zsnr95ICNj2jnPcreqY9KBInEVewSAnK0XjnluSi

Saya Butuh Sanggahan

Setiap kali menulis opini, saya pasti menggebu-gebu dengan harapan bisa dapat sanggahan. Saya bukan manusia dengan segala kebenaran. Makanya ketika sudah menyaring sesuatu untuk ditulis, saya rasa itu penting untuk dilepas. Selain sebagai catatan pribadi, saya ingin melempar pendapat saya, opini saya, kepada teman-teman pembaca. Saya ingin melihat reaksi apa yang akan saya terima.

Sejujurnya, saya sangat ingin mendapat sanggahan. Tapi sejauh ini, opini saya selalu saja diterima secara baik oleh teman-teman. Sekalipun ada hal yang tidak disetujui, respon teman-teman terlalu halus dan takut,"mungkin kalau saya lebih ke..". Tidak teman-teman. Jangan membuat saya berada dalam gelembung bias saya. Sanggah saya. Tolak saya. Dengan opini yang teman amini.

Saya percaya tidak selamanya benar, maka dari itu saya menyimpan beberapa persen titik ragu dalam setiap hal yang saya yakini. Ketika ada sanggahan, itu membantu saya mempertimbangkan, menimbang dan berpikir ulang. Jika hanya disetujui, rasa nyaman memakan saya dari dalam. Itu membuat saya terjebak dalam satu pemikiran itu.

Makanya, kalau ada opini teman-teman saya tidak ingin terlihat seperti orang baik yang turun ke Bumi. Ada beberapa hal yang saya lakukan. Pertama, saya hanya membaca tanpa ada niat mengomentari. Kedua, ketika ada rasa ingin berkomentar saya akan mencari hal menarik untuk direspon. Ketiga barulah saya mengomentari. Baik hal yang saya setuju maupun tidak.

Sebut saja yang paling baru, dalam postingan kak Jane yang membagikan cerita saat ia berulangtahun dengan keluarga kecilnya. Tulisan itu hangat. Tapi sebagai orang yang tidak lagi merayakan ulangtahun, saya hanya mengirimkan doa kepada kak Jane. Bahwa pada akhirnya saya tidak setuju dengan perayaan, betul. Bahwa pada akhirnya saya membenci orang yang melakukan itu, tidak. Itu sangat berbeda. Jangan mencampurkan ketidaksetujuan opini kita terhadap ketidaksukaan kita terhadap orang lain.

Saya Butuh Sanggahan

Contoh lain, dalam tulisan Aina tentang prioritas chat. Kurang lebih Aina punya prinsip akan mendahulukan orang yang to the point saat membuka obrolan ketimbang orang yang hanya menyebut nama atau huruf P. Melihat itu, saya menyanggah dengan poin yang berbeda. Saya yang masih sering menggunakan chat sebagai alat basa-basi bersama teman. Atau saya yang masih sering bermain-main dalam grup teman-teman saya. Apakah saya tidak menyetujui pendapat Aina, tidak juga. Apakah saya membenci Aina karena berbeda prinsip, tentu tidak.

Saya akan selalu mencoba beradaptasi kepada siapa saya berbicara. Misalnya, saya berbicara dengan orang yang hanya tertarik pada topik spesifik yang ia anggap penting dan menarik, saya akan berbicara kepadanya saat mempunyai topik tersebut. Kecuali ia yang membuka obrolan. Jika saya berbicara dengan teman-teman sepermainan yang kebanyakan membahas hal-hal sepele, saya akan menjadi teman yang lucu. Istilahnya ngabodor. Saya tau bagaimana harus bersikap.

Karena saya tidak ingin teman-teman terperangkap pada satu opini yang akan mereka percaya seumur hidup, saya menawarkan hal berbeda sebagai bahan perbandingan. Bahwa pada akhirnya itu tidak menarik untuk mereka, tidak masalah. Saya hanya butuh sanggahan sebagaimana saya akan menyanggah apabila opini teman-teman tidak sesuai dengan apa yang saya yakini. Dengan begitu, ketika saya membaca opini teman-teman, ada rasa ingin duduk bareng untuk membicarakan hal tersebut.

Ini bukan bangku kuliah, yang dimana kita tidak menyiksa teman yang sedang presentase dengan pertanyaan. Ini hanya bagian dari kehidupan. Santai saja. Menyanggah opini dan argumen yang tidak kita setujui dengan atensi menjaga lingkungan kita dari gelembung biasnya, menawarkan komparasi dari pemikiran baru. Itu saja poin yang ingin saya sampaikan. Semoga diterima dengan baik sebagaimana yang saya maksud.

Related Posts

15 comments

  1. Berat euy permintaannya ๐Ÿ˜‚

    Berhubung dalam dunia blog saya termasuk tipe yang moderate, jadi nggak terbiasa menyanggah tulisan teman lainnya ๐Ÿ™ˆ

    Kalaupun tulisan teman tersebut nggak sesuai POV saya, biasanya saya lebih pilih komentar basic poinnya, mas ๐Ÿ˜† Wk.

    Well, mungkin mas Anton atau teman lainnya lebih bisa menyanggah daripada saya. Sedangkan saya akan ambil bagian sebagai tim hore saja ๐Ÿ˜

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hihi benar juga, Mas Anton jagonya pastii

      Delete
    2. @CREAMENO: Ha ha ha, ini hanya semacam statement saya kak Eno. Harapan saya mudah-mudahan kedepannya, semua bisa sadar kalo saya ngga apa-apa menerima komentar semacam itu.

      Iya, kak Eno. Niat saya menulis tidak untuk mengubah pandangan teman-teman. Cuma untuk memberi tahu bahwa beginilah saya. Kalau misalnya teman mau komentar setuju, monggo. Kalau tidak setuju, saya malah lebih senang dengar perspektif lain.

      Iya, saya juga senang beberapa kali ngobrol sama beliau diblognya. Asik. Tulisan mas Anton itu discussable karena banyak menentang gaya kebanyakan.

      @Jezibel: Iya kak, saya beberapa kali diskusi sama mas Anton diblognya ๐Ÿ˜

      Delete
  2. Sejujurnya saya senang kalau masih ada teman yang berkomentar dengan sudut pandang berbeda di kolom komentar. Tapi kadang, seperti apa yang Kak Eno katakan, aku juga kaum yang menerima semua jenis pendapat entah itu selaras atau bertolak belakang denganku.

    Namun aku juga bisa sih merasakan bagaimana rasanya ingin disanggah juga, tapi bukan di blog, tapi di dunia nyata๐Ÿ˜‚ supaya bisa melatih cara berargumen dan bagaimana mempertahankannya hahaha

    ReplyDelete
    Replies
    1. Sama kak, poin saya juga begitu. Saya menerima semua pendapat, tapi kok saya merasa ngga ada yang benar-benar pernah menyanggah argumen saya. Ha ha ha. Semuanya luwes-luwes saja.

      Nah, paling benar seharusnya duduk bareng sambil ngobrol. Tapi kalo memang atensinya baik, saya harap diskusi via online macam ini bisa jadi lebih sehat dari yang seharusnya

      Delete
  3. Saya juga tipe orang yang senang kalau mendapat komentar berbeda, atau terkesan menyanggah, tapi kalau disuruh menyanggah memang ada rasa takut, dan ini lebih karena disebabkan oleh pengalaman. Dulu, dan mungkin sampai beberapa bulan lalu, setiap kali saya menyanggah tulisan atau komentar orang lain di media sosial, saya sering mendapat respon yang kurang enak, Rahul. Maksudnya, instead of berdiskusi dengan kepala dingin, orang-orang tersebut malah menyerang dengan sesuatu yg sama sekali bukan poin saya. Entah ini rasa trauma atau bukan. Padahal tiap kali beropini, saya selalu berusaha bersikap baik, dengan bahasa yang baik, hanya saja orang-orang menerimanya lain (meski nggak semua). Makanya blogging ini jadi tempat yang menenangkan karena orang-orangnya sangat open dalam diskusi๐Ÿ˜ Padahal kalau ngobrol secara langsung, saya cenderung lebih vokal dan lumayan bisa asyik kalau diajak diskusi, daripada di internet yang notabenenya orang-orang membawa biasnya masing-masing, tanpa ada nuance. Saya tahu Rahul bukan golongan stranger yang suka marah-marah seperti itu di internet๐Ÿ˜‚, hanya saja ini memang rasa waswas yang muncul dari dalam diri karena pengalaman buruk.

    Tapi kalau boleh jujur, selama ini setiap baca tulisan Rahul, saya memang belum menemukan hal-hal yg bisa saya sanggah secara teoritis atau dengan kritis gitu๐Ÿค” karena sebetulnya blogwalking menjadi salah satu cara saya untuk melepas stress dari hiruk pikuk media sosial yg banyak noice-nya. Dan sama seperti kak Eno, kalau saya menemukan sebuah tulisan yang tidak sesuai dengan pendapat saya, saya akan memberi komentar sesuai pov saya aja, dan menitikberatkan pada poinnya. Karena saya pikir itu juga sebuah bentuk pendewasaan dalam berpikir, supaya lebih banyak insight lagi yang didapat. Meski memang kalau dipikir-pikir, kritik dan saran pasti akan bisa lebih membangun, ya. Ini juga akan jadi PR saya kalau gitu, Rahul, in case nanti ada opini Rahul yang berlawanan, saya akan pelan-pelan membuang rasa cemas itu karena nyatanya memang nggak semua pribadi di internet sama kayak yang saya temukan selama ini๐Ÿ˜‚ dan of coursseee saya percaya Rahul๐Ÿ‘๐Ÿป

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya Aina, mungkin dengan adanya tulisan ini semacam membuka diri saya bahwa siapapun boleh komentar kalo punya opini berbeda. Saya tidak akan berada pada situasi memarahu orang yang berbeda pandangan dengan saya ๐Ÿ˜…

      Dalam tulisan ini, saya juga tidak ingin mengubah teman-teman. Saya hanya ingin membuka diri kepada teman-teman yang mungkin berpikir saya akan tersinggung. Kalo kata Plutarch,"Saya tidak butuh teman yang berubah ketika saya berubah, atau mengangguk saat saya mengangguk. Bayangan saya melakukannya jauh lebih baik".

      Delete
  4. Lihat-lihat orangnya juga sih mas. Pernah nulis tentang seni berkomentar di blog orang...
    Lagipula tidak semua sanggahan harus frontal. Kadang bisa main alus, kok...sebagai orang Asia kita sebetulnya bisa mahir melakukannya. Memang disana seninya..

    ReplyDelete
    Replies
    1. Terimakasih insightnya kak Phebie. Saya mau baca dulu tulisan kak Phebie itu.

      Delete
  5. Saya setuju dg Mas Rahul, kalau ada perbedaan tidak masalah sebenarnya untuk menyanggah. Karena memang setiap orang itu berbeda. Tinggal bagaimana kita menyesuaikan caranya aja, agar sama2 enak dikedua belah pihak.
    Saya termasuk orng yg blak2an bgd di dunia nyata, namun lg banyak belajar di dunia tulisan. Krna cara baca yg beda bs bgd mempengaruhi penafsiran orang kan.. hehehe..

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya, saya baru dapat insight baru dari kak Phebie. Saya juga lagi belajar untuk itu. Terimakasih kak Thessa

      Delete
  6. sama kayak mba eno, berat nih hehehe.
    dalam artian, aku "berani" menyanggah kalau temanya berat kayak politik atau sejenisnya, bisa dibilang menurutku sendiri, kritkan atau sanggahan aku "menohok", apa ya bahasanya, kurang lebih begitu.
    mungkin karena aku dulu kuliah di hukum ya, jadi otak aku isinya sok sok yang gimana gitu bahasanya.
    kalau untuk berita atau cerita dari temen temen blogger, masih aku bawa santai dan sesekali menyampaikan pendapat yang relevan

    ReplyDelete
    Replies
    1. Artinya kak Ainun bukan berani kalau temanya berat, tapi berani karena kak Ainun punya latar belakangnya. Saya sebenarnya selalu membawa suasana menyenangkan dimana saja. Namun ada titik dimana saya tidak ingin terus dipuji yang mendorong saya agar menulis ini. Terimakasih insightnya kak Ainun

      Delete
  7. Perasaan banyak tulisan Rahul yang saya baca, selalu saya sanggah deh, bukan sanggah nggak setuju, tapi cuman menilai dari sisi usia saya (pede betoollll, udah tuwah melihat sisi anak muda, hahaha), tapi memang bener sih, masih terlalu halus, soalnya saya takut kebablasan sih, takutnya saya nyangga keras, eh sama Rahul sih it's OK, eh malah keterusan di blog lain, terus empunya blog tersungging bahahahaha.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya, kak Rey memang salah satu yang ada di sana. Saya harap kedepannya kak Rey bisa lebih luwes menyanggah saya. Saya pribadi tidak ada masalah dan malah menunggu itu. Tapi jangan sampai ke blog teman yang lain, itu beda urusan ๐Ÿ˜†

      Delete
Terimakasih sudah membaca. Sila berkomentar terkait tulisan ini.