Save Me: Drama Korea yang Serba Menyebalkan

loading...

Save Me (2017)

Sehabis nonton Camellia Blooms, saya bingung mau nonton drama Korea apalagi. Soalnya, saya lagi senang drama Korea saat ini. Saat main ke blog Creameno, saya dapat rekomendasi dari kak Eno untuk nonton Save Me. Karena penasaran, saya cari platform untuk nonton. Ternyata ada di Netflix dan Viu.

Setelah episod pertama, saya langsung yakin kalau Save Me akan jadi drakor yang akan mengisi hari-hari saya kedepan. Save Me bercerita tentang satu keluarga yang pindah dari Seoul ke desa bernama Muji-gun. Dalam keluarga itu, terdiri dari sepasang suami istri dan dua orang anak bernama Sang-mi dan Sang-jin.

Menjadi anak kota yang sekolah di sana membuat mereka menjalani perundungan. Perundungan itu berakhir dengan Sang-jin yang memilih bunuh diri. Disamping itu, keluarga mereka terjebak satu sekte berkedok agama yang bernama Guseonwon. Dipimpin oleh pastor yang lebih sering dipanggil Bapa Spritual, kejahatan terselebung berjalan tanpa jejak, sehingga orang luar menganggap Guseonwon hanyalah gereja normal pada umumnya.

Sementara itu, empat sahabat kembali berkumpul setelah insiden sama yang membuat Dong-chul, salah satu dari mereka masuk penjara. Sang-hwan, yang terlibat masalah bersama Dong-chul aman karena merasa dilematis oleh Ibunya yang sakit parah. Dengan melindungi Ayahnya untuk maju mencalonkan, ia pikir akan membuat Ibunya sembuh, namun tidak sampai Dong-chul bebas dari penjara.

Tiga tahun dikurung dalam sebuah sekte, membuat Sang-mi depresi. Suatu malam, ia bertemu dengan Sang-hwan dan dua orang temannya dalam sebuah kecelakaan kecil di sebuah pertigaan dalam gang. Sang-mi meminta tolong kepada Sang-hwan agar membantunya lepas dari ikatan sekte ini.

Tema Baru dalam Balutan Drama Persahabatan

Untuk drama Korea, membawa tema kultus adalah hal yang baru. Mungkin ini hanya referensi saya saja yang cetek, tapi setau saya Save Me adalah yang pertama. Tema kultus ini dibungkus dalam drama persahabatan yang erat. Empat orang sahabat yang lama terpisah, dipertemukan kembali.

Selain Sang-hwan dan Dong-chul, ada Jung-hoon yang Ayahnya adalah seorang polisi dan Man-hee. Dalam rencana penyelamatan, tak jarang mengalami kendala. Misalnya pada saat pengintaian saat Sang-mi dan Ayahnya tinggal diluar Geosonwan untuk menenangkan diri, dering hape terdengar membuat Ayah Sang-mi curiga.

Karena sempat mengalami konflik yang cukup pelik, Sang-hwan dan Dong-chul akhirnya kembali bersama. Dong-chul menyamar menjadi penduduk biasa yang tertarik dengan perekrutan anggota baru Geosonwan. Akting Dong-chul menjadi mahasiswa lugu berkacamata terlihat meyakinkan. Sehingga, baik pastor dan Bapa Spritual tidak ada yang mencurigai.

Meski begitu, inilah drama, pasti ada hal-hal yang menyebalkan. Misalnya saat dering hape yang membuat Dong-chul hampir ketahuan, atau kegiatan kencing untuk memberi informasi terlalu banyak yang membuat siapa saja pasti merasa curiga.

Karakter-Karakter Menyebalkan

Selain adegan yang menyebalkan, tak jarang saya merasa ada beberapa karakter yang begitu menyebalkan. Menyebalkan dalam artian saya gemas ingin masuk ke dunianya untuk setidaknya menyentilnya.

Im Joo-ho

Im Joo-ho adalah Ayah Sang-mi. Sebagai ayah, kedatangannya ke desa Muji-gun adalah beban berat karena harus mencari tempat tinggal yang layak untuk keluarganya. Keadaan ini membuat saya awalnya simpati. Ia rela bekerja apapun untuk menghidupi keluarganya. Bahkan rela menjual mobilnya untuk biaya rawat istrinya pasca-kematian anak pertamanya, Sang-jin.

Keadaan ekonomi ini membuat Bapa Spritual mengambil kesempatan untuk menjadikan keluarga ini menjadi anggota dari Langit Baru Agung. Saking depresinya, Im Joo-ho kemudian percaya dengan eksistensi Langit Baru Agung bahwa ini akan membawa mereka ke Kapal Keselamatan.

Setelah ini, saya mulai membenci ayah Sang-mi. Karena terlalu fanatik, secara tidak sadar ia sudah mengorbankan keluarganya kepada kultus tersebut. Meski niatnya baik, tapi mimik wajah senyumnya sangat menganggu untuk saya.

Baek Jung-ki

 
Baek Jung-ki adalah Bapa Spritual yang saya sebut-sebut. Ia diagung-agungkan sebagai perantara antara pengikut Langit Baru dan Langit Baru Agung sendiri. Karena pintar ngomong, ia bisa menggerakkan orang untuk mengikuti apa saja kemauannya.


Didesain sebagai karakter yang sangat beda dari yang lain, ia bisa langsung diingat dari pakaian yang serba putih serta warna rambut, alis, dan bedak yang juga putih. Sehingga, seakan-akan ia adalah orang yang paling suci. Sampai-sampai, air bekas cuci kaki dan muka menjadi air kehidupan atau air suci yang digunakan untuk menyucikan.

Karena pintar ngomong, apa saja yang ia katakan akan menjadi satu anjuran yang membuat orang mengikuti. Ini yang membuat saya sebal. Namun, Sang-mi tentu saja orang yang menolak keras perkataan orang yang akrab disapa Bapa Spritual ini.

Jo Wan-tae dan Kang Eun-sil

Bisa dibilang, Jo Wan-tae adalah bawahan dari Bapa Spritual. Di Guseonwon, ia akrab disapa sebagai pastor bersama rekannya, Kang Eun-sil. Meski berada dalam organisasi yang sama, niat Jo Wan-tae agak berbeda dan terlihat sangat gamblang dari yang lain. Ia terlihat masih normal dan duniawi. Ia tahu ini semua hanyalah kedok untuk ia meraup keuntungan.

Hal yang menyebalkan dari Jo Wan-tae saat ia dengan lihainya bersikap baik kepada orang-orang, namun aslinya sama sekali berbeda. Ia keras, licik, dan punya ego sendiri. Bahkan, ia menjuluki dirinya sendiri sebagai pembersih dari Guseonwon saat ada orang mati atau insiden yang harus membuat tangan berlumuran darah.

Kang Eun-sil sendiri sama seperi Im Joo-ho, ayah Sang-mi. Saking percaya dengan eksistensi Langit Baru yang bisa membawa mereka ke kapal keselamatan, ia sampai mengorbankan anaknya. Karena Sang-mi didaulat sebagai Ibu Spritual baru, Kang Eun-sil berusaha untuk membuat Sang-mi naik sebagai Ibu Spritual apapun jalannya.

Sisi Gelap Desa Muji-gun

Meski dari luar terlihat biasa saja, ternyata desa Muji-gun punya sisi gelap yang tersembunyi. Bahkan, aroma busuk tidak bisa langsung tercium. Harus benar-benar mengamati untuk melihat lebih jelasnya. Salah satunya adalah kultus yang dipimpin oleh Baek Jung-ki. Meski secara kultur, Korea Selatan menganut kebebasan beragama, tapi di dalam agama tersebut adalah kedok dari berbagai macam kejahatan.

Politik antar para petinggi terhubung oleh Guseonwon. Sehingga, ayah Sang-hwan, sebagai walikota ingin menarik suara dari Guseonwon. Sandiwara yang dilakukan oleh ayah Sang-hwan kepada Ibunya ternyata adalah salah satu bentuk dari politik untuk membangun citra baik di depan media. Bahkan polisi yang ada di sana, terlihat sangat berpihak pada Guseonwon.

Saya sendiri sampai ngeri jika membayangkan berada dalam lingkungan seperti itu. Tapi ups, kayaknya tempat saya juga tidak jauh berbeda.

---

Save Me adalah drakor yang mengisi hari-hari saya kemarin. Sepanjang episod, saya menemukan beberapa fun fact bahwa aktor yang berperan sebagai Sang-mi main dalam drama terbaru It's Okay to Not Be Okay. Bahwa Save Me 2 ternyata adalah cerita baru dengan pemeran yang hampir seluruhnya baru. Bahwa ternyata, saya harus mencari tontonan baru karena drama Korea The K2 baru saja saya rampungkan.
loading...

Posting Komentar

14 Komentar

  1. Wah finally ada review-nya 😂 seru yah, hahaha dan betul banget, bapaknya Sang Mi serta Pastornya menyebalkan ~ dan tentu dua krucil si pastor yang sering buat saya geram 😁

    Eniho, tema kultus ada banyak di drama, tapi yang sampai sangat ekstrim itu sepertinya memang Save Me termasuk salah satu dari padanya 🤣 kalau mau coba drama tema kultus lain ada judulnya Nobody Knows. Ini pemeran utamanya pun ada yang muda seumuran mas Rahul hehe. Atau semisal mau menonton yang tema rumah sakit, salah satu yang paling seru itu Doctor Romantic (ada 2 seasons), sebab gara-gara drama ini, saya jadi paham banyak istilah kedokteran dan paham berbagai macam penyakit hahaha 😂

    Ditunggu review berikutnya, mas 😍

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya kak Eno. Awalnya saya simpati sama bapaknya. Pas mulai dicuci otak, saya mulai kesal juga.

      Oh begitu yah kak Eno, harap dimaklumi saja, referensi saya soal drama Korea masih cupu. Padahal saya rasa sudah banyak nonton, tapi setelah dilihat lagi, ternyata tidak sebanyak itu 😅

      Terimakasih rekomendasinya kak Eno. Akan saya coba nonton lagi. Saya sebenarnya menyebut ini sebagai catatan impresi saya. Soalnya drakor ini cukup berkesan untuk saya. Kalau disebut review, bebannya juga terlalu berat. Saya ngga sanggup euy 😅

      Hapus
  2. Aku tertarik tapi cuman tertarik, kalau mau nonton harus ada temennya biar bisa pinjam punggungnya kalau ada adegan yang mencekam. Diriku tak sanggup soalnya melihat yang beginian, tapi jujyur penasaran, hehe

    BalasHapus
    Balasan
    1. Ditonton bareng teman juga asik. Meskipun sekarang lagi pandemi, nonton barengnya bisa virtual sekarang. Apalagi kalau pakai Netflix, saya rasa sudah ada caranya. Eh, tapi kalau mau pinjam punggung juga ngga bisa yak. Pakai guling saja sebagai gantinya 😅

      Hapus
  3. Ehh itu Baek Jung Ki om-om yang jadi ayahnya Ana di film The K2 nggak Rahul? Lhaa malah fokus ke sana hahaha. Maklum, kalau nonton drakor aku lebih suka yang ada Ji Chang Wook-nya dulu, hahaha. The K2 gimana Rahul? Ending-nya memuaskan apa nggak? Soalnya menurut aku endingnya terlalu dipaksakan semua, jadinya nggak nyantai hahaha. Idiih, malah bahas yang ini. Gara-gara bapa spiritual nih.

    Ngomongin Save Me, tbh, aku belum nonton tapi udah dapat gambaran dari postingan mba Eno tambah lagi baca di sini. Kayaknya kalau sekte agama atau apapun itu ada aja tokoh fanatiknya ya yang pengen disentil ya? Hahaha, kebanyakan para bigots ini percaya seratus persen dengan apa yang junjungan mereka sampaikan even nggak masuk akal sekalipun, kalau Rahul pernah baca sekte-sekte yang ada dalam Islam, nggak kalah ngeri dan fanatiknya sama sekte yang di atas, bagaimana orang syiah bilang Allah salah kirim wahyu, rasanya lucu dan miris disaat yang bersamaan. Mungkin karena hal inilah para bigots agama, politik, music entah k-pop dan segala macamnya berbahaya.

    Bahkan John Lenon aja meninggal ditangan fans fanatiknya, belum lagi para bigots cembong kampret kemaren duh, kok jadi ngomongin itu sihh. Hahaha. Oh ya, sehabis ini, masih punya list drakor yang ditonton nggak Rahul? Kalau belum coba deh tonton Oh My Ghost, aku suka ceritanya lucuuu. Cocok lah ditonton saat pandemic gini aku sering mutar ulang film-nya hehehe.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Ha ha ha, iya, itu yang main jadi bapaknua Anna di The K2. Karena di Save Me, ia sangat berengsek, saya jadi terbawa-bawa saat nonton The K2. Padahal disana, ia masih punya sisi humanis.

      Ah, iya. Saya pernah berada dalam situasi mendengarkan cerita yang tidak ingin saya dengarkan. Saya bukan Muslim yang baik. Tapi perkara dosa, pahala, sampai kepercayaan, saya rasa itu jadi urusan masing-masing saja. Pertemanan yang lahir atas dasar kesamaan, biasanya cenderung mengerucutkan dirinya dengan kelompok luar yang berbeda.

      Kalau film Oh My Ghost, saya sudah nonton saat SMA. Filmnya memang bagus. Saya suka. Kalau yang dimaksudkan drama korea yang judulnya sama, itu belum.

      Hapus
  4. Aku sempat nonton Eps.1 setelah lihat blogpost Kak Eno, tapi belum lanjut nonton lagi karena belum sempat 😂
    Eps.1nya sendiri udah cukup seru dan membuat gregetan karena pastornya belum apa-apa udah berbuat pelecehan 😤
    Terus lewat drama ini, aku jadi bisa lihat pemeran utama wanita versi sebelum bermain di drama It's Okay to be Not okay dan ternyata memang udah cantik dari dulu hahaha.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Semakin ke sini, ceritanya makin seru dan menyebalkan. Kalau butuh tontonan seru dan menarik, mending dilanjut saja kak Lia. Untuk saya, itu cocok jadi teman nonton akhir pekan

      Hapus
  5. kayaknya kalau nonton sendiri ga berani, ini bikin deg degan kayaknya ya adegannya.
    aku belum sempet utak atik netflix nih, rekomendari dari temen temen belum sempet dicari, hiks

    BalasHapus
    Balasan
    1. Sila ditonton kak Ainun. Salah satu drakor yang seru dan unik.

      Hapus
  6. Wah ini drama yang emang bikin gregetan banget selama nonton. Dan juga takut karena kultus2 tuh serem aja bawaannya. Seakan2 dicuci otak dan mempercayai hal hal yang gak wajar.

    Pas save me 2 keluar pengen nonton juga, tapi pas tau pemainnya beda semua jadi agak males nonton karena udah klop banget sama pemain yang ini

    BalasHapus
    Balasan
    1. Sesuatu yang berlebihan memang ngga baik yah kak Tika. Saya sih penasaran2 aja sama Save Me 2. Tapi masih ada prioritas lain yang mesti didahulukan

      Hapus
  7. Ya ampuuuun mas, ini mah bakal nambah lagi waiting list drakor yg aku mau tonton wkwkwkwkw. Tau ga sih udh berapa listku?? 39 hahahahahaha... Pelan2 nontonnya. Aku sdg marathon 7 Drakor skr ini. Ntr aku masukin Save Me juga.

    Kamu suka yg genrenya thriller ya? Aku baru selesai nonton yg disaranin mba Astria, Stranger from hell. Itu ttg psycho yg hobinya bunuhin orang. Sadis sih, tp seru :D. Dark banget ceritanya .

    BalasHapus
    Balasan
    1. 39? Banyak benar itu kak Fanny. Yang 9 itu apa-apa saja?

      Saya noted dulu kak Fanny. Thriller memang asik untuk salah satu tontonan asik.

      Hapus

Terimakasih sudah membaca. Sila berkomentar terkait tulisan ini.