Locus of Control Internal

loading...
Sebelum ideologi dan prinsip saya memudar, saya ingin mencatat ini bahwa saya pernah berada dalam fase tersebut. Sebelum ideologi dan prinsip saya digerus kehidupan, saya ingin mengabadikan ini sebagai sebuah kenang-kenangan.

Saya lahir sebagai orang yang bisa dibilang yes man. Disuruh ini, manut. Disuruh itu, manut. Meski kadang sempat ngomong,"bentar, bentar..". Saya tidak pernah menolak perintah secara gamblang. Paling hanya sebatas menggerutu. Diajak apapun, saya susah untuk nolak karena saya anaknya ngga enakan.

Locus of Control Internal
sumber: Détours

Hingga kemudian, saya lupa turning pointnya dimana, tapi saya mulai berani mengatakan tidak. Misalnya, waktu itu saya masuk di suatu daerah wilayah by pass untuk nongkrong. Di pintu masuk, kami tidak menemukan siapa-siapa. Kami masuk dengan percuma, nongkrong di kedai ujung untuk ngobrol sampai jam 10 malam. Pulangnya, sudah ada beberapa penjaga gerbang yang menagih. Motor saya berjalan pada urutan no. 2 setelah Ari. Saya bicara dengan penjaga gerbang sebelah kanan, Ari bicara dengan penjaga gerbang sebelah kiri.

"Pas saya masuk, tadi mas tidak ada," tanya saya.

"Tadi lagi cetak tiket," katanya.

"Jadi saya harus bayar?"

"Iya mas, 2 ribu."

Saya lihat Ari ngobrol, sambil balik belakang diiringi gerakan tangan menunjuk-nunjuk seakan menghitung jumlah motor kami semua. Kemudian ia memacu motornya. Karena sudah merasa aman, saya juga ikut memacu motor. Tiga motor saat itu tidak membayar uang masuk. Saya tanya ke Ari,"Bilang apa?"

"Teman pengamen." kebetulan Ari memang kenal salah satu pengamen di dalam.

Saya percaya sampai saat ini, itu hanyalah pungli. Tapi firasat ini belum bisa saya buktikan. Soalnya, dalam beberapa kali kunjungan kami, mereka hanya ada diwaktu-waktu tertentu. Kami jadi punya banyak cara untuk masuk dan keluar tanpa membayar. Salah satunya dengan menyebut nama pemilik kedai ujung. Itu dianjurkan oleh pemilik warungnya langsung.

Selain berani bilang tidak, saya juga punya punya prinsip untuk tidak ingin dikekang oleh faktor luar. Misalnya, saya senang mengedit. Entah itu foto atau video. Saya menjadikan kesenangan edit-edit ini semacam hiburan. Kalau lagi ada ide, saya mengedit dengan suka cita, dengan kemauan sendiri karena memang ingin. Tapi saya tidak senang jika mengedit atas dasar tekanan orang lain.

Contoh paling dekatnya waktu itu, saat SMA. Karena teman-teman tahu saya ngerti soal edit video, saya diminta bantu mereka untuk mengedit video untuk mereka. Saya turuti saja karena tinggal drag and drop saja. Lagipula waktu itu, format videonya sketsa. Saya juga merekam dan mengarahkan mereka. Saya senang mengerjakan sesuatu seperti itu, diberi kebebasan.

Beda halnya dengan kasus teman saya yang lain. Jadi, ia disuruh buat video untuk tugas kampusnya. Meski kami barter dengan ia bantu menulis tugas catatan, saya tidak senang saat mengerjakan tugas videonya. Karena materinya sudah ada, saya diarahkan untuk mengedit tanpa diberi kebebasan. Ia mendikte atau merevisi saya beberapa kali. Pekerjaan semacam itu yang tidak saya suka.

Sejalan dengan itu, saya mulai menjadikan blog ini semacam catatan pribadi. Format catatan saya pilih karena mewakili berbagai macam spektrum tulisan. Saya bisa menulis apa saja tanpa merasa terkekang oleh pihak manapun. Sekalipun ada batasan, itu hanya kepada,"ini kelewat batas ngga yah?"

Beberapa waktu lalu, saya kembali menengok pos populer bulanan saya. Tulisan 2015-2017 mendominasi tujuh urutan teratas. Dua diantaranya adalah cerita pendek. Senang saya. Saya menulis semaunya saja. Tidak ada ikatan kaidah yang mengekang saya. Seandainya ada, mungkin hanya bias atau kebiasaan saya saja.

Saya paling tidak senang jika mendapati sebuah lomba atau sayembara tulisan, misalnya, dengan persyaratan tulisan harus berkualitas atau memuat pesan moral. Ini saya yah, saya hanya orang yang kebetulan senang menulis. Menulis dengan atensi sengaja menyisipkan pesan moral dengan beban harus berkualitas adalah beban yang sangat berat. Jika ingin mendengar pesan moral, datanglah ke rumah ibadah. Saya rasa itu tempat yang lebih tepat.

Saya tidak ingin membebani diri saya dengan faktor semacam itu. Saya rasa itu bukan diri saya. Sewaktu kecil, saya pernah didongengkan oleh Om tentang seekor kura-kura raksasa yang hidup di dasar laut. 10 tahun kemudian, kira-kira, lahirlah cerita pendek Selon. Ini semacam ikatan personal. Sama ketika saya menulis Rumah Terakhir dan Sebuah Brankas, yang sekarang adalah tribute untuk Om saya. Saya pikir, ini hanyalah sebuah prinsip yang terbentuk dalam diri saya untuk tidak ingin merasa ada faktor luar yang mencoba menyetir apa yang ingin saya lakukan. Istilah kerennya, locus of control internal.
loading...

Posting Komentar

16 Komentar

  1. Sometimes, saya sama seperti mas Rahul, nggak mau kalau harus ikuti aturan, saya belajar untuk bilang 'tidak' dan lebih ingin kenal apa yang saya suka ~ cuma dalam hidup ini nyatanya susah untuk benar-benar being free, especially saat sudah masuk ke dunia nyata (I mean, saat kita lepas dari orang tua), di mana kita berdiri di atas kaki kita sendiri dan kasarnya menafkahi diri kita :/ atau saat kita sudah berkeluarga dan harus 'bernegosiasi dengan keadaan' bersama pasangan kita, atau bahkan keluarga dari pasangan kita :D

    By the way, saya pernah berpikir, menjadi seorang boss itu artinya bebas dari kekangan, aturan perusahaan, ini dan itunya, dan saya berpikir kalau saya bisa melakukan segala sesuatunya based on what I like. Betul, tapi nggak 100% bisa. Karena saya masih butuh clients, partners, customers, this and that. Itu artinya ada aturan yang perlu saya ikuti dari relasi yang terbangun diantara ke dua belah pihak. That's the time saya sadar kalau yang saya butuhkan bukan cara untuk bisa 'bebas tanpa kekangan'. Tapi bagaimana saya bangun boundaries agar saat saya perlu ikut aturan, itu nggak ganggu kenyamanan personal saya ~

    Memang nggak enak kalau mau doing something harus ditekan kanan kiri ya, mas ~ saya bisa bayangkan betenya mau kerjakan editan video dengan rules sana sini hehehe. But real life is more harder than that, nantinya mas Rahul akan ada kemungkinan ketemu sama bos yang banyak maunya, atau bahkan lebih menekan dari pengalaman yang pernah mas Rahul rasakan. Maybe, saya hanya bisa bilang untuk mas Rahul menyiapkan boundaries yang mas punya agar tau kapan harus cabut atau tetap bertahan :D

    Eniho, tulisannya bagus bingits ~~
    Keep writing, sharing, and inspiring mas :3

    BalasHapus
    Balasan
    1. Yap, benar kak Eno. Negosiasi. Ego kita akan digerus sehabis-habisnya. Makanya saat ini, saya mau catat ini bahwa saya pernah ada difase ini.

      Kalau masalah pekerjaan, saya taunya kita akan dihadapkan dengan berbagai macam pilihan. Kadang bisa pilihan sebagai individu, kadang kelompok. Kalau kelompok, ego juga harus diturunkan untuk mencapai kesepakatan bersama.

      Siap kak Eno. Terimakasih. Ini hanya catatan sebagai pengingat.

      Hapus
  2. Rahul sudah dewasa. *applause

    Btw, kamu typo di kalimat terakhir. Kurang R.

    Eh sama gambar iklannya ganggu banget, kegedean, tadinya kirain itu cover tapi kok gak nyambung sama isinya. Eh ternyata iklan. Haha

    BalasHapus
    Balasan
    1. Saya belum dewasa, tapi bertumbuh.

      Eh iya, giliran begini saja sadarnya cukup cepat 😅

      Masalah iklan akan saya bahas dalam pos lain. Tapi masukannya saya terima

      Hapus
  3. Rahul, akhirnya udah dapat Adsense ya. Selamat!! 🥳

    Akupun juga merasakan beban yang begitu besar ketika kebebasan dalam berkarya itu dikekang oleh syarat-syarat yang berat serta terlalu disetir oleh orang lain, rasanya sungguh tidak nyaman ya. Aku, Rahul dan juga banyak orang lainnya adalah pecinta kebebasan, jadi tidak suka disetir dan lebih memilih melakukan sesuatu berdasarkan keinginan sendiri. Rasanya lebih ikhlas jika dilakukan atas kemauan sendiri ya. Hahaha.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Bukan Adsense kak Lia, ini alternatifnya. Adsense menolak saya. Ha ha ha.

      Benar kak Lia, karena kebebasan itu kita bisa lebih ikhlas melakukan sesuatu.

      Hapus
    2. Eh, ada alternatif lain ya selain Adsense? Wah, penasaran. Aku tunggu tulisannya tentang hal ini ya :)

      Hapus
    3. Baru saja publish kak. Sila dibaca 😁

      Hapus
  4. Setuju sama mba Eno, kayaknya ini tentang setting boundaries Rahul, when to say yes, when to say no. Nggak enakan kayaknya emang Indonesia banget ya? Soalnya aku juga gitu, aku juga pernah ada diposisi yang susah bilang nggak, gara-gara hal ini aku pernah dimanfaatkan beberapa orang. Kemudian aku sadar dan berusaha untuk diriku untuk tidak dijajah orang lain, ya walaupun tidak sepenuhnya bebas.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Sebenarnya poinnya juga akan ke sana. Kebebasan untuk bisa bilang tidak dan iya. Tapi memang saya akui, orang Indonesia banyak ngga enaknya. Mungkin takut mengecewakan. Tapi seringnya juga dimanfaatkan orang. Ha ha ha.

      Hapus
  5. Tulisannya bagus.

    Gimana ya, namanya hidup. Kadang ketemu orang yang bossy kadang yang fleksibel. Biasanya ada kesepakatan dulu di awal supaya sama-sama enak. Misal revisi hanya bisa sekian kali. Kalau telat datang dianggap biaya perpanjangan. Semacam itulah.

    Menyesuaikan diri mungkin agar nggak kehilangan hak juga untuk menolak? :)

    BalasHapus
  6. Dulu zaman masih kuliah, aku juga sering punya pikiran begini :). Ga terlalu suka dengan aturan2 yg mengikat, apalagi kalo soal menyangkut passion yg kita memang suka kerjain. Di batasai dengan aturan2, rasanya malah membuat kreatifitas kita mandeg.

    Tapi setelah kerja, menikah, rasanya agak susah memegang prinsip begitu. Mau kerja di perusahaan, atopun kita sendiri yg menjadi bosnya, ga mungkin rasanya mengenyampingkan aturan ato keinginan clients hanya karena prinsip kita tadi :). Yg ada, akupun berubah, mengikuti aturan main yg ditetapin. Sempet merasa ga suka? Ya pastilah, tp selagi ga terlalu mengganggu, aku biasanya bertahan.

    Tapi ada batas yg aku pasang, dan saat batas itu terlanggar, aku tahu, itu waktunya utk kluar :). Mending gitu toh, drpd makin lama makin tertekan :). Itu sih yg aku rasain skr. Resign dr perusahaan sblmnya Krn memang ga sesuai lagi prinsip ku dengan yg ditetapin company. Aku bertahan, yg ada stress makin parah. Resign udh pilihan terbaik. Terbukti, skr lebih happy :D. Bisa mengerjakan kerjaan yg memang aku suka dan sesuai prinsipku

    BalasHapus
    Balasan
    1. Makanya, paragraf awal sudah saya katakan secara jelas. Saya tidak tau itu kapan, tapi pasti akan terjadi.

      Kalau sudah terjadi, yang harus kita lakukan adalah kuat-kuat saja agar tetap waras. Mungkin saya akan sesekali memancing atau mengurus ternak.

      Hapus
  7. kadang kala ada saatnya kita harus berani bilang tidak.
    kalau udah ngomongin "nggak enakan", aku juga sering begitu.
    tapi kalau di dunia kerja, jika ada hubungannya dengan kerjaan dan memang harusnya tindakan yang diambil adalah begini, ya harus begini, nggak pandang bulu siapa lawannya, dan mungkin karena udah kenal banget jadi "nggak enakan"

    BalasHapus
    Balasan
    1. Ngga enakan awalnya bermula dari rasa tak ingin membuat kecewa. Ha ha ha. Kita memang individu yang unik, tak ingin membuat orang kecewa meski kerapkali dikecewakan 😅

      Hapus

Terimakasih sudah membaca. Sila berkomentar terkait tulisan ini.