zsnr95ICNj2jnPcreqY9KBInEVewSAnK0XjnluSi

'Preman Pensiun 3' dan 'Sang Juara': Awal dan Akhir?

Ada banyak hal yang membuat saya suka dengan semesta Preman Pensiun. Salah satunya adalah kesederhanaaan cerita yang diangkat. Namun meski begitu, Preman Pensiun tetap disokong oleh karakter yang sangat mudah untuk di ingat. Meski begitu (lagi), karakter memorable tersebut tidak diperankan oleh aktor dan artis terkenal.

Berangkat dari kesan kagum pas nonton filmnya, saya akhirnya memutuskan untuk maraton nonton sinetron Preman Pensiun. Agak telat tidak masalah. Yang penting, ada media yang bisa mewadahi sinetron ini. Karena tumbuh besar bersama sinetron, saya ngga bisa begitu saja melupakan jasa-jasanya menemani masa kecil saya. Namun tidak dapat dipungkiri, beberapa tahun belakang, saya sudah jarang nonton teve. Paling cuma nebeng kalo ada yang sedang nonton di ruang tengah.

Karena sudah membahas tuntas Preman Pensiun 1 dan 2, saya ingin melanjutkan tulisan tersebut. Membahas Preman Pensiun memang tak ada habisnya. Saat ini, saya ingin membahas Preman Pensiun 3 dan Film Televisi bertajuk Preman Pensiun: Sang Juara. Mungkin sekadar merapel hal-hal yang terjadi dan hal-hal yang saya sukai.

Preman Pensiun 3
sumber: facebook Preman Pensiun 3

Spoiler alert! buat yang belum nonton. Pembahasan banyak mencakup isi cerita.

Usaha Kicimpring Kang Mus

Diakhir Preman Pensiun 2, Kang Mus akhrinya memutuskan untuk pensiun dari bisnis yang ia jalani selama ini dibawah Kang Bahar. Kang Mus tak sendiri, ia mengajak dan menarik beberapa orang untuk pensiun yang memang benar-benar sudah tau ingin bekerja apa. Misalnya ada Iwan yang fokus untuk bertinju, Joni yang menjadi security, ataupun Jupri yang berjualan sepatu.

Kang Mus sendiri, memilih usaha kicimpring. Dalam Film Televisi Preman Pensiun: Sang Juara, diceritakan awal mula Kang Mus merintis usahanya. Dari meriset usaha ke salah satu teman lamanya, sampai memproklamirkan usahanya pada 17 Agustus. Dari situ, awal Preman Pensiun 3 dibuka dengan Kang Mus yang sedang memarut singkong.

Ujang, yang sudah tidak menjadi anak buah Jamal, mengajukan diri untuk membantu usaha kicimpring yang dirintis Kang Mus. Sementara Ceu Edoh, yang sempat hampir dipecat, dipanggil kembali sebagai tenaga kerja untuk membantu Esih di dapur membuat kicimpring.

Usaha kicimpring yang dimulai oleh Kang Mus adalah sebuah pemikiran yang ia dapatkan dari kata Kang Bahar bahwa bisnis yang dulu mereka jalani adalah bisnis yang bagus, tapi bukan bisnis yang baik. Disamping itu, Kang Mus ingin bisa menjawab pertanyaan Eneng, anaknya, saat bertanya apa pekerjaannya. Berangkat dari situ, Kang Mus mencari cara untuk memulai bisnis yang ia pikir bagus dan juga baik.

Dibantu oleh Ujang, usaha kicimpring Kang Mus akhirnya berjalan baik. Kang Mus menyewa sebuah rumah untuk usaha kicimpringnya, mengajak beberapa orang lagi untuk bekerja dengannya, dan membuat nama dan label pada usaha kicimpringnya.

From Kemod to Kemod

Masih diakhir Preman Pensiun 2, ketika Jamal kembali menghasut Kemod dengan dalih ia sudah dibuang dan tidak dianggap saat Kang Mus mengajak semua anak buahnya, kecuali dia. Jamal mengambil kesempatan tersebut untuk menarik Kemod ke pihaknya.

Kemudian Bohim, yang sudah pensiun, sempat terkena hasut bahwa Gobang, mantan bosnya di Terminal, yang dulu ingin pensiun dan usaha lele, belum keluar dan pensiun dari Terminal sampai sekarang. Usaha untuk menarik Bohim, menjadi gampang ketika Bohim tidak mendapat pinjaman uang dari Gobang untuk biaya sablon sendiri, tapi dari Jamal.

Di Pasar, Jamal menjadikan Unang, anak buah Dikdik, sebagai mata dan telinga Jamal. Setelah berbagai usaha yang dilakukan Jamal, akhirnya Unang tidak lagi bekerja di Pasar, tapi menjadi kaki tangan Jamal. Termasuk mengurus Jenggo, ayam yang dipelihara oleh Jamal.

Seiring waktu, karena terdesak dan merasa Kemod adalah bahaya, Jamal mengorbankan dengan menjadikan Kemod sebagai pelaku atas pengeroyokan Gobang. Karena mulai sadar, Kemod akhirnya bertemu Kang Mus. Ia meminta maaf dan saran apa yang harus ia lakukan untuk menebus kesalahannya.

Kemod akhirnya menjadi mata telinga Kang Mus. Ia menjadi informan untuk Kang Mus atas rencana jahat Jamal. Setelah itu, Kang Mus akhirnya menyarankan Kemod untuk pensiun sebelum terlambat. Layer personal Kemod banyak dieksplor, dari yang tadinya membuat sebal hingga membuat empati. Apalagi, ternyata Kemod telah memiliki seorang Istri dan anak. Kemod akhirnya mencari kerja. Ia menjadi tukang bersih-bersih jalan.

Jamal dan Rencananya

Sejak kemunculan Jamal, secara tidak langsung Kang Mus tidak hanya mengatasi problem internal saja. Tapi juga menghadapi Jamal dan rencana-rencananya untuk menguasai Pasar, Terminal, dan Jalanan. Sebelum Kang Mus pensiun, motif Jamal adalah semata-mata ingin balas dendam karena seharusnya yang berada dalam posisi Kang Mus adalah dia.

Namun, sejak Kang Mus pensiun, motif Jamal kemudian berubah menjadi ingin meluruskan apa yang telah Kang Mus jalankan. Kang Mus, seharusnya gampang untuk mengatasi Jamal jika hanya ingin bermain fisik. Namun seperti yang kita tahu, Kang Mus tentu saja tidak ingin mengambil jalan seperti itu. Dan itulah yang menjadikan Jamal, berhasil menjalankan beberapa rencananya.

Rencana awal adalah mengumpulkan semua mata telinga dari sektor Pasar, Terminal, hingga Jalanan. Sehingga, Jamal akan lebih mudah untuk melengser Gobang, Dikdik, Murad dan Pipit. Karena itulah, ia merekrut Unang dari Pasar, Kemod dari terminal, meski dari jalanan ia tidak punya orang yang berhasil ia bawa sebagai mata telinganya.

Meski begitu, Pipit akhirnya terjebak pada rencana Jamal berikutnya. Atas perintah Resti, kaki tangan Jamal, Pipit akhirnya tidak lagi bersama Murad karena didekati oleh seorang wanita. Wanita tersebut meminta bantuan Pipit untuk menagih hutang dari seorang lelaki yang juga adalah pemain dari skenario Jamal. Maka dari situlah, Pipit akhirnya dibawah oleh polisi karena memukul lelaki tersebut.

Sebagai kaki tangan Jamal, Resti berfungsi sebagai sumber keuangan Jamal. Karena jago berakting, Resti menipu seorang pengusaha bernama Suganda sebesar 100 juta untuk keperluan Jamal menduduki Pasar, Terminal, dan Jalanan.

Karena itulah, pihak polisi merasa kasus Pipit dan penipuan uang tersebut saling berhubungan. Sementara Kang Mus, merasa kasus Pipit ada hubungannya dengan kasus-kasus yang terjadi di Pasar dan Terminal, salah-satunya pengeroyokan.

Jamal sendiri adalah orang yang cukup berwawasan. Ia punya mental pemimpin namun disalahgunakan. Ambisinya untuk menguasai Pasar, Terminal, dan Jalanan adalah sebuah gambaran ketamakan yang membuat citra bisnis yang dibangun oleh Kang Bahar menjadi negatif dimata masyarakat.

Pengembangan Karakter dan Cerita

Salah satu alasan saya senang mengikuti serial adalah karena senang mengikuti perkembangan karakter dan ceritanya. Hal yang tidak bisa didapatkan jika menonton sinetron yang episodnya menyentuh angka ribuan.

Dalam Preman Pensiun 3, ada beberapa karakter yang tidak hadir. Ada Kang Bahar yang sudah almarhum. Ada Kinanti dan Amin yang pergi ke Jakarta. Dan ada beberapa pemain yang jarang muncul seperti Komar, karakter yang cukup saya gemari. Setelah pensiun, Komar menjadi penjual kue balok. Meski masih tampil dalam beberapa adegan, tapi saya tidak lagi bisa ketawa saat dialog,"iya bebeb".

Pengembangan karakter dalam Preman Pensiun cukup bagus dan masuk akal. Maksudnya, tidak ada motif karakter yang membuat saya berpikir,"hah? maksudnya?". Karakter Kang Mus, dari awal merintis usaha sampai berhasil mempekerjakan beberapa karyawan. Layer-layer personal karakter mulai diulik secara bertahap. Dari yang tadinya Gobang hanya sebagai cameo, sekarang menjadi karakter pendamping yang mendapatkan banyak porsi.

Ataupun Taslim, karakter baru yang cukup menyita perhatian saya. Ia sama seperti Joni, meski terlihat pendiam, ia cukup ganas jika berhadapan dengan lawannya. Dinamika karakter Taslim dan Surip adalah salah satu yang cukup sering ditonjolkan selain Murad dan Pipit. Berperan sebagai cameo dalam Preman Pensiun 2, Surip akhirnya mendapatkan cukup porsi untuk menyanyikan lirik,"Euis, ngke antosan heula.".

Meski begitu, ada beberapa karakter yang menurut saya cukup lambat mengalami proses pengembangan. Yang pertama adalah Uyan. Dari Preman Pensiun 1 sampai 3, ia tidak mengalami sesuatu yang berarti. Diharapkan menjadi pasangan Kinanti, tidak juga. Diharapkan menjadi salah satu karakter penting, tidak juga. Meski karakternya cukup memorable, saya mulai bosan jika ia terus disitu, sebagai penulis cerpen koran yang menyukai banyak wanita.

Kemudian ada Ubed, yang sejak Preman Pensiun 2 menjadi penjual cilok. Hubungannya dengan Diza, salah satu mahasiswa yang menjadi pelanggannya, banyak dieksplor disini. Namun, kemunculannya terasa begitu saja. Hambar. Terlalu sering melihatnya menjadi orang biasa malang yang berusaha bekerja dengan halal, adalah pengembangan karakter yang tidak berkembang disini. Hubungannya dengan Diza lebih banyak ditonjolkan. Meski begitu, sampai akhir Preman Pensiun 3 tidak ada kejelasan akan karakter Ubed ini akan dibawa ke mana.

Beda halnya dengan Ubed, salah satu favorit saya yang masih ada adalah Saep. Pengembangan karakternya menarik dan tidak stagnan meski motifnya hanya itu: meramaikan khasanah percopetan di kota Bandung. Berakhir dalam sel beserta anak buahnya, membuat saya tambah ingin melihat kelanjutan ceritanya yang dalam spin-off Awas, Banyak Copet.

'Preman Pensiun 3' dan 'Sang Juara': Awal dan Akhir?
Awas, Banyak Copet

Teknik Match Cut

Bicara soal teknik, dalam dunia sinetron, tidak banyak yang bisa dilakukan. Karena durasi dan jumlah episod, itu menjadikan proses pembuatan sinetron memerlukan waktu yang lebih panjang dari film. Memikirkan teknik pengambilan gambar yang sinematik dan metafor bukanlah prioritas lagi. Lantas, apa kelebihan yang dimiliki Preman Pensiun? Saya tidak banyak melihat selain pengembangan karakter, alur, dan semestanya yang baik. Namun, salah satu yang saya kagum adalah teknik match cut.

Saya tidak begitu menyadari teknik ini pada Preman Pensiun 1, ataukah memang ada atau tidak. Sebab, saya baru menyadari sejak Preman Pensiun 2. Sebenarnya, ini sudah saya sadari sejak awal menonton Preman Pensiun The Movie, teknik ini adalah salah satu yang bikin saya rela dan penasaran menonton sinetronnya.

Saya tidak tahu siapa orang dibalik setiap transisi dialog ini, tapi jika dilihat dari credit title, penulis skenarionya adalah Aris Nugraha sendiri. Jika memang benar begitu, salut sama kang Aris Nugraha.
Related Posts

Related Posts

5 comments

  1. Saya belum pernah nonton, duh. Melihat sosok Kang Mus yang merakyat, rasanya ciri khas orang Indonesia kental terasa pada dirinya.

    Saya sendiri di rumah jarang nonton, tv udah di booking sama adek saya. Hobinya nonton kartun, film anak-anaklah pokoknya. Eh kalo sepi, giliran emak saya yang nonton. Yaudah deh, paling scroll2 hp sama ngerjain tugas kuliah klo ada hadeh :3

    ReplyDelete
    Replies
    1. Salah satu alasan Preman Pensiun disenangi oleh hampir seluruh lapisan masyarakat adalah karena karakternya menjaga kearifan itu.

      Saya juga ini mah ngga nonton di teve, tapi streaming di websitenya RCTI+. Koleksi filmnya kece-kece.

      Delete
  2. Preman pensiun ini emang berkesan ya. Bahkan adegan dagang kecimpring ini pernah muncul di sinetron tukang ojek pengkolan lho. Saya emang nggak nonton secara full. Cuma setengah-setengah pas dulu emak nonton. Tapi nama-namanya jadi familiar di telinga saya.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Saya tidak mengikuti sinetron TOP karena agak ribet juga mengikuti jumlah episodnya yang sudah terlalu banyak. Saya pun, kalau bukan perkenalan dari filmnya mungkin ngga akan kepikiran untuk nonton sinetronnya

      Delete
  3. yang menulis scriptnya keren, idenya luas, beliau membuat cerita yang bisa dibilang ada alur pengembangan karakter dan usaha untuk mencapai di titik itu. meskipun sampai dibuat 3 jilid ya.
    bikin script sampe 3 jilid ini luar biasa menguras isi kepala pastinya.
    aku nggak nonton full kalaupun liat cuman sepintas aja, jadi nggak begitu paham inti ceritanya waktu itu, setelah baca ini jadi tau kesimpulan dari sinetron preman pensiun ini
    semangat kang mus untuk tetep dagang, ini menggambarkan semangat si tokoh yang pekerja keras, bisa dicontoh sama yang nonton semangatnya

    ReplyDelete
Terimakasih sudah membaca. Sila berkomentar terkait tulisan ini.