Egois Itu Bukan Sifat, Tapi Fase

loading...
Beberapa hari yang lalu, saya menonton film Sabar, Ini Ujian di Disney + Hotstar. Meski keren, saya tidak ingin bahas filmnya. Saya ingin bahas salah satu line dialog dalam filmnya. Saat itu, Sabar yang diperankan oleh Vino bertanya pada Ibunya yang diperankan oleh Widyawati,"jadi selama ini aku egois, bu?"

Ibu Sabar menjawab,"egois itu bukan sifat Bar, itu fase."
 
Egois Itu Bukan Sifat, Tapi Fase
Sabar Ini Ujian (2020)
 
Untuk naik ke fase selanjutnya, kita harus melewati fase itu. Dengan ikhlas dan bersyukur. Bersyukur, bukan hanya tentang sesuatu yang belum kita miliki. Tapi juga sesuatu yang belum kita berikan. Contohnya, maaf.
 
Saya jadi mikir, apakah saya sudah melewati, sedang, atau bahkan belum sama sekali melewati fase itu. Saya cukup sadar dengan keegoisan saya. Menurut saya, semua manusia punya sisi egois dalam dirinya. Pembedanya, adalah individunya sendiri, seberapa mampu menyeimbangkan ego.

 
Kalau diingat-ingat, jauh sebelum ini saya sudah melewati fase itu. Itu sekitar 7 atau 8 tahun yang lalu. Saat saya masih SMP dan menyukai seorang perempuan. Namun, perasaan saya tidak sejalan dengannya. Ia hanya menganggap saya sahabat dan sebagai orang yang jatuh hati saya merasa itu sebagai sebuah penolakan. Egoisnya, saya menjauh darinya.

Saya masuk ke SMA yang berbeda dengannya. Saya mencoba untuk tidak berhubungan lewat jalur apapun. Saya mencoba untuk tidak bertemu dalam kondisi apapun. Saya hanya ingin menikmati masa-masa SMA yang mempunyai kehidupan remaja yang menyenangkan. Tahun demi tahun berlalu, saya akhirnya sadar bahwa menjauh bukan hal yang baik.
 
Saya mulai mengirim pesan dengan anggapan bahwa saya sudah bisa memaafkan kesalahan yang sebenarnya tidak harus saya timpa kepadanya. Saya sudah bisa memaafkan ego saya yang terlalu keras ini. Saya sudah ikhlas dengan segala masa lalu yang telah terjadi. Saya berterima kasih untuk itu.
 
Jika memang itu adalah sebuah fase, artinya saya sudah berada difase berikutnya. Sebutlah itu tingkatan, artinya saya sudah berhasil untuk ikhlas. Apakah saya mensyukuri kejadian itu? Saya bersyukur sudah menjadi bagian dari cerita masa lalu itu. Menjadikan saya lebih banyak bersyukur bahwa ternyata dunia tidak berputar untuk diri saya seorang.
 
Saya tidak lagi mengucapkan selamat ulang tahun kepada orang bahkan teman terdekat saya. Ini hanya sebuah fase, menurut saya. Dalam perspektif agama yang saya percaya, ulangtahun adalah transisi dimana berkurangnya usia, bukan bertambah. Untuk itu, saya merasa itu tidak perlu dirayakan dengan ucapan. Tapi bisa ke hal yang lain. Lagi-lagi ini hanya masalah prinsip saja.

loading...

Posting Komentar

20 Komentar

  1. For me I guess my ego is bigger enough that sometimes annoyed me .

    I really hope there's a moment where finally I can be good and accepting everything sincerely and not faking .

    Congrats for already out of that phase :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Kadang-kadang, saya berpikir, "apakah saya tidak terlalu melukai ego saya?" 😁

      Tetap mencoba, kak Sophea

      Hapus
  2. Lho, lho, saya juga nonton film ini sebulan yang lalu dan sama terkesimanya dengan dialog ibunya Sabar, tapi berhubung lupa, sekarang berasa diingatkan kembali oleh tulisanmu, Rahul🀧.

    Fase egois ini buat saya pribadi cukup membingungkan, sebab entah dari mana mulainya atau dimana titik terberat sampai-sampai saya bisa seegois itu. Tapi saya rasa, sampai hari ini saya masih egois dan belum banyak bersyukur atas apa yang sudah diberikan kepada saya dan apa yang belum saya berikan kepada orang-orang terkasih:')

    BalasHapus
    Balasan
    1. Saya nontonnya juga sudah sebulanan, tapi tulisan ini baru publish karena mesti ngantri sama yang lain. Ha ha ha, #TimIbuSabar 😁

      Egois dan tidak peduli itu beda, Aina. Kadang-kadang, ngga apa-apa mendahulukan diri sendiri. Tapi kepedulian harus tetap ada. Bahwa pada akhirnya, dunia tidak berputar untuk kira seorang

      Hapus
  3. Fase egois akan selalu ada, dan itu seperti circle kehidupan. Egois dulu, baru sadar, memaafkan, menerima, kemudian bersyukur atas pengalaman yang ada. Begitu terus sampai tua, cuma yang membedakan itu porsinya, alasannya, sikapnya, dan lain sebagainya πŸ˜‚ hehehehe.

    Suka sama kata-kata ibunya Sabar (meski belum pernah menonton filmnya tapi bisa relate). Karena saya pribadi sampai sekarang pun kadang masih egois, untuk hal-hal yang ingin saya pertahankan sebelum akhirnya sadar, kalau saya perlu lanjut ke fase berikutnya πŸ˜† -- kalau sudah begitu paling puk-puk diri sendiri sambil bilang, "It's okay, it's normal." 🀣

    BalasHapus
    Balasan
    1. Nah, benar kak Eno. Ini hanya masalah mengikis ego untuk sampai pada tahap alasan dan porsinya bisa lebih manusia. Bagaimana cara menyikapi, itu adalah bagian dari prosesnya.

      Kalau nonton, pasti lebih sedih kak Eno. Salah satu film Indonesia yang bagus tahun ini yang rilis saat pandemi. Mendahulukan diri sendiri mah gapapa kak Eno, asal tetap peduli. Itu aja cukup, sih

      Hapus
  4. Aku belum nonton film tersebut. Namun kukira, amanat ceritanya oke juga. Bikin para penontonnya merenung dan memikirkan ulang tentang diri mereka sendiri. Salah satu buktinya ya tulisan ini. Muehehehehe ...

    BalasHapus
    Balasan
    1. Meski ekspektasi saya cuma menikmati film, tapi kalau ada bonusnya alhamdulillah

      Hapus
  5. Setuju kang, egois ada dalam diri manusia tinggal bagaimana kita menyikapinya. Tapi biasanya dengan pertambahan usia akan sedikit luntur sifat egois. Bukan hilang tapi mulai berkurang.

    Terus sekarang sudah baikan lagi sama mantannya ya kang Rahul, maksudnya saling berkirim kabar gitu.πŸ˜ƒ

    BalasHapus
    Balasan
    1. Ego akan luntur karena banyak faktor. Salah satuunya tanggung jawab 😁

      Eh, saya tidak pernah mengatakan mantan 😊

      Hapus
  6. Gara-gara tulisan ini jadi mikir juga apakah saya juga masih egois? Terus flashback untuk mencari jawaban dan... untuk orang yang tidak mengenal saya secara personal, mungkin akan mengira saya egois bukan main. Egois, perfeksionis, ngatur-ngatur, dan sejenisnya. Untuk orang yang sudah tau, kebanyakan bilang tegas. Saya sendiri merasa hanya melakukan apa yang seharusnya dilakukan dengan membuang batas antara baik atau buruk dan baik atau salah.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Ha ha ha, iya kadang saya juga suka mikir apa yang orang lain pikirkan. Tapi sekarang saya jadi lebih luwes saja. Karena toh, saya tidak perlu menjelaskan siapa diri saya karena orang yang kenal saya ngga butuh itu dan orang yang ngga tau saya juga ngga peduli

      Hapus
  7. Kalo dipikir2, oke, aku setuju mas. Egois itu fase :). Krn sepertinya aku banyak ngelakuin hal2 yg aku anggab egois, tp toh pada akhirnya aku mengalah dan bisa menerima :).

    Jadi sepertinya egois memang bukan sifat. Semua orang aku rasa pernah memiliki ato melewati fase ini. Tinggal gimana dia menyikapi :). Bisa menerima, ato tetep bertahan di fase itu :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Egois itu akan tetap ada, seperti kata kak Eno, yang beda cuma porsi, cara kita menyikapi, ataupun alasannya

      Hapus
  8. Kata-kata ibu Sabar dalem juga, ya... bikin saya jadi mikir ulang, kira-kira saat seseorang bersikap egois, apa yang sebenarnya ada di pikirannya, ya?

    BalasHapus
    Balasan
    1. Tergantung apa alasannya untuk egois. Wallahualam. Pikiran orang siapa yang tahu

      Hapus
  9. wah kisah cinta monyetnya rahul malah bisa jadi postingan kontemplasi ya, xixix

    aku sendiri..kuakui kadang aku ya masih egois sih...mungkin untuk beberapa hal tertentu iya..

    bukannya kenapa kenapa tapi aku cuma pengen menyelamatkan hatiku dulu supaya tidak melihat sesuatu hal yang menyesakkan dada wkwkkw...istilah kata biar aku yang pergi atau mundur alon alon karena sadar aku sopo, kayak gitu istilah jawanya hahhahahah

    BalasHapus
    Balasan
    1. Itu hanya contoh faktual yang bisa saya ingat dan kasih. Kalau bicara yang lain, kebanyakan sangat personal atau berkaitan dengan banyak pihak :)

      Ha ha ha, jadi kayak lagu yah kak Nita?

      Hapus
  10. Seperti yang Mas Rahul bilang, setiap manusia itu pasti ada sisi egois dalam dirinya, tergantung bagaimana kita menyeimbangkannya. Di saat saya lebih ingin me time karena capek mengurus anak, apakah itu egois? Atau di saat salah satu teman dekat saya memutuskan hanya ingin punya satu anak, apakah itu egois? Orang lain boleh menilai, tapi hanya saya dan teman tersebut yang tahu 😁

    BalasHapus
    Balasan
    1. Yap, benar kak Jane, yang tau alasannya cuma orang yang berkaitan. Kalau mau tau dan tidak berasumsi, seperti kata kak Eno: komunikasi

      Hapus

Terimakasih sudah membaca. Sila berkomentar terkait tulisan ini.