zsnr95ICNj2jnPcreqY9KBInEVewSAnK0XjnluSi

Rekapan Akhir Tahun: Bukan Resolusi

Semua orang sibuk membuat resolusi untuk tahun ini, tapi saya tahu semuanya tidak berjalan sebagaimana adanya. Tahun 2020 bisa dikatakan tahun yang benar-benar brengsek. Saya tidak menduga menjadi kepala dua dengan situasi seperti ini. Kalau dalam sinetron, mungkin ini adegan foto atau piring jatuh yang menandakan sebuah kesialan.

Semua dari kita punya cara untuk bertahan. Ada yang berhasil, tapi sayangnya ada yang tidak. Melewati dua bulan pertama pandemi memang penuh kecemasan. Saya sampai mengurung diri hampir dua bulan karena merasakan gejala yang saat itu diidentifikasi sebagai gejala awal corona. Kemudian beberapa bulan lalu, saya kehilangan indera penciuman. Lagi-lagi ini mengacu pada gejala corona.

Saking takutnya, awal pandemi, saya dan Adik no. 3 selalu berjemur dipagi hari. Membaca literatur tentang imun dan bagaimana menguatkan imun. Saat itu, saya tidak berolahraga karena memang takut ke lapangan dekat rumah karena asumsi saya pasti akan ramai. Saya mengurung diri di kamar, keluar hanya untuk makan. Padahal waktu itu, beberapa orang termasuk orang rumah saya biasa-biasa saja.

Meski begitu, setiap melihat lonjakan data pasien positif mereka juga was-was. Saat itu, masker dan antis sangat langka dan mahal. Para pengepul masker menyetok dan menjual dengan harga yang tak wajar. Saya sampai berpikir untuk tidak keluar rumah saja sampai pandemi ini benar-benar kelar agar tak perlu membeli banyak masker. Saya tidak tahu, kondisi para pengepul itu saat masker sudah banyak dijual bebas dengan harga normal.

Saat awal pandemi, banyak berita tentang aksi pemuda di warga desa terpencil yang membuat semprotan khusus untuk warga yang keluar masuk daerah atau kawasan tersebut. Ada juga desa yang menutup jalan untuk kawasan mereka terhadap orang luar. Saat itu, saya merasa tindakan tersebut keren dan sudah menunjukkan gejala akan terjadi dystopian macam The Walking Dead.

Rekapan Akhir Tahun: Bukan Resolusi

Ada perasaan untuk ikut andil menjaga daerah tempat tinggal saya untuk menjadi orang yang membatasi perempatan lorong saya agar tidak ada orang luar yang keluar-masuk. Saya membayangkan diri saya memakai masker pilox dengan berbagai macam alat keamanan. Saya sudah membayangkan betapa kerennya menjadi Daryl Dixon.

Meskipun saya juga tahu dan mengerti, kita semua belum siap dengan ini. Mengambil jalan untuk lockdown tiga hari saat itu memang langkah awal yang masih diraba-raba. Untuk kelas menengah keatas mungkin masih akan baik-baik saja. Tapi bagaimana dengan mereka yang mengandalkan hidup dari penghasilan harian saja. Kalau kata mereka,"lebih baik mati dengan corona, daripada melihat keluarga mati dan hanya berdiam diri".

Beberapa bulan setelahnya, setelah masa PSBB, saya mulai terbiasa dengan semua ini. Puncaknya saat saya mengikuti ibadah salat eid di rumah salah satu tetangga saya. Sebab waktu itu saya masih takut untuk ke Mesjid dan berkumpul dengan banyak orang. Orang rumah saya tentu akan ke Mesjid. Tapi itu tidak masalah. Penerapan protokol saat itu juga masih ketat, jadi saya tinggal mencemaskan mereka agar tidak melanggar itu.

Sekarang, kita kenal dengan new normal. Keadaan yang memaksa kita untuk beradaptasi akhirnya pelan-pelan membuat kita terbiasa. Saya tidak bilang ini langkah yang baik, tapi ini usaha yang memang perlu dan harus dilakukan. Secara sadar atau tidak, kita semua akan pelan-pelan menerima semua ini. Dari yang tadinya penuh kecemasan hingga biasa-biasa saja.

Dikepala saya, tubuh saya sudah dua kali terkena corona. Meski tidak ada validasi dari pihak medis. Dan saya yakin sebagian atau mungkin semua orang di rumah saya juga sudah terdampak. Apalagi jika acuannya dari kehilangan indera penciuman itu. Setelah membaca tentang herd immunity, keyakinan saya kekebalan kami sudah lebih baik dari sebelumnya.

Ini bukan langkah untuk tidak hati-hati. Malah, saya merasa, ini adalah petanda baik untuk semua yang sudah terdampak dan berhasil sembuh. Penerapan herd immunity yang dulunya direncanakan, sudah terjadi secara tidak langsung. Dengan begitu, harapan saya tahun 2021 akan jauh lebih baik dari ini. Kita bisa melakukan hal-hal yang tidak kita lakukan tahun 2020. Kuliah tatap muka, salah satunya.

Bicara soal kuliah online, jujur saya muak dengan semua ini. Apalagi waktu awal pandemi. Saya tidak lagi bisa mengidentifikasi antara waktu belajar, mengerjakan tugas, dan beristirahat. Makanya, ini mungkin akan jadi simulasi atau gambaran untuk orang-orang yang ingin hidup jadi freelance. Bahwa pekerjaan yang kita damba-dambakan sebagai pekerjaan bebas, tidak sepenuhnya bebas juga.

Syukurlah, saya juga mulai menerima hal ini. Meski saya tetap ingin rencana kuliah tatap muka pada bulan Januari itu terlaksana. Saya mungkin belum siap menggunakan masker secara lama, apalagi di ruangan, tapi saya lebih memilih jalan itu ketimbang harus melakukan kuliah online berkepanjangan. Saya akan menuruti aturan cuci tangan dan menjaga kebersihan kalau itu yang diperlukan.

--

Sudah bahas pandeminya, itu cuma sebagian kecil dari keresahan saya. Kemarin saya dapat paket dari kak Eno. Isinya buku catatan dengan tulisan nama saya didepannya. Keren. Warna hitam lagi. Terimakasih kak Eno untuk hadiah akhir tahunnya. Rencananya, buku itu akan saya isi dengan beberapa catatan dan puisi. Tapi sampai saat ini belum ada isinya. Ha ha ha.

Rekapan Akhir Tahun: Bukan Resolusi

Beberapa hari ini, saya mengaku dan mungkin terlihat mengeluh dengan banyaknya tugas saat memasuki ujian tengah semester ini. Tapi memang begitulah kenyataannya. Saya tidak akan terlalu ambil pusing lagi. Saya cuma ingin melewati 2020 dengan segala tetek bengeknya. Lagipula, cumlaude juga bukan tujuan utama saya.

Itu saja sih. Selebihnya saya hanya ingin tetap bisa nulis, tetap bisa nonton, tetap bisa baca, tetap bisa main, tetap bisa bahagia dan menikmati semua hal baik ditengah kesibukan ini. Aamiin.

Related Posts

14 comments

  1. Amiiinnnn untuk doa dan harapan yang Rahul panjatkan. Semoga tahun depan bisa lebih baik. Itu yang semua orang doakan πŸ™πŸ»
    Jaga kesehatan selalu ya, Hul!

    ReplyDelete
    Replies
    1. Aamiin kak Lia. Doa yang sama untuk kak Lia. Aamiin.

      Delete
  2. Luar biasa menyebalkan emang 2020 ini yaa? Dan bener-bener ga terduga juga tiba-tiba semuanya berubah, jungkir balik begini haha.

    Entah kenapa aku juga sempat beberapa kali mikir kalau aku udah pernah terpapar juga, soalnya masih setiap hari keluar rumah buat ngantor dan tiap hari naik ojek pula. Makanya bener-bener kalau sampai rumah langsung ke kamar mandi bersih-bersih semuanya.

    Semoga tahun berikutnya bisa jauuuh lebih baik yaa Rahul. Minimal seenggaknya kembali ke normalnya sebelum 2020 lah. Selalu jaga kesehatan juga yaa Rahul...

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya, soalnya Januari-Februari itu masih aman. Sekalipun ada berita di Wuhan, kita tetap biasa-biasa saja karena katanya covid ngga masuk di Indonesia.


      Iya, salah satu solusi yang cukup bijaksana adalah setelah sampai rumah langsung bersih-bersih. Itu juga yang coba saya lakukan.

      Iya kak Eya. Aamiin. Kak Eya juga jaga kesehatan..

      Delete
  3. Aamiin untuk doa-doanya Mas Rahul πŸ™
    Semoga kuliah dan pembelajarannya lancar terus ya Mas meskipun harus online dan itu pasti capek banget deh dan bener cumlaude memang bukan segalanya yang penting kita bisa buktikan kalo ilmu kita gak kalah sama yang cumlaude
    Semoga nanti tahun baru semuanya jadi lebih baik ya....

    ReplyDelete
    Replies
    1. Asli capek. Makanya, saya pengen buru-buru Januari biar bias kuliah normal.

      Malah saya mikirknya bukan bagaimana bisa cumlaude, tapi ilmu saya bisa kepakae juga di lingkungan saya.

      Aamiin kak Tika. Aamiin.

      Delete
  4. yes, semangat terus kaka rahul
    semoga di tahun 2021 nanti menjadi pribadi yang lebih baik, lebih bahagia lagi, kuliah tatap mukanya berjalan lancar.
    ngomong-ngomong soal kuliah online, orang tua yang anaknya masih SD juga merasa capek dan bosan buat mengajari anaknya dirumah, ini pengalaman temen aku sendiri. Ujian dirumah malah bisa buka contekan, nilai ujian juga nggak pure itu hasil pemikiran sendiri atau dari contekan :D
    Guru pun mau nggak mau datang kerumah muridnya untuk memastikan lagi pelajaran yang disampaikan online bisa diserap siswanya dengan baik.
    pokoknya tetep jaga kesehatan

    ReplyDelete
    Replies
    1. Aamiin kak Ainun. Doa yang sama juga untuk kak Ainun.

      Kalau problemnya itu, saya mesti bilang kayaknya itu tugas orangtua yang selama ini luput. Tapi kalau masalah contekan itu, memangnya kapan nilai itu pure hasil pemikiran sendiri? Sangat sedikit peluangnya, orangnya.

      Iya, kak Ainun juga jaga kesehatan..

      Delete
  5. Not a good year untuk memulai kepala dua ya mas Rahul, hahaha tapi nggak apa~lah yang penting mas Rahul sehat, tetap bisa makan gorengan dan bakar-bakar ikan sama manteman πŸ˜‚

    Eniho, tahun ini memang tahun yang penuh kejutan. Setiap orang dipaksa untuk adaptasi dengan sesuatu hal yang baru, termasuk saya. Sebetulnya saya pun paling malas kerja lewat videocall. Meeting lewat videocall. Semua lewat videocall. Kurang afdol rasanya hahahaha. Tapi dari setiap hal yang menyebalkan, tentu ada banyak yang menyenangkannya pula. Jadi sekarang saya fokus lihat ke sana. Hehehehe πŸ˜†

    Semoga harapan mas Rahul bisa terkabul, ya. Selalu bahagia πŸ’•

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya, itu yang paling penting. Sehat dan masih bisa main sama teman 😁

      Benar juga sih kak Eno, kayaknya kita mesti membiasakan diri dan melihat hal-hal yang menyenangkan dari sana. Saya pikir, itu solusi bijaksana saat ini.


      Aamiin kak Eno. Doa yang sama untuk kak Eno 😁

      Delete
  6. 2020 ini memang tahun yaa penuh kejutan ya. Huhu. Semoga 2021 akan lbh baik, kita semua diberikan kesehatan dan Mas Rahul bisa ikut kuliah tatap muka lagi.
    Ngomong2 tntng jdwal, banyak yg bilang jdwal jd berantakan. Bahkan suami aku sndiri juga gt, kerjanya jd ga nentu jdwalnya karena kita sndiri yg memasang deadline. Klo aku pribadi, selalu membiasakan pagi udah di depan meja kerja walau wfh, mlm pun tdk begadang biar daya tahan tubuh tdk drop. Mungkin bs coba mengatur waktu muali aktivitas pagi2 gt Mas Rahul. Hehehe..

    Btw, journal Mba Eno cakep yaa, ada namanya lg 😍 punya aku udah dipake nulis catt ide2 menulis n aku tambahin stiker2 lucu biar makin bikin semangat. πŸ˜†

    ReplyDelete
    Replies
    1. Aamiin kak Thessa. Terimakasih doa baiknya. Doa yang sama untuk kak Thessa.

      Benar kak Thessa, kayaknya saya mesti membiasakan diri untuk bangun pagi dan tidur lebih awal.

      Iya, keren sekali. Saya suka warna dan desainnya.

      Delete
  7. Aamiin, semoga apapun do'a yang Rahul panjatkan dapat terkabul. Setidaknya meski sampai nantipun negara kita belum benar-benar pulih, semoga Rahul dan kita semua bisa menjadi bagian dari orang-orang yg sehat dan terjaga🀧✨. Karena saya nggak ngalamin kuliah online:'), melainkan cuma sisa-sisa waktu untuk bimbingan, saya nggak bisa membayangkan betapa stress dan overwhelmed-nya kuliah virtual ini. Karena itu pastikan stay sane and stay healthy as always ya, Rahul. Dan semangat untuk UTS juga UAS-nya nanti!πŸ’ͺ🏻

    ReplyDelete
  8. Wah ternyata Mas Rahul mengawali usia kepala dua bertepatan dengan tahun kembar ini yaa. Tapi memang nggak ada yang pernah siap menghadapi tahun 2020 ini sih. Mengutip apa yang pernah dibilang Mba Eno, bisa bertahan aja udah sangat bersyukur. Itu pun yang saya jalani sejak pandemi di Indonesia dimulai.

    Awalnya saya juga sama dengan Mas Rahul tuh. Parno banget ke mana-mana, sampai akhirnya di titik "yaudalah yaaa yang penting gue sehat dan menjalani protokol kesehatan", embracing the new normal ceritanya πŸ˜‚

    Semangat mas Rahul untuk kuliah online dan juga ujian akhirnya! Semoga semuanya berjalan dengan baik, sehat-sehat selalu dan stay happy!

    Btw, iya jurnal dari Mba Eno cakep banget yaa. Saya berasa kayak penulis profesional gitu lhoo saat memegang jurnal hitam tersebut 😝

    ReplyDelete
Terimakasih sudah membaca. Sila berkomentar terkait tulisan ini.