zsnr95ICNj2jnPcreqY9KBInEVewSAnK0XjnluSi

Bakar Ayam dengan Budget Seadanya

Sudah lama, rencana bakar-bakar mau kami lakukan. Awalnya kami ingin barbeque-an di salah satu tempat, tapi belum ada waktu dan uang. Jadi kami memutuskan untuk bakar-bakar ayam saja. Selain lebih murah, makannya juga lebih puas. Jadilah, tanggal 19 September kemarin kami bergerak dari siang menuju ke Pondok Kak Rijal.

Bakar Ayam dengan Budget Seadanya
Di acara aqiqah. Dari kiri ke kanan: Ali, Riki, Ji Chang-wook, Thariq, Ari

Pagi sebelumnya, kami sudah kumpul untuk membicarakan rencana hari ini. Kebetulan kami juga dipanggil makan oleh Ari. Itu adalah acara aqiqah. Sambil makan, kami menyusun bahan dan apa saja yang harus disiapkan. Karena seharmal di Pondok, Thariq memilih untuk tidak ikut. Siangnya, sekitar jam 1 lewat kami mulai bergerak.
Bakar Ayam dengan Budget Seadanya

Saya, Ali, Riki dan Rendy bergerak dari rumah menuju daerah Kota Lama. Itu untuk membeli arang. Harganya lumayan murah. Hanya 10 ribu perkantong besar. Ohya, kami mengumpul uang 20 ribu perorang. Total-total budget yang kami punya adalah 160 ribu kira-kira.

Dari beli arang kami bergerak ke pemberhentian selanjutnya: beli ayam. Kami mendapati penjual ayam potong dengan harga yang murah, 3 ekor 100 ribu. Tapi ayam yang itu habis, jadi kami membeli ayam dengan harga yang berbeda. Seingat saya sekitaran 65-75 perekor. Kami membeli dua ekor. Dipotong 14 atau 16 saya lupa persisnya.

Bakar Ayam dengan Budget Seadanya

Dari membeli ayam, kami langsung Pondok Kak Rijal. Istirahat sebentar karena Riki sedang kuliah daring. Jadi kami mulai bekerja dari jam 5 sore. Kak Rijal juga sudah datang, jadi kami bisa lebih tenang. Kami awalnya membersihkan ayam, kemudian memasak salah atau istilahnya diungkep. Saya ingat pernah baca cara mengungkep di blog kak Nita, tapi yang diungkep bebek.

Bakar Ayam dengan Budget Seadanya

Setelah mengungkep bebek, kami menunggu Ari dan Restu yang masih bekerja sambil bermain PES. Karena haus, kami juga sempat membeli beberapa minuman dingin dan kuaci untuk ngemil. Setelah pukul 8, Kak Rijal menyarankan untuk menyalakan api seraya menunggu Ari dan Restu. Karena katanya, mengubah arang menjadi bara membutuhkan proses yang agak lama.

Sembari menunggu bara, Ali pamit keluar sebentar untuk pergi bersama temannya. Kebetulan sekali ia mencukur dari sore harinya. Dengan potongan rapi dan ada belahan sampingnya dikeruk seperti membentuk jalan untuk kutu-kuru dirambutnya. Kalau dilihat, dari fisik Ali yang tinggi jangkung mirip sekali dengan Christian Ronaldo yang kurang olahraga.

Sambil menunggu arang berubah menjadi bara, kami lanjut bermain PES. Bukan hanya dibakar, beberapa ayam juga ada yang digoreng karena memang sangat banyak kalau hanya dibakar saja. Setelah pertandingan cup telah berakhir, kami keluar untuk mengecek bara. Ternyata sudah hampir sempurna. Kami mematikan laptop untuk keluar membakar ayam.

Pembakaran cukup kecil, hanya muat 7 sampai 9 potong ayam. Itupun harus dijejer dengan rapi agar tidak ada space yang tersisa. Warna ayam yang habis diungkep itu kuning, terlihat menggiurkan dari sejak belum dibakar. Saya sudah membayangkan betapa enaknya jika ayam matang dengan sempurna.
Bakar Ayam dengan Budget SeadanyaBakar Ayam dengan Budget Seadanya
Gelombang pertama selesai, matang dengan baik dan terlihat menjanjikan. Kami sempat mencicipi dan mengapresiasi sebagaimana adanya. Kalaupun memang masih jauh dari ayam bakar dipinggir jalan, tapi ada sensasi yang beda ketika membuatnya sendiri. Lebih tepatnya ada rasa mengapresiasi rasa capek. Ha ha ha.

Bakar Ayam dengan Budget Seadanya

Gelombang terakhir naik, Ari dan Restu baru datang dan memarkirkan motor tepat di pembakaran. Ali belum datang padahal kami sudah bersiap ingin menyediakan tempat untuk makan. Kak Rijal menelepon dengan berbagai alasan agar ia kembali. Kata Ali, tak enak dengan temannya. Padahal, rencana bakar-bakar sudah lama kami rencanakan. Sehingga alangkah tidak baiknya jika alasannya seperti itu.

Bakar Ayam dengan Budget Seadanya

Sampai saat selesai makan, Ali tak datang. Saya keluar sebentar dengan berjalan kaki. Niatnya mencari udara segar sembari mencari penjual es batu. Sayangnya tidak ada ketika hampir setengah jam saya berjalan. Saya melihat motor dari arah berlawanan melaju dengan cepat. Ada dua motor. Saya berasumsi itu adalah Ali, tapi siapa yang dibelakangnya. Saya bersembunyi agar tidak dilihat. Ternyata benar, ia berbelok di Pondok Kak Rijal.

Setelah pulang, baru saya tahu ia bersama Noval. Tak tahu bertemu di mana, yang jelas mereka sudah makan saat saya tawarkan. Saya merasa ada suasana yang tidak baik. Antara saling diam diantara ruangan yang tidak terlalu luas itu. Saya kira itu hanya untuk menyadarkan kesalahan Ali. Tapi saya memilih untuk buang air ketimbang memikirkannya.

Setelah keluar, sudah ada es batu dan Kuku Bima. Itu dibeli oleh Ali. Setelah itu, suasana cair kembali. Saya rasa, Ali tahu benar menarik simpati kawan-kawannya. Bahwa ternyata ia merasa melakukan kesalahan, ia menebus dengan menjadi anak baik yang manis. Seperti seorang lelaki yang merayu pacarnya agar tak marah.

Bakar Ayam dengan Budget SeadanyaBakar Ayam dengan Budget Seadanya

Setelah minum, kami melakukan kebiasaan yang sering kami lakukan di Pondok Kak Rijal. Itu adalah nonton bersama. Malam itu, kami menonton Bucin yang sudah rilis di Netflix. Hanya ada tiga orang yang bertahan sampai film habis. Itu adalah saya, Ali, dan Noval. Semua tidur. Mungkin karena ngantuk. Mungkin karena filmnya tidak menarik.

Paginya saat pulang, saya dan Riki menghadiri sebuah pesta mewakili Kak Rijal. Karena punya dua undangan, ia memilih untuk menghadiri undangan yang jauh dan menyuruh kami untuk mewakili. Lumayan. Makan gratis. Hanya perlu bawa masker dan menjadi tamu yang sopan.

Related Posts

Related Posts

10 comments

  1. Itu ayamnya disembelih di tempat atau pas beli sudah dalam kondisi dikuliti ya?
    Kalau belum, hebat banget... nyabutin bulu ayam satu2 itu pekerjaan yang paling menjemukan dari proses menuju ayam layak dimakan :)))

    ReplyDelete
    Replies
    1. Disembelih ditempat, langsung dikuliti dan dipotong ditempat. Jadi kami tinggal mencuci ulang san memotong bagian yang agak besar untuk digoreng

      Delete
  2. lebih seru beli mentahannya kemudian dimasak ramai-ramai di rumah, rasanya lebih nikmat dua kali lipat daripada beli di rumah makan

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya, kalau beli jadi lebih mahal. Tinggal disesuaikan saja

      Delete
  3. horeeeeee, proses marinasi alias mengungkep unggasnya akhirnya diaplikasikan pada bebek ya Hul...congraaats..akhirnya jadi juga barbequean ayam #throw confetti

    oiya btw, ayamnya kok agak mahal ya, uda 2 kali lipetnya di jawa Hul...kalau ayam potong di sini paling 30an ribu (broiler sih aka pedaging, bukan kampung)...di situ 60 ribuan...wow #takjub..

    tapi emang paling rekoso (rumit) bikin arang jadi panas, ngipasinnya itu yang ga sabar...makanya biasanya di resto2 gitu ada yang memanfaatkan metode pembuatan anginnya dengan kipas angin wkwkkw...entah ngaruh di rasa ayam bakarnya atau ga hahhaha

    tapi memang kalau mbakar sendiri meski ada sedikit rasa yang miss dari pakem ayam bakar ala resto oada umumnya, rasanya ya nikmat nikmat saja ya hul...bener tuh istilahnya menghargai rasa capek jadi tetep aja ayamnya dikulitin sampe nyisa tulang tulangnya aja. Apalagi makannya juga bareng2 sama teman disambi nyemil kuaci dan minuman berenergi juga nonton netflix walau sempat ada drama diem dieman sama Ali hihi #lucu juga aku bayangin alinya pas ngrayu yang lain saat lagi ngambek hahahhahahah...

    eh coba mana ya yang kayak cristiano ronaldo rambutnya #aku tebak dulu wahahah

    ReplyDelete
    Replies
    1. Saya kira harga segitu sudah murah, ternyata di Jawa bisa lebih murah lagi ternyata. Mungkin karena pengembang biakkan di Jawa sudah lebih masih ketimbang Sulawesi yang mayoritas mata pencahariannya nelayan kali yak?

      Kalo untuk bakar sate, mungkin harus terus dikipas. Tapi kalau ayam dan ikan cukup didiamkan dan diperhatikan saja bara arangnya.

      Kak Nita pernah kah makan isi tulang ayam. Itu enak. Pertama kali saya coba pas iseng mau tahu apa isi tulang ayam. Ha ha ha

      Delete
  4. Waduuuuh liat ayam bakar itu lgs menitik liur :D. Dibanding ayam goreng, aku LBH suka ayam bakar. Sbnrnya roasted LBH enak dan sehat, tapi LBH mahal jugaaaaa. Makanya kalo mau hemat, aku pilih bakar :D.

    Bagian kulit yg agak gosong, fav ku bangat, walo ga sehat wkwkwkwkwk. Tapi makin kesini, aku udh mulai menghindari bagian gosong2 gitu Rul. Katanya karsinogen kan yaaa, jd sebisa mungkin ga dimakan, walo kdg ngebuangnya nyesek hahahahah

    ReplyDelete
    Replies
    1. Kayaknya, saya belum pernah coba yang ayam panggang itu. Paling banter cuma bakar dan goreng saja.

      Iya yah, kenapa sesuatu yang ngga sehat terlihat menggiurkan sekali. Ini jadi pertanyaan besar. Sama seperti menyisakan kulit ayam KFC untuk dimakan terakhir, tapi keburu diambil sama teman

      Delete
  5. Aku lihat fotonya juga tergiur 🤤 dan sama seperti Kak Fanny, aku lebih suka ayam bakar, apalagi kalau agak gosong sebab rasanya garing-garing dan tentu lebih sehat dibanding yang digoreng 🙈🙈
    Kalau di daerahku, belum pernah aku menemukan orang yang jual ayam hidup di pinggir jalan dan langsung dipotong di tempat. Yang kayak gini, biasanya adanya di dalam pasar 😂 Jadi aku lihat foto Rahul itu unik hahaha.
    Aku juga turut senang membaca cerita Rahul. Seru ya kalau bisa menghabiskan waktu bersama teman-teman. Pasti biarpun bersama seharian tuh nggak berasa deh kalau udah sama teman-teman 😂

    ReplyDelete
    Replies
    1. Saya sih lebih senang yang gratis. Ha ha ha.

      Ini saya juga sebenarnya heran, biasanya memang ada di dalam pasar. Tapi mungkin biar aksesnya gampang yah bukanya di pinggir jalan

      Delete
Terimakasih sudah membaca. Sila berkomentar terkait tulisan ini.