zsnr95ICNj2jnPcreqY9KBInEVewSAnK0XjnluSi

Ingin Dikenal Banyak Orang, Tapi Tak Ingin Mainstream

Suatu hari saat sedang di warung Sari Laut, teman saya bertanya,"bagusnya ditempelkan lagu apa yah?"

Konteksnya adalah, teman saya baru saja membuat video timelapse perjalanan menuju tempat makan. Videonya bagus dan keren menurut dia. Makanya, mau ditambahkan lagu biar jadi status WhatsApp terbaru. Teman yang lain menyebut satu lagu, teman saya mencari di YouTube dan mengatakan,"bagus juga."

Tapi kata 'bagus juga' juga berarti,"kalau masih ada yang lebih keren, mungkin bisa dicoba.". Saya mencoba memberi masukan,"mungkin Pamungkas cocok," kata saya. Sempat tersenyum karena merasa itu ide yang bagus, tapi kemudian raut wajahnya berubah."Lagu-lagu Pamungkas sudah alay. Sudah banyak yang tau, sudah banyak yang dengar."
 
Ingin Dikenal Banyak Orang, Tapi Tak Ingin Mainstream
Pamungkas. Foto: IG Pamungkas
 
Dari sanalah saya berpikir, apakah jika ingin populer artinya harus meninggalkan ideologi untuk tidak terlihat mainstream? Jika dilihat kembali, awal kemunculan Pamungkas membawa energi baru untuk musik Indonesia. Lagu berbahasa Inggris yang katanya sulit di pasar Indonesia, ternyata bisa mendapat ruang dan pendengar. Dengan aksen yang unik, lirik yang relatable, Pamungkas menjadi pendatang baru yang bersinar berkat One Only.Artinya, Pamungkas tidak datang dengan keadaan mainstream. Awalnya, ia punya ideologi musik. Ia bisa membedakan musiknya dengan musik musisi lain. Makanya, musiknya dilihat orang dan kebetulan bagus, makanya orang suka.
 
Pemikiran teman saya ini, persis sama ketika saya masih duduk di bangku SD. Saat itu, saya sudah punya hape yang bisa memutar audio musik. Kami sering berbagi musik keren lewat bluetooth karena dulu, jaringan internet masih terbatas dan belum ada platform macam Joox dan Spotify


Sejak SD, saya tidak pernah memilih lagu. Apapun bisa saya dengar. Ukurannya adalah enak dan tidak enak saja ditelinga saya. Saya mendengarkan ST12, Avenged Sevenfold, dan Girls Generation disaat yang bersamaan. Saat itu, Girls Generation menjadi lagu-lagu yang sering saya dengarkan. Saya putar berulang-ulang video musik 'Gee' dengan volume yang cukup keras.

Beberapa teman perempuan, penasaran dan meminta saya mengirimkan. Awalnya saya merasa keren karena menjadi orang yang mengenalkan Girls Generation kepada mereka. Sampai saya mendengar lagu-lagu Girls Generation ada dimana-mana, dan merasa magis lagunya sudah hilang. Ini akibat saya memperkenalkannya kepada mereka dan itu membuat lagunya terlihat alay.

Semakin kesini, saya melihat fenomena ini hanya sebagai sebuah ego. Itu hanyalah sugesti yang terbentuk dari apa yang kita yakini saja. Saya percaya, jika mendengarkan lagu yang sama berulang-ulang akan membuat lagu tersebut terlihat biasa. Tapi mendengarkan lagu yang sama berulang-ulang, tidak akan membuat lagu tersebut menjadi alay.

Ini hanya tentang ego. Orang yang menemukan Pamungkas dan merasa itu adalah lagu yang akan ia dengarkan sendiri. Mungkin disaat mau tidur atau sedang sendiri. Semacam sebuah teman refleksi untuk dirinya. Kemudian, ia mendengar lagu tersebut ada di angkutan umum. Wah, tentu saja melukai harga dirinya.

Lagu yang ia pikir menjadi perwakilannya menjadi lagu yang didengarkan oleh anak-anak yang baru pulang dari sekolah, Ibu-ibu yang hendak pergi ke pasar, atau supir angkot yang tidak tau bagus lagunya dimana, tapi karena request ke abang-abang tukang suntik musik bilangnya,"ini lagu yang tren sekarang, mas."

Tingkat populer berbanding lurus dengan pandangan mainstrean-tidaknya seseorang. Sama seperti aktor kawakan Reza Rahadian. Meski aktingnya bagus, tapi karena membintangi beberapa film dalam setahun, pengguna internet mengatakan,"Reza lagi, Reza lagi.". Padahal jika mau dilihat secara luas, masih banyak yang lebih banyak dari Reza. Hanya karena orang aware reza adalah aktor keren, mereka ingin Reza tidak serta-merta mengambil semua peran yang mereka anggap krusial.

Konsekuensi menjadi populer adalah menghadapi anggapan orang bahwa tingkat (kalau di dunia musik) ke-Indie-an seorang musisi akan luntur. Ia akan tergerus oleh orang-orang kapital. Tapi ternyata, bagi saya musik hanya soal musik. Ukurannya hanya enak dan tidak enak. Tidak masalah dengan Coldplay misalnya, yang tidak menerima sponsor rokok untuk konsernya. Itu ideologi yang mereka pegang dan percaya. Tapi saya, sebagai penikmat musik, hanya tau lagu mereka enak atau tidak.

Related Posts

Related Posts

14 comments

  1. Hahaha saya juga dulu pernah seperti itu Rahul, lucu jadinya sedikit throwback. Betul kata Rahul bahwa ini semua akibat ego, populer dikit dibilang mainstream, repot-repot menjauh dari trend supaya nggak dibilang FOMO dan supaya dikenal anti-mainstream. Padahal kalau enak dan suka ya nikmatin aja, peduli amat sama mainstream atau nggaknya😂—walaupun kalau soal Reza Rahadian itu akupun akan lebih senang kalau aktor-aktor yang potensial dilatih dan lebih 'dipake', daripada mengcasting ulang aktor yang sama berkali-kali. Belum lagi banyak juga aktor lain yg sering wara wiri sampe bosen hahaha. Mungkin ini hanya masalah preferensi, ya. Tapi tetap disayangkan juga kalau ketidaksukaan atau kesukaan kita itu harus ditentukan dari faktor eksternal macam ini, bukan dari dalam diri sendiri. Kurang lebih sama juga dengan gaya-gaya indie, katanya dulu anak indie keren, senja dan kopi itu sesuatu yang jarang. Sementara sekarang setelah banyak orang yg mengikuti jalur anak indie, anak indie senior malah jadi menjauh dan menganggap mereka alay ikut-ikutan. Hmm udah jadi sebuah fenomena ya🤔

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya, benar sekali Aina. Waktu tren lagu "Asal Kau Bahagia" beberapa orang terlihat punya sentimen yang sama. Terlalu alay karena sudah diputar dimana-mana. Padahal dalam jiwanya juga ingin ikut menyanyi 😅

      Nah, kalo ini, menurut saya mungkin karena biaya produksi film yang tidak sedikit, produser juga takur mengambil resiko yang tinggi. Dipake lah nama-nama yang sudah matang macam Reza Rahadian itu. Kalo bicara masalah indie-indiean, saya rasa definisinya melebar kemana-mana. Maksud indie yang dimaksud itu apa? Kalo menurut saya, indie itu musisi yang tidak terikat label. Bukan seberapa rebel lagunya, seberapa anti mainstream ditelinga

      Delete
  2. Wahahaha ribet amat yah kalau mau suka sesuatu perlu berpikir antimainstream dulu 😂 Padahal nggak perlu sampai memikirkan hal itu, saya tetap merasa keren kok meski dengar lagu yang disukai sejuta umat manusia 😆

    Tapi saya bisa mengerti apabila ada orang yang merasa seperti yang mas Rahul jabarkan ~ mungkin rasa itu muncul karena hilangnya eksklusifitas (eh betul nggak ya ini tulisannya) 🤣

    Nonetheless, it's okay sometimes jadi antimainstream, however kalau pun ada masa kita jadi mainstream, it's also okay. Lagian kenapa harus dikotak-kotakan. Seharusnya enjoy saja tanpa batasan 😍💕 -- demikian pendapat saya hehehehe.

    Selamat akhir pekan, mas 😄

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya, itu kata yang tepat. Hilangnya rasa eksklusivitas.

      Mungkin biar terlihat beda dari yang lain dan punya selera keren dan tidak biasa. Padahal dengar lagu "Los Dol" juga ikutan ambyar

      Delete
  3. Baca ini jadi inget awal-awal kenal Tumblr dan merasa jadi orang paling antimainstream sepergaulan *iya soalnya kalo di pergaulan orang lain ga antimainstream wkwk*

    Saya pernah ngalamin ga mau dengerin lagu yang banyak didengerin orang, apalagi yang wara-wiri radio hahaha udah bye bye.. Kayaknya di blog ada jejaknya ke-sok-aintimainstream-an saya dulu 🙈

    Bener Mas Rahul, ini cuma masalah ego aja. Persis kayak yang Mas Rahul bilang, lagu yang saya pikir mewakili isi hati saya, pas saya denger diputar di mall kok rasanya sakit hati hahaha

    Untungnya sekarang udah ga gitu sih, karena ternyata ga semua lagu 'antimainstream' itu bakal cocok terus sama telinga atau hati kita hahaha dan seharusnya juga udah ga perlu jadi perdebatan antara musik mainstream dan antimainstream karena semuanya tergantung selera masing-masing 😆

    ReplyDelete
    Replies
    1. Tidak masalah. Tidak usah menghakimi masa lalu kak Eya. Mudah-mudahan sekarang sudah bijaksana. Selera adalah selera. Itu personal. Sekalipun seleranya segmented, yah tidak masalah juga.

      Delete
  4. Halo Rahul, perdana kumenjejak komen di blogmu. Salam kenal ya. Waduh kalo saya mah, asal enak di telinga ya didengarkan aja. Campursarinya alm Didi Kempot enak ya didengarkan, band rock melayu Malaysia yang nama bandnya Eksis, lagunya enak ya saya beli kasetnya ((KASET!)), pun Britney Spears yang girly nyanyi Baby One More Time ya dengarin juga sebab enak bikin joget2, Metallica dan Linkin Park juga masuk dalam daftar lagu2 endeus di playlistku. Apa aja deh, sing penting bikin happy pas dengerinnya ehehehe.....

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hai kak Imelda. Salam kenal juga. Saya juga sering dengar band Eksis itu. Lagunya sempat viral dijadikan musik TikTok, kayaknya.

      Iya kak, yang penting mah enak ditelinga aja. Urusan lain belakangan

      Delete
  5. Sebenarnya kalau mau dikenal dan anti mainstream itu mudah, cukup jadi diri sendiri, dengan catatan jangan rugiin orang sih.
    Karena diri manusia itu sebenarnya nggak ada yang benar-benar sama, meski kesukaan sama, tapi pasti ada hal lain yang membedakan.

    Lakukan hal tersebut secara konsisten, sampai akhirnya orang-orang familier dengan ciri khas kita, kalau sudah punya ciri khas, mau suka atau nyanyiin lagu sejuta umat, tetap terasa anti mainstream, karena udah ppunya ciri khas.

    Apalagi kalau seleranya anti mainstream sesungguhnya, misal sukanya ama musik yang tidak familier di lingkup pertemanannya :D
    Yang pasti jangan memaksakan diri :D

    ReplyDelete
    Replies
    1. Benar kak Rey. Be genuine. Be honest.

      Kalo benar-benar suka dengan sesuatu yang segmented tidak masalah juga. Asal memang tidak atas dorongan diterima dalam kelompok tertentu.

      Delete
  6. Hi Rahul~ lewat tulisan kali ini, aku bisa ngerasa relate sama apa yang Rahul tulis. Hahaha
    Perkara musik, film, buku, dll, yang aku rasakan selalu "enak/tidak enak, bagus/tidak bagus", mau itu perkara mainstream atau nggak, mau ideologi pembuatnya seperti apa, kalau suka ya suka, enak ya enak, nggak terlalu memusingkan apa yang ada dibaliknya. So, kali ini kita harus toss karena sepemikiran 🤣

    ReplyDelete
    Replies
    1. Kalo saya cukup simpel. Misalnya direkomendasikan musik, film, atau buku. Kalau saya tertarik, saya coba. Kalau tidak, saya tunggu ada waktu untuk coba. Sekalinya memang bagus, alhamdulillah. Kalau tidak, ya tidak masalah.

      Siap kak Lia. Intinya mah menikmati saja. Sekiranya memang senang ngulik hal lainnnya, itu lain soal

      Delete
  7. hehehe sama nih dengan aku, kadang kalau dengerin lagu luar, nggak memahami dulu artinya, pokok lagunya enak, musiknya enak di denger, yaudah enak aja. bahkan kalau sudah suka sama satu lagu karena musiknya enak aja, ehh sehari bisa dengerin beberapa kali. rekor banget

    ReplyDelete
    Replies
    1. Saya kira memang esensi lagu seperti itu. Ngerti atau tidak, yang penting enak ditelinga. Saya mana tahu arti lagu Waka Waka milik Shakira. Tapi karena enak, saya dan jutaan orang asik-asik saja mengikuti liriknya

      Delete
Terimakasih sudah membaca. Sila berkomentar terkait tulisan ini.