zsnr95ICNj2jnPcreqY9KBInEVewSAnK0XjnluSi

Gorbud, Solusi Lapar tapi Tak Ingin Makan Berat

Sebagai masyarakat Indonesia yang baik, saya menyukai gorengan sebagaimana saya mengapresiasi penduduk yang menanam pisang, ubi, sampai biji gandum. Tanpa jasa-jasa mereka, saya tidak akan bisa makan gorengan. Tanpa mereka saya bisa makan dua kali saat malam. Padahal, oleh beberapa alasan saya percaya pamali untuk tidak makan dua kali dalam semalam.
 
Beberapa waktu yang lalu saat sedang baca blog kak Eno, saya menemukan beberapa fakta tentang Korea bahwa ternyata makanannya mahal-mahal. Cemilan dalam bentuk gorengannya saja sama seperti beli makanan berat komplit. Saya makin cinta Indonesia. Dimana saya bisa kongsi 5 ribu rupiah sama teman-teman untuk makan gorengan, kemudian saling berebut tahu isi.
 
Malam itu 14 September, saat saya lagi lapar tapi tak ada tanda-tanda ajakan makan di luar. Dari teras Riki, saya pulang sebentar untuk mengisi perut. Makanan belum habis, Rendy datang mengganti pakaian dan mengatakan bahwa kita akan ke Gorbud. Gorengan Bude. Salah satu penjual gorengan yang buka jam dari jam 9 malam. Letak tempatnya di depan Kampus Lama, dekat Indomaret Kemaraya.
 
Seperti namanya, Gorengan Bude dibuat oleh Ibu yang akrab disapa Bude. Karena buka malam dan masih panas, gorengannya laris terus. Atau itu yang bisa saya lihat. Selain gorengan, ia juga menjual ceker goreng tepung. Kalau yang sering main ke sana, pasti tahu karena tempatnya juga strategis. Ada trotoar pemisah jalan ditengah yang sering digunakan untuk lesehan dan menikmati gorengan.
 
Gorbud, Solusi Lapar tapi Tak Ingin Makan Bera
Yang moto Ali
 
Malam itu, kami pergi berenam, tiga motor, yaitu Ari, Ali, Riki, Rendy, Sudi, dan saya. Kami makan disatu piring yang sama dengan kapasitas 8 biji gorengan untuk menggenapkan 10 ribu setiap piring. Tidak butuh waktu lama untuk tiga piring pertama langsung habis seketika. Saya saja, seringkali cuma dapat 1 jika dibandingkan dengan kami berenam. Salah dua diantara kami, pasti ada yang paling cepat untuk mendapatkan dua gorengan. Atau jika asumsi saya salah, ada yang mendapatkan tiga gorengan sekali angkut.
 
Sulit untuk bisa seperti itu. Bukan karena saya jaim, tapi karena Gorengan Bude selalu menyajikan gorengan yang masih panas-panasnya. Kalau kata teman saya, marketing Bude jago juga. Diantara penjual gorengan yang sudah dingin diatas jam 8, Bude datang dengan gorengan yang baru digoreng dari jam 9 malam sampai ia tutup.


Saya masih ingat jaman-jaman sebelum korona. Setiap malam, kami selalu kumpul di teras Riki untuk kongsi makan gorengan. Biasanya sekitaran 20-30 ribu sekali beli. Gorengan bagi saya adalah solusi saat lapar tapi tak ingin makan berat. Atau setelah makan malam, tapi lapar lagi. Masa itu, jam 10 malam kami sudah bubar untuk pulang ke rumah masing-masing. Sekarang, jam 9 atau 10 saja kami bisa bebas keluar. Tidak ada ikatan belajar dan lain-lain karena memang masih libur.

Diantara banyak gorengan yang dijual Bude, saya paling suka dengan tempe gorengnya. Beberapa teman ada yang suka sama Kandoang, gorengan sejenis bakwan. Yang cukup unik dari Gorbud adalah lomboknya, beda dari yang lain. Ada tambahan terasi yang cukup khas. Tidak menusuk tapi kuat.

Meski laris dan kerap dicari orang, Bude juga cukup sering bikin PHP karena tak buka. Kalau ditanya apakah besok buka, jawaban Bude selalu diplomatis. Mending kita cek sendiri saja, karena biasa, bude ada panggilan untuk jadi kuli masak, katanya.

Gorbud, Solusi Lapar tapi Tak Ingin Makan Bera
Ji Chang-wook makan gorengan

Malam itu sudah piring keempat tapi kami belum juga menyerah. Rendy sudah datang membawa air minum dalam kantong kresek biru. Kalau digenapkan dari uang kongsi masing-masing 10 ribu, masih ada 10 ribu lagi. Daripada pusing membagi, kami ambil saja lagi sepiring. Meski terseok-seok, gorengannya tetap habis.


Dari sana kami langsung pulang. Sempat ngobrol dulu sampai jam 12, lalu pulang untuk istirahat. Ohya, diantara beragam jenis gorengan, jenis apakah yang teman-teman suka?


Related Posts

Related Posts

13 comments

  1. Beuh, salfok sama tulisan Ji Chang Wook, mas :))) hahahaha.

    By the way, gorengan itu memang nggak ada matinya. Dari jaman ingusan sampai sekarang, saya tetap suka. Huhuhu. Meski katanya bisa buat kolesterol~lah, nggak sehat~lah, ini itu~lah, tetap saja saya makan hahaha. Cuma sekarang lebih bisa kontrol diri jadi nggak sering-sering makannya :P

    Duuuuh gara-gara baca post ini tengah malam jadi lapar. Besok fixed minta dibuatkan tempe mendoan dan tahu isi serta bakwan. Nggak sabar mau makan pakai sambal ABC / Jawara hahahaha :))

    ReplyDelete
    Replies
    1. Ha ha ha, lebih mirip upilnya yah?

      Iya, sekarang sih lagi coba ditahan-tahan. Paling seminggu sekali kalo bisa. Bakwan atau ote-ote memang salah satu gorengan favorit

      Delete
  2. Hahahah aku juga salah fokus plus tertawa pas melihat tulisan Ji Chang Wook makan gorengan 🤣

    Di tempat Rahul, gorengannya murah sekaliii. Di daerahku, sekarang 10rb hanya dapat 4-5 potong aja 😂. Bude pintar banget cari celah saat berjualan~
    Jarang-jarang ada gorengan yang masih hangat saat menjelang tengah malam. Gorbud pasti semakin laris manis menjelang tengah malam.

    Kalau gorengan kesukaanku juga tempe 🙈 urutan ke-2 bakwan, tahu, cireng, molen. Cireng hanya akan aku beli kalau masih hangat, sebab kalau udah dingin, cireng jadi suka ngelawan saat digigit 🤣 jadi kurang ajar si cireng kalau udah dingin.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Padahal aslinya saya ngga mau taroh caption. Tapi iseng aja, eh banyak yang notice. Setidak cocok itu yah kak Lia? Ha ha ha.

      Itu daerah mana? Dulu sih bisa lebih murah lagi. Seribu perbiji. Tapi sekarang jadi 5rb 4 biji. Masih termasuk murah. Beberapa waktu yang lalu, sempat ke tempat gorengan lain selain Bude. Masih panas juga, seperti Bude. Bisa lah jadi tandingan.

      Hahaha, kayaknya beberapa gorengan yang dingin juga seperti itu. Melawan kalo digigit. Entah kenapa, tahu isi jadi paling dicari kalo di tempat saya. Intinya mah yang panas dan hangat dulu yang disikat.

      Delete
  3. Gorengan memang nikmat yaa Mas Rahul. Aku juga doyan banget itu gorengan, paling favorit itu tahu dan bakwan. Tapi biasanya klo kebablasan makan gorengn aku suka jd sakit tenggorokan, kadang malah bisa ilang suaranya. Kalau udah gitu jdnya diomelin deh sama suami, tp tetep aja ga kapok2 sih. Hahahha..
    Gorengan bude enak2 ya sepertinya, apalagi dicemil saat hangat. harganya pun ramah dikantong yaaa. Mantaaab..

    ReplyDelete
    Replies
    1. Sekalipun senang makan gorengan, ngga pernah sampe bikin sakit tenggorokan. Paling cuma sakit perut saking kenyangnya. 😅

      Gorengan yang paling penting sih hangat dan lomboknya enak

      Delete
  4. Namanya unik juga..Gorbud...kirain sejenis makanan. Ternyata nama sebuah tempat..hahaha
    gorengan memang gada matinya. walaupun banyak yang bilang itu ga sehat, tapi lebih banyak lagi yang makan. Aku sering makan gorengan. Paling suka yaa mendoan, bakwan, sama tahu isi. Kadang bakwan dicocol ke saus. hahaha
    Pas puasa, ibuku selalu bikin bakwan untuk buka puasa. Dan setiap hari hampir selalu habis. hahahhaa

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya, akronim dari Gorengan Bude mas Rivai.

      Apapun yang berlebihan memang ngga baik. Selagi bisa makan, yah dikontrol-kontrol saja. Nah, pas puasa Bapak atau Tante juga suka bawa gorengan pulang dari penjual takjil di jalan. Kalo di rumah saya buka puasanya makan nasi dulu, jadi gorengan ini semacan cemilan sebelum atau sesudah taraweh

      Delete
  5. Pisang goreng offkors!
    Ama sukun goreng, tuli-tuli, pohong goreng, ubi goreng, ya ampuunnn, kenapa coba saya baca ini subuh-subuh.

    Jujur saya suka gorengan, tapi seringnya udah geli sendiri leher membayangkan minyaknya yang hitam :D

    Tapi kalau gorengan di Sulawesi, saya jadi terbayang bukit Kolema atau Pantai apa ya namanya yang kayak Losari tapi di Buton itu, dulunya di situ belum sebagus itu tempatnya, tapi penjual gorengannya udah banyak.

    Saya sering diajak temen nongkrong makan pisgor, sukun goreng dan lain-lain, sama minuman saraba. duuhh kangen! :D

    ReplyDelete
    Replies
    1. Kalo disini, sukun itu disebut baka. Enak pake gula, mentega, atau lombok. Tuli-tuli pernah disebut teman saya, setelah saya liat ternyata bentuknya mirip donat.

      Bukit Kolema itu di Bau-Bau yah kak Rey? Kalo di sini, hampir semua tempat kedai dan warkop teman nongkrong pasti ada gorengan. Sarabba memang de best. Apalagi kalau lagi dingin-dinginnya

      Delete
  6. hehehe pasti puas banget tuh beli gorengan sekitar 20ribuan
    di kotaku murah murah juga, 20 ribu udah dapet banyak banget, bisa buat orang kantor
    tadi aku kira gorbud apaan, ehh ternyata singkatan ya, lucu juga

    ReplyDelete
    Replies
    1. 5 ribu sudah dapat 4 gorengan. Jadi kalau kongsi biasanya cepet-cepetan. Ha ha ha. Tapi memang, kak Ainun bukan orang pertama yang salah kira 😁

      Delete
  7. Gorengan itu memang ga ada matinya asas :D. Selalu jd favorit banyaaak orang. Pas msh kerja dulu, di dekat kantor ada penjual gorengan yg enaak bgt mas. Dan slalu jd langganan kita , apalagi kalo sdg meeting. Beli cemilan dulu, supaya diskusinya ga alot :D.

    Favoritku dr dulu kalo gorengan itu pisang goreng dan bakwan. Yg lain2nya suka, tp ttp 2 itu jd inceran utama :D. Makan pisang gorengnya kdg pake rawit biar ttp pedes :D

    ReplyDelete
Terimakasih sudah membaca. Sila berkomentar terkait tulisan ini.