Air Panas, Air Asin, Sama Saja

loading...

Untuk jarak 20 KM, mungkin hampir semua tempat wisata sudah kami kunjungi. Kami selalu mengunjungi tempat wisata menggunakan jalur darat karena Riki, mendapat larangan keras untuk menaiki transportasi laut. Larangan paling gampangnya: "jangan ke pulau!"

1 September kemarin, adalah rencana yang cukup nekat dan berani. Kami ke Permandian Air Panas di daerah Konawe Utara. Meski rutenya cuma kurang lebih 75 KM, tapi medannya sangat parah, bikin saya sepuluh meter sekali istigfar. Ditambah lagi waktu itu, beberapa kali hujan turun. Membuat medan jadi semakin tidak bersahabat.

Kami pergi berenam, yaitu Ari, Ali, Riki, Rendy, dan Salsa. Karena sudah mulai kerja, Ari jadi hanya punya satu waktu libur setiap minggunya. Itu dimanfaatkan dengan liburan hampir setiap libur. Salsa, adalah salah satu rekan kerja Ari yang kami kenal lewat pertemuan di salah satu tempat nongkrong Kendari Beach. Kami cepat akrab karena orangnya cukup asik dan bersahabat.

Pagi sekali, Salsa sudah ada di rumah Riki. Saya baru saja mandi dan bersiap. Kami jalan cukup cepat, masih terasa sisa kabut semalam. Kami jalan dengan empat motor. Ari bersama Salsa, saya bersama Rendy, Riki dan Ali membawa motor masing-masing.

Ari dan Salsa berada pada posisi depan, karena Salsa bertugas sebagai penunjuk rute. Kami cuma mengekor dibelakang mereka. Perjalanan ini terbilang nekat bukan karena rutenya, karena rute serupa atau bahkan lebih dari ini sudah pernah kami tempuh. Tapi ini masalah medan yang kami hadapi. Pertama, setelah melewati beberapa desa, aspal mulai tidak bergelombang dan berlubang. Setelah itu, kami harus melewati beberapa daerah becek dan berair karena beberapa hari telah turun hujan.

Tidak sampai disitu, kami juga melakukan penyebrangan menggunakan Pincara, semacam alat penyebrangan yang digunakan untuk membawa kendaraan dan orang melewati satu perairan. Jarak pada titik 1 dan 2 pada penyebrangan pertama lumayan dekat. Itu tepat di depan kami. Kami cukup membayar 5 ribu rupiah.

Setelahnya, kami terus memacu motor. Memutari sebuah proyek pembangunan untuk bisa ke jalan utama. Kami melewati beberapa desa. Beberapa kali kami melihat hamparan empang atau hal yang mirip dengan empang. Medannya sudah mulai berubah menjadi lebih tidak asik. Kadang berbatu, kadang becek, tapi lebih sering berlumpur.

Penyebrangan kedua, jaraknya agak jauh. Kami harus, memutari atau sedikit berbelok untuk bisa melihat titik pemberhentian. Harganya penyebrangannya juga berubah. Naik menjadi 10 ribu permotor. Sebelum jalan, kami singgah untuk minum dan istirahat di sebuah warung dekat pincara bersandar. Kami tidak terlalu lama karena setelah minum, kami kembali memacu motor.

Jalanan sudah mulai beraspal. Di jalan, saya kembali membayangkan medan yang kami lewati tadi. Saya sempat melihat ada tempat pencucian motor tapi di sepanjang jalan adalah lumpur. Saya dan Rendy sempat ketawa melihat itu. Perjalanan agak jauh namun karena sudah beraspal jadi saya tidak lagi banyak mengeluh
 
Kami sempat bertanya sekali untuk memastikan kami tidak mengambil rute yang salah. Di perjalanan, saya ingat kata Sudi, lorong tempat masuk katanya bersebelahan dengan Sekolah Dasar. Sepanjang jalan saya mencari SD. Ada satu SD yang cukup besar tapi tidak ada tanda-tanda lorong di sana. Kami berjalan cukup jauh untuk mendapatkan SD kedua. Tulisan besar tertera: Permandian Air Panas Wawolesea.

Kami masuk, membayar dengan harga yang cukup mahal. Saya lupa harganya, tapi saya tidak akan lupa jika itu membuat saya berdecak. Kami masuk dan memarkirkan motor. Tapi anehnya, tidak ada tanda-tanda pengunjung. Hanya satu kelompok yang hendak pulang, itupun sepertinya bukan dari permandiannya.

Kami masuk, ada beberapa orang yang sedang merendamkan kaki. Firasat mulai tidak enak karena beberapa area terlihat kering. Kami pergi ke ujung, ada dua area yang ditempati untuk mandi. Itupun tidak panas, katanya. Kami naik ke atas lagi, itu area spot foto yang sering kami lihat di Instagram. Ada kursi di tengah untuk foto. Tapi airnya kering, hanya sisa air hujan tadi pagi.

Air Panas, Air Asin, Sama saja
 
Kami kecewa. Sebenar-benarnya, saya tidak begitu peduli dengan foto-foto. Saya lebih pengen mandi air panasnya. Kebetulan kemarin saya sudah jogging untuk membuat badan saya pegal agar mandi air panasnya bisa maksimal. Jika tau akan begini, mending waktu yang saya gunakan untuk jogging saya pakai saja untuk istirahat.


Setelah menunggu yang lain sibuk foto-foto, saya dan Ali ngobrol tentang betapa zonknya perjalanan hari ini. Mana lagi, hujan terlihat akan turun. Kami buru-buru pergi meninggalkan tempat. Awalnya kami berpikir untuk ke Air Terjun Moramo, tapi kami tentu saja harus kembali dulu ke Kota kemudian baru menuju Moramo karena rutenya berbeda.

Daripada ke Moramo, kami akhirnya ke Pantai Pudonggala. Lebih dekat dari Wawolesea dan tentunya menjadi alternatif yang cukup bijak. Tidak ada orang yang datang meski tempatnya bagus. Sudah ada beberapa gazebo dan warung. Mungkin karena cuaca dan ombak yang sedang besar jadi orang tidak ke sini. Tapi saya adalah orang yang lebih dulu membuka pakaian untuk berlari ke bibir pantai. Ombak setinggi hampir dua meter membuat saya cukup kegirangan. Apalagi pasir pantainya halus dan bagus.

Air Panas, Air Asin, Sama saja
 
 
Air Panas, Air Asin, Sama saja

Karena melihat saya, Riki dan yang lain juga membuka pakaian untuk mandi. Yang dibenak saya saat itu, air panas atau air asin sama saja. Saya tau, air asin lebih cepat membuat kulit terbakar. Tapi tidak masalah. Toh saya datang tidak untuk berfoto, tapi menikmati liburan.

Semua sudah turun, menikmati ombak yang besar ini. Karena lapar dan sudah siang, kami memutuskan membeli makanan. Sialnya, uang saya hanyut terbawa ombak karena saya lupa memindahkan uang dari kantong celana yang saya pakai mandi. Kesialan ini menjadi dua kali. Tapi dihadapan yang lain, saya berusaha untuk terlihat tegar dan biasa saja. Perkataan andalan saya saat kehilangan uang,"mungkin saya kurang sedekah."

Setelah makan, kami kembali untuk mandi. Tidak lama, karena perjalanan pulang akan memakan waktu cukup lama. Kami bersiap-siap. Berfoto sebentar dan mulai membawa motor untuk keluar dari area pantai menuju jalan poros. Kami singgah sebentar di salah satu Mesjid dan kembali melanjutkan perjalanan pulang.

Air Panas, Air Asin, Sama saja

Air Panas, Air Asin, Sama saja

Bedanya, rute yang kami ambil agak berbeda. Kami tidak akan naik pincara lagi, tapi medannya jauh lebih tidak jelas dari sebelumnya. Bikin geleng-geleng. Sepanjang perjalanan setelah aspal, kami sempat berteduh karena hujan. Tapi lanjut kembali. Aspal putus dan kami tidak lagi melihat aspal. Yang ada hanya lumpur, bebatuan, dan genangan air.

Belum lagi beberapa kali, medannya terjal, jadi saya harus menurunkan Rendy agar ia turun dan berjalan kaki sampai medannya normal. Karena motor akan serba salah. Jika direm, akan membuat ban terpeleset, mau digas juga tidak mungkin karena medannya yang terjal kebawah. Salah-salah, kita bisa terpeleset juga kebawah.

Sepanjang jalan itulah yang kita hadapi. Ali hampir jatuh dan ditabrak mobil, saya yang tidak bisa mengimbangi motor malah jatuh juga. Untungnya itu hanya jatuh biasa, bukan terseret. Sepanjang perjalanan saya menggerutu jika menginjak lubang yang membuat motor menimbulkan bunyi-bunyi yang aneh.

Kami singgah lagi sebentar di sebuah Mesjid. Saya mencuci muka dan membilas kaki dan muka yang penuh lumpur. Setelah selesai, kami melanjutkan sisa perjalanan berlumpur yang masih agak panjang. Sebenar-benarnya, rute dengan naik pincara dua kali juga bikin geleng-geleng, tapi tidak separah ini. Pulang balik menggunakan rute ini adalah cara terbaik merusak kendaraan.

Kami menemui aspal dan memacu motor dengan kecepatan normal. Berhenti di ATM dekat SPBU karena Ali hendak menarik uang. Setelahnya, kami langsung pulang. Ada basa-basi sedikit sebelum akhirnya saya mandi dengan air yang saya panaskan sendiri. Sepanjang mandi, saya berpikir bahwa akan ada medan yang lebih jelek setiap saat untuk mengalahkan medan jelek sebelumnya. Sama seperti saya pertama kali ke Ladongi, semacam ada rasa jengkel dengan medannya. Tapi saat ini, saya lebih cinta medan ke Ladongi.

loading...

Posting Komentar

14 Komentar

  1. aku penasaran sama daerah nya mas rahul nih, semoga bisa menginjakkan kaki ke Kendari ya
    tempat pemandian air panasnya sebenarnya bagus ya, kalau ada airnya, pastinya akan berwarna biru gradasi yang cantik
    kalau udah zonk di tempat tujuan memang bikin hati nyesek ya, untungnya ada destinasi lain yang membantu untuk jadi tempat refreshing.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Kendari ini kota kecil, kalau mau liburan mending keliling Sulawesi Tenggara, mencakup Wakatobi, Konawe Kepulauan, dan Kolaka Utara. Tiga daerah itu destinasinya bagus-bagus.

      Ah, saya membayangkan itu membuat saya kesal kembali. Kalau bikin rencana, memang harus siap rencana B kalau-kalau ada kendala

      Hapus
  2. 75KM itu jauh sekali Rahul 😱 jaraknya hampir seperti dari rumahku ke Puncak Bogor. Nggak kebayang kalau harus menempuh jarak sejauh itu dengan motor dan jalanan yang tidak mulus, pasti akan mengundang amarah 😂 dan sayang sekali, air panasnya malah zonk ya. Tapi kok tetap harus bayar? Maksudku, kok dari awal tidak diberitahu kalau airnya kering ya, jadi kan nggak perlu masuk dan bayar mahal 😂 tapi nggak apa, tetap seru dan terbayar kan karena berakhir di pantai sepi yang membuat leluasa untuk lari sana-sini 😁

    Cerita perjalanan yang bagus, Hul~
    Ditunggu cerita jalan-jalan lainnya 😉

    BalasHapus
    Balasan
    1. Saya mah banyak istigfar dan menggerutu saja. Tidak sampai marah, alhamdulillah. Itu akan jadi menyusahkan saya juga.

      Sepertinya yang jaga memang ambil untung dari ketidaktahuan pengunjung. ☺

      Hapus
  3. Waaaah sudah jauh-jauh pergi ke sana, akhirnya justru nggak bisa mandi sesuai harapan. Rasanya pasti menjengkelkan 😂 mana mas Rahul sudah pakai acara jogging segala. Double jengkelnya hahahahaha. Thankfully, selalu ada plan B yang bisa dilakukan. So, perjalanan tetap bisa dinikmati dan nggak sia-sia meski endingnya kehilangan uang 🙈

    By the way saya salfok sama mba Salsa, cantiiik difotonya 😁

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya, itu kesalnya dua kali. Saya sudah membayangkan akan berendam di air panas. Tapi, sebenar-benarnya rencana cadangan itu malah muncul setelahnya. Kalau tidak karena keterpaksaan, kami mungkin akan memilih pulang saja.

      Ha ha ha, aslinya juga cantik kak Eno 😁

      Hapus
  4. Sayang sekali jauh-jauh dengan medan pergi-pulang yang "menantang" ternyata zonk... ^^"

    Sama kayak hidup, kadang udah berusaha sekeras apapun, tapi ternyata hasil yang kita dapat nggak sesuai dengan yang kita inginkan. Meskipun begitu saya yakin sih hasil itu akan sesuai dengan yang kita butuhkan. *lho, kok mendadak daleem wkwk*

    BalasHapus
    Balasan
    1. Ha ha ha, dibawah ke ranah filsafat yah kak 😁

      Hapus
  5. Seraaaaaaam rutenyaaa hahahahah. Duuuh aku kapok kalo lwt Medan yg ancur begitu naik motor pula mas. Pernah naik dulu, ke air terjun di Bandung, medannya paraaaah byangetttt . Dan aku nyaris jatuh , sejak itu takut :D.

    Itu mah bukan zonk lagi :D. Betul2 keriiiing yaaak. Kalo sumber air panas kering begini, apa bisa muncul lagi mas? Ato itu berarti sumber volcanonya udh ga aktif?

    Pantainya asiiik beneeer. Walo aku ga suka panas2an, tp ngeliat pantai yg air nya menggoda utk diceburin gitu, lgs pengen deh :D. Tp berharapnya g bikin gosong kalo udh main hahahahahah

    BalasHapus
    Balasan
    1. Pernah jatuh, tapi ngga sampai bikin trauma. Mungkin bisa coba ke tempat yang rutenya dekat-dekat dulu kak Fanny.

      Itu dia, saya ngga begitu ngerti. Kalau misalnya air hujan akan mengisi, apakah akan bisa panas? Kalau sudah di pantai, urusan gosong mah belakangan

      Hapus
  6. Wah pantainya indah bangeet.. nice take!

    BalasHapus
  7. Tak ada air panas, air asin pun jadi yaa 😂

    Aselik, saya nggak kebayang betapa kesalnya Mas Rahul dan teman-teman tentang perjalanan kali ini. Sudah medannya parah, sampai di lokasi tujuan malah kering kerontang. Saya antara mau ketawa tapi takut kualat. Mana pakai acara sengaja jogging biar tambah mantep berendam air panasnya ya 😂

    Dan seolah-olah supaya trip kali ini lebih bikin kesal, uang di kantong pun hanyut begitu saja. Saya bacanya aja ikut elus-elus dada hahaha

    Btw, lihat foto pantai semakin kangen dengan pantai. Baru kali ini rasanya saya pengen 'gosong' saking kangennya dengan suasana pantai.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Ide jogging itu sebenarnya yang bikin kesal. Harusnya saya tidak sesotoy itu. Ditambah lagi, uang saya hanyut dibawa ombak. Kesalnya bertumpuk.

      Kuy lah kak Jane. Kalau mau ke pantai tapi masih ragu karena pandemi, mungkin bisa cari pantai yang sepi atau ngga banyak orang. Kebetulan, kemarin pantainya cuma kita-kita saja

      Hapus

Terimakasih sudah membaca. Sila berkomentar terkait tulisan ini.