Kondangan ke Pulau Saponda, Angin Kencang, dan Kesurupan

loading...
14 Agustus pas hari Jumat, seharusnya Bapak dan Mama sudah ke Pulau Saponda untuk kondangan. Tapi ternyata pindah ke esok hari. Alasannya, Mama saya tidak mau berlama-lama di sana. Acaranya juga pas malam Minggu, jadi perginya sekalian pas hari Sabtu. Keuntungan untuk saya yang sedang sakit saat itu, bisa ada waktu untuk memulihkan diri. Jika mereka pergi hari Jumat, saya tentu saja akan skip.

Baca juga: Sakit Pertama Tahun 2020

Sebelum benar-benar pergi, saya lebih dulu ke apotek membeli Paracetamol. Saya juga agak bingung, apapun sakitnya selalu yang saya cari Paracetamol. Kebetulan saja, saat itu saya memang agak sakit kepala, masih nyeri pada sendi, dan sepertinya memasuki fase akan demam. Setelah minum obat, saya jadi lebih baik.

Sabtu siang, kami sudah di pelelangan ikan untuk menunggu. Sudah ada saya, Mama, Rendy, dan Om Dani. Bapak saya baru saja mengantar Om Alex, kakak calon pegantin. Setelah Bapak datang, kami pergi ke pinggir lelang, disana sudah ada kapal yang bersandar. Karena air tidak naik, kami harus turun untuk bisa naik ke kapalnya.

Kesalahan pertama adalah memakai sepatu lebih awal. Saya akhirnya membuka, menggantinya dengan sendal. Kapal yang kami tumpangi cukup besar, ada tempat untuk berteduh di depan kapal. Ada dua tempat ikan yang bisa kami masuki.

Kapal mulai berjalan, dan kami meninggalkan pelelangan.

Baru beberapa meter, kami menepi di pingggir pelabuhan kota. Itu untuk mengisi bahan bakar sekaligus menjemput orang. Ada beberapa laki-laki, seorang Ibu dan anak. Setelah mendorong kapal yang tersangkut dengan kayu, akhirnya kapal kembali berjalan. Melewati jembatan kota yang masih dalam proses pembangunan.

Kami melewati beberapa tempat, kapal, sampai mendapati permukaan laut yang terhampar tanpa apa-apa. Kemudian ombak menggulung besar, membuat kapal jadi terombang-ambing. Cipratan air dari kiri dan kanan mengenai baju dan muka. Akhirnya, saya memutuskan untuk masuk ke tempat ikan bersama yang lain. Mama saya, bersama Ibu dan Anak yang naik dari pelabuhan berada di bawah depan kapal.

Di dalam tempat ikan, ada saya, Om Dani, dan satu orang yang bekerja di pelelangan ikan. Saya menghabiskan banyak waktu dibawah sini. Sesekali hampir tidur tapi mesin kapal terdengar sangat berisik dan menganggu. Beberapa kali saya melihat Om Dani agak gelisah. Ia berdiri, kemudian duduk lagi. Sampai kemudian saya dibangunkan untuk melihat suasana pesisir karena sudah sampai.

Kami turun dari kapal dan menuju pesisir pantai untuk naik ke daratan. Pesisir pulau terlihat hijau dan jernih, ada banyak bulu babi. Meski begitu, tak sedikit pula sampah di bibir pulau. Kami dipersilahkan untuk masuk dan beristirahat. Bapak, Om Dani, dan Alex sedang ngobrol diluar sementara saya dan Rendy ke belakang untuk melihat-lihat sekitar.

Disini, kucing dan kambing dipelihara secara bebas. Jadi, disepanjang jalan, kita bisa melihat sekawanan kambing sedang makan makanan sisa ataupun tumbuhan kering. Ada juga kucing yang setiap melihat manusia selalu mengeong. Saya mengambil beberapa gambar karena memang suasananya keren sore itu.

Kondangan ke Pulau Saponda, Angin Kencang, dan Kesurupan

Kondangan ke Pulau Saponda, Angin Kencang, dan Kesurupan

Saya kembali, dan dipanggil untuk makan. Kudapan yang disediakan adalah telur, daging, dan beberapa lauk lainnya. Asumsi saya, ini adalah makanan untuk acara nanti malam. Setelah makan, saya dan Rendy mencari Om Dani untuk makan. Ternyata Om Dani berada di lapangan, tepat di dalam tenda sedang ngobrol dengan banyak orang yang tidak saya kenali.

Om Dani pulang bersama Rendy, sementara saya tinggal untuk menonton orang bermain voli dan sepak bola. Jalanan disini cukup mudah dikenali, apalagi, saya menjadikan mesjid sebagai titik untuk saya mengenali jalan pulang. Udara sore itu cukup dingin, anginnya juga kencang. Saya pernah ke Pulau yang berbeda, tapi anginnya tidak sekencang ini. Beberapa penduduk terlihat memakai sarung meskipun disore hari.

Kondangan ke Pulau Saponda, Angin Kencang, dan Kesurupan

Saya tidak mandi saat itu, hanya keramas dan cuci muka. Kemudian bersiap untuk ke pesta. Lampu di Saponda baru menyala diatas jam 5 sore. Sehingga, bagi yang mau men-charge hape harus dilakukan dimalam hari karena lampu akan mati dipagi hari.

Setelah pakaian, saya ke rumah belakang. Itu untuk mencari jaringan karena di beberapa area, hape saya tidak mendapatkan jaringan. Saat kembali, rumah hampir kosong karena semua sudah bergegas menuju lapangan. Untungnya, Mama dan Rendy belum pergi. Sementara memakai sepatu, Rendy menunggu. Kami pergi berdua, lewat jalur masuk utama dimana sudah ada beberapa penjamu tamu.

Kami duduk dikursi paling belakang, berdekatakan dengan penjamu tamu yang disana ada Mama juga. Kami menunggu tamu undangan berkurang untuk makan. Karena angin kencang, kami bisa melihat dari tenda samping kiri sudah condong masuk ke dalam karena diterpa angin. Meski sudah diikat, tenda yang dipasang putus dan saya harus memegang untuk salah satu orang di sana mengikatnya.

Perbedaan yang dibisikkan oleh adik saya adalah kalau pesta di tempat kami, kuenya kami ambil sendiri dari meja. Sedangkan di sini, ada semacam tugas untuk beberapa orang, terutama anak perempuan, untuk menjamu tamu dengan kue pencuci mulut. Setelah melihat keadaan tamu mulai berkurang, saya dan Rendy akhirnya mengambil makan.

Dari jalur keluar, ada Om Dani yang sedang merokok. Saya memberi kode agar ia masuk dan ikut mengambil makan bersama kami. Setelah makan, saya memutuskan pulang untuk mengganti baju batik ke baju biasa. Rendy ikut bersama saya karena kebelet kencing katanya. Karena lebih dulu masuk, saya lebih dulu ke toilet. Karena tak tahan, saya mendapati dia baru saja selesai kencing di samping rumah.

Perbedaan kedua, jika di tempat tinggal kami, pesta paling lama itu sekitaran jam 1. Biasa ditutup dengan molulo diiringi musik lekton. Di sini hampir sama, tapi katanya, bisa sampai jam 9 pagi. Haus pesta sekali. Saya dan Rendy kembali ke pesta. Namun sudah memakai sendal, baju kaos, dan jaket.

Dari area samping, kami pindah ke area belakang, yaitu yang mengarah pada jalur masuk. Saya melihat ada yang sudah tak beres. Angin tambah kencang dan membuat tenda seperti akan ambruk. Setelahnya, orang bergegas keluar dari tenda acara, begitu juga dengan pengantin. Beberapa orang menahan besi dan tali yang berada disamping kanan tenda.

Kondangan ke Pulau Saponda, Angin Kencang, dan Kesurupan

Kuda-kuda tenda hampir roboh, ditahan oleh banyak orang. Hingga akhirnya mereka menyerah, dan memutuskan untuk membuka tenda dari rangka besi untuk mengurangi beban yang dibuat oleh tenda. Karena mulai berbahaya, saya mengajak Mama untuk kembali, tapi berhenti di satu rumah yang terlihat ramai. Awalnya, saya kira itu mempelai wanita yang syok. Tapi ternyata salah satu penduduk yang sedang kesurupan.

Kondangan ke Pulau Saponda, Angin Kencang, dan Kesurupan

Saya tidak sempat masuk dan melihat, tapi kata orang-orang, wanita yang kesurupan di dalam menyerupai nenek-nenek. Usut punya usut, setelah ditanyai, ternyata kesalahannya ada pada adat yang tidak dijalankan semestinya. Seharusnya, saat mempelai pria datang, penduduk setempat menjamu dengan alunan gendang dan gong, namun karena mereka juga punya adat dan alat musik sendiri, penduduk setempat hanya melakukan adat dari mempelai laki-laki. Kesimpulan yang bisa saya ambil dari obrolan orang-orang di sana.

Kami pulang dan beristirahat. Baru beberapa menit baring, Rendy sudah tertidur. Sementara Mama dan yang lain ngobrol, saya berniat untuk tidur. Ada Om Dani di samping saya, yang juga terlihat ngantuk. Kami bertiga tidur. Saya terbangun jam 3 pagi dan mendengar musik lekton dari kejauhan. Ternyata mereka melanjutkan pesta.

Om Dani bangun dan ke luar bersama Bapak dan Om Alex untuk ngobrol. Setelah mengumpulkan nyawa, saya mencuci muka dan pergi ke lapangan melihat acara yang masih berlangsung. Di sana, sudah hampir pukul 4 pagi tapi orang-orang berkeliaran layaknya jam 8 malam. Sampai di lapangan, orang sudah berkumpul sambil berjoget dengan lagu remix yang sering dipakai oleh musik Tik Tok.

Saya menyaksikan dari sela-sela orang yang juga menonton. Setelahnya, acara diganti dengan molulo. Mungkin karena terlihat cukup chaos, makanya diganti dari joget menjadi lulo. Biar yang orang dewasa juga bisa ikut. Molulo atau lulo adalah tarian tradisional, biasa digunakan setelah pesta pernikahan.

Awalnya, hanya terbentuk lingkaran kecil dari beberapa orang. Kemudian menjadi beberapa lingkaran. Sampai pada akhirnya membentuk satu lingkaran besar yang dibentuk oleh banyak orang. Mulai dari dewasa, sampai anak-anak. Saya ingin ikut, tapi entah kenapa ada rasa malas. Mungkin karena perasaan ngantuk masih ada.

Kondangan ke Pulau Saponda, Angin Kencang, dan Kesurupan
Kapal penduduk Saponda

Sebelum adzan, acara berhenti. Katanya, akan dilanjutkan setelah salat shubuh. Nyatanya, rombongan penyusun tenda dan musik sudah memboyong alat mereka untuk diangkut ke kapal. Saya tidak tahu akan pulang jam berapa, maka dari itu saya memilih untuk tidur karena ngantuk. Dibangunkan saat mau makan. Entah sarapan atau makan siang. Yang jelas saat Rendy sudah pergi untuk mancing di tengah laut bersama orang-orang di sana.

Kondangan ke Pulau Saponda, Angin Kencang, dan Kesurupan
Kegiatan penduduk Saponda disore hari

Setelah makan, saya melanjutkan tidur. Tidak banyak yang bisa saya lakukan selain itu. Jaringan juga susah untuk ditemukan. Pilihan yang paling tepat adalah tidur. Kemudian dibangunkan kembali untuk pulang. Sebenar-benarnya, kami akan pulang diesok hari. Tapi Bapak memilih hari ini, sebab Tante dan adik paling bungsu hanya berdua di rumah.

Kondangan ke Pulau Saponda, Angin Kencang, dan Kesurupan

Kami pulang dengan menaiki kapal yang lain. Agak kecil dan gampang goyang. Membuat saya lebih waspada dari kemarin. Di depan saya, ada Om Dani dan para awak kapal yang lain. Di belakang, ada Bapak, Mama, dan Rendy bersama awak kapal yang bertugas sebagai nahkoda. Kami berhenti di pinggir laut belakang rumah. Hanya beberapa ratus meter untuk sampai di rumah. Setelah sampai, yang pertama kali saya pikirkan adalah mandi.
loading...

Posting Komentar

2 Komentar

  1. Rahul, aku jadi kebayang perjalanan Rahul saat naik perahu dan saat tenda kondangan mau terbang, ikut terbayang juga ngerinya 😂
    Dan saat lagi baca-baca serius, malah dibuat kaget dengan ada yang kesurupan 😂

    Btw, indah ya pulaunya. Pantainya bersih sekaliiii 🤩 keren keren keren. Semoga pulau Saponda bisa terus seperti ini, pulau dengan hamparan pasir yang putih.

    Ngomong-ngomong, perahu yang antar pulang sih serem banget ya karena kecil 😂 dan biasanya perahu kecil gitu malah membuat jadi mabok laut. Rahul ngerasain mabok laut nggak? 😂

    BalasHapus
    Balasan
    1. Ha ha ha. Kejadiannya memang seperti itu. Mengerikan sekali. Tapi kalau mau dibilang bersih juga tidak sih. Masih banyak sampah berserakan. Yang patut diapresiasi adalah kejernihan airnya.

      Asli. Perahu yang agak besar saja sudah bikin pusing, untungnya pas pulang ombak tidak terlalu besar jadi pusingnya tidak terlalu berasa

      Hapus

Terimakasih sudah membaca. Sila berkomentar terkait tulisan ini.