zsnr95ICNj2jnPcreqY9KBInEVewSAnK0XjnluSi

5 Barang Esensial yang Pernah Saya Beli

Semakin bertambahnya usia, keinginan untuk membeli barang jadi semakin sedikit. Padahal dulunya, saya juga orang yang lapar mata. Lihat barang keren, pengen. Lihat orang pakai baju keren, pengen. Sekarang, gairah untuk belanja jadi tidak semaruk dulu. Saya masih membeli sekali-dua kali dalam beberapa tahun sekali, tapi barang yang benar-benar esensial. Contohnya, pakaian.
 
Pakaian, salah satu barang yang cukup esensial untuk saya. Membeli pakaian, artinya membeli penutup tubuh yang akan saya gunakan dalam beberapa tahun kedepan. Saya punya dua pilihan. Membeli yang murah atau yang mahal. Mahal untuk saya adalah 100-150 ribu keatas. Artinya, jika saya ingin membeli dengan harga demikian, saya harus menekan jumlah pakaian yang bisa saya beli.

Misalnya budget saya adalah 500 ribu untuk membeli baju, celana, dan sendal. Saya bisa saja membeli baju dengan harga 100 ribu 3 lembar, kemudian membeli celana dengan harga 100-150 ribu, kemudian sendal dengan harga 50 ribu. Duit saya kemungkinan saya masih ada sisa dengan pembelian 3 lembar baju, 1 celana panjang, dan sendal.

Atau, saya bisa membeli baju yang agak mahal dengan harga 250 ribu 2 lembar, celana panjang 150 ribu, dan sendal 100 ribu. Uang saya habis tak ada sisanya untuk membeli 2 lembar baju, 1 lembar celana panjang, dan sepasang sendal. Tentu saja durasi pemakainnya akan berbeda. Baju dengan harga yang lebih mahal biasanya punya kualitas yang agak lebih baik. Varian warna dan desainnya juga beragam. Jadi, saya akan lebih prefer untuk beli barang yang agak lebih mahal.

Tapi bagaimana jika budget saya dibawah dari itu? Saya akan membeli barang yang paling esensial, yang paling saya butuhkan saat itu. Katakanlah saya kemalingan sendal dan sangat membutuhkan alas kaki. Jika tidak membelinya, saya mungkin akan terus berbagi alas kaki dengan orang rumah. Solusinya, saya akan membeli sendal terlebih dahulu. Kalau ada sisa, saya gunakan untuk beli barang yang lain. Solusi alternatif, saya bisa membeli sendal swallow yang cukup terjangkau.

Intinya, ini masalah apa yang paling esensial diantara yang lain. Hal yang paling kita butuhkan dalam kondisi yang sangat mendesak. Kebetulan, barang esensial itu juga adalah yang fungsional sehingga suatu waktu kita akan berpikir,"ternyata barang ini berguna juga."

Jaket Musim Dingin

Saya tidak menyangka jaket ini akan sangat berguna. Padahal niat awalnya, hanya akan saya pakai kalau-kalau saya dapat ajakan untuk naik gunung. Saya beli tahun lalu dan jaket ini sudah saya gunakan dalam berbagai macam kegiatan dan aktivitas dimalam hari. Misalnya, waktu saya sedang ada acara kegiatan mahasiswa sebagai perkenalan angkatan dibawah saya.

5 Barang Esensial yang Pernah Saya Beli
November 2019
 
Sebagai senior mereka, saya menjalankan tugas dan fase untuk memperkenalkan dunia kampus sekaligus bertatap muka langsung dengan mereka. Meski begitu, saya sempat kontra dengan adanya kegiatan semacam ini. Ini semacam ajang unjuk gigi saja untuk saya. Namun, saya mulai melihat dari perspektif yang lain. Melihat ini sebagai ajang untuk bersenang-senang bersama.

Waktu itu, lokasi kegiatannya adalah Pantai Toronipa. Karena jarak kampus dan lokasi tidak sejalur, saya meminta info kalau-kalau rombongan mobil sudah hampir melewati tempat saya menunggu. Motor yang saya gunakan, kebetulan muatan joknya agak besar. Saya bisa menyimpan winter coat saya disana. Sepanjang malam, ketika beberapa orang kedinginan, saya jadi bersyukur punya jaket ini. Saya bisa hangat tanpa perlu duduk didepan perapian.

Jaket ini juga saya gunakan untuk aktivitas-aktivitas kecil semacam beli gorengan, cari makan, sampai ke Indomaret sekalipun. Sangat berguna sekali untuk saya yang mulai tidak tahan dengan angin malam. Kelebihan winter coat ini dari semua jaket saya adalah udara tubuh saya tetap terjaga. Saya jadi tidak gampang masuk angin dan perlu dioleskan fresh care lagi.

Saking bagusnya, jaket ini sering juga digunakan oleh Bapak saya jika sedang keluar dimalam hari. Mungkin ia menyadari betapa hangatnya jika menggunakan jaket tersebut meski berkendara motor. Dengan harga 200 ribuan, jaket ini sudah menemani setiap kegiatan malam saya. Saya tidak tahu lagi, berapa botol fresh care jika tidak belum punya jaket ini.

Gadget dan Laptop

Kebetulan, sejak akhir SMA dan mengganti gadget saya menggunakan uang sendiri. Uang hasil tabungan akhirnya bisa membeli handphone Xiaomi Redmi Note 5 Pro yang sekarang saya gunakan. Bekal hasil baca dan nonton video review 3 bulanan, mulai dari GadgetIn, Jagat Review, dan situs-situs spesifikasi dan review akhirnya pilihan saya jatuh ke Note 5 Pro.

Alasan sederhana waktu itu, harganya yang terjangkau dengan spesifikasi yang lumayan untuk daily driver sebagai pelajar. Sebenar-benarnya, saya ingin menggunakan handphone sebagai alat komunikasi saja seperti WhatsApp dan telepon biasa. Tapi fitur lain semacam browsing dan bersosial media masih saya gunakan sekali-kali.

Kalau untuk foto, Note 5 Pro sudah sangat bagus. Apalagi jika keadaan cahaya yang mendukung. Saya tidak lagi ingin bawa kamera kalau sedang berlibur. Meski begitu, hape teman saya, Riki, yang paling sering digunakan saat sedang foto-foto.

Dari hape geser ke laptop. Alat yang saya gunakan untuk menulis di blog ini sejak tahun 2020 kemarin adalah laptop Lenovo yang juga saya beli menggunakan uang tabungan. Dari menyisipkan uang jajan sampai paruh waktu membantu Bapak. Akhirnya saya bisa mempensiunkan laptop pertama saya, Toshiba Satelite C840 yang dibelikan Orangtua saat SMP.
 
5 Barang Esensial yang Pernah Saya Beli
Saat pertama kali beli laptop

Laptop ini saya gunakan untuk menulis, menonton, dan mengerjakan tugas. Sesekali saya pakai untuk bermain game meski akhir-akhir sudah tidak lagi saya lakukan. Karena menyayangi keyboardnya, saya membeli keyboard eksternal untuk menulis. Kebetulan, saya suka mendengar bunyi ketukan keyboard mekanik.

Buku-Buku

Sampai saat ini, saya belum menemukan alasan untuk lebih memprioritaskan membeli buku digital selain karena lebih mudah untuk dibawa-bawa. Saya lebih senang membaca dan menyenangi saat menggerayangi dan menciumi buku fisik. Ada semacam rasa emosional ketika pertama kali merobek bungkus dan mencium aroma buku baru.
 
5 Barang Esensial yang Pernah Saya Beli

Bicara soal buku, saya sudah mengoleksi ratusan judul. Untuk belanja semester dua tahun ini mungkin akan dicancel mengingat belanjaan kemarin masih belum terbaca semua. Selain karena alasan diatas, saya juga lebih senang saat memegang buku fisik ketimbang hape. Saya jadi lebih fokus ke bacaan ketimbang notifikasi. Meski pasti saya akan dapat komentar: kan, bisa beli kindle atau ebook reader lainnya?

Ohya, artinya saya perlu mengeluarkan uang lebih. Lagipula, akses pada beberapa buku tidak sebesar ketika membeli buku fisik berbahasa Indonesia. Kendala yang paling sering saya baca dan dengar ketika pembahasannya apakah sudah perlu membeli ebook reader. Intinya, saya masih akan terus membeli buku fisik selama saya belum punya alasan kuat untuk membeli ebook reader.

Kenapa buku cukup esensial untuk saya, karena diantara banyak pengeluaran untuk sebuah hiburan, buku adalah salah satu yang masih bikin saya betah selain nonton film. Hiburan adalah cara saya mengisi waktu-waktu tertentu setiap hari. Misalnya, saya bisa menonton film disiang dan membaca buku dimalam hari. Itu cara saya untuk tetap waras kalau tugas kuliah sudah menumpuk.

Minyak Angin

Usia kepala dua, saya sudah mengalami tanda-tanda penuaan. Salah satunya adalah gampang masuk angin. Cara terbaik saya adalah memakai winter coat pada poin no. 1. Namun ada kalanya saya malas, atau kelupaan. Karena cukup sering sok-sokan, masuk angin kadang gampang kena ke saya. Padahal aslinya belum terlalu tua. Ha ha ha.

Tahun lalu kira-kira, Tante saya memperkenalkan minyak angin merk FreshCare yang biasa kita lihat di teve dibintangi Agnes Mo. Karena saya cukup sering dapat perintah jangan kerokan, akhirnya FreshCare ini jadi solusi kalo lagi masuk angin. Syukur-syukur kalau pedisnya berasa, terus masuk anginnya tidak berlanjut.
 
5 Barang Esensial yang Pernah Saya Beli

Ini bukan tulisan bersponsor. Tapi kalau FreshCare mau, bisa kontak saya lewat imel. Saya tidak pernah membuka tulisan bersponsor macam ini, tapi untuk FreshCare, ayolah, anak muda gampang masuk angin seperti saya ini butuh banyak botol FreshCare di kamar.

--

Menulis pos macam ini membantu saya mengingat dan menghargai barang yang pernah saya beli. Saya tidak ingin membeli barang yang akan jarang saya gunakan. Kecuali memang hal-hal tertentu seperti Jas atau Batik yang hanya digunakan saat acara tertentu. Tahun lalu atau tahun sebelumnya lagi, saya membeli sebuah walkman
 
Kini, barang itu tak lagi saya gunakan. Saya hanya pakai sekali-kali jika saya ingin mendengarkan radio. Padahal, niat awal saya adalah ingin mengoleksi kaset-kaset yang saya suka. Tapi kaset walkman ternyata sudah sangat langka. Sekalipun ada, harganya mahal. Menggunakan Spotify atau pemutar lagu lainnya adalah solusi yang paling bijak. 
 
Walkman tersebut tentu tidak akan saya jual untuk menahan ego saya sampai beberapa waktu yang tidak saya tahu. Apakah walkman tersebut akan menjadi barang esensial diwaktu yang akan datang, seperti barang lainnya yang jarang lagi saya lihat dan sentuh? Tidak ada yang tahu.
Related Posts

Related Posts

20 comments

  1. Dari barang-barang diatas yang paling sulit untuk dilepas itu belu buku sih. Baju atau gadget bisa dibilang termasuk hemat banget, karena aku berpikir untuk apa punya baju banyak kalo yang dipakai itu lagi itu lagi akhirnya sampe jelek baru aku beli baju lagi ahahaha

    kalo buku itu susah banget, aku yang udah nerapin baca ebook aja tetep beli buku fisik. Sekarang aja tumpukan buku fisik di kamar udah bikin puyeng, dibeli doang tapi engga dibaca sama sekali.... udah gak ngerti emang kenapa ga bisa tegas kalo soal buku hahaha 🙈

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya, sekarang lagi nahan diri dulu untuk ikut harbolnas tahun ini. Makanya, pola pikir saat ini mau diubah dulu. Mesti selesaiin semua bacaan baru bisa beli lagi.

      Iya, alasan paling masuk akal itu sih belum ada alasan yang benar-benar kuat untuk pindah ke ebook reader. Masih sangat betah dengan buku fisik

      Delete
  2. Mas Rahul, ini sepertinya ada sedikit kejadian kontak batin lagi karena meskipun topik yang ditulis agak berbeda, tapi saya ada bahas tentang pakaian juga di postingan terbaru 😂 kalimat pembukanya pun mirip-mirip, ngomongin soal bertambahnya usia juga hahaha

    Eniwei, sampai hari ini saya nggak punya jaket sendiri, lebih suka pakai kardigan atau sweater. Jaket untuk naik motor saya pinjam punya suami aja karena emang jarang sekali saya pakai.

    Pada dasarnya saya jarang belanja pakaian, tapi sekalinya belanja bisa agak banyakan hahaha apalagi pandemi gini rasanya nggak butuh-butuh banget beli baju, ada banyak baju yang nggak terpakai juga di lemari selama 8 bulan ini hiks

    Kalau soal buku, sepertinya masih sulit buat saya untuk beralih ke ebook 😅 itu ratusan judul koleksi Mas Rahul termasuk buku kuliah kah? Banyak sekaliii!

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya, saya baru sempat baca semalam dan baru ngeh lagi kalau paragraf pertama saya agak mirip dengan kak Jane. Kolaborasi batin kedua. Ha ha ha.

      Saya jarang juga sih liat cewek punya jaket, paling cuma hoodie. Itupun sangat jarang dipake. Saya tidak tahu alasannya apa, mungkin kak Jane yang lebih tepat untuk menjawab.

      Iya, saya juga jarang belanja baju. Kadang momen belanja cuma pas mau lebaran saja. Itupun lebaran kemarin saya cuma beli sendal. Mungkin tahun depan baru saya beli baju lagi. Soalnya baju pergi-pergi sudah masuk masa transisi ke baju rumah.

      Iya, tapi kalo dipisahkan juga masih bisa dapat 100 lebih. Dulu saya cukup gemar main ke toko buku, sekarang sudah jarang dan kalo beli sering ke market place saja

      Delete
  3. Huaaa Rahul, aku malah salah fokus sama koleksi buku-buku Rahul! Beberapa buku terbitan Mooi yang Matilda, Hikayat Penguin, Lelaki Malang terus ada Cantik itu Luka, Raden Mandasia. Astagaa~ Ini wishlistku semuaa! Kura-kura Berjanggut udah selesai baca, Hul? Itu kan tebal sekali, katanya hampir 1rb halaman ya? Huaaa aku malah jadi salfok dan mupeng melihat koleksi buku-buku Rahul >.< Sebab aku sekarang sedang suka buku-buku pengarang lokal.
    Dan aku setuju sih kalau buku fisik memang tidak tergantikan :) Saat-saat bisa memegang buku fisik dan menciumi aromanya itu lho~ suatu momen yang nggak tergantikan.
    Jadi, walaupun sekarang udah banyak aplikasi baca ebook yang memang membawa pengaruh besar juga untuk diriku, aku masih tetap membeli buku fisik untuk dibaca.

    Akupun sama seperti Kak Tika, aku kalau beli baju jarang banget. Malah lebih sering beli buku belakangan ini, while beli baju baru 1x di awal tahun hahaha. Aksesoris lainnya juga nggak pernah beli lagi sepanjang tahun ini. Benar-benar uangku teralihkan ke buku semua >.<
    Tapi beberapa buku yang terlalu tebal, akhirnya aku jual sih setelah selesai baca.
    #KokJadiNgomonginBuku. Maaf, aku nggak tahan untuk ngomongin buku kalau bertemu teman yang sefrekuensi hahaha

    ReplyDelete
    Replies
    1. Selain dua buku terbitan terakhir, buku Moooi sudah saya borong kemarin. Baru mau baca yang Angsa Liar, tapi belum sempat-sempat. Kalau Kura-Kura Berjanggut, baru baca 300an halaman, berhenti sebentar eh kelupaan. Kalo Raden Mandasia sudah saya baca pas kelas 1 SMA. Belinya pas cetakan pertama. Ha ha ha.

      Iya, rasa sentimentil itu yang sulit untuk tergantikan. Meskipun yak, saya tau buku fisik pasti ada umurnya juga.

      Tahun ini malah saya tidak beli baju sama sekali, dan uang baju lebaran saya alihkan untuk beli buku. Kenapa yang tebal dijual kak Lia?

      Delete
    2. Jadi kapan mau kembali membaca lagi, Hul? 🤭
      Wah~ Raden Mandasia ini ternyata buku lama ya. Aku telat dong karena baru tahu, itupun karena dikasih tahu Kak Eya 🤣. Menurut Rahu, ceritanya bagus nggak?

      Buku fisik umurnya masih terbilang lama. Bahkan semakin usang, semakin menarik 😍

      Nggak apa, pilihan yang bagus. Buku itu salah satu bentuk investasi, investasi ilmu dan kalau kepepet bisa dijual 🤣
      Yang tebal-tebal aku jual karena terlalu makan tempat sebab rak bukuku kecil sekali 😂

      Delete
    3. Ini lagi coba nyicil baca satu-dua bab novel. Tapi masih belum memenukan ritme yang pas. Apalagi, tugas mulai banyak bulan ini 😬

      Iya, Raden Mandasia itu buku lama. Kalo suka cerita dongeng seharusnya suka. Salah satu road trip novel favorit saya 😁

      Iya yah, semakin usang semakin klasik semakin antik. Saya pernah lihat, ada buku langka yang dijual 5 juta. Saking sulit dan tidak lagi diproduksi 😁

      Benar kak Lia, saya senang kalo lagi pengen baca satu-dua bagian dari buku yang saya pengen, tingg ambil dan baca lagi. Kalo ada buku lama yang mau dijual, mungkin bisa update judul-judulnya diblog siapa tau ada yang tertarik, termasuk saya 😁

      Delete
  4. jaket bagi kaum lelaki memang multi guna, bukan hanya sekedar pelindung badan dari dingin tapi kadang juga buat jaketin si doi yang kedinginan ea ea xD

    ReplyDelete
  5. Waaaah ada FRESHCARE 😂 Hahahaha. Itu juga barang penting untuk saya mas Rahul. Terlalu pentingnya sampai nggak pernah lepas dari saya. Selalu saya bawa ke mana-mana, even saat tidur, akan saya taruh di side table samping kasur agar mudah digunakan 😆 Sukaaaak!

    By the way, mas Rahul bukunya banyak banget sampai ratusan. Niatnya mau bangun perpustakaan kah? Saya sejak beberapa tahun terakhir sudah declutter buku-buku koleksi saya. Mostly dikasih ke sepupu atau organisasi yang menerima sumbangan buku, sebab di rumah semakin penuh. Hehe. Sekarang hanya sisa beberapa saja yang masih dibaca 🙈

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya kak Eno, sekarang itu jadi barang yang sangat penting. Usia memang ngga bohong. Ha ha ha.

      Saya tidak ada niat semulia itu kak Eno. Saya cuma senang lihat ada sekumpulan buku yang saya suka, kemudian saya baca bagian favorit saya kembali kalo lagi ingin. Kalo punya buku yang ngga kebaca, mungkin bisa dropnya ke saya saja kak Eno. Ha ha ha

      Delete
  6. Ngomongin buku, saya jg suka banget beli buku. Tapi awalnya aja yg semangat. Mirip dengan mas Rahul. Saya mau beli buku lagi, kalo buku2 yg lama udah terbaca semua 😀

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya, mesti balance biar buku yang belum dibaca tidak tertumpuk

      Delete
  7. Gadget dan Laptop kenapa dipisah? Kan laptop juga termasuk gadget, pak.

    Btw, setelah mencoba banyak keyboard laptop, sebenarnya keyboard Lenovo itu yang paling oke loh. Kenapa kamu malah memilih pake keyboard eksternal? Wkwk. Keyboard Lenovo bahkan lebih oke dari mekbuk yang mahal itu. Hahahah

    ReplyDelete
    Replies
    1. Saya sempat ngeh setelah beberapa hari pos, tapi saya biarkan saja karena tidak ada yang komplen. Eh, mas-mas podcaster ini nyadar 😅

      Saya senang saja mendengar bunyi keyboard mekanik. Saya juga tidak membantah kalau keyboard Lenovo enak. Kalau sedang diluar, saya juga tidak mungkin membawa keyboard eksternalnya keluar 😁

      Delete
  8. Btw sayapun pecinta freshcare dari dulu, beda aja wanginya, panasnya juga :D
    Keren ya pemikiran anak muda, yang semakin dewasa, semakin nggak lapar mata.

    Kalau saya setelah punya anak sih, selalu membeli barang hanya untuk yang perlu saja.
    Yang saya butuhkan saja.
    Terutama sejak menekuni dunia blog, terus rajin BW menemukan postingan-postingan kayak gini, semacam pengingat buat saya untuk lebih bijak dalam mengeluarkan duit buat kebutuhan aja dulu :D

    ReplyDelete
    Replies
    1. Minyak angin memang barang yang sangat esensial saat ini 😅

      Saya juga masih belajar dalam memilih dan memilah barang yang memang butuh. Tapi tak dapat diayal, saya juga masih sering belanja hal yang memang untuk memenuhi ego saya saja 😁

      Delete
  9. jadi keinget waktu masih temaja, yaelahh hehehe
    waktu kuliah, aku dulu termasuk sering beli baju, kadang baju distro, factory outlet atau butik butik biasa, sampai lulus kuliah pun ada beberapa baju yang masih akusimpan sampe sekarang. karena memang nggak ada rusaknya dan masih bagus, selebihnya udah dilengserin
    prioritas penting juga untuk hal hal kebutuhan primer sekunder kayak gini,kudu bisa memilah mana yang penting, super penting dan amat penting

    duluu aku pecinta minyak kayuputih, sampai sekarang juga
    dan akhirnya nambah lagi sama fresh care, karena ada panas panasnya gitu, cocok buat pegel pegel

    ReplyDelete
    Replies
    1. Preferensi orang beda-beda. Bukan hanya faktor usia. Tapi itu masalah pilihan, dan mempunyai preferensi berbeda tidak mesti memaksa orang melakukan hal serupa karena semua orang punya fasenya sendiri.

      Iya, freshcare ini sangat cocok untuk yang gampang masuk angin. Ha ha ha

      Delete
Terimakasih sudah membaca. Sila berkomentar terkait tulisan ini.