zsnr95ICNj2jnPcreqY9KBInEVewSAnK0XjnluSi

Sakit Pertama Tahun 2020

Setelah pulang dari Kolaka, itu sudah hampir jam 10 malam. Saya masuk ke rumah setelah pagar dibuka oleh Tante saya. Di ruang keluarga, ada Bapak yang masih main hape. Saya masuk ke dalam kamar, mencari fresh care yang memang saya simpan khusus kalau-kalau saya masuk angin. Dan sepertinya, malam itu memang saya masuk angin, atau lebih tepatnya akan jatuh sakit jika besoknya belum sembuh.

Perjalanan ke Kolaka adalah perjalanan mengantar Ibu Riki. Setelah touring Ladongi yang membuat Riki kecelakaan, perjalanan kali ini akan jauh lebih panjang. Kami naik mobil HR-V putih yang dibawa oleh Kak Rijal. Dibagian depan ada Ibu Riki, di kursi belakang ada Riki, Rendy, dan saya. Kalau kemarin 248 KM sudah termasuk pulang-pergi, kali ini 190 KM hanya untuk pergi. Jadi kira-kira, perjalanan pulang-pergi tidak kurang dari 380 KM.

Baca juga: 248 KM

Di kamar, saya tidak menemukan fresh care. Kemudian saya ingat, pernah meminjamkannya ke Mama. Saya keluar dari kamar, dan tepat baru saja Tante saya hendak masuk setelah mengunci pagar rumah,"fresh care yang itu hari mana?"

Tante saya membuka pintu untuk ke warung. Mengambil fresh care yang disimpannya di dalam warung dan dua bungkus Indomie goreng untuk Bapak. Saya ke Kamar Tante, sudah ada Adik saya yang perempuan, baru mau tidur. Saya minta tolong untuk dioleskan fresh care dibagian punggung. Dugaan saya saat itu benar, sepertinya memang masuk angin. Asumsi itu lahir saat merasakan geli saat fresh care dioleskan. Biasanya memang seperti itu.

Besoknya, saya demam. Kepala, sendi, dan tulang saya sakit. Mulai dari sendi lengan, lutut sampai area punggung. Semuanya sakit. Meski begitu, saya tidak sampai menggigil. Hanya kaki saya memang agak lebih dingin dari biasanya. Itu sebabnya, semalam saya tidur menggunakan kaos kaki.
 
Perjalanan memang sangat jauh, apalagi kami hanya ada dibangku penumpang. Itu sangat membuat jenuh diwaktu-waktu pulang, saat tenaga kami sudah habis diperjalanan, foto-foto, dan istirahat sebentar untuk langsung pulang setelahnya.


Saya jarang sakit, sekalinya sakit pasti benar-benar drop. Saya rasa, ini penyebab saya jarang olahraga selama pandemi ini. Saya juga tidak mau menjadikan pandemi ini alasan. Alasan sebenarnya, saya sangat ingin joging tapi jarang sekali bisa bangun pagi. Mau lari sore, lapangan selalu dipenuhi orang-orang, jalur lari menjadi sangat sesak. Saya agak jengkel dengan situasi itu. Apalagi kalau larinya horizontal bergerombolan, menutupi ruas jalan.

Faktor lainnya adalah, beberapa hari sebelumnya, saya sempat ke Ladongi juga. Masih belum benar-benar pulih, langsung gas lagi ke Kolaka. Mungkin dua faktor itu yang bikin saya jadi tumbang. Sampai-sampai, saya harus absen salat Jumat karena memang sangat menggigil. Angin di Kolaka memang cukup kencang waktu itu, apalagi selama perjalanan kaca mobil selalu dibuka untuk mendapatkan angin dari luar. Sayangnya waktu itu kondisinya tidak baik-baik saja untuk saya. Saya sudah merasa akan tumbang saat pemberhentian di Indomaret, itu saat perjalanan pulang dari Kolaka.

Semua turun untuk membeli minum dan makanan ringan, kecuali saya. Saya memang tidak ada niat belanja, tapi bukan itu alasan saya tidak turun. Saya memang menyimpan tenaga untuk perjalanan yang masih sangat jauh. Meski begitu, saya mencoba tetap riang sepanjang perjalanan. Ikut bernyanyi saat Riki memutar lagu yang tersambung dari hape ke bluetooth mobil.

Saya lalu sadar, ini mungkin momen sakit dimana saya akhirnya tumbang. Sakit yang benar-benar dalam keadaan drop. Sebelum pandemi, kayaknya saya pernah ke rumah sakit untuk rujuk masalah telinga. Pernah mengalami gejala-gejala corona diawal PSBB. Tapi untuk hitungan benar-benar tumbang, mungkin ini yang pertama tahun 2020. Saya ingat, seorang teman pernah bilang, sakit adalah cara tubuh memberi tahu bahwa kita perlu istirahat. Ada benarnya juga.

Meski begitu, saya memang orang yang cukup bandel. Hari Sabtunya, saat Bapak, Mama, dan Adik saya mau ke Pulau Saponda untuk kondangan, saya mengiyakan ajakan mereka. Karena memang saya cukup penasaran. Belum pernah ke sana, dan sepertinya akan jadi pengalaman menarik. Selama pandemi, untuk ukuran anak bandel, saya cukup jarang ke luar rumah.

Acara kondangan di Pulau Saponda ini terdengar menarik. Apalagi, ada embel-embel akan menginap di sana. Karena keadaan sudah lumayan enak, saya memilih untuk ikut. Hitung-hitung, jika sudah normal kembali dan dapat tugas dari dosen, saya bisa cerita selain pengalaman liburan ke rumah nenek.
Related Posts

Related Posts

14 comments

  1. Semoga sehat selalu ya hul. Masuk angin gak mau kerokan nih? wkwk

    Saya tipe orang yang juga cepet kumat kalo berlama-lama menantang angin. Misalnya keluar malem-malem, belom lagi kalo naek motor ke daerah yang jauh, atau naik mobil kacanya dibuka, duh angin dengan mudahnya hinggap. Oiya satu lagi, saya gk bisa lama-lama duduk di lantai tanpa alas. Bisa-bisa bagian bahu saya bakal pegel nyeri gitu. Duh masih muda ya, perlu sayang sama tubuh


    (((Jangannn begadang juga wey, ini ngomennya tengah malam)))

    Ampun hul jadi ga jelas gitu komentarnyaπŸ˜‚

    ReplyDelete
    Replies
    1. Kata Mama, jangan biasakan diri dikerokin, nanti pori-pori melebar. Ngga tau, itu teori dia. Saya mah ngikut aja. Toh, lebih enak juga pakai fresh care yang tinggal dioles-oles aja.

      Dulu, saya cukup kebal dengan angin dan dingin. Usia belum terlalu tua sih, tapi sudah mulai ngga bisa kena angin malam. Kalo masalah begadang, itu pilihan tiap orang. Kadang ada juga yang begadang karena memang susah untuk tidur meski dipaksakan. Intinya mah jaga kesehatan masing-masing saja

      Delete
    2. Saya termasuk yang enggak mau kerokan juga. Sudah 5 tahun sepertinya meninggalkan budaya kerokan. Kalau merasa masuk angin cukup minum banyak air putih hangat. Bisa juga diobati tolak angin sehari sekali. Atau susu jahe hangat juga semakin mantap. Selebihnya banyak tidur.

      Delete
  2. Waaah 380km, lumayan pegal itu kalau PP, nggak kuat saya membayangkannya. Sudah macam pergi ke Korea, 7 jam di jalan πŸ˜‚ saya pun kadang bisa sakit kalau kelamaan duduk mas, jadi mungkin mas Rahul sakit karena kelelahan, ditambah masuk angin, lengkap sudah penyebabnya πŸ˜†

    Sekarang sudah sembuh belum, mas? Semoga bisa selalu sehat yah, dan dijauhkan dari penyakit apapun especially sampai tumbang. Eniho, siap sedia Tolak Angin mungkin bisa jadi jawaban, mana tau ampuh mengusir angin yang mau masuk ke dalam badan hahahaha. Ditunggu cerita perjalanan berikutnya 😁

    Stay safe and healthy, mas ~

    ReplyDelete
    Replies
    1. Kurang lebih akan segitu kak Eno. Untungnya, kami sempat beberapa kali singgah untuk makan dan minum.

      Saat cerita ini diterbitkan, saya sudah sembuh karena ini cerita Agustus kemarin. Saya juga sempat kepikiran untuk siap sedia itu, tapi lebih ingat untuk beli fresh care

      Delete
  3. Aku juga pernah dengar pernyataan bahwa sakit adalah cara tubuh mengingatkan kita untuk beristirahat. Jadi kalau masih bisa sakit, bersyukur aja karena masih diingatkan hahaha.
    Sekarang udah membaik kah? Semoga sehat selalu ya Rahul :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Sekarang sudah sehat wal afiat kak Lia. Kebetulan ini cerita bulan Agustus kemarin

      Delete
  4. Semoga sekarang udah sehatan ya, Mas Rahul. Pas banget baca ini saya baru kerokin suami karena masuk angin juga πŸ˜‚ jangan lupa minum tolak angin atau air jahe, biar segar kembali.

    Cuaca di Bogor juga belakangan agak labil, siang panas terik, sore ke malam hujan besar. Jadi memang agak rawan untuk kesehatan badan. Semoga di tengah pandemi ini juga kita tetap jaga kesehatan meski di rumah aja ya.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Ha ha ha, bisa pas gitu yah. Saya mah diolesin fresh care juga biasanya langsung enakan. Dari tadi, saya nyebut merek tapi ini bukan pos sponsor. Tapi kalau fresh care mau, saya siap πŸ˜…

      Kalau di Kendari, alhamdulillah cuacanya bagus dan terik. Musim hujan sudah berakhir Agustus kemarin

      Delete
  5. Cepat sehat ya mas..

    Kayaknya efek naik motor 248 Km itu baru kerasa. Mau tidak mau jarak itu termasuk berat untuk naik motor. Apalagi ditambah dengan peristiwa tabrakan.

    Terus diforsir..

    Jaga diri mas

    ReplyDelete
    Replies
    1. Kalau dilihat dari rentang waktu, seharusnya sudah tidak ada masalah dengan perjalanan kemarin.

      Siap mas Anton. Untuk ucapan yang sama, kepada semua teman-teman

      Delete
  6. Bisa dibilang semenjak pandemi memang sulit untuk melakukan olahraga. Kalau cuma senam lantai atau angkat barbel atau apalah, rasanya kurang. Rutinitas joging jadi terhalang karena kan butuh ke lapangan. Itu pun anehnya di lapangan masih ramai. Apanya yang PSBB coba?

    Satu-satunya cara biar bisa tetap joging tentu larinya di kompleks perumahan. Bisa sih itu, toh jaraknya cuma 10-15 menit dari rumah. Masalahnya, kudu lari sehabis Subuh atau jam 6. Lebih dari jam 7 kompleksnya juga mulai ramai orang sekitar yang juga joging dan siap-siap berangkat kerja.

    Semoga lekas pulih, Hul.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Salah satu faktor yang bikin saya malas juga, joging kalau lagi rame. Makanya, saya agak malas bawa teman kalau joging. Disamping ritme lari saya agak berbeda, saya juga tidak mau kebanyakan ngobrol

      Delete
  7. Semoga memang hanya masuk angin ya mas Rahul :). Banyakin vitamin dan istirahat. Sedang musim begini, imun tubuh hrs bener2 di jaga.

    Selama pandemi untuk olahraga aku yg tdnya suka jogging di taman olahraga Deket rumah juga jd males. Ga berani. Akhirnya udh bbrp bulan aku rutin workout pake YouTube :D. Cari video2 yg ga terlalu susah awalnya, untuk pemula dulu, kemudian meningkat ke video workout yg lain. Lama2 bdn jd biasa juga :D. Yg penting stiap HR ada gerak dan keringat lah :D

    ReplyDelete
Terimakasih sudah membaca. Sila berkomentar terkait tulisan ini.