salah satu yang mempopulerkan. Diera sebelumnya, ada juga Eno Lerian. Jadi Christina bukan yang pertama juga.

      Kalo saya dan teman-teman biasanya lebih sering nonton Power Rangers atau Satria Baja Hitam. Terus rebutan untuk jadi Ranger Merah.Ha ha ha.

      Betul Aina, tapi saya juga tidak ingin menjadi orang yang membanggakan dan menganggap era saya yang terbaik. Setiap era punya keunikannya sendiri. Mungkin 10-20 tahun kedepan, generasi sekarang akan mengenang TikTok atau Instagram sebagai sosial media yang sudah usang karena digantikan sosial media lain

      Delete
Terimakasih sudah membaca. Sila berkomentar terkait tulisan ini.