Demi Foto Piknik Ala-Ala di Gunung Tiga Putri

loading...

Padahal hujan, tapi pagi itu saya sudah ada di bengkel daerah Kota Lama untuk memperbaiki klakson dan stang kaki penumpang yang tidak berfungsi. Teman saya yang bekerja sebagai montir di bengkel itu tidak ada, makanya setelah menjelaskan masalah saya hanya duduk manis menunggu. Montir yang menangani motor saya cukup lihai, ia mencabut kabel klakson dan memasang ulang. Klakson selesai.

Demi Foto Piknik Ala-Ala di Gunung Tiga Putri
 
Untuk stang kaki, katanya ada bola-bola kecil yang hilang. Saya tidak tau namanya apa, tapi sama dia, diganti baru dan stang kaki sudah bisa berfungsi kembali. Saya membawa uang agak banyak karena memang jarang ke bengkel dan tidak tahu kisaran harganya. Biayanya cukup murah, kurang dari 20 ribu dan motor saya sudah baik kembali.
 
Setelah ia selesai, saya tak langsung pulang karena hujan masih deras. Saya membuka grup WhatsApp . Sudah ramai yang sedang mempertanyakan kejelasan rencana hari ini: foto piknik ala-ala yang sedang ramai. Sebenar-benarnya, saya tidak terlalu tertarik untuk melakukan itu. Apalagi, kostum yang dipakai juga harus berwarna sama. Tapi saya melihat itu sebagai sebuah partisipasi kebersamaan saja. Lagipula, foto-foto hanyalah kenangan, yang penting itu momennya.
 
Setelah dari bengkel, saya ke rumah Naila bersama Ari, Riki, dan Rendy. Itu untuk makan cireng yang dibuat oleh Nayla. Hujan turun secara tidak pasti. Kadang hanya berupa gerimis tapi lebih sering deras. Dari grup, Salsa menulis,"biar hujan, kita gas.".

Demi Foto Piknik Ala-Ala di Gunung Tiga Putri
Di rumah Naila
 
Sudah pukul 1 tapi hujan belum berhenti. Saya berada di kamar menunggu hujan sambil mencari baju berwarna putih serta celana jeans biru sebagai dress code yang sudah ditentukan. Setelah pukul 2, Ali datang ke kamar dengan pakaian lengkap. Saya mengerjainya dengan bilang bahwa rencana dibatalkan. Hujan deras dan rencana serba tak pasti. Terlihat ia kecewa sambil menggerutu kecil.
 
Riki datang saat saya hendak mengganti baju. Ali mempertanyakan kejelasan, saya memberitahu bahwa rencana tetap jadi apapun yang terjadi. Setidak-tidaknya, hujan masih bisa kita tangani dengan jas hujan. Dan itulah yang terjadi. Kami berkumpul di depan kosan milik keluarga Ari. Dengan jas hujan, kami bergerak menuju Indomaret.

Demi Foto Piknik Ala-Ala di Gunung Tiga Putri
Riki, di Indomaret
 
Di Indomaret, kami membeli snack sebagai pajangan piknik dengan uang patungan. Jumlah kami adalah delapan orang, termasuk Salsa yang sedang menunggu. Di Indomaret ada Ari, Ali, Riki, Rendy, Nayla, Isra, dan saya. Selesai membeli snack, kami bergerak lagi. Beberapa langsung menuju tempat kerja Salsa, beberapa pergi mencari Sprite kaleng sebagai minuman. Itu adalah saran saya sebelum awalnya mereka berencana membawa sirup. Sangat merepotkan. Apalagi perlu membawa gelas segala.
 
Dari beli Sprite, Ali, Rendy dan saya langsung menuju ke pemberhentian terakhir menjemput Salsa. Sudah mau pukul 4 sore, itu waktu pulang kerjanya. Kalau cepat, kita masih bisa dapat foto yang bagus. Salsa menyimpan motor sementara Ari menggoncengnya. Itu lebih bagus dan irit. Pemberhentian itu menjadi persinggahan terakhir. Dari sana, kami memacu motor untuk sampai lebih awal dari Maghrib.
 
Banyak tempat dengan hamparan rumput yang luas tapi mereka setuju untuk ke Gunung Tiga Putri di daerah Konawe Selatan. Kata mereka, tempatnya bagus dan keren. Apalagi, belum ramai yang membuat foto piknik di sana. Kalau jadi dan benar bagus, kami bisa jadi pionir. Jalanan masuk agak jauh ke dalam dan medannya juga jelek karena sisa hujan barusan.
 
Sesampainya di tempat, ternyata motor tak bisa masuk. Kata beberapa warga, itu sangat susah. Apalagi dengan medan yang berlumpur saat ini. Saya hanya memarkirkan motor di area pinggir yang tidak terlalu condong masuk ke dalam, kunci leher, dan mengamankan helm. Snack, tikar, dan bunga kami bawa ke sana.
 
Demi Foto Piknik Ala-Ala di Gunung Tiga Putri

Demi Foto Piknik Ala-Ala di Gunung Tiga Putri

Tapi kami berhenti sejenak karena wilayahnya dipagari oleh kayu yang dililiti kawat duri. Kalau hanya foto diluar, terasa sangat merugikan. Masih banyak tempat yang lebih bagus. Kami masuk dengan meloncati pagar. Ini bukan hal yang patut ditiru. Kami masuk dengan saling membantu agar tidak tergores kawat duri yang meliliti kayu. Ohya, masalah loncat pagar juga sudah dibicarakan oleh warga setempat. Kalau kami bisa, katanya silahkan saja. Hanya bahaya ditanggung oleh kami sendiri.
 
Demi Foto Piknik Ala-Ala di Gunung Tiga Putri
 
Kami buru-buru mencari tempat yang bagus untuk melebarkan tikar. Kami memutuskan untuk tidak naik ke gunung karena jauh dan hampir gelap. Kami melihat ada satu gundukan yang bagus. Berfoto dengan jarak itu, bisa mengambil latar gunung yang bagus. Itu sempurna untuk rencana yang hampir gagal.
 
Setelah tikar sudah melebar dengan snack yang sudah tersusun kami lekas duduk untuk mengambil foto. Karena tidak bawa tripod atau juru foto, kami hanya berganti-gantian mengambil foto. Membuka satu snack dengan alasan agar kesannya adalah piknik betulan tapi alasan sebenarnya karena kami hanya ingin mengunyah.

Demi Foto Piknik Ala-Ala di Gunung Tiga Putri
 
Beberapa foto sudah diambil. Kami mempersilahkan perempuan mengambil foto sendiri-sendiri sebelum awalnya kami mengambil foto mereka bersama. Itu semacam kode etik membawa perempuan untuk liburan. Meski sudah hampir gelap, kami tetap mengambil foto dibantu dengan kamera mode malam dihape Riki.
 
Demi Foto Piknik Ala-Ala di Gunung Tiga Putri

Demi Foto Piknik Ala-Ala di Gunung Tiga Putri

Setelah puas, kami kembali dan bersiap pulang. Naila dan Isra lebih dulu pergi karena sedang ada urusan. Kami memacu motor dengan kecepatan normal. Menuju pondok kak Rijal untuk beristirahat. Ari mengantar Salsa mengambil motor ke tempat kerja sementara kami menunggu dan berleha-leha. Tidak tiba-tiba tapi Riki bertanya apakah kami mau untuk menghadiri acara ulang tahun seorang keluarga yang juga kami kenal. Hanya acara makan-makan, jadi kami tak perlu malu untuk urusan pakaian. Karena lapar, kami mengiyakan.
 
Dari sana, kami menuju tempat yang diinfokan. Saya memakai motor Ari karena ia memakai motor saya untuk mengantar Salsa, kami bertemu di sana. Lebih dulu sampai dari kami, Ari sudah duduk manis bersama yang lain. Kami masuk ke warung makan Bebek Goyang Sulawesi yang lebih sering disebut Begos.
 
Beberapa sudah makan sementara kami mencoba menyelip diantara mereka. Kami makan dengan lahap karena memang lapar. Saat itu, memang benar-benar on fire. Ali sampai tambah empat kali meski setelahnya harus menahan sakit perut kekenyangan. 
 
Demi Foto Piknik Ala-Ala di Gunung Tiga Putri

Demi Foto Piknik Ala-Ala di Gunung Tiga Putri

Dari sana, kami pulang dan berkumpul di teras Riki. Menceritakan ulang lagi hari itu dari sudut pandang kami masing-masing, semacam ritual kami setelah jalan-jalan. Kebanyakan menjadi lucu dan menggembirakan.
loading...

Posting Komentar

16 Komentar

  1. Niaaat ya mas, sampe lompat pagar hahahahaha. Aku liat bentuk pagernya, kayaknya susah juga nyangkutin kaki di antara kawat berdurinyaa :D .

    Tapi tempatnya memang adem sih mas kliatannya :). Mungkin Krn ijo banget gitu yaaaa. Jd kliatannya sejuk, makan di tengah Padang rumpuuut :). Duuuh jd pengen. Dipikir2, ntah udh brp lama aku ga piknik model begini :D. Kayaknya trakhir pas kecil :p

    BalasHapus
    Balasan
    1. Lebih sulit lagi karena tanahnya licin dan becek kak Fanny. Kalau masalah ademnya, jangan ditanya. Apalagi bau tanah bekas hujan masih terasa

      Hapus
  2. Tempatnya keren Mas, enak untuk santai-santai sambil lihat yang hijau 😁 Seru banget baca cerita kegiatan Mas Rahul dan teman-temannya, kompak lohh

    BalasHapus
    Balasan
    1. Alhamdulillah, kompak kak Devina. Tapi kalau kami bisa datang lebih cepat dan tidak hujan, akan jauh lebih menyenangkan karena bisa beneran piknik. Kemarin mah prioritasnya cuma foto-foto

      Hapus
  3. aku malah terbayang cireng bikinan nayla yangbdigoreng saat hujan
    ternyata di sulawesi mengenal cireng juga ya hul, kupikir di jabar doang #yaeyalah resep tertebar dimana mana, semua orang bisa bikin hahhaha

    tapi seru hul, memanfaatkan moment akhirnya seseruan bersama teman teman pakai kostum senada, pepotoan piknik ala ala, juga belanja ke minimarket segala, ada bunganya segala pula ya hahhaha, tapi keren...aku sering dengar sih konawe kalau lihat berita, sepertinya daerahnya memang sejuk ya

    trus terakhiran ke ultah teman dan ada sajian bebek goyang sulawesi, coba kalau difoto juga hul tu bebek hahahha

    BalasHapus
    Balasan
    1. Jajanan pulau Jawa masuk ke Sulawesi salah satunya karena banyak orang Jawa migrasi ke Sulawesi. Cireng, Cimol, Somay contohnya.

      Itu mah ide teman-teman. Saya mah ikutan saja sebagai bentuk partisipasi. Enaknya, bisa ada cerita yang bisa diingat, bisa ditulis.

      Meskipun ke Begos, kami makannya tetap ayam. Mungkin karena harga bebek mungkin lebih mahal

      Hapus
  4. Tempatnya memang bagus yaa buat piknik pasti seru dan karena sepi dari pengunjung pasti kerasa lebih privat.

    Cuma kudu manjat pagar besinya ini lho, mana hujan-hujan pula... Tapi kalo sama temen-temen yang kayak gini ga bakal kerasa susah sih, seneng-seneng aja asal semua juga seneng 😊

    BalasHapus
    Balasan
    1. Kebetulan tempatnya sepi. Belum banyak yang tau. Jadi enak untuk piknik beneran.

      Kayaknya memang belum bisa diakses untuk umum. Jadi yah kami harus manjat pagar dulu. Untung sudah dapat izin dari warga setempat

      Hapus
  5. Rahul, aku udah lama penasaran sama toping payung yang Rahul pakai itu, pengin coba punya tapi kayaknya nggak akan kepakai 😂

    Anyway, seru sekali melihat momen kebersamaan Rahul dan teman-teman 🤩. Pemandangannya bagus, seandainya langit cerah, pasti hasil fotonya lebih bagus lagi.
    Itu snacknya chiki semua, tenggorokan aman, Hul? 🤣

    Mumpung masih bisa ngumpul-ngumpul sama teman-teman, manfaatkanlah waktu yang ada, sebab semakin lama semakin sulit waktu untuk berkumpulnya 😢
    Semoga persahabatan Rahul dan teman-teman langgeng ya 😊

    BalasHapus
    Balasan
    1. Kenapa ngga akan kepakai kak Lia? Topi payung itu keren dan praktis. Sayangnya kurang cocok kalau hujan angin.

      Sayangnya perginya agak terlambat. Mesti buru-buru sebelum gelap. Kalau bisa lebih cepat sedikit, mungkin hasil fotonya akan lebih bagus, kita juga bisa piknik beneran.

      Iya, kalo prioritas sudah beda kumpul-kumpulnya akan makin susah. Aamiin kak Lia, aamiin.

      Hapus
  6. Tempat yang keren sekali, dan saya suka kekompakan nya mas. Salut dah. Salam kenal ya mas.

    BalasHapus
  7. Mas rahul dkk sangat niat. Padahal sebelumnya sudah diguyur hujan, tapi tetap berangkat. Kemudian ketemu pagar kawat berduri, tetap dilewati. Sungguh semangat anak muda 🤣🤣

    Kayaknya tempatnya bagus yaa, buat bersantai dan menikmati pemandangan dan suasananya. Tinggal gelar tikar dan makan bersama..hehehehe

    BalasHapus
    Balasan
    1. Ha ha ha, itu lebih kepasa ngga mau rugi diperjalanan. Masalah lompat pagar, itu sebenarnga hal yang sangat mendesak.

      Tempatnya bagus, sayangnya kami datang kurang cepat. Sudah mau maghrib dan prioritas kami saat itu yah foto-foto. Jadi, kesan pikniknya kurang berasa

      Hapus
  8. Wah seru ya Mas Rahul. Sampai pake manjat pagar kawat segala 😂 Waktu kumpul2 sama teman papaun kondisinya, mau hujan gerimis n becek selalu seru karena nanti jd ada kenangan yg bisa diceritakan..

    BalasHapus

Terimakasih sudah membaca. Sila berkomentar terkait tulisan ini.