zsnr95ICNj2jnPcreqY9KBInEVewSAnK0XjnluSi

Ini Bukan Kamu Banget

Kalimat ini seringkali terlontar dari bibir seseorang yang baru saja selesai mendengar curhatan temannya,"jadilah diri sendiri.". Jadi diri sendiri, yah. Kalau dicerna baik-baik, ungkapan itu mungkin terdengar seperti,"bersikaplah senyamanmu.". Atau jika lebih spesifik mungkin, akan seperti ini,"pakailah baju yang menurutmu nyaman, itu bukan dirimu.".

Mayoritas orang kerapkali menyalahartikan maksud. Menjadi diri sendiri sama dengan bersikap senyaman yang kita bisa. Diri sendiri bukan berarti berbeda dengan orang lain. Maksudnya, kita sering beranggapan bahwa menjadi diri sendiri adalah antonim dari tidak menjadi orang lain. Terlepas dari trendsetter masa itu ataupun idola yang kita senangi.

Misalnya saat Dilan meledak karena filmnya, orang-orang berbondong-bondong membeli dan memakai jaket jeans. Bahkan sampai ada yang membeli dengan motif yang sama. Untung-untung jika hanya baju, bagaimana kalau kendaraan macam motor CB100. Motor tua dengan desain yang memang keren dan klasik.

Ini Bukan Kamu Banget
Dilan dalam Dilan 1990 (2018)
 
Itu tidak masalah untuk saya. Sayapun juga sempat terkena sindrom Dilan dengan mengupload foto hitam-putih. Saya tidak mengelak bahwa itu memang keren, dan euforia Dilan pada tahun '90an adalah salah satu pemicunya. Hal yang membuat bingung untuk saya adalah orang-orang yang mengesalkan sampai membenci hal tersebut dengan dalih,"ia tidak menjadi dirinya sendiri, ia menjadi orang lain.".

Ini Bukan Kamu Banget
Foto ini pas study tour SMA akhir 2017 di Museum Angkut, Malang
 
Maksud saya begini, kita pasti akan mengalami fase itu. Fase ingin membeli barang-barang yang kita impikan. Bisa karena melihat idola, karena memang untuk selera kita itu adalah hal yang keren. Seiring waktu berjalan, saya mulai bertanya-tanya kenapa dulu begitu-kenapa dulu begini. Ada apa dengan swafoto dengan plester di hidung agar terlihat mirip Neymar saat masih di Boca Junior.
 
Kita akan mengalami fase itu, fase yang kita sebut dengan fase labil, lebay, alay, atau apapun itu. Poin saya, saat seseorang menggunakan jaket Dilan misalnya, itu adalah dirinya saat itu. Dengan menggunakan jaket Dilan, itu membuat tingkat kepercayaan dirinya naik. Tidak masalah kalau mungkin itu menjadi masalah. Kita bisa menggerutu bahwa itu misalnya adalah hal yang tidak kita sukai, tidak kita senangi. Tapi tidak untuk ungkapan dengan dalih tidak menjadi dirinya sendiri karena itulah dirinya saat itu. Itulah yang membuatnya nyaman saat itu.
 
Sama halnya dengan menggunakan nama Facebook Rahul Nack Spendhu, misalnya. Atau Rahul Chayang Mama Papa Claluw. Bekerja di PT. Mencari Cinta Sejati. Ini hanyalah fase. Pada saat itu, menggunakan nama seperti itu membuat kita terlihat keren. Membuat kita lebih bisa membaur dengan masyarakat Facebook.
 
Sekarang, saya lebih senang menggunakan baju kaos dengan terusan celana coklat, lengkap dengan sendal jepit favorit. Padahal dulu, saya cukup senang membeli barang distro branded. Menggunakannya meningkatkan kepercayaan diri. Tapi sekarang, menggunakan pakaian yang tidak mencolok malah yang membuat saya nyaman. Semacam menjalani fase baru yang tadinya penuh ingar bingar menjadi lebih senang yang simpel-simpel saja.

Itu kalau merujuk pada pakaian, bagaimana kalau cara bersikap? Saya rasa ini sama saja. Saya pernah berada dalam fase dimana saya lebih ingin sendiri. Mengunci diri di dalam kamar untuk menonton film, membaca buku, dan berselancar di dunia internet dari pagi ketemu malam. Oleh teman-teman sekeliling saya, ini menjadi masalah karena rasanya saya tidak ingin lagi bermain dengan mereka, tidak lagi ingin nongkrong dengan mereka.
 
Tapi itulah fase, dan itu sudah lewat. Masa itu, saya rasa energi saya tidak cukup jika harus terus nongkrong dan berada di tempat yang tidak saya kenali. Tapi belakangan saya sadar, saya terlalu lama untuk melakukan me time. Memang, energi saya cepat habis jika di berada dalam lingkungan baru dengan orang yang tidak saya kenali. 
 
Saya lebih senang untuk nongkrong dan ngobrol dengan kawan-kawan yang sudah tau saya dan saya tau. Meski tak dapat diayal juga, mendengar perspektif baru adalah hal yang menyenangkan. Teknologi menolong saya dengan menyediakan YouTube atau situs dan blog yang bisa saya kunjungi. 
 
Makanya, saya menjadikan blogwalking sebagai tempat untuk melihat perspektif baru, mencari informasi baru. Saya tak ingin menjadi orang yang hanya datang untuk meninggalkan jejak 'first' atau 'nice info'. Sekalipun itu terlihat bentuk apresiasi, tidak berkomentar jika tak ingin lebih baik menurut saya. Ada hal-hal yang memang lebih cocok untuk dibaca saja. Pemikiran ini lahir sejak melihat saya beberapa tahun yang lalu, saat sedang haus respon dan engangement.
 
Untung saja, saya tidak terlalu lama untuk sadar bahwa saya punya kawan yang menghiasi masa-masa remaja saya. Ini adalah dorongan saya untuk keluar dari rumah, menikmati energi yang menyublim menjadi gurauan dan canda tawa. Seperti kata pengantar Eka Kurniawan dalam buku Seribu Kunang-Kunang di Manhattan milik Umar Kayam bahwa sejatinya kita selalu butuh teman bicara. Teman ngobrol.
 
Tidak masalah kita berada difase yang mana, berada dimasa yang mana. Toh, kita akan tetap melihat masa lalu sebagai kata yang selalu kita pakai: alay. Ah, gayanya bikin saya geli. Pakaiannya kenapa begini. Dulu kenapa saya secupu itu. Padahal, dulu itulah yang membuatmu nyaman. Gaya itu yang membuatmu terlihat percaya diri. Sikap itu yang membuatmu tenang. Menghargai masa lalu dengan tidak menghakimi keadaan dimasa sekarang, begitulah kata Pidi Baiq.
Related Posts

Related Posts

20 comments

  1. Saya pun juga pernah merasa alay, dulu pas smp ngomong pakai kata cuy tuh rasanya keren banget. Gegara waktu itu lagi demam sama salah satu sinetron. Kalau dipikir sekarang emang bikin ketawa, tapi betul kata mas rahul kita pasti akan melewati fase-fase kayak gitu. Bagi saya itu malah unik, lucu, berkesan, sama sekali nggak mau dilupakan😁

    ReplyDelete
    Replies
    1. Ha ha ha, iya. Saya juga sempat ngomong pake kata cuy itu. Kayaknya pake kata itu berasa gaul sekali πŸ˜…

      Delete
    2. Saya sampai sekarang masih menggunakan kata ini sama sohibul saya πŸ˜‚ hahahahahaha.

      Delete
  2. Semakin dewasa, manusia akan cenderung mencari yang lebih simple dan lebih nyaman ya 😊.

    Aku juga pernah berada di fase alay, ngetiknya huruf gede kecil ditambah angka pula. Sekarang kalau tiap teringat, rasanya udah lelah duluan 🀣 membayangkan ngetik besar kecil dikombinasikan dengan angka dan diketik super cepat, pegel banget bayanginnya 🀣. Selain itu, gaya berfoto serta editannya juga pernah berada di fase alay.

    Semakin dewasa, sekarang lebih suka yang simple, nggak mau ribet pokoknya yang penting nyaman digunakan aja. Fase alay udah berlalu, bersyukur karena pernah mengalaminya karena kalau diingat, memunculkan kembali memori yang lucu πŸ™ˆ

    ReplyDelete
    Replies
    1. Mungkin alasannya biar cepat dan ngga ribet. Soalnya masih banyak prioritas lain.

      Ngetik huruf besar dan kecil mungkin tidak pernah. Tapi singkat-singkat mungkin pernah. Tingkat tertinggi alay itu kalo sudah pernah buat status: "yang lagi bosan, chat yuk" πŸ˜…

      Delete
    2. Tepat sekali alasan Rahul 😁

      Anyway, aku juga pernah di masa-masa itu wkwkwk. Padahal nggak jelas juga apa yang mau dibahas saat di chat, tapi yang penting tangan tetap ngetik aja biaf nggak bosan 🀣


      @Kak Eno: L3B1h T3p4tNy@ s3P3rT1 1N1. Asli pegel banget ngetiknya 🀣🀣🀣

      Delete
  3. Replies
    1. Sepertinta novel "Ancika", lanjutan cerita Dilan akan rilis tahun ini. Filmnya akan mulai syuting tahun depan kalo keadaan sudah kondusif

      Delete
  4. Klo aku ngeliat ke masa lalu, selain ngerasa, 'alay juga ya..' sama ngebatin, 'kapan ya berat badan segitu lagi' πŸ˜‚πŸ˜‚πŸ˜‚ Berharap bisa sekurus dulu soalnya. Hahahha..

    Btw, bicara tntng ikut2an, mnrt aku ga selalu itu jelek kok. Klo ternyata mengikuti tren itu bikin bahagia, ya gpp. Yg salah itu, udah bela2in ikut tren tp hati ga bahagia krna ngerasa ga cocok dan melakukan sebatas untuk butuh pengakuan orang aja..

    ReplyDelete
    Replies
    1. Bisa-bisa saja kak Thessa. Kalo mau rutin olahraga saja dan jaga pola makan. Saya bukan pakar, tapi kayaknya dua itu yang cukup efektif untuk diet.

      Keduanya juga tidak masalah. Yang salah itu yang kesal tapi negurnya dibelakang, bukan didepan

      Delete
  5. First of all, saya baru main lagi ke sini jadi terkagum dengan template baru blognya Mas Rahul. Kece, Mas! Saya suka dengan font header-nya 😁

    Yang dibilang Mas Rahul di atas setujuu semuanya. Ikut-ikut tren idola bisa dibilang bukan sesuatu yang salah. Saya aja masih suka kok ngikutin model potongan rambut idola, suka menjadikan fotonya sebagai referensi ke salon walau hasilnya tentu nggak mirip banget wkwk selera berpakaian pun begitu, yang penting disesuaikan kembali dengan ciri khas dan kenyamanan masing-masing aja.

    Kalau fase alay, puji Tuhan saya udah melaluinya πŸ˜† gaya chat saya dulu aja kayaknya "rame" banget, saya sendiri pun pusing bacanya LOL betul kata Lia, kayaknya beberapa orang semakin dewasa seleranya juga makin simpel, saya salah satunya 😁

    ReplyDelete
    Replies
    1. Ha ha ha, sudah dua orang yang notice. Terimakasih kak Jane. Saya nah orangnya bosenan. Padahal kemarin juga sudah bagus dan keren.

      Semoga saya tidak salah yah kak Jane. Soalnya ini hanya pandangan saya. Saya sebenarnya butuh pertentangan. Tapi kalo setuju juga tidak masalah 😁

      Fase yang kita sebut alay adalah saat ini beberapa waktu yang akan datang. Yang membedakan adalah intensitasnya saja. Kita bilangnya sudah melewati, jangan-jangan beberapa tahun kedepan itu juga akan terlihat alay bagi kita

      Delete
    2. Iya, bagus bangettt design terbarunya hehehehe. Semoga semakin membuat semangat menulis yah 😍

      Delete
    3. Aamiin kak Eno. Ini makin semangat numpukin draf. Biar kalau sibuk, tingg dipublish saja 😁

      Delete
  6. Wedew kalau bicara soal alay, tentu saya pernah melewatinya. Dari jaman alay lengan baju sekolah dilipat, rok sekolah dijahit biar ketak, pakai jaket ala Dilan pun pernah hahahaha.

    Even saat menonton Petualang Sherina yang masih bocah di filmnya (SD kalau nggak salah kan tuh si Sherina), saya ikutan dong pakai hansaplas bergambar, nggak lupa sok-sokan beli M&M dan beli jam G-shock yang fenomenal πŸ˜‚ Wk.

    So saya setuju sama mas Rahul, kalau memang yang diikuti bisa buat kepercayaan diri meningkat, why not kan. Mana tau justru bisa ketemu style yang paling tepat setelah coba-coba πŸ€ͺ

    By the way, sekarang mas Rahul bukan Dilan lagi yah, tapi Ji Chang Wook 2020 hahaha πŸ˜‚

    ReplyDelete
    Replies
    1. Ha ha ha. Baju dilipat itu jaman saya SMP. Di SMA, sudah jarang melakukan kecuali bajunya memang kebesaran.

      Beberapa waktu lalu, saya juga baru nonton Petualangan Sherina. Asiknya, film keduanya mau dibuat. Iya kak Eno, asal menang karena nyaman. Bukan karena desakan sosial.

      Ha ha ha, sekarang mah Ji Chang-wook lagi 😁

      Delete
  7. Saya alaynya pas kuliah dan pertama kali kenal fesbuk, wakakakak.
    CUman karena pas kenal fesbuk udah nggak remaja lagi, alaynya nggak separah anak remaja sih.

    Palingan ya suka nulis nama Reyna Ade, atau Adena Rey, Ade itu nama pacar saya btw, wakakakaka.

    Kalau nulis papa mama sih kagak pernah, risih banget.
    Dulu saya pacaran manggil kakak, setelah nikah baru papi mami, itupun karena saya manggil mama ke mama saya, dia manggil ibu ke ibunya, saya nggak suka dipanggil dengan sebutan yang sama dengan salah satu mama kami, kan lucu kalau ada ibunya, dia manggil saya ibu, yang noleh saya dan mertua, atau saya ke rumah mama saya, dia manggil mama, yang noleh saya dengan mama juga hahaha.

    Btw, ini nyambung banget dengan komen saya sebelumnya ya, jadilah diri sendiri.
    Saya suka banget kalimat tersebut, meskipun tentu saja ada batasnya, di mana batasnya adalah, jangan pernah merugikan orang lain, that's it!

    Mau ikutan gaya Dylan kek, gaya Milea sekalian juga gak masalah hahaha.

    Kalau saya memang jarang ikut-ikutan yang lagi trend, karena saya absolutely pecinta kenyamanan.

    Jadi, mau ada model baru yang sedunia ikutan pake model itu, kalau saya coba dan merasa diri nggak nyaman dan nggak enak di mata saya, ogah banget makenya.

    Meski semua orang di sekeliling saya bilang saya cocok pakai itupun, kalau saya nggak nyaman, saya tetep nggak mau pake, antara punya prinsip dengan keras kepala memang beti yak hahahaha

    ReplyDelete
    Replies
    1. Umur memang faktor juga yah kak Rey πŸ˜…

      Nama-nama itu sempat hadir dijaman saya. Saya kira kak Rey juga mengalami.

      Tapi memang panggilan itu agak complicated. Belum lagi panggilan Bunda. Bisa merujuk ke Mama ataupun Tante.

      Wah, itu keren kak Rey. Kontrolnya memang ada di diri kita. Mau nyaman atau tidak, itu keputusan yang bisa kita tentukan.

      Delete
  8. Waktu SMP Vino G. Bastian jadi panutan, SMK idolanya berubah jadi salah seorang vokalis band, terus kuliah mulai suka nulis dan mencoba meniru beberapa penulis. Saya pikir prosesnya akan begitu melulu. Mengikuti hal-hal yang kita sukai. Tapi kali ini tentu dengan memasukkan unsur diri sendiri.

    Yang terpenting sih jangan membohongi diri. Misalnya, enggak apa-apa suka buku, film, lagu, anime, atau apa pun itu yang mungkin dianggap norak atau jelek sama temanmu. Selama kitanya suka, ya tak perlu mengikuti standar mereka.

    Saya pernah meledek teman yang suka film Dilan, dan dia enggak keberatan. Kami tetap berteman.

    ReplyDelete
Terimakasih sudah membaca. Sila berkomentar terkait tulisan ini.