zsnr95ICNj2jnPcreqY9KBInEVewSAnK0XjnluSi

2 Minggu Anosmia

Seingat saya tanggal 9 Oktober, dihari Jumat saat saya mulai sadar kehilangan fungsi penciuman. Awalnya tidak begitu ngeh, soalnya tidak ada yang salah dengan indera yang lain. Hingga saat mau Jumatan, saya mau pake parfum dan tidak mencium bau apa-apa. Saya mencium kepala botol parfum, tidak tercium apa-apa. Saya menyemprotkan ke tangan untuk mempertegas, kemudian mencium. Tidak ada juga.
 
Di kamar, ada adik perempuan saya. Saya tanya dan kasih cium bekas tangan saya,"bau apa?" 
 
"Parfum," katanya.
 
Dari situ, saya mulai tau sedang kehilangan indera penciuman. Dari Mesjid, saya makan siang sebelum tidur siang karena kuliah jam itu tidak masuk. Saya kebingungan saat suapan pertama. Kenapa saya tidak merasakan apa-apa. Saya mulai panik. Kehilangan indera penciuman mungkin tidak jadi masalah untuk saya. Saya juga tidak begitu terusik, tapi kehilangan indera perasa. Ini benar-benar membuat saya khawatir.
 
Sebenarnya, saya tidak benar-benar kehilangan indera perasa. Ada rasa-rasa kuat yang masih bisa saya rasa seperti pedis dan asin. Tapi jika menuruti lidah saya saat ini, perut saya mungkin tak akan kuat. Jadi saya mulai mencari dari gejala yang saya alami. Alasan paling membuat saya khawatir adalah, pernah saya membaca satu headline artikel: "Kehilangan Indera Penciuman adalah Gejala Covid-19".
 
Tapi saya mencoba untuk tetap berpikiran positif. Saya mendapatkan satu informasi, gejala yang saya alami ini disebutnya Anosmia. Semacam ada penyumbatan pada saluran pernapasan. Saat saya melapor ke Mama, dijawab,"mungkin kamu flu," katanya. Tapi saya berkeras kalau ini bukan flu. Saya tahu kondisi tubuh saya jika sedang sakit. Saat saya meminta saran untuk ke dokter, Mama melarang. Katanya ke rumah sakit dengan kondisi sekarang kurang baik. Salah-salah, bisa dikarantina.
 
Terdengar seperti pikiran Ibu-Ibu yang keseringan baca status Facebook dan bergosip saat beli sayur. Tapi itu juga menjadi pertimbangan paling masuk akal saat itu. Sampai-sampai, ada anekdot: "kentut lebih berharga ketimbang batuk". 
 
Bekal dari informasi di Internet, saya mencoba untuk mengikuti saran-saran pengobatan. Ada beberapa saran pengobatan, tapi saya mengikuti saran yang paling simpel: anosmia akan sembuh dengan sendirinya. Setahu saya, batas waktunya kira-kira dua minggu. Dua minggu bertahan dengan makanan tanpa rasa. Tidak bisa mencium aroma tubuh sendiri. Makanya, saat itu saat sudah gerah saya memutuskan untuk mandi. Bukan lagi perkara bau atau tidak.
 
Beberapa kali saat nongkrong, saya memesan kopi susu. Niatnya biar setidaknya dapat merasakan. Merasakan sih memang, tapi cuma pahit dari kopinya. Susunya tidak berasa sama sekali. Sama ketika makan rujak jambu, saya mencoba untuk melatih indera perasa saya untuk makan yang kecut-kecut. Kecutnya memang ada, tapi rasa hambarnya lebih dominan.
 
2 Minggu Anosmia
2 Minggu Anosmia

Makanya, saya merasa agak rugi kalau makan di luar. Beli nasi goreng misalnya yang seharga 15 ribu. Sama dengan makan nasi putih di rumah dengan ikan dan sayur. Sama-sama tidak ada rasanya. Tapi memang saya akui, anosmia ini bikin nafsu makan saya jadi bertambah.
 
Setelah beberapa hari, saya genapkan saja mungkin sekitar dua minggu. Saya sembuh, tapi belum total. Indera penciuman dan perasa saya belum bekerja dengan maksimal. Saya sudah bisa merasakan makanan apapun, tapi intensitas masih sekitar 70%. Saya takutnya, ini malah jadi permanen dan mematikan rasa dilidah saya, penciuman dihidung saya.
 
Satu minggu saat terkena anosmia, ternyata beberapa orang sekitar juga kena. Salah duanya Tante saya dan Ari. Belakangan saat tahu ketika mereka mengeluh tidak bisa merasakan makanan kecuali yang saya bilang tadi, pedis dan asin. Saya jadi tahu, anosmia ini bisa menular. Bahkan menjalar ke Riki dan Ali, teman sebelah rumah.
 
Tingkat dan durasinya mungkin berbeda. Misalnya Riki, yang hanya kurang seminggu fungsi indera pengecapnya sudah mulai berfungsi kembali. Kalau dari hasil riset saya, katanya ini bukan sejenis penyakit. Jadi, saya mau bertanya kepada teman-teman apakah pernah mengalami hal yang sama?
Related Posts

Related Posts

12 comments

  1. Wah kenapa itu, mas? Penyebabnya apa sampai bisa hilang rasa? Mungkin mas ketularan juga, kah? 😱

    Saya pribadi biasanya kehilangan indra perasa kalau sedang sakit saja seperti demam / flu. Makanan jadi terasa hambar semua. Tapi selain itu, nggak pernah seperti mas Rahul yang dalam keadaan sehat namun hilang indra perasa dan penciuman 😧

    Semoga lekas sembuh, mas. Rasanya akan sangat nggak nyaman tentunya.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya, saya curiga juga tertular. Tapi wallahualam lah. Saya takut suudzon juga.

      Iya, makanya saya ngerti kehilangan indera perasa saat flu dan tidak. Kalau ini mungkin versi ekstremnya. Karena kalau flu, saya masih bisa merasakan sedikit rasa.

      Alhamdulillah saat pos ini naik, saya sudah sembuh. Terimakasih doanya kak Eno 😁

      Delete
  2. Hoalah, akupun sama seperti kak Eno, Rahul, biasanya hilang indera penciuman atau perasa ini pas lagi sakit aja. Itupun sakit yg lumayan berat seperti tyfus, sisanya belum pernah.

    Semoga lekas sembuh, serta indera penciuman sama pengecapannya bisa kembali normal ya, Rahul. Maaf saya nggak bisa memberi info apa-apa karena kurang tahu, takutnya nanti malah jadi salah😧

    ReplyDelete
    Replies
    1. Nah, iya Aina. Sayapun pernah tyfus dan kehilangan indera perasa tapi tidak seekstrem ini. Makanya saat Mama bilang ini flu, saya dengan tegas bilang tidak.

      Terimakasih Aina, saya sudah sembuh. Iya, tidak apa-apa. Sebagai orang biasa, saya juga masih ragu dengan argumen saya, jangan-jangan ini bukan Anosmia. Tapi sejauh riset yang saya lakukan, semuanya mengarah ke sana

      Delete
  3. Semoga lekas sembuh ya Mas...

    Seperti Mba Eno, aku ngerasain itu biasanya karena lagi flu. Jadi mau makan apapun serasa hambar, penciuman juga tersumbat.

    Banyak istirahat dan jaga kesehatan yaaa..

    ReplyDelete
    Replies
    1. Alhamdulillah, sudah sembuh kak Devina. Terimakasih doanya.

      Iya, Mama saya juga sempat curiga saya sedang flu. Tapi saya tau, ini bukan flu atau penyakit biasa.

      Siap kak πŸ™

      Delete
  4. Semoga lekas pulih kembali indera penciuman dan perasa Rahul ya.

    Maaf aku nggak bisa kasih informasi apa-apa karena belum pernah mengalami kejadian seperti ini. Tapi, aku ingin menyarankan untuk konsultasi aja ke dokter via aplikasi, mungkin bisa sedikit membantu?

    ReplyDelete
    Replies
    1. Terimakasih doanya kak Lia, saya alhamdulillah sudah sembuh dan sudah kembali bisa mencium dan merasakan.

      Iya, saya juga sempat kepikiran untuk pakai alternatif itu. Kayaknya sekarang sudah sangat dimudahkan.

      Delete
  5. Makanan berasa hambar kalau lagi tipus dan radang tenggorokan seingat saya sih. Kalau perkara penciuman, hidung saya justru termasuk sensitif. Jadi selama ini alhamdulillah masih sanggup mencium apa pun dengan jelas, bahkan ketika hidung tersumbat. Yang sebelahnya masih berfungsi.

    Memang takut perkara Corona ini, tapi semoga bukan itu ya, Hul. Lekas pulih. Aamiin.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Sayapun juga seperti itu. Sekalipun flu atau misalnya waktu itu tipus, saya masih bisa mencium bau. Tapi ini memang intensitasnya tidak biasa.

      Iya bang Yoga, alhamdulillah sudah sembuh. Terimakasih doanya πŸ™

      Delete
  6. aku baru tau istilah anosmia, cepet sembuh total ya mas rahul
    kalau kehilangan indra perasa, aku belum pernah
    tapi kalau kehilangan suara pernah :D
    biasanya kalau mau sakit sakit radang, kadang makan aja terasa pahit.

    ReplyDelete
Terimakasih sudah membaca. Sila berkomentar terkait tulisan ini.