zsnr95ICNj2jnPcreqY9KBInEVewSAnK0XjnluSi

Memasuki Waktu Indonesia bagian Tugas dan Ujian

Sepertinya dalam beberapa waktu kedepan, saya akan menurunkan jumlah pos mingguan menjadi hanya dua kali seminggu, atau bahkan hanya sekali. Padahal, saya sudah senang bisa menyimpan draf tulisan sampai tiga minggu ke depan dengan jadwal pos tiga kali seminggu. Eh, tugas terlampau banyak dan tidak berhenti.

Saya tidak ingin terlihat seperti mahasiswa yang mengeluh karena tugas banyak dengan update status WhatsApp, tapi dihidden sama dosen-dosen. Ha ha ha. Ohya, saya juga tidak lagi menggunakan fitur ini selama hampir beberapa bulan. Saya juga membisukan semua status teman-teman agar tak lagi muncul notifikasi status. Saya punya alasan.

Saya punya banyak sosial media. Mulai dari Instagram, Twitter, sampai TikTok. Meskipun sudah jarang aktif, tapi saya masih menggunakan semua sosial media itu sebagai tempat pelarian dikala suntuk dan ingin terlepas sejenak dari hiruk pikuk kuliah online dan tugas. Karena banyak punya sosial media, saya tidak ingin WhatsApp juga menjadi alat saya bersosial media. Saya hanya ingin WhatsApp sebagai alat komunikasi saya. Istilah sederhananya, WhatsApp adalah bentuk lain dari hape jadul yang fungsinya hanya SMS dan telepon. Meski ada yang namanya grup di sana.

Balik lagi masalah tugas.

Karena kebanyakan tugas dan sudah merasa mumet, seorang teman meminta daftar tugas dalam grup WhatsApp. Seorang mengirimkannya. Ada tujuh daftar tugas yang tercatat. Tujuh. Tidak banyak kalau itu dinilai dari pengejaan angka saja. Tapi tenang saja, saya hanya khawatir jika menjadi pengeluh yang hanya menggerutu bagaimana agar tugas itu selesai. Sebab, tugas itu hanya selesai jika dikerjakan.

Kadangkala, saya mengakali tugas-tugas itu dengan bekerja secara kolektif atau mengambil tugas lama untuk diperbarui saja. Cerita lain, saya punya tugas membaca buku Beriman Tanpa Rasa Takut karya Irshad Manji. Setelah dibaca, kami disuruh mengulas buku tersebut maksimal tiga paragraf. Tidak ada syarat harus selesai, tapi jumlah halaman harus ditulis.

Memasuki Waktu Indonesia Bagian Tugas dan Ujian
sumber: The Yorkie

Dari yang perintah tugasnya mengulas, saya hanya menuliskan laporan hasil bacaan saya yang masih 48 halaman itu. Bukunya tidak berat, tapi banyak kata baru yang mesti saya cari dulu. Topiknya juga sensitif, saya tidak ingin mengambil langkah ceroboh dan keliru dalam mengomentari isi bukunya. Makanya agar terlihat benar membaca, saya menyebut poin-poin dari bacaan saya.

Membaca dalam kondisi seperti itu memang sulit, apalagi jika ditekan waktu dan terikat dengan tugas didalamnya. Tapi itu cukup membantu untuk mendorong keinginan membaca. Lagipula, buku itu bagus sejauh 48 halaman yang saya baca. Storytellingnya bagus, ada beberapa permainan kilas balik yang transisinya tidak menganggu.

Selain tugas, Ujian Akhir Semester atau MID juga mulai diserukan dari dosen-dosen. Ini membuat satu pertanyaan besar dikepala saya. Bagaimana ujian ditengah pembelajaran yang serba online ini. Setelah itu, saya tahu dosen punya banyak inovasi. Meski inovasinya tergolong tidak kreatif. Ada yang hanya sebagai tugas, ada yang menyusun proposal, tapi ada satu yang cukup unik. Menggunakan fitur videocall WhatsApp untuk ujian.

Jadi, kami akan ditelpon video secara berurut dan menjawab beberapa pertanyaan. 30 menit sebelum ujian, teman-teman sudah ribut dan ketakutan. Saya rasa ini cukup seru, semacam nonton film horor ataupun thriller. Kita sudah tau, akan ada jumpscare di sana, tapi kita tetap menunggu. Setelah hape berbunyi, saya mengangkat telepon video tersebut. Sayangnya, lagi-lagi kendala jaringan. Saya mesti mengikuti ujian gelombang ke-2 minggu depan.

Ada satu tulisan saya tentang kuliah ditengah pandemi ini. Meliputi banyak aspek, terutama hubungan dosen dan mahasiswa. Cukup keras menurut saya, hingga masih membuat saya menimbang-nimbang untuk menaikkannya. Jika bukan atas dorongan untuk memberi Orangtua lembar ijazah, saya tak berpikir dua kali untuk melakukan banyak hal diluar dari pertimbangan tersebut. Tapi ini bukan hanya tentang saya. Ini tentang banyak hal, termasuk perasaan Orangtua saya.

Ohya, segitu saja. Masih ada tugas yang mesti saya kerjakan lagi sembari curi-curi waktu untuk nonton Surgeon Bong Dal Hee dan After Life. Dua serial keren itu menemani masa-masa November saya. Akhir kata, meminjam kata Pidi Baiq, "Masalah adalah apa yang kamu dianggap Masalah. Jika tidak, maka bukan.".

Related Posts

12 comments

  1. Semangat Mas Rahul dalam mengerjakan tugas dan UAS-nya. Semoga bisa diselesaikan dengan maksimal dan memperoleh nilai yang baik 😊

    ReplyDelete
    Replies
    1. Aamiin kak Devina. Terimakasih doanya 😁

      Delete

  2. Semangat mas Rahul dalam menggerjakan ujian UAS nya saya tahu tugas kuliah itu bikin Pucung pala berby tapi mahu bagaimana lagi itu sudah resiko jadi anak kuliahan sayapun dulu juga demikian tapi alhamdullilah itu semua bisa berjalan lancar dan saya pun telah sukses membawa nama harum keluarga dengan membawa ijasah S1 saya dan alhamdullilah juga berkat ijasah S1 sayapun bisa mendapatkan pekerjaan yang layak.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya kak Tari. Makanya, saya juga tidak ingin jadi pengeluh. Hanya curhat πŸ˜…

      Delete
  3. Tidak pernah tatap muka di kelas, tahu-tahu sudah banyak tugas dan ujian saja. Kuliah jaman sekarang seperti itu. Keponakanku yang masih SD, sudah persiapan untuk UAS mas :D

    Ngomongin jumlah 7 tugas yang mesti dikerjakan mas rahul, aku jdi ingat tugas dari temanku yang minta tolong untuk ngecek tulisannya sebanyak 10 tulisan. Saat ini sudah dikerjakan 4 tulisan. Tinggal 6 tulisan lagi yang mesti diselesaikan..hahahaha

    Semangat untuk nugas dan UAS nya mas Rahul..
    ditunggu tulisan tentang kuliah di masa pandemi :D

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya, energi jadi lebih cepat abis ketimbang kuliah biasa 😞

      Itu satu mata kuliah atau bagaimana? Banyak juga yah. Tapi kalau mau dipikir-pikir, deadline tugas itu ngga terlalu guna ngga sih? karena biasanya dikerjakan pas dekat-dekat hari H πŸ˜…

      Makasih mas Vay. Ha ha ha. Siap mas 😁

      Delete
  4. Semangat Rahul untuk tugas-tugas dan ujian akhirnya. Semoga semua dilancarkan dan mendapat hasil yang terbaik ya 😁

    Perihal tulisan yang ingin dibagikan, jika terasa tidak baik dibagikan saat ini, mungkin bisa dibagikan saat kuliah tatap muka udah dimulai kembali atau saat Rahul udah lulus kuliah 😁 mengingat blog Rahul memakai nama pribadi, hanya takut kalau tulisan yang "keras" itu terbaca oleh pihak kampus dan ada pihak yang tersinggung. Tapi aku nggak tahu "keras"nya seperti apa, so keputusan kembali ke Rahul 😁

    ReplyDelete
    Replies
    1. Aamiin kak Lia. Terimakasih doanya 😁

      Iya, saya juga mikirnya sudah kearah sana. Soalnya, saya pernah nulis tentang pengalaman ke pameran dan di repost salah satu website kampus 😁

      Delete
  5. Tetap semangat ya mas Rahul dalam menjalankan tugasnya, semoga saja segera selesai.

    Sekarang kuliah biarpun online tapi tetap banyak tugas. Ponakan saya yang lagi kuliah juga sama, banyak tugas dari dosennya. Rasa-rasanya tugas dari dosen kok seperti air di musim hujan, selalu mengalir terus.πŸ˜‚

    ReplyDelete
    Replies
    1. Aamiin kak Agus. Terimakasih doanya 😁

      Ha ha ha. Dinikmati saja prosesnya. Ambil baiknya, buang buruknya 😁

      Delete
  6. Waduuuh saya jadi berasa horor kalau harus ujian videocall sama dosen hahahaha, nggak kebayang seramnya, face to face secara close up πŸ˜‚ Thank God, jaman saya dulu nggak ada begituan, nggak kebayang jika saya melewatinya πŸ™ˆ

    By the way, semangat mas Rahul, semoga bisa melalui setiap ujian dengan lancar dan dapat hasil memuaskan sesuai harapan! Yaaaay, you can do it, mas πŸ₯³

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya kak Eno, berasa lagi interview kerja πŸ˜…

      Aamiin kak Eno. Terimakasih doanya 😁

      Delete
Terimakasih sudah membaca. Sila berkomentar terkait tulisan ini.