zsnr95ICNj2jnPcreqY9KBInEVewSAnK0XjnluSi

Memilih Prioritas

Tulisan saya akhir Juli kemarin tentang John Carney mendapat cukup banyak respon. Salah satu yang saya ingat adalah komentar kak Rey. Kurang lebih isinya saya kutip sebagai berikut:
 
Seolah pengen memperpanjang waktu biar bisa nonton dengan puas, sementara saya masih tertatih menonton drakor 1 yang ga selesai-selesai hahahaa
 
Ini cukup gatal untuk dibahas. Kalau saya tarik garis panjang, umumnya ini akan membahas masalah prioritas, atau lebih tepatnya memilih prioritas.
 
Mungkin terdengar klise, tapi kita punya 24 jam yang sama setiap harinya. Kita bisa memilih untuk begadang atau tidur lebih awal. Pilihan itu membuat kita terlempar pada pilihan berikutnya, apakah kita memilih bangun pagi atau lebih siang. Ini masalah prioritas. Saat belum kuliah daring, bangun siang tidak jadi soal. 
 
Saat sudah mulai kuliah kembali, saya mesti menggulung garis itu dan mulai mengolor secara perlahan. Misalnya, kuliah daring ini mesti membuat saya bangun lebih pagi untuk melakukan kuliah daring via zoom ataupun meet. Maka, saya tidak boleh begadang dan sebisa mungkin curi waktu tidur siang kalau-kalau saya punya aktivitas di sore hari atau ada mata kuliah selanjutnya. 
 
Sama dengan itu, akhirnya tahun ini saya memprioritaskan untuk menonton lebih banyak serial. Akibatnya saya tidak banyak menonton film karena prioritas utama saya adalah serial. Sehubungan dengan komentar kak Rey, maksud saya adalah kita bisa memilih ingin memprioritaskan apapun, siapapun. Apakah nonton drama Korea atau mengikuti film-film yang sudah ada di daftar tonton.
 
Kita bisa memilih keduanya, begitu juga dengan saya. Saya bisa menonton serial tapi juga menonton film. Tapi, ada waktu lain yang saya korbankan. Misalnya waktu untuk nongkrong sama teman-teman atau yang paling gampangnya waktu untuk menulis postingan ini tidak ada sehingga teman-teman tidak perlu lagi memikirkan sampai meresponnya.
 
Sama halnya dengan masuk SMA misalnya, saya memilih sekolah yang dipilihkan Mama. Mengikuti maunya untuk tidak terlalu bandel dan rajin saat sekolah. Menjadi anak baik jika diminta. Itu semua karena prioritas saya adalah untuk patuh dan menjalankan tugas sebagai seorang anak. Sama seperti saya akan meninggalkan waktu yang sebenarnya bisa saya pakai nonton film untuk nongkrong
 
Kalau saya tarik kedalam blog ini, masalahnya bisa lebih beragam.
 
Saya memilih pos dua minggu sekali (sekarang sudah jadi tiga pos seminggu) karena prioritas saya untuk nongkrong dan nonton tidak mengijinkan energi dan waktu saya untuk bisa pos setiap hari. Makanya, saya kagum dengan orang-orang yang bisa pos setiap hari. Secara sederhana, prioritasnya cukup besar untuk apapun yang berkaitan dengan blognya.
 
Saya memilih untuk memasang iklan karena prioritas saya adalah anggaran domain. Kenyamanan pembaca mungkin bisa ditoleransi tapi anggaran domain tidak. Moga-moga yah. Ha ha ha. Prioritas saya mengharuskan untuk mengambil jalan tengah, yaitu dengan tidak terlalu banyak memasang iklan.
 
Saya memilih bertransformasi dari dominasi curhatan menjadi catatan karena prioritas saya mulai bergeser. Keinginan untuk bicara lebih luas mendorong saya untuk berubah. Lagi-lagi, saya bernegosiasi dengan pilihan yang ada.
 
Pilihan-pilihan tersebut adalah hasil reduksi dari banyak pilihan yang tidak perlu. Menghasilkan pilihan yang lebih sedikit untuk mempermudah saya dalam memilih prioritas. Anehnya, beberapa dari kita mungkin tidak menyadari hal ini. Bahwa kita selalu punya waktu yang sama. Dihadapkan oleh pilihan yang sudah tereduksi sehingga lebih mudah memilih prioritas. Secara tidak langsung, saya hanya ingin mengatakan yang membuat itu terlihat sulit adalah kita sendiri.
 
Ini hanya perkara apa yang menjadi paling penting diantara pilihan penting lainnya. Saya jadi ingat salah satu adegan dalam film Taken 3 ketika Bryan Mills yang diperankan Liam Neeson bertanya kepada Inspektur Franck Dotzler saat hendak menyelamatkan putrinya,"apa prioritas utamamu?"

Memilih Prioritas
Liam Neeson dalam Taken 3 (2014)

"Menangkap John (pelaku yang menyandera anak Bryan) atas tuduhan pembunuhan mantan istrimu."

"Prioritas utamaku adalah putriku," kata Bryan Mills lalu menutup telepon.

Related Posts

Related Posts

17 comments

  1. Kalau kata sahabat saya, prioritas itu berarti "you win some, you lose some". Terkadang saya berharap bisa melakukan semua hal dalam satu waktu, tapi nyatanya nggak bisa, tetap ada sesuatu yang harus dikorbankan. Jadi betull, prioritas itu masalah memilih mana yang lebih diutamakan. Dan semua balik lagi pada masing-masing individu, yaa. Prioritas setiap orang pasti berbeda-beda dan itu gapapa. Soalnya tuh dulu saya sempat jadi orang yang seenak jidat menilai orang lain, hanya karena prioritas mereka berbeda dengan saya 😂

    ReplyDelete
    Replies
    1. Bener banget kak Jane. Kadang mau ngakalin dengan kerja sekaligus, tapi jadinya ngga beres-beres. Sekalipun dulu kita terasa menyebalkan, semoga tidak lagi jadi orang demikian 😁

      Delete
  2. Bicara soal prioritas memang seru, karena setiap dari kita pasti prioritasnya beda. Even saya sama pasangan punya prioritas beda dalam mengisi waktu yang dipunya padahal bersama 😂

    Buat saya, waktu luang prioritasnya untuk Netflix atau blog biasanya. While dia untuk Netflix dan tidur hahahaha. Jadi baru ketemu di tengah kalau kami sedang memprioritaskan Netflix which ended up kami bisa lihat film : drama berdua ðŸĪŠ

    That's why kalau ada teman yang jarang blogging, jarang ini, jarang itu, atau jarang kontakan, ende bla bla... saya paham, karena maybe prioritasnya beda 😁

    ReplyDelete
    Replies
    1. Nah, yang sudah punya komitmen saja prioritasnya masih beda. Gimana yang tidak? Orang yang selembaga, sepekerjaan, setempat belajarpun juga prioritasnya pasti ada yang beda.

      Ha ha ha, sama kak Eno. Paling saya tambahnya sama baca buku dan blogwalking

      Delete
  3. Prioritas menurut saya adalah hal yang pasti akan kita lakukan, apapun yang terjadi.
    Jadi, saat ada yang bilang sibuk, sebenarnya mungkin tidak sesibuk itu, hanya saja kita bukan prioritasnya *eaakkkk hahahahaha.

    Prioritas saya.
    Mengurus 2 bocah, termasuk menyiapkan makanan sehat, pakaian bersih, dan kenyamanan mereka, plussss untuk diri sendiri adalah menulis setiap hari.

    Udah, itu saja sih, keliatan remeh, tapi sumpah jungkir balik hahaha.
    Tapi dari situ saya belajar yang namanya prioritas, sambil terus belajar manage waktu.
    Prioritas adalah sesuatu yang memang nggak bisa dengan mudah kita abaikan apalagi tinggalkan.

    Dan saya bersyukur, meski jungkir balik, setidaknya saya udah memiliki waktu saya as a mom, juga as myself.
    Untung paksu kerja jauh, kayaknya kalau ada dia di rumah, prioritas berubah lagi hahaha

    ReplyDelete
    Replies
    1. Yah, ini mah curhat yah kak Rey? 😅

      Tapi benar juga. Mungkin kita aja yang bukan prioritas. Ha ha ha.

      Itu tidak remeh kak Rey. Mengurus anak-anak itu pekerjaan yang sulit dan unpredictable. Dan yap, manajemen waktu memang yang paling penting kalo mau tetap waras ditengah prioritas itu. Yang penting sih punya me time aja sudah cukup

      Delete
    2. qiqiqiqiqiq, sekalian curcol :D

      Delete
  4. Kalau ngomongin prioritas itu memang susah banget ya. Kalau sekarang sih utama prioritas itu kerja (sudah pasti), lalu posting blog dan nulis di platform satu lagi. Tapi ternyata sulit banget untuk dijalanin.

    Untuk fokus di blog aku harus mengorbankan pundi2 yang bisa aku dapatin di platform nulis, tapi kalo fokus di platform satunya sayang banget blognya bakalan sepi lagi. 2 hal yang tahun ini membuatku gonjang-ganjing karena bingung harus prioritas yang mana. Apalagi untuk nulis blog aku juga harus baca banyak buku yang lagi-lagi bikin waktu semakin berkurang.

    Tapi, yang lebih parah daripada itu adalah social media yang tiba-tiba mengganggu prioritas. Awalnya mau ngeblog malah sibuk berselancar di social media :( gak bisa salahin socmed tapi tetep aja gak bisa tobat dari socmed...

    ReplyDelete
    Replies
    1. Kalau kata kak Jane,"you win some, you lose some". Jadi gapapa kalau jadinya seperti itu kak Tika. Asal kerjanya ngga sepenuh hati.

      Solusinya yah mungkin bisa rehat sosial media dulu. Atau kalau susah yah di unninstal sementata. Saya pernah ngga pake sosial media sebulan. Seminggu pertama memang susah, tapi setelah itu jadi lebih enak dan ada waktu untuk hal yang lain

      Delete
  5. Tulisan ini aku baca bertepatan dengan aku yang merasakan butuh mengatur waktu antara membaca dan menulis blog. Sekarang aku sadar bahwa belakangan ini, aku lebih memprioritaskan membaca sehingga kegiatan mengurus blog jadi keteteran. Jadi memang benar kata Ci Jane, ketika berbicata tentang prioritas you win some, you lose some. Kini aku ingin mengambil jalan tengah aja dengan berusaha mengatur waktu dengan benar agar kegiatan membaca dan menulis bisa lebih seimbang, sebab setelah dipikir kembali, aku suka menjalani keduanya 🙈

    ReplyDelete
    Replies
    1. Selalu akan ada yang dikorbankan. Jadi bijak-bijak saja pilih prioritas. Saya mah sekarang yang paling penting dulu saya utamakan. Kalau ada waktunya, yang senang-senang baru dilakukan

      Delete
  6. Prioritas saya sekarang adalah tidur siang. Buat saya, itu privilese. Haha

    ReplyDelete
    Replies
    1. Saya juga sekarang lagi sering tidur siang. 1-2 jam sudah enak dan bikin segar. Mungkin yang perlu diatur dan tingkatkan, prioritas olahraganya saja 😅

      Delete
  7. masalah prioritas ini memang menarik buat dibahas.. Kadang kita heran kok ada orang bisa post tiap hari (kaya yg mas rahul bahas), atau betah nonton serial, dll. Yang kita tdk tahu, mungkin itu adalah salah satu prioritasnya untuk tetep bisa menjalani hidup dg menyenangkan. Sedangkan mungkin bagi orang lain, menyenangkan adalah bisa tidur cukup tiap harinya (ini sih saya) hahahah..
    Dont put you foot in other people shoes, karena memang tiap orang memnjalani hidup dg berbeda2..

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya, makanya saya mulai memaklumi segala hal bisa dilakukan oleh orang, tapi saya tidak. Mungkin ia sudah lebih dulu konsisten dan memprioritaskan. Saya kemudian datang dengan menghakimi itu, sangat tidak adil untuk mereka

      Delete
  8. sama halnya dengan dunia kerja mengenai prioritas kerjaan urgent, kerjaan deadline, kerjaan yang bisa disambi.
    sebagai pekerja kantoran, berharapnya antara hobi dan kerjaan tetep berjalan seimbang, tapi kadang merasa waktu 24 jam nggak cukup
    sepertinya memang pola management waktu yang masih kurang bagus.
    ada kalanya juga take a break dulu, karena bisa aja seharian ngurusi kantor dan nggak sempet nge-blogging misalnya

    ReplyDelete
    Replies
    1. Prinsip saya cukup sederhana, dikerjakan dulu yang paling mendesak dan penting, terus yang penting, kemudian baru dikerjakan yang bikin disukai. Hal ini cukup bekerja untuk saya

      Delete
Terimakasih sudah membaca. Sila berkomentar terkait tulisan ini.