Garis Antara Kebenaran dan Keraguan

loading...
Dalam beberapa tahun ini, saya banyak berargumen. Tak jarang opini saya bersebrangan dengan opini konvensional. Kadang malah terdengar sangat ngehe dan aneh. Seringnya malah terdengar absurd. Namun selayaknya orang yang beropini, saya juga punya argumen dari keyakinan yang saya yakini sebagai sebuah kebenaran. Sehingga, blog ini yang saya gunakan sebagai wadah.

Karena punya privilege dalam bentuk wadah untuk beragumen, saya juga punya kewajiban untuk membebaskan setiap orang untuk menyanggah. Tidak masalah. Mau argumennya saya tangkap atau tidak, komentar tidak pernah saya moderasi sebagai sebuah pertimbangan untuk menampilkan respon teman-teman. Saya pikir, berani menekan publish saja adalah sebuah keberanian yang pantas dirayakan.

sumber: masterfile

Karena sering punya opini berbeda, saya tentu paham konsekeunsinya. Diskusi akan semakin alot dari biasanya. Topik akan melenceng kesana-kemari. Tapi tidak masalah selama diskusi yang terjadi bisa diselesaikan dalam sekali duduk saja. Sayangnya, ini internet yang mempunyai banyak keterbatasan untuk dialog. Tak jarang, diskusi terasa seperti seleb dan haters dalam kolom komentar Instagram.

Saya percaya kita semua, terutama saya tentunya, bias. Semua opini dan argumen yang saya anggap kebenaran, bisa saja hanyalah bias saya saja. Sama seperti beberapa kasus penangkapan belakangan, apa yang mereka pikir adalah kebenaran, mungkin saja hanya bias mereka. Saya selalu berpikir bagaimana caranya membuka ruang dialog tanpa terlalu bias dengan argumen saya. Tapi, sama seperti diskusi pada umumnya, harus ada satu argumen yang sama-sama akan disanggah.

Hal yang saya sadari itulah yang membuat saya selalu menyimpan titik ragu didalam diri saya. Apakah jangan-jangan kebenaran yang saya yakini adalah bias semata. Atau, jangan-jangan kebenaran yang kita anggap absolut ternyata hanya kebenaran yang dalam beberapa waktu sudah tak lagi relevan.

Saya kerapkali berkeinginan untuk sesekali menutup telinga, tapi tak bisa. Ini semacam cara saya meminimalisir bias saya. Saya butuh pertentangan itu, saya butuh sanggahan itu. Hingga saya tau letak salah saya dimana. Apakah dari poinnya atau dari penyampaiannya.

Kadang, saya merasa apakah opini yang saya berikan semata-mata agar saya terlihat keren saja atau untuk kepentingan hal lain. Berkaca dari apa yang saya lihat, saya tidak ingin menjadi orang yang beropini hanya agar terlihat pintar dan keren. Saya ingin, saya dinilai dari kejernihan opininya, bukan dari orangnya.

Terkadang juga saya terlihat apatis hanya karena saya tidak ikut dalam suatu gerakan, tidak membicarkannya. Padahal, saya ingin melindungi opini saya dari argumen yang keliru. Saya ingin, mendapatkan lebih banyak informasi sebelum mengemukakan pendapat. Disitulah titik keraguan dalam diri saya berfungsi.

Garis antara kebenaran dan keraguan bukanlah hitam dan putih, tapi abu-abu. Yang membuat itu sulit adalah ego untuk mengalah, ego untuk sadar bahwa kita tidak selamanya benar.
loading...

Posting Komentar

17 Komentar

  1. Saya sangat setuju ruang diskusi di internet membatasi gerak kita dalam beropini, sebab disana hilang "nuance" yang membuat diskusi bisa lebih terasa asik, tanpa ada posisi seperti haters
    dan pendukung. Akhir-akhir ini saya juga banyak berkomentar di beberapa postingan di media sosial, Rahul. Yang bertentangan banyak, tapi suasananya selalu terasa panas karena teks yang kita baca nggak bisa mewakili visualisasi dari nuansa yang bisa kita tangkap kalau bicara secara langsung, yang ada gontok-gontokan aja deh jadinya. Akhirnya, karena saya sadar pemikiran saya mungkin terlalu bias, dan belum punya pengetahuan yg cukup untuk membalas argumen-argumen mereka, saya memilih mundur. Susahnya berdiskusi di internet, kita seringkali terjebak dalam bias itu sendiri, tanpa ada konklusi yang jelas. Karena orang-orang terkukung dalam ego mereka masing-masing, nggak mau kalah debat, nggak sadar kalau diskusinya nyata bisa aja kan kita mengutarakan pendapat tersebut dengan lebih sehat:')

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya Aina, energi juga lebih gampang habis karena ngobrol langsung saja kadang suka salah tangkap, apalagi hanya sebatas verbal

      Hapus
  2. Setiap orang punya kebebasan berargumen asalkan tetap menjaga norma, tetap menjaga perasaan orang lain tanpa menyudutkan. Itu sih menurutku. Kadang sering di kelas, saling lempar argumen (saya mah nyimak doang). Iya, gitulah emang bener beberapa orang ada yang terkesan lempar argumen biar terlihat keren. Setiap ada sesi tanya-jawab, dia nanya2 gitu. Gak ngerti juga, mungkin ya mereka itu udah tipenya begitu. Lagian saya orangnya suka nyimak doang, gak masalah sih menurutku huehuee

    BalasHapus
    Balasan
    1. Aku sependapat dengan Reskia dalam hal ini. Aku pribadi bukan tipe orang yang suka berargumen khususnya di dunia maya karena aku tak suka keributan, tapi suka memantau kalau adanya keributan #lho.
      Kalau ada opini atas suatu kejadian yang khususnya sedang viral dan tidak sesuai dengan pendapatku, maka aku akan diam, begitu juga jika ada opini yang sesuai dengan pemikiranku, aku akan diam dan kadang hanya mengutarakan ke orang terdekat aja, tidak di dunia maya karena aku tahu dunia maya begitu luas dan apa yang diucapkan saat ini bisa jadi boomerang bagi kita kelak. Berbeda cerita jika berlindung dibalik akun anonim, kita bisa bebas berpendapat, tapi tidak ada tanggung jawab atas pendapat kita tsb.
      Intinya, setiap orang berbeda-beda, apapun yang dilakukan baik di dunia nyata atau maya, harus berani bertanggung jawab.

      Hapus
    2. Sependapat juga dengan Kak Reskia dan Kak Lia, di mana aku memilih untuk diam saja daripada mengeluarkan sebuah argumen. Bahkan ketika masa sekolah dan kuliah dulu pun aku sering sekali memilih untuk tidak mengeluarkan pendapat dan menjadi penyimak saja. karena takut menjadi bumerang bagi diri sendiri, hueee :'))

      Hapus
    3. Reskia Ekasari: Nah, bicara tentang menyudutkan ini juga pembahasan menarik. Karena kerapkali terjadi pada sesi presentase di kelas. Meski sudah tau jawabannya, tetap saja ditanya biar yang presentase bingung dan dianya terlihat keren. Pada akhirnya juga dijawab sendiri, guru atau dosen

      Hapus
    4. Lia The Dreamer: benar kak Lia. Setiap orang bebas berpendapat asal mau bertanggung jawab atas opininya

      Hapus
    5. Setujuuuu banget!
      eh maksudnya setuju ama Reskia.

      Meskipun juga kita lihat sikonnya ya, kalau memang sedang berada di sebuah forum yang memang membutuhkan masukan atau ide-ide kita sebagai kemajuan, kita ngotot juga boleh-boleh aja.
      Karena kadang ide tidak bisa diterima begitu saja.

      Bahkan kalau di politik, sampai menyudutkan itu biasa hahaha.

      Jadi liat forumnya sih, kalau cuman pendapat biasa di medsos, saya pikir kita semua punya kebebasan berbatas norma.
      Selama itu nggak merugikan orang lain, silahkan sih, dan tidak perlu peduli dengan haters :)

      Hapus
  3. Saya adalah salah satu orang yang paling jarang beragumen tapi kadang berargumen kalau lgi nggak tahan sama opini orang aja😁 malas rasanya kalau harus debat mending menjauh aja. Hanya saja kalau lihat orang lain berargumen saya merasa kagum, kok tuh orang pinter banget ngomongnya.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Kalau seperti itu, lebih tepatnya bisa dikatakan menyanggah

      Hapus
    2. Meskipun, saya juga setuju ama Tria, jujur kalau di kehidupan sekarang, kalau ada yang ngajak debat, duh mending saya buka laptop buat nulis, kagak punya tenaga dan waktu saya ladenin debat kusir apalagi biar terlihat keren aja hahaha.
      *mamak lyfe :D

      Hapus
  4. Rahul topiknya berat buat aku, hehe. Sejujurnya aku nggak tahu posisi aku di mana Rahul. Sejauh ini aku berpendapat seringnya tentang isu perempuan dan pendidikan, walau ada juga isu lain. Biasanya aku lebih nggak suka sama saling ngotot dan unjuk gigi siapa yang paling benar siapa yang salah siih, semakin kesini aku nggak pernah mempersalahkan orang mau nganut A mau nganut B, kalau aku dan sahabat beda pendapat pun aku nggak mau bahas, bakal mau bahas kalau tujuannya murni diskusi kayak "Kenapa lu bisa berpendapat gitu?" Walau ujung-ujungnya nanti tetap saling tidak setuju, yaudah gitu aja, kami tetep sahabatan.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Semakin ke sini, kita semakin paham bahwa merasa paling benar bukan jalan untuk membuat kita terlihat benar. Malah dengan menghargai argumen (mudah-mudahan), itu jadi lebih baik. Kalau adu argumen sama teman paling ujung-ujungnya tetap pada pendirian masing-masing. Bedanya tetap lanjut berteman atau tidak

      Hapus
  5. Makin ke sini opininya Rahul makin dewasa, saya jadi minder bacanya.

    BalasHapus
  6. Aku tipe yg ga terlalu suka berargumen. Kalo bisa menghindari, aku biasanya menjauhi topik begitu :).

    Aku setuju dgn pendapat kita semua ini suka bias. Percaya dengan sesuatu, tp sbnrnya, nth yg kita percaya itu udah pasti bener, ato hanya anggapan kita aja :D. Itulah kenapa aku ga mau terlalu fanatik mas. Suka dan percaya dengan sesuatu oke oke aja, tapi jgn sampe fanatik dan menganggab hanya kita yg benar. Pikiran ttp hrs terbuka supaya bisa menerima pendapat org lain :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Yap, sesuatu yang berlebihan memang ngga baik kak Fanny 😁

      Hapus

Terimakasih sudah membaca. Sila berkomentar terkait tulisan ini.