Jajangmyeon dari Sebuah Drakor

loading...

Saya jarang senang dengan hal baru. Contoh paling kecilnya adalah makanan dan minuman. Saya punya makanan dan minuman favorit untuk memperkecil kemungkinan memesan makanan atau minuman yang salah. Kalau lagi pesan Pop Ice misalnya, saya pasti akan pesan Vanilla Blue. Atau diantara minuman Thailand-Thailand itu, saya akan prefer pesan Red Velvet saja kalau ada. Polosan. Tidak pakai toping apa-apa.

Saking tidak percaya dengan makanan baru, saya susah untuk diajak mengexplore kuliner. Paling saya cuma mau mencoba berbagai macam somay dalam bentuk dan cara apapun. Kadang saya agak bimbang jika mau mengeluarkan uang lebih untuk sesuatu yang rasanya masih tidak terbayang dikepala saya.

Misalnya saja, saya suka durian. Tapi durian tho. Kalau sudah diolah, menjadi apapun itu saya tidak akan suka. Mau itu selai, jus, ataupun hanya menjadi rasa. Bagi saya, durian hanyalah durian kalau belum diolah. Saya bukan pemilih maknanan, tapi saya tidak bisa menikmati sesuatu yang teksturnya tidak pasti.

Karena sering menonton film dan serial, saya jadi banyak dapat referensi makanan dan minuman dari berbagai macam negara. Misalnya waktu itu, saya liat Roti Canai dari sebuah film India berjudul The Lunchbox. Karena ngiler dan pengen, saya buka tutorial masaknya diinternet. Dengan banyak improvisasi, saya akhirnya membuat makanan yang saya lihat dari film.
Kemarin saat sedang nonton drama Korea Save Me, Mi Hitam yang beberapa kali ditampilkan membuat saya ngiler. Saya coba buka tutorial masaknya diinternet, cara dan bahannya cukup sulit. Saya menyerah dan mencoba mencari hal baru untuk mendistraksi keinginan saya untuk makan Mi Hitam atau Jajangmyeon.


Kebetulan, saya dapat rekomendasi Save Me dari kak Eno. Saya cerita pada salah satu pos kak Eno yang bercerita tentang Jeju. Saya bilang, bahwa saya ingin makan makanan dari Korea selain Samyang. Jajangmyeon adalah opsi yang menarik. Eh, kak Eno menawarkan. Karena tak enak, saya sempat menolak. Tapi kak Eno tetap mengirimkan agar saya mencobanya. Terimakasih kak Eno,

Beberapa hari kemudian, sebuah paket datang. Diterima oleh Mama yang kemudian mendatangi saya di ruang tengah dan bertanya,"Ini paketmu? Isinya apa?"

Saya masih berpikir sejenak dan kemudian sadar,"Jangan-jangan," kata saya dalam hati. Pas pegang tekstur paketnya, saya jadi tambah yakin itu mie dari kak Eno. Dibantu Mama dan Adik, kami membuka paket tersebut dengan cukup brutal. Sempat kesulitan saking malasnya kami bergerak untuk mengambil gunting.

Dugaan saya terbukti saat melihat salah satu bungkus Mi Samyang ditemani beberapa Mie Instan yang nama dan merknya tidak saya kenali. Adik perempuan saya yang prefer Korea-Koreaan langsung nyeletuk,"Topokki. Mau Topokki, Ma," ia merengek ke Mama.

Saya membawa bungkusan paket ke dalam kamar untuk membuat adik saya tambah merengek. Mama saya sempat bertanya,"ini dari teman kamu lagi?"

Jajangmyeon dari Sebuah Drakor
Paket dari Kak Eno

Saya jawab iya dan berharap tidak ada pertanyaan tambahan. Itu membuat saya lebih baik daripada harus memikirkan jawaban diplomatis untuk menyelamatkan saya dari pertanyaan berikutnya. Adik saya, masih merengek di depan pintu kamar. Saya bilang,"Ini, ambil,"

"Tidak mau Samyang. Mau Topokki."

Jajangmyeon dari Sebuah Drakor

Begitu terus hingga ia tenang dan akhirnya mengalah. Karena ada dua samyang, saya kasih ke Mama dan Adik. Sisanya, akan saya coba sendiri. Karena bingung mau makan kapan, pada suatu siang saat merasa cukup lapar, sesuatu berbisik dikepala saya,"inilah saatnya."

Saya mengambil mie instan Jajangmyeon. Cara masaknya mudah dan sederhana, seperti masak mie instan pada umumnya. Saya hanya perlu merebus mie, meniriskan ke piring, dan mencampurkan dengan bumbu yang sudah disediakan. Beda dengan kebanyakan mie instan Indomie, aroma Jajangmyeon saat direbus lebih mirip dengan Mie Gelas. Rasa asinnya juga tidak terlalu kentara. Mungkin karena rasa Jajangmyeon adalah saus kacang kedelai hitam.

Jajangmyeon dari Sebuah Drakor

Jajangmyeon dari Sebuah Drakor
 
Jajangmyeon dari Sebuah Drakor

Tekstur mienya tebal, sama seperti Samyang. Jajangmyeon saya padukan dengan telur rebus. Saya ngga tau apakah ini kombinasi yang tepat, tapi kalo sedang makan mie seharusnya telur rebus tidak pernah salah. Karena tebal dan berisi, tanpa nasi saya sudah cukup merasa penuh. Saat itu, kalau tidak salah, saya sedang nonton drama Korea The K2. Tidak tahu lagi, apakah akan mendapat referensi makanan lain. Mudah-mudahan sih tidak, biar saya tidak kepikiran. 
 
Suatu malam di 25 Sepbtember, saya sedang lapar-laparnya. Karena malas makan telur ceplok, saya masak Mi Udon sisa paket kemarin. Biar makannya kayak orang Korea, saya makan pake panci masaknya. Terus saya sempat kirim ke grup WhatsApp teman-teman saya dengan caption,"Lapar Ji Chang Wok.".
 
Jajangmyeon dari Sebuah Drakor
 
Malam dihari yang berbeda, saya terbangun karena lapar. Masih ada sisa Topokki. Saya masak sesuai cara penyajiannya. Berbeda dari Mi Udon dan Jajangmyeon, Topokki tidak saya sukai. Entah kenapa teksturnya yang kenyal dan rasa kuahnya tidak cocok untuk lidah saya. Saya bingung, bahwa sebelumnya adik saya menangisi hal yang akan tidak saya sukai. Tapi ini masalah selera. Sekeras apapun suara saya untuk Durian hanya enak dimakan sebagai buah, akan ada orang yang berteriak kalau Durian lebih enak jadi minuman.
loading...

Posting Komentar

18 Komentar

  1. pancinya kok eksotik ya hul ahhahah

    aku durian juga sama hul, masih suka makan yang aslinya, blom diolah jadi dodol, kue kuean, permen, es krim dll..rasanya jadi beda soalnya kayak cuma perisa durian aja, e tapi kalau lempok asli pontianak sih masih rasa 'durian' banget kalau campurannya cuma gula wkwkw

    minuman thailand thailand yang lagi marak aku jujur jarang coba, tapi sama sih kalau ada isian bubblenya malah aku nda doyan, sukanya aku yang ori aja, tapi red velvet kok kayaknya menarik ya

    kalau masalah abis nonton film india the lunchbox aku malah langsung kebayang ama rasa masakannya ila yang mirip kacang panjang dibumbuin dari bubu rahasia tetangga yang bernama auntie, trus canenya juga dimasukin rantang diantar dabawalla apa ya aku lupa hahaha, itu film india tersakseis bikin pengen aku ikutan makan menunya

    kalau yang rahun masak di atas aku juga sama sih, biar terasa euforianya enaknya makan pake pancinya langsung hul, jangan lupa sendol ala korea modelnya kok unik ya kayak gagangnya panjang dan buletannya kecil, lebih kecil dikit dari sendok teh wkwkk

    BalasHapus
    Balasan
    1. Estetik apanya. Ha ha ha.

      Iya kak Nita, makanya saya ngga gitu suka kalau durian sudah jadi olahan. Kalau soal minuman, saya cuma punya dua minuman favorit, Red Velvet dan Vanila Blue (Pop Ice) kalau memang ada Kopi Susu dan tidak terlalu malam, biasanya saya akan pesan itu.

      Ah, iya, saya ingat. Tampakan tetangga ngga pernah diliatin, bikin penasaran. Salah satu film India favorit. Keren.

      Sendok Korea memang beli dimana yah? Lucu juga

      Hapus
  2. Waah ramen dimakan langsung dari panci itu memang da best! Meski saya belum pernah coba langsung, karena takut dilirik aneh sama orang rumah wkwkwk suatu hari kalau saya sendirian pasti bakal coba makan ramen langsung dari pancinya XD

    Sebetulnya saya juga nggak terlalu suka eksplor makanan yang terlalu banyak varian alias dianeh-anehin. Kalau ada yang original, biasanya saya pasti pilih yang original. Sampai sekarang Indomie goreng yang paling enak itu yaa yang bungkus putih, sama yang mie keriting ayam panggang spesial hahaha

    Btw, pankapan coba makan jjajangmyeon-nya pake telur ceplok setengah matang, Mas Rahul. Kombinasi favorit saya dan Josh :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. Ha ha ha, saya saja makan pas larut malam. Pas semua orang sudah tidur.

      Rasa original makanan memang yang paling benar. Misalnya kalau ke suatu restoran yang varian nasi gorengnya banyak, sudah paling benar pesan nasi goreng biasa.

      Kayaknya menarik. Kemarin saya coba pake telur rebus saja soalnya 😁

      Hapus
  3. hai mas rahul yang suka durian asli, bukan yang olahan. berarti mas rahul ga cocok makan tempoyak. Makanan olahan durian yang aku makan ketika di bengkulu. Bagi yang ga terbiasa, rasanya bakal aneh. Aku awalnya juga begitu. Aku juga suka makan durian mas. Durian di wilayah sumatera yang paling enak menurutku :D

    Untuk mie instan, aku belum pernah nyoba yang macam gini mas. Belum bisa teralihkan dari indomie. Pernah nyoba mie sedap yang dibintangi siwon, tapi ternyata kurang cocok. Balik lagi ke indomie goreng jumbo..hehehhehe

    BalasHapus
    Balasan
    1. Kayaknya memang tidak cocok, Mas. Tapi kalau disuruh coba, saya masih bisa cicip. Bukan ngga suka, tapi menutup diri juga.

      Ha ha ha. Masalah selera memang susah. Tapi saya cukup yakin, Indomie rasa original jadi favorit kebanyakan orang 😁

      Hapus
  4. Makan ramyun langsung dipanci entah kenapa rasanya jadi semakin authentic 🤣
    Memang ya kalau nonton drakor dan ada adegan makan-makannya, selalu aja membuat ngiler. Paling nggak tahan kalau lihat adegan makan ramyun, pengin diskip aja rasanya wkwkwk

    BalasHapus
    Balasan
    1. Ekspresi makannya langsung beda yah? 😅

      Kalau dalam kondisi lapar dan tengah malam memang kombinasi yang salah kalo nonton drakor yang banyak adegan makannya. Ha ha ha

      Hapus
  5. Tos mas aku juga suka durian, tp bedanya makanan turunan durian aku jg masih suka kaya pancake, milkshake, even dodol durian 😁
    Wuaa asiik dikirimin Mba Eno 😍😍 Aku karena hampir ga prnah nonton drama korea, jd agak kudet sama macem2 makanannya. Hehehe.. cuma tau samyang doank 😅 Kalau dliat2 nih, kiriman Mba eno pas buat penyelamat lapar mas rahul pas malem2 yaa.. 😂

    BalasHapus
    Balasan
    1. Aish, kalau sudah diolah saya skip. Durian asli ngga ada lawan 😁

      Iya, itu kiriman dari kak Eno. Enak semua. Kecuali Topokki yang memang kurang cocok dilidah saya.

      Hapus
  6. aku dong, tim es teh, es jeruk. maksimal lemon tea. hahaha
    kalau makanan paling banter dimsum wes
    sampai sekarang pun aku gak pernah makan samyang, hahaha

    BalasHapus
    Balasan
    1. Kalo makanan, paling benar itu bakso, pangsit, sama nasi goreng. Kalau samyang, memang untuk dicobain saja. Selain mahal, pedasnya juga kelewatan 😁

      Hapus
  7. Tips makan samyang yg utama harus antusias dan berisik (di bahasa Sunda istilahnya "ceplak"), dan karena ini saya suka diledek "ini Indonesia, Rip, pake kearifan lokal makannya".

    Kalau ada makan mie bareng temen, saya suka jadi tontonan soalnya pasti ngikut kayak adegan di drakor sama anime, sering campur istilah2 Korea sama Jepang buat komentar makanan.

    Tips toppoki lokal bisa pake cireng, masukin aja ke rebusan mienya.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Ha ha ha, biar efek pedasnya keliatan yang bang? 😅

      Adik saya juga begitu. Kalau makan, berasa kayak lagi ngevlog. Rasanya dideskripsikan, ekspresnya diperlihatkan.

      Iya sih, tapi cireng masih cocok dilidah saya. Topokki tidak. Lidah saya memang sangat Indonesiawi

      Hapus
  8. Senang kalau mas Rahul suka makanan yang saya kirimkan :D hehehehe. Jjapagetinya memang enak yah :)) -- apalagi dimakan pakai telur rebus, hehe.

    Saya makan Samyang nggak bisa full sauce, mas :9 terlalu pedas soalnya, jadi biasa setengah sauce saja sudah cukup untuk saya, daripada lidah kebakar hahahahahaha :"DDD

    BalasHapus
    Balasan
    1. Aslinya saya ragu, apakah cocok kalo dipakaikan toping telur rebus. Tapi ternyata masuk-masuk aja.

      Saya taunya, bumbu Samyang itu harus dipakai semua. Biar bumbunya berasa. Tapi ngga tau ada aturan "sesuai selera" seperti itu 😅

      Hapus
  9. Kita beda banget niih, kalo aku justru selalu penasaran Ama kuliner yg belum pernah aku coba mas :D. Makin unik, makin bikin penasaran. Ga masalah kalo rasanya ternyata ga enak, setidaknya aku udh tau :). Aku prnh tuh mesen makanan, di restoran Deket kantor dulu, tanpa tahu bantunya gimana hahahaha. Jd di menu cuma di tulis paket menu 1, menu2 dst.

    Buat org lain kayak gambling bgt yaaa :p. Tapi aku seneng yg bikin penasaran gitu :D.

    Makanya tiap traveling ke negara2 yg kulinernya unik, aku pasti hrs coba. Asal ga babi yaa, Krn biar gimana aku ga nyentuh kok kalo memang ada kandungan yg dilarang agama. :)

    Toppoki yg dikirim mba Eno, itu aku jg suka. Banyak dijual di Lotte. Aku bbrp kali beli :D. Walopun tetep LBH suka makan toppoki asli pas di Korsel dulu hahahaha. Pedesnya nampil banget

    BalasHapus
    Balasan
    1. Kalo makanannya gratis atau dibeliin sebenaenya saya bisa-bisa saja coba. Tapi untuk mengeluarkan uang sendiri dengan sesuatu yang belum pasti kayaknya tidak 😅

      Beda lagi kalo di luar. Mungkin karena beda semua, ada unsur terpaksa sama penasaran itu. Jadi mau tidak mau dicobain juga.

      Lidah saya tidak cocok sama Topokki kak Fanny. Atau cara masak saya yang salah ya?

      Hapus

Terimakasih sudah membaca. Sila berkomentar terkait tulisan ini.