zsnr95ICNj2jnPcreqY9KBInEVewSAnK0XjnluSi

Barbeque, Pantai, dan Pondok

Dalam tulisan sebelumnya, saya sempat menyinggung tentang keinginan saya dan teman-teman untuk barbeque-an tapi belum ada duit lebih. Sekarang, keinginan itu akhirnya terwujud. Dan yang lebih asiknya lagi karena kami bisa makan gratis. Ha ha ha.

Ceritanya tanggal 21 November, saat malam Minggu, saya dapat kabar akan ada acara barbeque-an di rumah Riki. Sebelumnya, saya sudah dapat ajakan dari Ibu Riki. Tinggal menunggu panggilan saja. Setelah hampir jam 9, WhatsApp dari Ibu Riki masuk. Saya akhirnya ke teras Riki yang terletak tepat di samping kiri rumah saya, hanya dipisahkan oleh selokan.

Di sana, sudah banyak orang. Ada yang bertugas menaikkan daging, ada yang bertugas dokumentasi, ada yang hanya duduk. Sudah ada Restu dan Sudi, karena satu tempat kerja dengan Ari, saya agak keheranan mereka di sana. Ternyata keduanya masuk shift pagi. Ari mendapat shift malam, yang seharusnya libur, tapi mengambil hari ini agar besok pas ke pantai ia bisa mengganti liburnya.

Saya duduk di dekat meja bundar. Menunggu aba-aba untuk makan. Kebetulan, saya juga belum makan dari makan siang. Jadi saya masih sangat on fire untuk mencoba semua menu di meja. Ada daging, ada sosis yang dipotong-potong, cumi, dan mie yang saya tidak tau apa namanya.

Setelah dapat aba-aba makan, kami mengambil mangkuk plastik untuk diisi nasi. Kemudian mengambil lauk dan sesekali mencoba menggulung daging dengan selada. Ternyata, ekspektasi saya tidak jauh berbeda. Rasa gurih dari daging, dipadukan dengan kesegaran dari selada. Saya tak bisa baca mendeskripsikan tapi begitulah adanya.

Barbeque, Pantai, dan Pondok

Setelah itu, saya menyimpan tempat makan. Menunggu yang lain makan untuk mencoba daging dan selada sesekali. Dandi juga baru pulang dari kampus saat itu. Setelah menyimpan tas, ia keluar untuk bergabung. Ada banyak istilah dalam barbeque yang keluar dari mulutnya. Saya tidak begitu mengerti. Kami hanya sibuk menertawai Ali yang terus menambah nasi.

"Tutup telinga saja saya," sambil tersenyum saat semua ketawa.

Bisa dibilang, Ali itu senang makan. Jadi, kami cukup sering menganggunya. Ia bisa makan dua kali lebih banyak ketimbang kami. Makanya, kami sering memanggilnya Tanboy Kun. Beberapa kali saya ajak untuk bikin channel makanan di YouTube. Saya siap jadi editor. Kalau berhasil, kami bisa dapat uang dari sana. Tapi ia masih memikirkan imejnya. Ha ha ha.

Setelah semua kenyang, saya mendekat untuk belajar memegang sumpit. Diajarkan oleh Ibu Riki dan Novi. Susah-susah gampang. Beberapa kali daging dan sosis yang saya jepit terlempar. Tapi saya sudah tau tekniknya. Tinggal dibiasakan saja kalau mau fasih.

Video dari Ibu Riki saat me-WhatsApp saya

Sekitar hampir jam 10, Ari datang. Kompor sudah dibawa masuk karena daging sudah dimasak semua. Ari mencoba beberapa kali sebelum kami ngobrol dan pulang karena besoknya mesti bangun pagi untuk ke pantai.

Saya bangun jam 8 lewat, dibangunkan Ari. Cuci muka dan duduk di teras. Sudah ada Kak Rijal yang dari membeli ikan dan Ombe yang datang dari rumahnya. Saya ijin masuk mandi setelah Ari juga pulang untuk mandi. Setelah siap, kami ke teras Riki tapi semua sudah bersiap pergi. Saya tidak membawa motor karena sudah ada Dandi yang membawa motor kak Rijal, sementara itu Kak Rijal menyetir mobil Ibu Riki.

Saat pergi, kami berpisah menjadi tiga bagian. Saya, Dandi, dan Riki membeli arang, Ari dan Ombe membeli bola plastik, Ali dan Noval ke POM Bensin. Padahal setelah itu, saya dan Dandi juga mengisi bensin di tempat yang sama. Sempat berpisah karena kami mengambil jalur yang berbeda. Karena habis hujan, jalanan becek dan aspal yang rusak menambah kekesalan saat ban beberapa kali menginjak lubang.

Setelah hampir menyentuh gerbang, semua mulai terlihat. Dimulai dari Ali, kemudian Noval, Ari, dan Ombe. Disusul oleh Kak Rijal yang membawa mobil. Di sana, kami memakai Noval sebagai tameng agar masuk mendapat diskon. Beruntungnya, kami digratiskan dua motor, tapi karena teledor yang gratis hanya Riki.

Kami yang membawa motor, mencari tempat dan gazebo yang nyaman. Rencananya tepat di belakang ayunan Nipa-Nipa. Dan kami mendapat satu gazeboo dengan harga 100 ribu. Setelah menyimpan barang ke gazebo, saya dan Ombe membersihkan ikan sekaligus membuang ingsan dan perutnya sementara yang lain bertugas membuat bara api.

Sembari membuka ingsan dan isi perut ikan, saya ngobrol ringan bersama Ombe. Ohya, Ombe ini adalah bagian dari keluarga Ari, jarang saya sebut karena memang hanya beberapa kali main bersama kami. Nama aslinya Riki Aryan, atau Riki Ombe, akrab dipanggil Ombe. Kalau saya menyebut Riki, nanti akan kebingungan dengan Riki yang satu.

Sebenarnya, malam itu Ombe mau datang. Malam Minggu dan sedang tidak ada acara. Tapi karena tidak ada ajakan, ia tidak tahu bahwa malam itu ada acara. Saya juga tidak mengajak karena saya sendiri juga diajak secara personal. Kami cukup gesit membersihkan ikan. Api belum menyala secara sempurna, kami sudah datang membawa ikan.

Kak Rijal bertugas sebagai tukang bakar no. 1. Dibantu oleh beberapa orang, termasuk Ali dan Ombe. Kami hanya menyaksikan dan mencoba menjadi teman yang suportif. Tempat pembakar lebih dulu kami olesi minyak agar kulit ikan tidak lengket saat dibalik. Tapi sama saja. Saat ikan dibalik, kulit dan dagingnya masih menempel. Ada satu ikan kecil yang jatuh, tapi diselamatkan Ali dengan cara dimakan.

Barbeque, Pantai, dan Pondok

Barbeque, Pantai, dan Pondok

Saya menepi ke gazebo. Pergi bersama Dandi yang sedang mengerjakan tugas. Sebelum ikan datang, hammock yang dibawa Dandi lebih dulu dipasang. Hammock yang dibawa Dandi cukup besar. Jarang ia gunakan karena kesibukan dunia kampus. Ia juga bukan pendaki, jadi selama ini, ia tidak benar-benar menggunakan hammock itu secara maksimal.

Saat masih ngobrol, Rendy datang. Tidak sendiri karena ditemani Akong. Teman SD-nya yang juga menjadi teman SMP dan SMA. Saya kenal ia karena rumahnya tidak jauh dari rumah. Saat kecil, ia sering main ke rumah. Saya ingat betul masa-masa itu, ketika musim-musim kelereng masih aktif

Barbeque, Pantai, dan Pondok

Ikan datang, kami makan. Beberapa dari kami, para lelaki, menepi ke tempat gazeboo batu. Itu lebih semacam meja yang terbuat dari semen dan ada kursi semen dipinggirannya. Kami makan disitu. Setelah makan, kami ngobrol dipinggir gazebo dekat berdirinya hammock sembari foto-foto. Ada banyak yang kami cerita tapi terlalu personal untuk diceritakan ulang disini.

Barbeque, Pantai, dan Pondok
Formasi lengkap. Difoto oleh Novi.
Barbeque, Pantai, dan Pondok

Setelah itu, kami bermain bola. Kami main empat lawan empat. Dari tim saya ada Ali sebagai kiper, Riki, Ombe, dan saya sebagai playmaker. Gol pertama datang dari tim kami yang dicetak oleh saya sendiri. Gol yang saya cetak mirip gol sleding Irfan Bachdim Timnas Indonesia lawan Malaysia. Gol kedua juga dari saya. Selanjutnya saya lupa yang terjadi karena kami hanya bermain-istirahat-bermain.

Setelah bermain bola, air sudah naik meski baru selutut. Beberapa orang turun untuk mandi dan ke tengah. Saya hanya duduk di gazebo beristirahat karena masih capek. Lagipula, matahari siang itu terik sekali. Di gazebo masih ada Dandi yang mengerjakan tugas, Noval yang menonton anime, Ari yang tidur diatas hammock dan beberapa lainnya termasuk Ibu Riki.

Barbeque, Pantai, dan Pondok
Ombe dan Kak Rijal. Difoto oleh Riki.
 

Setelah mereka naik, kami bersiap pulang. Sembari menunggu yang lain bilas, kami ngobrol santai di gazebo. Seperti obrolan biasa, menceritakan ulang dari perspektif masing-masing. Kebanyakan terdengar lucu dan menarik. Kami langsung ke Pondok Kak Rijal. Rencana tidak akan bermalam. Di sana adalah saya, Ari, Riki, Ombe, Rendy, dan Akong. Ali pulang untuk mandi karena ada kegiatan di kampusnya. Katanya, ia akan datang setelah selesai.

Ombe pulang, Akong diantar pulang. Karena capek menunggu dan sudah lapar, kami membeli makan di dekat Pondok, warung Sari Laut yang kami kenali. Setelah makan, Ali datang. Kami membohonginya dengan bilang ingin menepi makan sebelum pulang. Karena tak lagi bersama Dandi, saya bersama Riki sementara Ari bersama Rendy karena Ombe sudah lebih dulu pulang.

Ari dan Rendy ternyata balap saat saya dan Riki tertawa kasihan melihat Ali berhenti di tempat makan yang kami sepakati. Sembari itu, ia bunyi di dalam grup WhatsApp dan menanyakan kabar. Tapi tidak saya jawab. Kurang ajar memang. Ha ha ha. Pulangnya, baru saya jawab dengan alasan hujan. Tidak menjadi masalah besar. Kami tidak tahu, apakah Ali sudah tahu atau tidak tentang ini. Baru kali itu, kami mengerjainya dengan rasa kasihan.

Related Posts

8 comments

  1. Tiap kali baca cerita keseruan Mas Rahul dan teman-teman tuh rasanya hangat banget. Udah lama sekali saya nggak ngumpul ramai-ramai seperti ini bareng sohib-sohib 😁

    Jadi ini tuh judulnya barbeque-an dua hari berturut-turut yaa? Hari pertama makan daging, hari kedua makan ikan hahahaha saya nelen ludah lihat seladanya. Sejak hamil ini saya malah ngidam banget makan sayur mentah macam salad, lalapan dan sejenisnya. Tapi apa daya nggak boleh sama sekali hiks. Padahal membayangkan daging dibungkus selada kemudian dicocol sambel aja udah nelen ludah berkali-kali 😂

    Duh, si Ali apa kabarnya yaa? Kok saya jadi mikirin nasib dia sih wkwkwk

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya kak Jane, saya cuma menjalankan tugas sebagai remaja yang menyenangkan. Sebelum banyak prioritas lain kedepannya 😁 Mungkin kak Jane bisa atur waktu untuk reuni kecil-kecilan, sekalian silaturahmi sama teman lama.

      Iya kak Jane, dua hari berturut-turut. Sabtu malam, kemudian dilanjut Minggu pagi. Saya baru tahu perempuan hamil tidak boleh makan selada, saya taunya ngga boleh makan daging setengah masak saja kak Jane.

      Beberapa saat setelahnya, dia juga pulang. Mungkin sadar kami kerjain 😅

      Delete
    2. Sama kaya Mba Jane, klo liat Mas Rahul bareng temen2nya kok kayanya seru dan menyenangkan banget. Bikin aku inget masa2 muda dulu.. (kemudian berasa tua 😆😆)

      Seru banget ya Mas Rahul, ibunya Riki seru bgd jd host barbekyunya yaa 😁 Besokannya malah juga bakar2an ikan yg seger2. Mantaab

      Delete
    3. @Thessa: lingkaran kehidupan memang seperti itu. Posisi saya sekarang ini memperbanyak cerita masa remaja, biar banyak yang bisa dikenang, banyak yang bisa ditulis dan diceritakan ulang.

      Iya kak Thessa, apalagi kalo makan rame-rame itu nikmatnya jadi dobel 😁

      Delete
  2. Sekalinya bisa BBQ-an langsung dua kali ya, mas 😂 Lumayan banget ituuu ikannya terlihat segar-segar, apakah salah satunya Baronang yang mas Rahul bilang? 😍 Kok agak mirip dari bentuk skinnya hahahahaha *asal tebak*

    By the way, ibunya Riki baik banget, mengingatkan saya akan tetangga jaman masih tinggal dengan orang tua. Karena dulu rumah orang tua saya dikomplek yang tetangganya akrab kanan kiri depan belakang, jadi sering dipanggil untuk makan di rumah mereka sama-sama 😁 hehehehehe. Kalau sekarang, saya nggak kenal tetangga saya siapa, individual semua, mana banyakan foreigners pula 🙈

    Ohya, saya setuju sama mba Jane, setiap baca post mas Rahul bersama teman-teman rasanya hangat, dan itu tersampaikan melalui cerita yang dituliskan. Semoga hubungan selalu terjaga, meski kelak prioritas berubah 😆

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya kak Eno, gratis lagi 😅 Disitu tidak ada baronang kak Eno, yang kak Eno tebak menyerupai kulitnya mungkin jenis ekor kuning. Tapi beda.

      Iya, di tempat saya kanan-kiri-depan-belakang setidaknya akrab semua. Kadang bikin acara kecil-kecilan macam makan gorengan atau Bubur Manado. Itu rumah kak Eno yang mana? Yang di Bali atau Jeju?

      Aamiin kak Eno, saya cuma menjalankan peran sebagai remaja yang mudah-mudahan menyenangkan. Alhamdulillahnya, didukung oleh kawan yang juga keren dan menyenangkan. Doa yang sama untuk kak Eno dan kesayangan 😇

      Delete
  3. Sama kayak Jane, seru banget dan hangat rasanya kalau baca ceritanya Rahul sama teman-teman. Asik banget doong kali ini barbeque dua kali, daging dan ikan. Apakah ini BBQ-an disponsori sama ibunya Riki?

    Aku udah lama banget ga makan ikan bakar, lihat ikan-ikan gendut di bakaran itu langsung ngiler padahal ikannya juga belum terbakar di situ ahaha... itu ikan apa aja btw Rahul?

    ReplyDelete
    Replies
    1. Saya hanya mencatat kejadian yang saya anggap bisa dan penting untuk diceritakan. Kebetulan momennya pas sekali. Kalo urusan sponsor, jelas itu ditanggung oleh Ibunya Riki. Jadi kita tinggal makan saja 😁

      Kalo soal bakar ikan, kesegaran ikan memang faktor penting. Kebetulan saya ngga tau banyak jenis ikan, saya hanya tau itu ekor kuning, dan setau saya yang dijepit itu ikan rumah-rumah. Jenis yang paling besar saya tidak tau 😁

      Delete
Terimakasih sudah membaca. Sila berkomentar terkait tulisan ini.