zsnr95ICNj2jnPcreqY9KBInEVewSAnK0XjnluSi

Studi Pertemanan

Sore itu pukul 5, hari Jumat saat saya baru selesai Gym dan berhenti di salah satu tempat cukur daerah Kemaraya. Di jalan tengah itu, terdapat satu tempat cukur yang saya kenal dari teman saya. Sampai saat ini, saya tidak tahu nama asli beliau dan tidak ingin juga menanyakannya. Kalau ngobrol, panggilan akrab saya ke dia adalah 'mas'. Tapi kami sering menjuluki dia 'Mas Bokep' saking seringnya ia bercerita tentang hal-hal berbau porno.

Studi Pertemanan
 

Sebelum saya, ada seorang anak kecil yang sudah dicukur. Ia datang hampir bersamaan dengan saya. Hanya Bapaknya lebih gesit ketimbang saya. Saya cukup malas saat itu saat melihat ada dua anak yang dibawanya. Ternyata yang cukur hanya anak pertama. Setelah bayar, mereka pergi.

Giliran saya.

Saya duduk dikursi dan seperti biasa, Mas memakaikan semacam celemek agar rambut yang dicukur tidak mengenai baju. Leluconnya masih sama dari tahun-tahun sebelumnya. Cukur botak yah, katanya. Jangan Mas, saya menjawab dengan sedikit tersenyum. Terserah saya, yang cukur saya. Kemudian kami ketawa bersama.

Kemudian dia serius bertanya. Saya jawab, sampingnya dan belakangnya dirapikan saja. Oke, katanya. Dia mulai bekerja memotong pinggiran rambut dengan tangan kirinya menahan kepala saya agar tak goyang. Seperti biasa, ia bertanya tentang beberapa hal menyangkut teman-teman. Wajar saja, kami, termasuk saya sudah jarang cukur di sana. Beberapa kali melewatinya, tempat Mas juga cukup jarang buka.

Ia kemudian bercerita tentang seorang yang saya kenal. Beberapa waktu lalu datang ke sana untuk cukur. Saya bilang sudah jarang melihatnya. Ia lebih banyak berada di kamar. Padahal, saya cukup sering berada di rumahnya. Namun melihat saja tidak pernah. Mas kemudian mengungkit liburan kami akhir-akhir ini yang ia lihat pada salah satu story WhatsApp teman saya. Mas bertanya,"Tapi dia sering main sama kalian?"

"Tidak, Mas," kata saya, mencoba mengingat apakah memang jawaban saya perlu direvisi.

Tanpa saya duga, Mas berkata,"Mungkin ia merasa lebih pandai dari kalian."

Saya hanya ketawa kecil, menyangka itu gurauan belaka.

"Itulah makanya jangan mencampurkan antara persahabatan dan studi yang kau jalani," lanjut Mas.

"Iya, Mas." kata saya, masih bingung harus menjawab dan bersikap.

"Saya dulu begitu, waktu masih kaya dan banyak uang saya tidak mau bergaul dengan teman lama saya. Sekarang begini," katanya seolah menunjukkan dirinya,"saya malah mencari teman-teman lama saya. Sekarang saya malah sering main sama mereka sampai jam 1 pagi."

"Teman-teman lama memang keren. Meski sekarang tidak seperti dulu. Saya sudah tidak lagi mabuk-mabukan," lanjut Mas.

"Memangnya Mas tinggal dimana?" tanya saya.

"Tidak ada. Dulu di daerah Mandonga. Sekarang tidak ada."

Saya tidak tahu maksud dari jawaban beliau. Makna tidak ada itu tidak bisa dicerna kepala saya. Entah karena Mas hanya sekadar menjawab atau karena ia sedang mengontrol kepala saya.

"Tapi tenanglah. Ia akan kembali seperti dulu," kata Mas memecah keheningan,"Malah, ia akan jauh lebih jauh solidaritas."

Saya masih diam, membiarkan Mas berbicara. Sepertinya ini semacam pengalaman yang coba ia bagi kepada saya, lewat sebuah perjalanannya dalam berkawan. Tentang bagaimana dia menjadi orang yang berbeda karena sebuah materi, dan membuatnya sadar bahwa yang benar-benar membantunya melewati hari-hari sebagai seorang manusia adalah kawannya.

"Begini pendeknya?" tanya Mas, kepada saya sambil memperlihatkan model samping rambut saya.

"Bagusmi kah begini, Mas?" tanya saya. (Sudah bagus begini, Mas?)

"Kalau dari saya sudah bagus. Tapi itu hak kamu. Saya hanya mengerjakan."

"Ohiya, begini saja Mas."

Setelah membayar upah cukur, saya bersiap pulang. Berbasa-basi sedikit dan menyalakan motor. Perjalanan menuju rumah, saya mengingat percakapan saya bersama Mas. Ini seperti fase yang saya lewati dulu. Masa itu sepertinya saat SMP, saat saya mulai kehilangan energi untuk berada di dunia luar. Saya berpikir untuk lebih baik sendiri, berada di kamar.

Lagipula, fasilitas saat itu terbilang lengkap. Saya punya laptop, punya handphone, dan banyak buku-buku untuk dibaca. Saking jarang keluar kamar, saya beberapa kali ditegur oleh orang rumah, salah satunya Mama. Saya dibilang kuper lah, curiga apakah saya narkoba. Sekarang malah itu terdengar begitu lucu. Meski saya memang tidak pernah mencoba, membayangkan ada kekhawatiran itu dikepala mereka sedangkan saya hanya sibuk menonton film dan membaca buku di kamar adalah hal yang bikin saya sering senyum-senyum sendiri.

Sampai pada akhirnya, seorang teman menegur saya. Mereka berpikir saya tak ingin lagi bersama mereka. Saya tak ingin lagi nongkrong dan bergabung bersama mereka. Padahal sesungguhnya, energi saya terlalu banyak terkuras saat berada di tempat yang baru, bersama orang yang baru. Setelah melewati beberapa proses dan kontemplasi yang cukup panjang, saya akhirnya berdamai dengan itu. Saya memutuskan untuk beranjak dari hibernasi panjang yang saya lakukan.

Saya hanya perlu kompromi tentang beberapa hal. Misalnya, saya merekomendasikan tempat yang tidak terlalu ramai. Atau menyarankan ke tempat-tempat yang sudah sering kami singgahi. Namun tentu sulit ketika prioritas mereka adalah mencoba tempat-tempat baru. Inilah kompromi. Saya melihat itu sebagai bentuk perubahan energi. Sama seperti pelajaran IPA di SMP tentang perubahan energi listrik menjadi panas adalah setrika. Bedanya, energi yang habis saya gunakan memberi saya energi baru yang tidak bisa saya definisikan. Ini semacam cara kami menghabiskan waktu, cara usang melewati banyak hal sebagai seorang remaja.

Related Posts

Related Posts

8 comments

  1. Rahul, kali ini Rahul kolaborasi batin lagi dengan salah seorang blogger. Namanya Kak Phebie dari Life essentially. Sama-sama sedang membahas masalah pertemanan tapi bedanya Kak Phebie membahas pertemanan sebelum dan sesudah menikah hahaha. Rahul, koneksi batinnya terhadap teman-teman blogger begitu kencang~ mirip sinyal wifi 5G 🤭.

    Btw, nggak menyangka bahwa kang cukur mau berbagi kisah hidupnya yang demikian. Aku malah senang mendengarnya karena kang cukur akhirnya menyadari kesalahannya dan berubah. Memang pertemanan seringkali dibutakan dengan materi dan diingatkan kembali karena materi juga, tapi semoga kita nggak mengukur pertemanan berdasarkan materi aja ya, karena teman lebih daripada itu. Menemukan teman-teman yang sehati, sejiwa itu jauh lebih berharga.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya kak Lia, saya sudah mampir ke blog kak Phebie. Tulisannya memang membahas hal yang cukup sama. Sudah tiga kali dengan orang yang berbeda, saya tidak tahu bagaimana ini bisa terjadi. Kebetulan yang sangat tidak biasa. Ha ha ha.

      Daripada belajar dari pengalaman sendiri, mending pengalaman orang jadi komparasi. Meski berbeda, tapi kita bisa jadikan itu acuan dan pertimbangan dalam bersikap.

      Delete
  2. yampun jadi keinget mbak mbak di salon langganan aku, aku kenal mbak salon ini dari sohib aku waktu SMP. Justru sampe sekarang malah aku yang sering ke salon. dan si temenku justru udah luaman banget nggak pernah nyamperin nih salon
    dan pertanyaannya miripan sama yang ditanyain mbak salon seminggu lalu, kayak gimana kabar mbak A, sibuk apa, bla bla bla...

    ReplyDelete
    Replies
    1. Bisa jadi mirip yah kak Ainun? Ha ha ha.

      Tapi memang akan seperti itu sih. Bukan hanya tukang cukur, tapi bisa saja penjual gorengan atau siomay di depan SD misalnya, akan ada pertanyaan seputar teman-teman yang dulu bersama kita. Karena secara tidak langsung, mereka juga tumbuh bersama kita

      Delete
  3. Aktivitas mencukur rambut aja bisa dapat insight tentang pertemanan yaaa.

    Emang bener jika uda lama ga berkumpul, meskipun banyak perubahan, tetep akan kembali ke mereka-mereka yg menjadi kawan. Meskipun mungkin ga sejalan, tapi selalu ada cela untuk bersama.

    Bersyukur Mas Rahulu mau berkompromi dan mencoba beradaptasi. Semoga pertemanan Mas Rahul dan kawan-kawan terus langgeng yaa 😊

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya, makanya saya lebih pilih ke tempat yang saya kenal. Biar bisa sambil silaturahmi.

      Aamiin kak Devina. Semoga pertemanan kak Devina juga demikian. Baik di dunia nyata, maupun di dunia maya.

      Delete
  4. Eh, sama dengan Suami saya, dia anak rumahan sekali, sampai2pas masih sekolah ortunya yang ngasih duit lebih dan nyuruh2 dia main keluar sama teman2. Ternyata setelah kuliah dan kerja, pinter2 aja sih bergaulnya justru malah teman2nya yg dtg ke rumah kami.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Mungkin karena dorongan dari lingkungan. Banyak kasus yang seperti itu. Misalnya, mungkin karena faktor eksternal yang membuat dirinya terbiasa. Itu juga bisa

      Delete
Terimakasih sudah membaca. Sila berkomentar terkait tulisan ini.