zsnr95ICNj2jnPcreqY9KBInEVewSAnK0XjnluSi

Bakat Jadi Detektif

Saya senang dengan hal-hal yang berbau misteri. Saya menikmati banyak cerita detektif, pembunuhan berantai, sampai penculikan dan pencurian atas dasar motif yang sering dianggap sepele, mungkin. Seperti kebanyakan orang, setiap kali menonton sesuatu yang keren secara otomatis akan ada rasa ingin menjadi tokoh tersebut. Mengikuti gaya dan cara tokoh tersebut bersikap.
 
Sherlock Holmes dalam serial Sherlock misalnya. Gara-gara serial itu, saya jadi lebih fokus melihat pakaian sampai gerak-gerik orang. Misalnya ada noda pada baju, asumsi saya langsung mengambil dua opsi yang bergantung pada gerak-gerik. Mungkin orang tersebut terburu-buru saat menikmati kopi susu, itu terlihat dari gerak-geriknya yang cenderung lesuh dan ngantuk. Atau mungkin saat orang tersebut ingin menyeruput kopi, ada insiden yang membuat kopi tersebut tumpah dibajunya. Tidak ada kesan terburu-buru dari gerak-geriknya yang cenderung aktif, tanda ia meminum habis kopinya.
 
Bakat Jadi Detektif
Sherlock dan Watson dalam Sherlock
 
Bagaimana kalau dalam media sosial? Ah, kayaknya ini akan lebih gampang. Saya kerapkali menikmati Instastory teman-teman saya sebagai bahan analisa. Misalnya, ada berapa orang saat ia nongkrong. Atau sesederhana apakah ia memesan es teh atau minuman yang seharga dua kali harga makan. Itu jelas berpengaruh dengan tanggal kejadian. Misalnya, awal bulan, bisa jadi ia irit untuk menabung atau lidahnya hanya cocok untuk minum es teh. Kalau itu akhir bulan, kemungkinan terbesarnya ia irit karena keuangan sedang menipis.

Kesenangan ini terkesan membuat saya terlihat seperti seorang yang agak aneh. Karena kerapkali melakukan itu, saya cukup jarang mengupload kegiatan saya di sosial media. Paling kalau hanya lagi ingin. Toh, tidak ada gunanya juga selain berharap orang lain terkesan dengan apa yang kita lakukan, apa yang kita punya, atau apa yang kita alami. Saya tidak ingin terjebak pada clap trap yang saya buat sendiri. Ingat, banyak nyamuk mati karena tepuk tangan.

Ada satu kejadian, pada suatu malam saat saya tiba-tiba menjadi detektif swasta di media sosial. Sepertinya bakat ini juga dipunyai setiap orang, hanya tingkat intensitasnya yang berbeda.

Malam itu dengan hape ditangan kanan, saya menggeser layar keatas untuk mengganti tiap video dalam aplikasi TikTok. Geser-menggeser, saya menemukan satu akun yang merekam seorang teman perempuannya yang cantik. Saya curiga ia tidak bermain TikTok. Saya cek kolom komentar, tidak menemukan user Instagram temannya. Padahal sudah ramai yang meminta dan meninggalkan jejak.

Karena mulai penasaran, saya buka akun orang tersebut. Ada beberapa video TikTok lain. Saya buka satu-satu, berharap ada video lain perempuan itu. Tapi nihil. Saya hanya mendapatkan video teman-temannya yang lain. Kemudian, video paling terakhir adalah video asli tanpa latar musik untuk menjawab respon salah seorang follower,"video asli, plz".

Saya mulai tambah penasaran, padahal itu sudah sangat larut. Waktu terbaik yang bisa saya gunakan untuk istirahat, saya pakai untuk meng-stalk orang yang tidak saya kenal. Sakit! Ha ha ha. Saya melihat ada user IG si empunya TikTok. Saya buka aplikasi Instagram, saya cari IG orang tersebut. Ketemu. Isi feed Instagramnya tidak sampai sepuluh, tapi sorotan ceritannya cukup banyak.

Saya cek satu persatu. Mulai dari feed, saya lihat dengan seksama. Tidak ada jejak, mulai dari foto, tag, sampai komentar. Saya belum mengecek orang yang menyukai, ini akan jadi lebih lama. Makanya ini jadi opsi terakhir. Saya cek tag orang tersebut, berharap ketemu IG orang yang saya cari. Masih nihil.

Langkah berikutnya, saya mesti mengecek following orang ini untuk menemukan akun Instagram perempuan yang saya cari itu. Kalau tidak ketemu, saya mungkin tak bisa tidur. Saya tidak bisa dibuat penasaran. Apalagi perempuan itu keterlaluan cantiknya. Saya cek satu-satu akun Instagram perempuan yang difollow orang itu. Akhirnya ketemu. Tidak dikunci pula. 

Saya cek salah satu pos, dalam kolom komentar sudah ada orang yang datang dari tempat yang sama: TikTok. Semua ternyata adalah detektif swasta seperti saya. Awalnya, saya berpikir punya pikiran yang tidak normal. Sakit. Tapi melihat keadaan macam ini, dunia sepertinya baik-baik saja. Tidak ada yang gila di kota ini, kalau kata Eka Kurniawan.

Ha ha ha. Dua jam pencarian, melihat-lihat foto perempuan itu bahkan tidak sampai lima menit karena saya keburu ngantuk. Ternyata, saya cuma ingin memuaskan rasa penasaran saya. Aneh juga, ini semacam penyakit saya setiap ingin tidur. Saya biasa meresearch film-film yang tidak saya tahu. Dari satu film, beralih ke film lain yang akhirnya membuat saya tidak bisa tidur karena memikirkan tentang film itu. 
 
Padahal gairah nontonnya belum ada. Saya masih keranjingan nonton drama Korea dan serial-serial seru. Tapi kemarin, 11 Oktober, saya nonton The Devil All the Time yang dimainkan Tom Holland,
Bill SkarsgĂ„rd, dan Robert Pattinson. Dua jam lebih durasi film tidak terasa saking narasinya yang seru dan ceritanya yang menarik. 

Saya tidak ingin mengulas tapi kalau sedang mencari tontonan minggu ini, cobalah The Devil All the Time. Secara eksplisit, film ini menyinggung orang-orang yang terlalu fanatik agama sampai mengatasnamakan agama atas dasar apa yang ia lakukan. Ah, terdengar familiar sekali.

Itu saja sih. Kalau mau jadi detektif, setidaknya saya harus mengerucutkan teman saya yang tak seberapa ini. Jika memang serius, saya tak perlu berteman lagi. Fokus saja memecahkan kasus-kasus. Sayangnya saya masih butuh liburan diakhir pekan, nongkrong sampai larut malam, dan ketawa sambil main kartu remi sama teman-teman. Setidaknya, itulah kebutuhan saya sebagai remaja saat ini.
Related Posts

Related Posts

4 comments

  1. Film sherlock holmes memang sangat cocok bagi mereka yang menyukai penasaran. Aku dulu sering nnton film sherlock holmes yang diperankan oleh Robert Downey Jr.

    Aktivitas mas rahul sangat menarik yaa. :D
    Sebetulnya, yang paling sederhana untuk menebak sesuatu adalah memahami pola-pola yang terjadi. aku biasanya begitu. Aku sering mengamati aktivitas yang temanku. setelah beberapa bulan, akhirnya mulai bisa menebak pada sebuah kondisi yang sedang dialami temanku..hehehhe.
    Seru sih, tapi memang perlu kesabaran dan kejelian untuk mempelajari pola-polanya. Yang menjadi keyakinanku, setiap kejadian selalu memiliki pola-pola yang saling terhubung. Jadi selamat menemukan pola-pola tersebut...hehehhee

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya, dulu sudah sempat nonton dan lagi pengen rewatch. Dulu pas nonton hanya tau itu cerita detektif. Sekarang lebih mau ngebandingin sama adaptasi serialnya.

      Yap, pola. Mas Rivay pernah nonton The ABC Murder? Itu salah satu serial favorit saya. Tapi aktivitas yang mas Rivay lakukan kayaknya menarik, semacam observasi manusia. Itu butuh waktu ekstra lagi sepertinya

      Delete
  2. Dulu saking sukanya sama Sherlock, saya nonton satu season sehari diulang-ulang. Kadang season satu, kadang season tiga, tergantung mood, tapi intinya nonton tiap hari. Selama hampir 6 bulan. Sampai hafal setiap adegannya. Haha. Old good days. Sekarang, bisa punya waktu buat nonton aja udah syukur banget.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Itu serial yang mana ngab? Yang Benedict kah? Perasaan belum terlalu lama. Setidaknya belum bisa disebut klasik lah

      Delete
Terimakasih sudah membaca. Sila berkomentar terkait tulisan ini.