zsnr95ICNj2jnPcreqY9KBInEVewSAnK0XjnluSi

Jika Hanya Boleh Memilih 1 Film, Buku, dan Musik untuk Seumur Hidup

Sekitar awal Juli kemarin, saya sempat bermain Quora. Sebenarnya, saya sudah lama diracuni oleh teman saya yang berkecimpung di platform ini. Saya baru berniat untuk main ketika pandemi ini. Jika saya definisikan, Quora ini semacam sosial media macam Ask FM. Entahlah, saya juga hanya beberapa bulan bermain.

Sempat bermain Ask FM, membuat saya gampang beradaptasi dengan platform ini. Saya membaca banyak jawaban dari pertanyaan seputar topik yang saya suka. Saya menjawab juga beberapa pertanyaan yang saya rasa bisa saya jawab sebagai pandangan pribadi. Makanya, saya agak ragu menaruh bidang atau studi secara spesifik terkait jawaban.

Selama bermain, saya seringnya hanya menjawab-jawab pertanyaan saja. Sampai sekali waktu, saya kepikiran untuk bertanya hal yang menurut saya cukup menarik untuk dipertanyakan. Apalagi, ada kesenangan tersendiri saat mendengar hal yang bisa membekas dikepala orang.

Jika hanya boleh mendengar 1 musik, menonton 1 film, dan membaca 1 buku untuk seumur hidup. Apakah itu?

Dari pertanyaan saya, ada tiga jawaban yang masuk. Saya kegirangan melihat bagaimana ada 1 film, 1 musik, atau bahkan 1 buku yang cukup berkesan untuk seseorang. Meski tak dapat dipungkiri juga, ada jawaban yang cukup diplomatis agar terlihat keren dan bang jago saja.

Saya kepikiran untuk menjawab sendiri pertanyaan saya itu. Kebetulan, saya belum melihat ada pertanyaan serupa. Sepertinya seru mencatat hal seperti ini, meski saya tau ini tidak akan stagnan. Akan ada kejadian atau peristiwa yang akan membuat perspektif sesuatu berubah, akan ada hal yang lebih punya relasi untuk saya ketimbang hal yang saya sebut. Mungkin ada musik baru yang lebih personal dan  membuat saya merasa lebih emosional.

Film

Kalau ada film yang sangat personal untuk saya, itu adalah Begin Again arahan John Carney. Tak terhitung, berapa kali judul itu saya notice dari mulai postingan sama dikolom komentar teman-teman blogger. Saya mencoba meracuni mereka untuk menonton film favorit saya.

Jika Hanya Boleh Memilih 1 Film, Buku, dan Musik untuk Seumur Hidup

Begin Again adalah tentang seorang perempuan penulis lagu, yang baru putus dari pacarnya seorang musisi, dan mencoba move on bersama orang yang mengalami masalah realitionship juga.

Tanpa mengenyampingkan teknisnya yang menurut saya keren dan otentik, film ini sangat personal bagi saya. Ini tentang bagaimana saya melewati masa-masa penolakan oleh seorang perempuan yang saya sukai, dan lagu penutup dalam film Begin Again, Lost Stars, yang dinyanyikan oleh Adam Levine tak pernah tidak membuat saya merinding dan melempar saya pada waktu dan potongan kenangan itu.

Jika perempuan itu membaca dan sadar tentang dirinya, saya berterimakasih lewat tulisan ini saja. Saya masih ragu untuk WhatsApp atau bahkan menelponmu. Sekadar basa-basi bahwa kau dulu pernah membuat saya begitu penasaran. Ini hanya fase yang belum benar-benar selesai. Ada perasaan yang tidak bisa saya tinggalkan dan lupakan begitu saja. Bahkan, setelah hampir delapan tahun yang lalu. 

Persetan dengan istilah cinta monyet, itu dulu adalah hal yang cukup serius dan menyenangkan. Membuat saya bersemangat untuk bangun dan pergi ke sekolah. Membuat saya rela menahan api cemburu ketika kau membicarakan calon atau pacarmu saat itu. Tenang, saya tidak akan menghakimi masa lalu oleh keadaan dimasa sekarang. Saya harap bahagia untuk kita semua. Menjadi manusia yang dikelilingi orang baik dan menyenangkan. Aamiin. 

Buku

Ada cukup banyak buku yang saya baca, tapi hanya ada segelintir buku yang sering saya baca berulang-ulang kali hanya untuk menemukan experience dan rasa berada dalam cerita itu. Buku itu adalah seri Dilan. Terutama yang Dilan 1990 dan 1991. Jika harus memilih, saya akan memilih buku pertama. Buku yang memang benar-benar genuine memperkenalkan sosok Dilan. Tanpa ekspektasi apa-apa dan tekanan. Meski saya rasa, Ayah Pidi juga tidak akan seperti itu.

Jika Hanya Boleh Memilih 1 Film, Buku, dan Musik untuk Seumur Hidup

Bagaimana menjelaskan yah. Buku Dilan 1990 itu saya beli saat SMP dari rekomendasi seorang teman di Twitter. Hype Dilan tentu saja tidak sebesar saat filmnya sudah keluar. Belum banyak yang tahu jaket jeans dengan bendera Amerika terbalik itu. Belum banyak yang tahun CB 100 gelatik. Belum banyak yang tahu dialog,"Jangan rindu, berat. Biar aku saja.".

Saya mungkin terdengar seperti orang-orang yang sepertinya paling ngerti. Tapi sepertinya begitulah saat itu. Hanya orang yang senang dan gemar membaca yang tahun ada dunia dimana ada Dilan dan Milea. Bertemu di Bandung pada tahun 1990. Membaca buku itu pertama kali membuat saya senyum-senyum sendiri. Bahkan, saya membaca secara perlahan agar bukunya tak selesai saking saya sukanya.

Setelah baca buku pertama, saya langsung baca buku kedua. Waktu itu, memang hampir setiap minggu ke Gramedia untuk beli 1-2 buku dari tabungan uang jajan. Setelah selesai baca buku kedua, kesenangan pas baca buku pertama langsung sirna. Bukan karena jelek, tapi karena ekspektasi saya yang terus dicekoki dengan cerita happy ending harus menyaksikan perpisahan Dilan dan Milea dalam cerita yang saat itu saya senangi.

Pertama kali membaca dua buku itu, sekitar Oktober 2015. Saya ngetwit untuk laporan dan bertanya kepada Ayah Pidi Baiq. Berharap dapat respon. Saya bilang sudah baca dan merasa sedih dengan akhir kisah Dilan dan Milea. Saya bertanya apakah buku Dilan akan difilmkan. Tidak dijawab tentu saja, tapi tiga tahun setelahnya hadirlah film Dilan 1990 yang diperankan Iqbaal dan Vanesha.

Saya masih sering membaca seluruh atau bahkan hanya sebagian hanya untuk menikmati experience masa membaca pertama kali buku itu. Bagaimana merasa senang sampai ketawa sendiri, bagaimana seperti ada keterlibatan ketika Dilan dan Milea harus putus. Itu adalah hal yang cukup menyenangkan.

Musik

Kalau mengacu pada musik, saya tentu akan memilih lagu ketimbang instrumen. Bukan karena apa, tapi fungsinya memang agak berbeda. Kalau musik saya dengarkan hampir setiap saat, kalau instrumen hanya untuk rileksasi atau teman menulis.

Saya memang tidak bisa lepas dari film Begin Again, sampai pada musik yang sangat membekas jatuh kepada Lost Stars. Terserah mau dibilang alay dan lebay, tapi setiap melihat adegan konser dalam film Begin Again, melihat reff kedua dengan lampu menyala dari arah samping Adam Levine, melihat senyuman Keira yang menggambarkan banyak rasa. Rasa merinding itu tidak pernah absen.

--

Itu adalah film, buku, dan musik jika hanya boleh memilih satu untuk seumur hidup. Setiap pilihan punya alasan dan background story. Mungkin teman-teman mau membagikan hal tersebut. Saya sangat senang untuk membacanya. Bukan dari seberapa berkualitas itu, tapi seberapa berpengaruh itu pada hidup teman-teman dan sejarah apa yang bisa teman ceritakan.

Related Posts

Related Posts

14 comments

  1. Kalau aku, kayaknya untuk film bakal jatuh ke animasinya Studio Ghibli. Cuman masih bingung mau yang mana, soalnya bagus semua!
    Kalau lagu, nggak bisa! Ada banyak lagu kesukaanku. Terus kalau buku, kayaknya bakal milih komik! Biar nggak bosen!

    ReplyDelete
    Replies
    1. Film animasi Ghible memang keren. Saya juga suka.

      Masa tidak ada yang benar-benar favorit kak Pipit? Sayapun mendengarkan cukup banyak lagu juga

      Delete
  2. Lagu lost star memang sangat bagus. Bahkan setelah berkali-kali aku dengarkan, lagunya masih sanggup membuat merinding dan membuat ingin ikutan bernyanyi.

    Kalau buku, awalnya aku punya 2 pilihan. Antara The Five People You Meet in Heaven dan Semua Ikan di Langit. Kedua buku ini sama-sama memberi pelajaran berharga. Yang 1, pelajaran berharga semasa hidup. Yang 1, pelajaran berharga dalam hal spiritualitas. Pada akhirnya, aku memilih Semua Ikan di Langit, buku yang memberi pelajaran berharga dalam hal spiritualitas. Setelah membaca buku ini, aku mengalami perasaan dimana aku yakin, buku ini akan menjadi buku yang akan sering aku baca kembali karena ceritanya yang ringan tapi maknanya besar sekali. Mirip buku The Little Prince tapi aku lebih suka yang Semua Ikan di Langit.

    Untuk film, aku akan memilih The Grave of Fireflies. Salah satu anime Ghibli yang sukses membuatku menangis setiap kali aku menontonnya. Aku nggak akan nyesel kalau hanya boleh nonton ini seumur hidup. Dan mungkin kalau aku nonton ini saat aku udah tua kelak, aku tetap akan menangis sambil merindukan adik-adikku :')

    Untuk lagu, saat ini belum ada yang pas.

    Btw, aku nonton Dilan malah ngakak sendiri hahaha mungkin karena terlalu romantis jadi ngakak. Tapi katanya isi bukunya lebih agak normal dibanding filmnya hahaha.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Sudah nonton Begin Again kak Lia? Cobain deh. Lagu-lagunya juga bagus-bagus.

      Wah, kayaknya saya secara tidak langsung sudah dicekoki juga sama kak Lia dengan buku ini. Jadi pengen baca 😊

      Kalau Ghibli, saya baru nonton segelintir. Spirited Away bagus. Princess Mononoke bagus.

      Ha ha ha. Coba baca bukunya kak Lia. Mungkin lebih cocok.

      Delete
  3. Hmmmm..... ini pertanyaan paling sulit. Karena selama ini banyak banget buku yang emang berkesan apalagi film. Jadi ketika diminta cuma pilih satu itu susah banget. Sambil jawab ini pun selalu mikir "apa ya apa ya apa ya" hahaha. Kalo pilihnya series boleh ga ya? wkwkwk

    ReplyDelete
    Replies
    1. Ha ha ha. Mungkin belum menemukan yang benar-benar berkesan, karena bagus saja ngga cukup. Akan ada yang lebih bagus setiap harinya 😁

      Delete
  4. Hahahahaha kayaknya saya salah satu yang dapat teror Begin Again deh di kolom komentar post saya ðŸĪĢ mas Rahul dulu pernah rekomendasi filmnya ke saya juga ðŸĪŠ Tapi memang bagus kok filmnya, wajar jadi yang terfavorit versi mas Rahul 😁

    Kalau saya nggak bisa disuruh pilih satu, keburu habis waktu saya untuk berpikir hahahaha. In general saya sangat suka film-film Disney, semuanyaaaaa 😍 Terus soal lagu, waduuuuh banyak mas susah mau pilih satu takut yang lain nggak terima. Wk ðŸĪĢ

    Nah berbeda sama buku, saya bisa jawab satu yang terpaling saya suka yaitu Biografi Steve Jobs hehehehe. Saya suka banget ngetttt ngetttt sampai sudah baca 3x kalau nggak salah 🙈 Sedikit banyak dia menginfluence saya untuk sukses kejar apa yang saya inginkan 😆

    ReplyDelete
    Replies
    1. Ha ha ha, saya memang sering dan masih akan bergerilya merekomendasikan film Begin Again ke banyak orang 😅

      Ha ha ha, saya juga senang beberapa film Disney. Mau yang animasi sampai yang live action. Meski tak dapat diayal juga, Disney mulai ngga benar milking IP-nya 😞

      Saya simpan dulu, siapa tahu bisa saya selipkan ke belanja buku selanjutnya 😁

      Delete
  5. Eh aku pernah jawabin yang sejenis begini di twitter. Tapi spesifik pertanyaannya beda sih, lupa juga dulu jawabnya apa 😅

    Kalau musik kemungkinan Love Story-nya Taylor Swift. Lagu yang menggambarkan kisah cinta dari sudut pandang yang masih polos. Kayaknya cukup jarang lagu-lagu seperti ini yaa jaman sekarang. Plus, ini lagu yang mengenalkanku ke Taylor Swift dan sampai sekarang dia jadi penyanyi no.1 buatku.

    Kalau film hmmm boleh ga milihnya series? Hahhaa.. Kayaknya aku bisa menikmati hidup walaupun tiap hari yang bisa ditonton cuma Digimon Adventure. Bukan anime pertama yang kutonton, tapi paling berbekas. Sampai sekarang pun kalau nonton ulang excitement-nya masih sama persis kayak waktu pertama kali nonton hehe.

    Kalau buku susah banget niih karena kebanyakan aku bacanya series (baik novel atau komik) jadi susah kalau cuma disuruh milih satu hahaha.. Mungkin bakal milih yang kumpulan cerpen kali yaa biar ga cuma satu cerita aja yang dinikmati *curang*

    Btw film Begin Again memang bagus banget siih.. Walaupun perasaanku pas nonton kayaknya ga sedalam yang dirasakan Rahul nih.. Dan lagu Lost Star itu sumpah bagus bangeeeet, sempat ada masa di mana aku dengerin itu terus-terusan, tapi aku pribadi lebih suka versi yang dinyanyikan Keira Knightley dibanding Adam Levine 😋

    ReplyDelete
    Replies
    1. Saya tau lagu ini dari video yang sering dipake dalam TikTok. Ha ha ha. Tapi gara-gara itu juga saya mulai explore lagu-lagu Taylor Swift.

      Saya jadi ingat pernah ngikutin beberapa episod Digimon, tapi saya lupa apakah seri ini atau bukan.

      Tidak masalah juga kak Eya, kalo kumcer kan hitungannya kak Eya senang dengan tema besar atau payung tema dari bukunya.

      Iya, makanya saya senang merekomendasikan ke teman-teman saya. Saya pengen mereka merasakan pengalaman menonton dari film Begin Again, karena ceritanya cukup universal. Kalau versi Keira, saya sering pakai buat teman tidur. Karena lebih tenang ketimbang Adam yang emosional. Tapi kalau kata Keira, nyawa dilagunya hilang setelah dimainin Adam 😅

      Delete
  6. Wah Mas Rahul sudah menjadi Quorawan juga ya ternyata? Saya juga senang main Quora, banyak ide dan inspirasi yang bisa diambil dari sana 😁

    Kalau buku sepertinya saya akan memilih Safe Haven karyanya Nicholas Spark. Novel itu mencakup semua yang aku butuhkan (romance, self improvement, dll). Novel itu seperti ada sihirnya sendiri untuk dibaca berulang kali. Untuk musik, sepertinya saya akan memilih ke genre religi dari Hillsong Music deh. Sementara untuk film, nah ini yang sulit 😂 sepertinya antara Devil Wears Prada atau Little Women versi 2019 deh.

    Btw, saya lebih suka versi filmnya daripada baca buku Dilan. Jujur saya kebawa banget pas nonton sekuel keduanya, nggak rela Dilan ninggalin Milea gitu aja, sedih banget rasanya ðŸ˜Ē

    ReplyDelete
    Replies
    1. Dulu sempat main, tapi sekarang tidak lagi. Sesekali kalau luang, saya cari bacaan ke sana.

      Kayaknya menarik, apalagi saya sudah dengar nama Nicholas Spark itu sejak lama. Mungkin akan saya baca dalam waktu dekat. Hillsong Musik? Saya baru dengar nama itu. Akan saya coba dengarkan. Ah, Meryl Streep! Mesti Devil Wears Prada nih..

      Ha ha ha, ada juga yang begitu yah. Saya suka keduanya: buku dan film. Tapi kalau disuruh memilih, saya akan pilih bukunya

      Delete
  7. Ogah berandai andai.. hahahaha...

    btw, Dilan & Milea, bagi saya yang masih baru lulus SMA tahun 1989, justru agak bingung kalau melihat betapa masa itu kelihatannya romantis banget.. wakakakaka.. padahal kenyataannya mah, tahun segitu suasananya kayaknya tidak seperti itu..

    But yah, itulah film/buku... Jadi dinikmati saja..

    ReplyDelete
    Replies
    1. Kalau mengacu pada filmnya mungkin akan terasa jomplang. Tapi saya tidak tau juga sih, tahun segitu Bapak dan Ibu saya kayaknya belum bertemu. Ha ha ha.

      Iya, mas Anton. Dinikmati saja

      Delete
Terimakasih sudah membaca. Sila berkomentar terkait tulisan ini.