zsnr95ICNj2jnPcreqY9KBInEVewSAnK0XjnluSi

Perjalanan Menjadi Gembong Kelereng yang Disegani

Lahir diera 2000-an memang menyenangkan. Meski belum akrab dengan gadget dan internet, ada banyak hal yang sekarang sudah hampir hilang dan mulai saya rindukan. Saya masih ingat waktu kecil menjadi jagoan dalam bermain kelereng. Kalau difilm mafia dan kriminal, saya tipe orang yang from zero to hero.

Perjalanan Menjadi Gembong Kelereng yang Disegani

 

Istilah-Istilah dalam Dunia Permainan Kelereng

Dalam permaianan kelereng, ada beberapa istilah asing yang hanya diketahui oleh orang yang pernah atau sedang bersinggungan dengan dunia per-kelerengan.
  • Palele: istilah untuk kelereng yang digunakan pemain. (sama dengan raket, bet, ataupun stik biliard).
  • Laste: ucapan seorang pemain agar mendapat giliran melempar lebih dulu.
  • Fontu: istilah pada kelereng pemain yang berada dalam garis Fontu.
  • Mines: istilah pada kelereng pemain yang hampir berada dalam garis Fontu.
  • Dondor: istilah lemparan pada jenis permainan bundar ke dalam garis bundaran.
  • Mondos: istilah untuk tembakan pemain pada jenis permainan bundar yang dimana palele pemain berada didalam, namun ada satu atau beberapa kelereng yang keluar.
  • Pabeta: istilah untuk orang-orang yang menang.
  • Pabeta lari: istilah untuk orang yang lari setelah sudah menang karena tidak ingin bermain lagi.
  • Stelen: istilah jika penembak mendapat tempat yang sulit, dihalangi tembok misalnya. Ia bisa berpindah posisi dengan catatan jarak tembaknya sama atau lebih jauh.
  • Stelen qiqu: hampir mirip dengan stelan biasa, tapi posisi tembak pemain adalah dipermukaan yang lebih tinggi (lutut misalnya), bukan di permukaan tanah tempat bermain.
  • Kongsi: istilah ini ditujukan untuk lebih dari satu pemain yang mengadakan kesepakatan bermain bersama.
  • Parecu: istilah untuk ucapan curang.
Masih banyak istilah, tapi tidak memiliki nama seperti yang saya sebutkan diatas. Contohnya, jika palele penembak berada didekat lawan, ada kesepakatan untuk pemain lawan menganggu dengan menggoyang-goyangkan lutut atau tangan agar pemain yang menembak kehilangan fokus tembak.

Awal Mula

Ini berawal dari pembelian kelereng 10 biji dengan harga Rp 1.000 di warung depan tempat pengajian saya. Saya masih ingat, penjualnya adalah Ibu-ibu yang sudah agak renta. Kadang suka geram ketika beliau terlalu lama hitung kelerengnya. Tapi saya rindu beliau, sudah jarang mampir ke sana. Terakhir, saya cuma antar adik saya yang kedua untuk ngaji.

Singkat cerita, itu awal-awal saya bermain kelereng. Pulang dari pengajian, saya ajak teman-teman di belakang rumah untuk main, salah satunya bernama Wahyu. Awalnya kami main di depan halaman rumah. Mereka pulang beberapa waktu kemudian setelah menghabiskan kelereng saya. Begitu terus dengan siklus yang sama.

Karena banyak mengalami kekalahan, saya tentu saja belajar banyak. Ada beberapa hari saya tidak mengajak teman Wahyu bermain. Saya latihan di rumah bersama saudara dan teman yang lebih lemah dari saya. Keuntungannya, saya bisa menang dari dia dan punya lebih banyak kelereng saat ingin main serius.

Tidak hanya di rumah, waktu musim kelereng, euforianya sampai di sekolah. Kami sengaja datang lebih awal untuk bermain sebelum waktu apel. Jadi, sekolah saya berhadapan dengan sekolah sebelah. Kami berbagi halaman yang sama. Kalau upacara bersama, senam bersama,  meski apel tetap sendiri-sendiri. Di areal halaman yang cukup luas, ada beberapa kelompok yang bermain. Pembagiannya agak random, hanya kepada insting bahwa pemainnya sudah lebih dari cukup.

Jenis Permainan Populer

Ada beberapa jenis yang sering kami mainkan. Yang pertama adalah Fontu. Sederhananya, bermain kelereng dengan jenis ini adalah kami membuat satu garis panjang dengan masing-masing ditiap ujung garis terdapat batas. Antara pangkal dan ujung juga diberi batas untuk kami melempar kelereng. Jadi, tugas dari pemain adalah melempar kelereng ke garis panjang tersebut. Siapa yang lebih dekat dengan garis, ia yang lebih dulu menembak lawannya.

Istilah Fontu sendiri diambil dari istilah kelereng pemain yang tepat ditengah garis. Jika hanya tipis ditengah garis, istilah mines. Jika ada lebih dari satu pemain yang  jaraknya sama, lemparan harus diulang. Saya akan menggambarkannya dengan sederhana agar lebih mudah dipahami.

Perjalanan Menjadi Gembong Kelereng yang Disegani

  • No. 1 adalah pera pemain yang bertugas melempar kelereng ke dalam garis panjang.
  • No. 2 adalah garis batas para pelempar. Jadi, ada garis yang membatasi antara jarak garis fontu dan para pelempar. 
  • No. 3 adalah dua garis batas yang dibuat agar para pemain tidak terlalu jauh saat menghindari lawan yang sudah berada dalam garis lebih awal. Setiap pemain mempunyai tiga kesempatan jika kelereng yang dilempar melewati atau tidak sampai pada garis batas.
  • No. 4 adalah garis fontu, tujuan lemparan kelereng peserta. Dua garis diujung garis sifatnya sama dengan garis No. 3.

Selain Fontu, ada jenis yang lebih populer. Jenis kedua ini adalah main bundar. Tidak ada istilah asing macam Fontu, tapi kami-kami yang sempat berada dalam dunia per-kelerengan menyebutnya sebagai main bundar. Hampir mirip dengan main Fontu, bedanya hanya pada aturan main.

Perjalanan Menjadi Gembong Kelereng yang Disegani

Sedikit berbeda dari bermain Fontu, bermain bundar lebih mengutamakan pemain yang jarak nya jauh dari garis bundar. Ada dua tipe cara bermain ini. Yang pertama adalah main biasa, yang dimana para pemain hanya ditugaskan untuk saling adu jauh dari lingkaran agar mendapat giliran menembak lebih dulu atau yang kedua biasa disebut dondor.

Seperti namanya, dondor artinya pemain bukan hanya adu jauh dari garis bundaran tapi setiap pemain diberi kesempatan untuk melempar kelerengnya agar mengenai kelereng di dalam bundaran. Jika ada yang keluar, itu bisa menjadi milik pelempar. Aturan mainnya sebagai berikut.

  • No. 1 adalah para pemain. Setiap pemain menyepakati harga pasang dalam bundaran. Dalam gambar ilustrasi ada 20 kelereng di dalam garis bundar dari 4 pemain. Artinya, setiap pemain memasang lima 5 kelereng.
  • No. 2 adalah garis batas para pelempar.
  • No. 3 adalah jumlah pasang kelereng dari para pemain. Biasanya ada dua cara yang disepakati. Kelereng dihamburkan begitu saja, atau dirapatkan.
  • No. 4 garis bundaran. Semakin panas pertandingan, biasanya ada kesepakatan untuk membuat bundaran agar lebih besar. Jika saat pemain menembak kelereng yang ada dalam bundaran dan ada kelereng yang keluar sementara kelereng yang digunakan menembak ada dalam bundaran, itu namanya mondos alias jackpot. Kelereng akan diambil semua oleh pemain yang menembak. Kalau kelereng yang digunakan berada dalam lingkaran tapi mengenai garis, artinya penembak terelimenasi dari putaran tersebut.

Karena sering bermain dalam sekolah, guru olahraga sekolah saya biasanya akan memarahi dan menyita semua kelereng kami. Karena kami lumayan bandel waktu itu, kami terus bermain meski terus dimarahi. Ada banyak cara dan tempat menyembunyikan kelereng. Kadang kami bermain di belakang kelas sebelah agar tak ketahuan guru. Jika Pablo Escobar dicari dan diburu oleh Polisi, saya dan teman-teman dicari dan diburu oleh guru sekolah.

Bekal dari latihan, saya mulai mahir bermain kelereng. Saya akhirnya berniat bermain kembali bersama teman saya di belakang rumah. Tempatnya strategis, lembab dan permukaan tanah yang rata dan yang paling penting adalah tidak panas. Saya akhirnya sering menang dan menghabiskan kelereng teman saya itu. Karena membawa kelereng sedikit, ia biasanya akan mengatakan,"besok saja dilanjut".

Semakin kesini, ia makin penasaran dan tidak lagi mengatakan hal demikian. Ia selalu pulang balik mengambil kelereng dari rumahnya yang hanya beberapa langkah saja dari tempat bermain. Meski tidak selalu menang, saya selalu mendominasi pertandingan. Saya akhirnya mulai menetapkan satu prinsip: "membawa 10-15 kelereng, kemudian bermain habis-habisan. Jika menang yah syukur, jika habis yah lanjut besok.".

Dengan prinsip begitu, saya menjadi pengepul kelereng saking seringnya menang. Adik saya yang ikut-ikutan tidak bisa menyaingi kemampuan saya. Kadang ia menantang saya untuk bermain serius. Ia kalah dan menangis. Ujung-ujung saya mengembalikan hasil menang dari dia karena dimarahi oleh Mama.

Diwaktu-waktu malam, saya selalu membersihkan kelereng dari tanah dan pasir karena setiap bermain langsung saya taruh dalam wadah yang sama. Karena banyak dan berisik, kadang mama saya sering marah kalau kelereng saya terus berbunyi. Tante saya juga sibuk menggerutu sambil menonton teve dan menjaga warung. Saya mulai berpikir, kenapa tidak menjual sebagian dari banyaknya kelereng saya. Dan perjalanan menjadi gembong kelereng pun dimulai.

Masa Kejayaan

Perjalanan Menjadi Gembong Kelereng yang Disegani

Awal mula saya menjual kelereng adalah pada teman saya, Riki, dengan harga yang lebih murah dari kelereng baru. Harganya Rp. 1000/20 biji kelereng. Tidak masalah untuk saya karena gampang mendapatkannya. Dari teman lorong, saya akhirnya menjual ke beberapa anak yang saat itu menonton saya dan Wahyu bermain.

Beberapa kali, karena malas pulang mengambil kelereng, Wahyu membeli kereng dari hasil saya mengalahkan dia. Meski ujungnya, kelereng itu saya menangkan kembali dan mendapat uang. Saya merasakan ini bisnis yang baik.

Dari teman main, saya beralih menuju sekolah. Saya sering membawa banyak kelereng di dalam tas bukan hanya untuk bermain. Tapi untuk dijual pada beberapa teman. Saya mendapat uang jajan tambahan dari hasil penjualan kelereng. Untungnya, saya simpan di dalam toples bersama kelereng saya.

Reputasi sebagai penjual kelereng mulai melebar dari satu telinga ke telinga yang lain. Beberapa anak mendatangi rumah saya untuk membeli kelereng. Kadang mereka bertemu Mama atau Tante saya. Kadang bertemu langsung dengan saya yang sedang bermain.

Karena banyak orang yang mulai menjual, saya menurunkan harga kelereng menjadi Rp. 1000/ 25 biji. Tanpa dipilih bagus-tidaknya, baru-lamanya. Dari tangan saya, mereka menaadahkan tangan atau baju untuk membawa kelereng tersebut.

Alhasil, saya bisa jajan dengan hasil penjualan kelereng. Bisa membeli nasi goreng di sekolah sambil jajan buku horor 2 ribuan yang ada di depan sekolah. Saya merasa lebih dari cukup untuk belanja banyak hal dengan hasil penjualan kelereng. Saya berpikir bahwa pada waktu itu, mungkin dimata para pemain kelereng baru, saya adalah Pablo Escobar dimata mereka.

Setelah musim berganti, saya menyimpan kelereng saya untuk musim kelereng tahun depan. Sampai saat ini, saya adalah 1 dari sekian banyak pemain kelereng yang sudah pensiun. Meski jarang melihat permaianan ini kembali, saya berharap akan ada seseorang yang meramaikan permaianan ini kembali. Menjadi genereasi baru gembong kelereng yang disegani.

Masa Kejatuhan

Perjalanan Menjadi Gembong Kelereng yang Disegani

Menjadi gembong kelereng tidak berlangsung lama. Saya hanya menjadi gembong kelereng yang cukup disegani hanya pada beberapa musim. Saya menjadi congkak dan tak lagi mau belajar. Sehingga, beberapa lawan saya diam-diam mempelajarai banyak hal. Akibatnya, saya sering kalah dan mulai mengalami fase kehancuran.

Sama seperti awal saya bermain kelereng, saya kembali menjadi orang yang cupu. Kelereng habis ditangan saya sendiri. Dari yang tadinya menjadi penjual, akhirnya menjadi konsumen dari beberapa gembong kelereng yang masih besar. Saya membeli kepada seseorang yang cukup jago dalam bermain, harganya sangat murah Rp. 1000/ 30 biji kelereng. Meski begitu, saya kembali dihabiskan.

Penyesalan terbesar saya adalah keluar dari lingkup bermain saya. Karena telah merasa hebat, saya bermain di kawasan orang lain. Menantang dan bermain di lingkungan yang mereka sudah kuasai. Saya tentu saja bisa menyeimbangi main mereka. Tapi sayangnya, mereks lebih hebat ketimbang saya. Kelereng saya habis seketika. Saya bangkrut dan tidak lagi menjadi gembong kelereng yang disegani.

Akhirnya, saya memilih vakum setelah mengakui banyak yang lebih hebat dari saya. Saya mungkin terlalu cepat puas pada waktu itu. Sehingga, tidak mau lagi untuk belajar dan mengasah kemampuan. Saya terlalu pede dengan kemampuan saya bersama Wahyu. Sehingga, kaget saat bertemu lawan yang sebanding dengan saya.

Ini bisa jadi pelajaran bagi saya untuk terus belajar. Saya tidak mengatakan bahwa bermain kelereng pada saat itu baik. Anggapan orang tentang ini mungkin mirip dengan perjudian. Tidak apalah. Saya waktu itu menganggap itu sebagai kesenangan semata. Hobi yang kebetulan menghasilkan. Mengutip kata Milea,"mudah-mudahan menjadi bijaksana dengan tidak mengadili masa lalu oleh keadaan di masa kini.".
Related Posts

Related Posts

15 comments

  1. Wah, setelah baca tulisan ini, aku jadi tahu ternyata main kelereng ada berbagai jenis gaya dan istilah-istilahnya, nggak cuma asal sentil-sentil aja, karena selama ini, cuma itulah yang aku tahu. Asal sentil, kenain bola yang lain, yauda gini aja mainnya. Mana kalau main kelereng, jari tangan selalu sakit karena nggak pernah bisa menyentil dengan benar :(

    Btw, terima kasih atas ceritanya Rahul. Detil dan niat banget dalam menulis post ini :D
    Salut sama Rahul, dari kecil aja otak bisnisnya udah jalan ya. Udah gitu, sekalinya jualan, dapat duit, dapat barang dagangan kembali karena selalu menang ketika main. Lucu banget baca adegan ini, kasihan Wahyu :( hahaha.
    Dan, ada pembelajaran penting juga yang bisa diambil dari kisah ini, yaitu jangan mudah merasa congkak ya karena kita nggak pernah tahu apa yang akan terjadi di depannya. Nice banget Rahul!

    ReplyDelete
    Replies
    1. Namanya permainan, pasti ada aturan. Sekalipun itu tertulis atauapun menjadi kesepakatan bersama saja. Sama seperti bermain sepak bola di jalanan, sering ada kesepakatan yang menjatuhkan bola di selokan dia yang ambil kak Lia.

      Dulu mah ngga mikir itu bisnis, sekalipun jadi gembong yang cukup disegani, saya cukup teledor masalah keuangan. Tapi saya cukup rindu sih yang bagian jual kelereng, tapi dimenangkan kembali.

      Semoga bermanfaat, jika tidak, manfaatkan 😁

      Delete
  2. Huahahhahaa kocak banget si Rahul. Dari baca judulnya saya sudah ngakak duluan, karena lansung ingat kakak dan adek saya yang juga mempunyai profesi yang sama dengan kamu.

    Jujur, diantara keluarga saya yang paling cupu kalau masalah main-main begini. Kakak saya yang rada tomboy yang paling jago semuanya. Dulu kalau main, saya cuman main, mainan perempuan banget, kayak berbie, atau GP. Karena kalau main kelereng itu suka nyampur sama cowok, saya kurang nyaman hahaha.

    Satu-satunya yang saya ahli itu cuman main layangan, kadang main layangan di lapangan sampai kulit hitam terbakar haha. Atau main layang di pantai, lupa waktu dan hasilnya besok jadi demam. Kalau pergaulan masa kecil itu kocak banget memang.

    Betewe, fotonya mendukung banget sama cerita tentang masa kejayaan dan kejatuhan kamu, kok saya ngga bisa berhenti ketawa sih? Hahahaha.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Nah, saya jadi ingat, diantara banyaknya gembong kelereng pada jaman saya, ada juga yang tomboy seperti kakaknya Kak Sovia.

      Kalau bahas layangan, saya mungkin agak terbelakang. Tapi ada juga yang berkecimpung dalam bisnis ini. Salah satu gembong layangan yang cukup disegani adalah teman kecil saya 😁

      Delete
  3. Hahahahaha, bener2 cerita yang bisa diambil hikmahnya dari salah seorang gembong yg prnh disegani :D.

    Aku ga pernah ngerti niiih main kelerang. Zaman aku sekolah ini juga banyak dilakuin Ama temen2 cowo. Tp jujur ga ngerti aja cara mainnya gimana. Anakku skr ini juga ada bbrp kelerang, tp aku yakin dia juga ga tau cara mainnya, secara anaknya pun msh 4 THN. Dia beli kelerang hanya Krn dia bilang mau bola kaca :D. Ntahlaaah, di daerah rumahku kayaknya ga banyak juga anak2 laki yg main kelerang :(. Nth karena permainan ini makin ga dikenal di JKT ato anak2 sekitar rumahku aja yg udah terlalu besar.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Pada masa itu, kayaknya hampir semua permainan dan kegiatan tradisional anak-anak saya lakukan. Mulai dari kelereng, layang-layang, bahkan sampai masak-masak sama teman perempuan.

      Nah, itu dia. Sekarang malah hanya jadi pajangan. Padahal dulu, rasanya bangga sekali kalau punya banyak kelereng hasil dari menang sana-sini.

      Delete
  4. Kelereng atau Gundu, Kalau ditempatku dijakarta orang bilangnya Gundu. Jenisnyapun macam2 dari yang namanya kalbom, atau cilem...Kalau kalbom jenis gundu berwarna putih susu, Untuk cilem bentuk gundu berwarna biru planet dan masih banyak lagi nama2 sebutan untuk kelereng atau gundu.😊😊

    Saya sewaktu masih sekolah dasar ( SD ) hobi mengkoleksi jenis kelereng atau gundu. Bahkan sampai satu toples penuh. Tetapi dalam hal bermain saya kurang ahli, Dan selalu berakhir dengan kekalahan yang menyebabkan kelereng saya tinggal 1/2 toples.😂😂 Sejak itu jika ingin main kelereng saya harus pilih2 lawan jika tidak ingin berakhir dengan kekalahan.😊

    Dan permainan kelereng mungkin setiap daerah pastinya ada perbedaan serta cara yang berlaku. Kalau ditempat saya yang paling menguntungkan adalah main kelereng kepala ular. Sebuah garis panjang yang dibentuk mirip ular dan kelereng dijajarkan secara lurus. Jika kepalanya atau ujungnya kena kita sentil. Kita bisa menang dengan meraup semua kelereng yang terpasang berjajar.😊

    Bicara soal kelereng atau gundu mungkin dahulu adalah sebuah permainan yang mengasikkan ketimbang sekarang, Yang boleh dikatakan hampir jarang anak2 kecil atau dewasa yang hobi bermain kelereng. Jadi sebuah kelereng era sekarang mungkin hanya sebuah pajangan saja mungkin. Dan termasuk mainan tradisional.

    Meski kelereng sekarang masih ada tetapi sudah jarang anak2 yang bermain kelereng seperti zaman saya kecil dulu. Entah kalau didaerah2 lainnya.😊 Bagi saya kelereng atau gundu suatu permainan yang mengasikkan kala libur sekolah.😊

    ReplyDelete
    Replies
    1. Di beberapa tempat memang disebut gundu, bang Satria. Kalau bicara jenis, pembahasannya akan panjang. Selain dari dua yang disebutkan itu, ada beberapa jenis lagi. Mulai dari yang murah sampai yang mahal, itu ada.

      Artinya, bang Satria tipe orang yangsering dihabiskan. 😁

      Kayaknya, setiap era punya permainannya masing-masing. Meski saya merindukan, saya tidak berpikir untuk mempermasalahkan itu. Saya cukup yakin, di daerah pedesaan yang minim hape dan internet, masih ada yang bermain kelereng.

      Delete
  5. Astagaaa Rahul, sampai sedetail ini dibahas kelerengnya :D
    Saya tahunya istilah di atas cuman parecu doang, itu kayaknya bahasa Sulawesi Tenggara ya, di Buton juga nyebutnya Parecu :D

    Btw, tahu nggak, biar dikata saya cewek, waktu kecil juga saya main kelereng, meski mainnya sih sama adik saya sewaktu dia masih ada.

    Biasanya mainnya saingan ama adik saya, entah siapa yang mengajari saya sampai bisa juga sejago adik saya main kelereng :D

    Tapi, saya tetep suka main karet gelang sih :D

    ReplyDelete
    Replies
    1. Semua istilah diatas berasal dari daerah saya. Mungkin untuk daerah-daerah lain, istilah dan caranya beda lagi. Saya juga lupa memberi disclaimer.

      Main karet sampai merdeka bisa ngga kak Rey?

      Delete
  6. Wah.. Sampai jadi bisnis ya. Saya dulu sempet ikut-ikutan kakak main kelereng waktu masih kecil tapi nggak paham kalau ada istilah-istilah macam di atas. Udah kayak pertandingan besar aja😂. Seru ya kalau mengingat permainan-permainan zaman dulu, sekarang udah jarang banget lihat anak-anak kecil main kelereng. Udah terkalahkan sama mobile legend dan free fire.

    Kalau saya dulu waktu masih Sd sering main Bp(bongkar pasang) dan kemudian saya bikin sendiri lalu saya jual atau bikin gambar, boneka kecil dari kain sisa. Lumayan nambah uang jajan juga😁

    ReplyDelete
    Replies
    1. Dulu mah, seseru itu. Bahkan, saya lebih dulu ngaji bukan karena rajin, tapi karena pengen main. Tidak usah dipermasalahkan, mungkin sudah itu jalannya. Angkatan 70-an mungkin juga tidak mempermasalahkan jika era mereka dilupakan oleh era setelahnya.

      Saya ngga tau itu apa, tapi bicara bongkar pasang, saya jadi ingat bongkar-pasang barbie teman cewek saya sampai jadi terlihat aneh 😆

      Delete
  7. Sepertinya mas Rahul udah sangat expert di dunia per-gundu-an yaa, hahaha.
    Di tempatku ga ada aturan/istilah se detail itu.
    Btw salam kenal yaaa

    ReplyDelete
    Replies
    1. Diatas langit, masih ada langit. Kalau dibilang expert, belum sampai ke sana. Tapi kalau pintar nyari lawan, mungkin iya.

      Salam kenal, Bro Dodo

      Delete
  8. aku kira ini review film lho hehe
    waktu aku kecil sempet liat temen juga main kelereng, tapi ga paham juga dulu menangnya gimana ngitungnya, kayaknya sampe gede pun tetep ga paham
    padahal hits banget main beginian dulu ya

    ReplyDelete
Terimakasih sudah membaca. Sila berkomentar terkait tulisan ini.