zsnr95ICNj2jnPcreqY9KBInEVewSAnK0XjnluSi

Batu Gong yang Dulu, Bukanlah yang Sekarang

Jika boleh memilih, sebenarnya pantai bisa lebih nyaman untuk liburan ketimbang gunung maupun sungai. Tapi karena tidak terawat, hampir semua pantai di kota saya, Kendari, kehilangan pemandangan cantik yang pernah  ataupun sempat ada. Salah satunya Batu Gong, pantai yang dulunya jadi salah satu opsi utama liburan karena pemandangan dan kebersihannya, kini jadi pantai yang dipenuhi ornamen sampah.
 
Saya bukan anggota atau bagian dari pemerhati lingkungan, tapi jika sudah memungut uang iuran masuk adalah hak saya untuk mengomentari apa yang saya lihat karena itu sudah bagian dari tugas pemungut iuran. Sebelum menulis ini, saya membaca salah satu artikel di internet tentang Pantai Batu Gong pada tahun 2016 yang dipadati wisatawan.
 
Saya hanya ingin cerita pengalaman pertama saya, atau kedua karena saya sudah agak lupa pernah ke sana. Tidak ada yang saya lebih-lebihkan. Kalau mengacu pada foto yang ada di internet, kalian akan bingung apakah berada di tempat yang benar atau tidak. Bersantailah pada posisi terbaik yang sedang kalian lakukan. Saya akan mulai menceritakan pengalaman liburan saya kemarin.
 
4 Oktober, Kak Rijal mengajak kami ke Batu Gong saat dia sudah berada di sana. Karena terlalu mendadak, kami tak bisa mengiyakan ajakan tersebut. Kak Rijal akhirnya menjanjikan kami untuk pergi bersama dengan imingan, Kak Mute, teman Kak Rijal, akan membuatkan kami es buah. Dua minggu berikutnya, tibalah saat itu.
 
Kami bergerak dari rumah. Itu adalah saya, Ari, Ali, Riki, Rendy, dan Thariq. Pagi sebelumnya, saya, Riki, dan Ari ke pelelangan untuk membeli ikan. Kami membeli dua kilo ikan dan ditambah hampir sekilo lagi oleh Bapak saya. Kami pulang dan bersiap. Sudah hampir pukul 10, kami sudah berkumpul di teras Riki.
 
Saya bersama Thariq, Riki bersama Rendy, sementara Ari dan Ali membawa motor sendiri sebelum akhirnya Ari menggonceng Kak Nivia, teman Ari dan Kak Rijal. Pemberhentian pertama adalah Pondok Kak Rijal. Di sana, kami diarahkan untuk mengambil nasi yang sudah dimasak. Sementara itu, Ari pergi menjemput Kak Nivia yang tidak jauh dari Pondok.
 
Beberapa saat setelah Ari kembali, Ali baru tiba karena sempat singgah di bengkel untuk memperbaiki rantai motornya. Karena sudah tak ada kepentingan lagi, kami memacu motor keluar dari Pondok karena Kak Rijal sudah jalan lebih dulu bersama Kak Mute. Karena singgah membayar, kami berpisah dengan Ali. Beberapa meter masuk ke kelurahan Alolama, Ali sudah berada menunggu di bawah pohon dekat pembelokan.
 
Pemberhentian kedua adalah di sebuah warung untuk membeli es batu. Dari situ, kami melanjutkan perjalanan. Rutenya cukup dekat, hanya 19 kiloan. Medannya juga aspal, jadi berasa cepat dan enak. Terbiasa liburan dengan jarak puluhan kilo, perjalanan kali ini terasa sangat biasa. Tidak butuh waktu lama, kami sudah sampai di gerbang Pantai Batu Gong.
 
Biaya masuknya 20 rb permotor. Lumayan mahal untuk ukuran pantai Batu Gong ini. Begini, meski tidak zonk seperti Air Panas Wawolesea, tapi Batu Gong ini tidak sejernih Toronipa. Sampah di pesisir Pantai juga banyak, seakan-akan, Batu Gong ini bukan tempat wisata. Dengan membayar uang masuk 20rb, tidak worth it kalau memang datangnya tidak ramean.
 
Kak Rijal sudah menyewa satu gazebo bersama Kak Mute. Saat datang, kami langsung menyalakan api untuk membakar ikan. Kalau tidak mengisi perut dengan roti sebelum berangkat, kayaknya saya akan gelisah karena sudah hampir memasuki jam makan siang. Kak Nivia dan Mute mencampur es buah dengan es batu yang tadi kami beli sementara kami, para lelaki, bertugas membakar ikan.
 
Bara arang sudah menyala, kami menaikkan besi pembakaran untuk menjejerkan ikan. Tidak butuh waktu lama untuk ikan matang. Sambil membakar ikan, kami mencoba es buah yang sudah jadi. Pembagian tugas membakar ikan adalah Kak Rijal dan Rendy membolak-balik ikan sementara saya bertugas memindahkan ikan ke piring dan menjaganya dari lalat.
 
Batu Gong yang Dulu, Bukanlah yang Sekarang
Batu Gong yang Dulu, Bukanlah yang Sekarang
 
Bicara soal lalat, saat itu memang sangat banyak lalat. Saking banyaknya, itu sudah mirip seperti tempat pembuangan sampah. Saat kami makanpun, dengan daun pisang yang diambil Ali dan Thariq, lalat juga ikut berpindah ke gazebo milik kami. Sebisa mungkin kami mengusir dengan kibasan tangan. Dipertengahan makan, kami melakukan sesi foto sebagai bentuk dokumentasi.
 
Batu Gong yang Dulu, Bukanlah yang Sekarang
 
Sehabis makan, kami menyingkirkan daun pisang untuk membuat lalat pergi. Saat itu, baru hampir pukul 1 siang, matahari masih sangat terik dan diatas kepala. Kami memutuskan untuk bermain kartu remi dahulu. Beruntungnya, saya tak pernah mendapat hukuman jongkok. Karena main berenam, kami jadi punya aturan sendiri. Biar saya jelaskan, semoga paham.
 
Dari empat pemain pertama, yang juara 4 akan jongkok, sementara juara 3 akan diganti oleh pemain luar. Kalau pemain yang juara 4 mendapat juara 3 dipermainan selanjutnya, ia keluar. Tapi dengan catatan kalau masuk harus jongkok kembali. Kalau yang juara 4 dapat juara 2, hukumannya akan menjadi lebih ringan dengan berdiri. Simpel seperti itu.
 
Batu Gong yang Dulu, Bukanlah yang Sekarang

Setelah sudah agak sejuk, kami memutuskan untuk mandi. Itu adalah saya, Riki, Rendy, Thariq, dan Kak Rijal. Sementara yang lain memilih untuk tidur dan beristirahat. Kami pergi ke kapal untuk meloncat. Karena airnya tidak terlalu dalam, kami bisa melompat dengan gaya apa saja tanpa perlu takut tenggelam.
 
Kami naik, untuk menarik Ali ke laut. Agar tidak ada masalah, kami mengajak Kak Rijal. Saya memberi aba-aba, agar memegang kuat pada bagian kaki dan tangan. Beberapa kali kaki Ali sempat melakukan tendangan, tapi kami lebih kuat dari yang dibayangkan. Meski sempat terjatuh, kami bisa membuat Ali masuk ke air.
 
 
Setelah menemani Ali mandi, kami naik dan membilas badan. Biayanya normal, 5rb perbaskom air. Sebelum pulang, kami sempat foto-foto kembali. Meminta bantuan om penjaga gazebo, tapi hasilnya buram. Setelah itu, kami bersiap untuk pulang dengan posisi seperti pas datang. Bedanya, kali ini ditambah Kak Rijal dan Mute. 

Batu Gong yang Dulu, Bukanlah yang Sekarang
Difoto Om Penjaga Gazebo
 
Perjalanan tidak memakan waktu yang lama. Kami sempat singgah ke Pondok untuk beberapa hal. Sempat ingin mengambil dan memakan mangga, tapi terlalu kecil. Kami memutuskan untuk pulang saja karena waktu sudah hampir maghrib. Malamnya, kami sempat ke salah satu warung nasi goreng di Kota Lama. Itu adalah saya, Ari, Riki, Rendy, dan Naila yang baru pulang dari rumah BTN.
 
Tidak ada nongkrong malam itu karena kami sudah sangat capek dan butuh istirahat. Saya sempat nonton satu episod The Haunting of Bly Manor sebelum akhirnya tidur karena benar-benar capek. Sudah, itu saja ceritanya.
Related Posts

Related Posts

8 comments

  1. kondisinya persis seperti pantai pantai yang ada di sampit dan sekitarnya, padahal pasir putih hamparan pantai nya bagus namun entah kenapa kurang dirawat dan menyisakan sampah sampah

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya, mestinya yang narik iuran bergerak untuk setidaknya membersihkan sampai dipesisir pantainya

      Delete
  2. Sayang sekali melihat pantai yang tidak terawat padahal masuk ke sana diberlakukan biaya masuk :(
    Jarang sekali ada lalat di pantai, dan kalau ada, berarti sekitaran sana udah terlalu banyak sampahnya. Sayang sekali :(

    Tapi momen kebersamaan dengan teman-teman mampu mengalahkan segalanya ya. Pasti hepi sekali bisa main sama teman-teman di pantai 😍

    Btw, menurutku, ikan bakar selalu nikmat jika disantap di pinggir pantai. Kenikmatannya seperti naik 2x lipat hahaha. Sayangnya, beberapa ikan bakar membuat lidahku gatal. Nggak tahu apa yang salah. Entah jenis ikannya yang tidak cocok atau bakarnya kurang matang :(

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya, saya juga bingung. Baru kali ini main ke pantai lalatnya banyak. Biasanya juga tidak ada sih. Paling cuma kalo makan es buah atau yang manis-manis.

      Ha ha ha, selagi masih punya waktu dan tenaga yah dimanfaatkan baik-baik. Kebetulan sedang difase remaja, jadi tanggung jawab belum mengekang saya.

      Mungkin karena jenis ikannya, saya ragu kalau bakarnya kurang matang akan membuat lidah gatal-gatal. Paling kalau ikannya kurang matang efeknya ada rasa sama diperut setelah makan

      Delete
  3. Gersang banget ya kayaknya 😅 hehehe. By the way, nggak kebayang makan dengan banyak lalat betebaran. Pasti mas Rahul risih harus kipas kipas terus untuk menghalau lalat pergi 🙈

    Eeeehhya saya salfok sama foto mas Rahul hahahaha. Kayaknya olahraga dan jaga tubuhnya berhasil niiiih, sudah kelihatan lebih berotot sekarang dan kurusan. Apa perasaan saya, ya? 🤣 mas Rahul terlihat sangat fresh, seperti abege hahaha.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Gersang sih tidak kak Eno, masih banyak pepohonan dan masih sejuk. Tapi memang sampah di pesisir pantainya kelewat banyak.

      Iya, apalagi pas makan mesti waspada dengan lalat biar tidak hinggap ke makanan. Itu perlu konsentrasi ekstra juga 😅

      Iya, sudah lumayan turun dari kemarin. Turunnya kurang lebih 6 kilo. Perjalanan menjadi Ji Chang-wook masih panjang 😆

      Delete
  4. kesel emang ya kalau mendapati tempat umum kayak gini sampahnya dimana-mana
    paling pas kalau udah ngumpul di pantai gini, makannya ikan bakar plus sambel kecap. sederhana tapi enakkkk
    apalagi kalau barengan sama sohib sohib kayak gini, seru aja seharian meskipun capek akhirnya

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya, kesalnya diredam oleh kebersamaan. Ha ha ha

      Delete
Terimakasih sudah membaca. Sila berkomentar terkait tulisan ini.