zsnr95ICNj2jnPcreqY9KBInEVewSAnK0XjnluSi

Mengukur Seberapa Jauh Tingkat Kenyamanan dalam Obrolan

Nongkrong dan ngobrol pasti pernah atau sering dilakukan oleh setiap orang. Saya sendiri ada beberapa circle tempat saya nongkrong dan ngobrol. Misalnya, saya punya circle SMP, SMA, Kuliah, atau bahkan circle anak lorong (kompleks). Entah ngobrolnya sesuatu yang hanya benar-benar penting saja atau hanya sebatas ghibah. Entah hanya satu-dua kali atau hampir setiap hari.
Mengukur Seberapa Jauh Tingkat Kenyamanan dalam Obrolan 
Dalam pos ini, saya mencoba untuk mengukur seberapa jauh tingkat nyaman individu dalam suatu obrolan. Apa-apa saja faktor yang mempengaruhi. Observasi absurd ini hanyalah projek iseng-iseng saja. Data dan sumberpun hanya dari pengalaman pribadi.

Keheningan dalam Obrolan

Ada yang pernah merasa ngga sih, kalau lagi ngobrol sama seseorang kita harus punya satu orang lagi yang benar-benar bisa cari topik obrolan. Atau setidaknya, kalau ada salah satu teman yang benar-benar pendiam, kita bisa lempar topik ke orang yang berbeda. Kalau dia tertarik, biasanya akan ikutan nimbrung. Atau, ada pertimbangan untuk melempar topik pada orang yang salah. Kecenderungan untuk merasa bahwa apakah orang ini akan terganggu atau tidak nyaman.

Untuk sebagian orang, mencari topik obrolan adalah hal yang cukup sulit. Terutama saya, yang senang ngobrolin film misalnya, tapi terlalu malas karena tahu lawan tutur hanya akan paham kulit-kulitnya saja. Contoh paling gampang adalah saat teman-teman saya bertanya rekomendasi film, atau spesifik pada judul tertentu. Seakan-akan, saya sudah nonton semua film. Padahal saya hanya tertarik dan nonton segelintir saja. Perbedaanya, ada topik-topik tertentu yang saya tahu dan mereka tidak. Misalnya, nama pemeran, aktor ini main film apa saja, atau pertanyaan klasik lainnya.

Namun ada satu argumen yang mengatakan,"jangan-jangan, hubungan yang baik bukan hanya dari nyambung tidaknya topik obrolan,  klik tidaknya, tapi saling diam namun tahu itu tempat yang nyaman."

Obrolan Biasa

Pada tahap ini, biasanya terjadi oleh hampir semua orang. Cuma ngobrol biasa dengan topik obrolan yang cukup universal. Kalau pertemanan laki-laki mungkin akan ngobrolin sepak bola, otomotif, atau perempuan. Kalau perempuan setahu saya mungkin akan ngomongin produk kecantikan, teman yang tidak hadir saat itu, dan laki-laki. Semuanya bisa disederhanakan dalam satu kata: ghibah.

Obrolan ini biasanya sering terjadi dalam lingkup pertemanan. Pada saat jam istirahat misalnya, biasanya perkumpulan laki-laki akan ngumpul di kantin atau di pojok ruang kelas untuk ngobrol. Paling sering yang diomongin hasil pertandingan sepak bola tadi malam. Ada yang cukup kuat untuk begadang nonton jam 3 pagi ada juga yang hanya modal nonton highlight dari Lensa Olahraga.

Macam-Macam Curhat

Fase berikutnya adalah ketika dua orang sudah bisa saling membuka diri. Alasan paling klise adalah biasanya karena nyambung, karena secara personal orangnya baik, karena sama-sama punya keresahan yang sama, nasib yang sama. Kedalaman curhatnya bisa macam-macam. Ada yang hanya kulit-kulitnya saja, tapi ada juga yang sampai hal yang jarang ditahu orang banyak.

Ada beberapa faktor biasanya. Tapi yang paling masuk akal adalah waktu. Waktu dalam pertemanan, biasanya berbanding lurus dengan garis persahabatan. Semakin lama pertemanan terjalin, biasanya akan semakin terbuka. Dari yang tadinya harus ngobrol di coffee shop, sampai bisa nyaman ngobrol hanya di deker atau warung kopi.

Salah satu keterbukaan yang saya alami beberapa waktu lalu adalah saat nongkrong bersama teman lorong, teman masa kecil. Setelah empat hari, kami selalu nongkrong di tempat yang sama. Ngobrol dari hal pribadi sampai membicarakan orang lain. Sampai ada momen saat salah satu dari teman saya kentut secara sengaja. Teman yang lain bertanya,"Kamu tidak malu, ada Naila di sini."

Dengan enteng dia menjawab,"kenapa mau malu, satu lorong." 

Semakin dalam topik obrolan, semakin dekat seseorang. Ada semacam ikatan sama-sama tahu tentang satu masalah atau permasalahan. Biasanya, fase ini yang bisa mengukur seberapa bisa teman ngobrol dipercaya. Kalau sampai curhatannya bocor, paling tidak kita sudah bisa memfilter kepada siapa harus menutup diri untuk sebuah masalah.

Obrolan yang biasa diistilahkan deep talk bisa berbeda untuk tiap usia. Kalau usia remaja, deep talknya biasanya seputar lawan jenis, orang tua yang menyebalkan, atau seputar lingkup pertemanan. Menjelang usia aktif kerja bisa beda lagi, mungkin masih berhubungan dengan hubungan romantis tapi diselingi dengan masalah pekerjaan dan prinsip hidup.

Garis nyamannya bisa sangat abu-abu. Cara mengukurnya ri, bisa dari seberapa terbuka, seberapa lama, dan seberapa sering kita melihat jam. Kalau misalnya dalam satu obrolan kita atau lawan tutur terlalu sering melihat jam, mungkin ada yang salah dengan orang maupun obrolannya. Ketidaknyamanan membuat kita terus melihat waktu.

Antara laki-laki dan perempuan , cara curhatnya juga bisa sangat berbeda. Kalau perempuan biasanya lebih kalem dan menampilkan kemaskulinannya untuk tidak menjatuhkan air mata. Kalau perempuan biasanya lebih jujur, mungkin bisa nangis dipelukan teman-temannya. Ada istilah pillow talk yang mungkin sering dilakukan pertemanan perempuan.
Related Posts

Related Posts

8 comments

  1. Eh eh kayaknya ada yg baru nih.. Template baru ya Mas Rahul? Kereeenn..

    Btw, ngomong2 tentang deep talk, setuju kalau tiap usia deep talknya bisa beda2. Mungkin kadang buat orng berumur dianggap receh, tp bisa aja buat remaja sangat berarti..

    ReplyDelete
    Replies
    1. Ha ha ha, sebenarnya tidak pengen saya umbar. Tapi kak Thessa notice juga, ternyata.

      Iya, karena struggle tiap usiapun berbeda-beda

      Delete
  2. Kalau di sini penggunaan kata "anjing" dan temen2 istilah kasar lainnya, jika sudah dipakai secara kasual pastinya tanda sebuah obrolan sudah intim.

    Pillow talk pun bisa dalam pertemanan cewek-cowok kok hehe

    ReplyDelete
    Replies
    1. Tergantung tongkrongan juga itu. Ada beberapa tongkrongan yang menyepakati hal itu wajar-wajar saja sebagai bentuk ekspresi. Namun ada juga yang tidak menerima hal itu.

      Iya juga yah, mungkin sayanya saja yang keseringan cuma liat lingkup pertemanan perempuan

      Delete
  3. pillowtalk biasanya sama suami mas.. menurut saya tingkat tertinggi kenyamanan dalam obrolan itu adalah saat kita bisa berkomunikasi cukup dengan isyarat dan bodylanguange tapi sama-sama nyambung

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya, ternyata itu kegiatan suami istri yah. Saya biasanya lihat dalam pertemanan perempuan saja. Ha ha ha.

      Nah, itu yang saya maksud. Kalo sama-sama diam tapi ngerti, itu tempat yang nyaman dengan orang yang tepat

      Delete
  4. Hi Rahul~

    Relate banget sama tulisan Rahul apalagi pada part "keheningan dalam obrolan". Dalam sebuah circle pertemanan, pasti ada aja teman yang jago mencari bahan obrolan. Saat orang seperti ini nggak ikut ngumpul, pasti rasanya sepi dan suka bingung mau bahas apa lagi habis ini ya 😂

    Kalau cewek udah ketemu teman curhat, rasanya sulit untuk berhenti bicara 🤣. Apalagi kalau temannya ikut ngomporin, makin mantap kalau curhat wkwk

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya, makanya. Kalo tidak punya teman yang pinter cari topik, setidaknya dalam suatu obrolan lebih dari dua orang. Biar lempar topiknya bisa lebih enak

      Laki-laki beberapa juga ada yang seperti itu. Tidak ada bedanya

      Delete
Terimakasih sudah membaca. Sila berkomentar terkait tulisan ini.