zsnr95ICNj2jnPcreqY9KBInEVewSAnK0XjnluSi

Dipaksa Siap: Sebuah Ceracau

Seperti yang sudah-sudah, saya ingin membahas satu hal yang mungkin juga dialami oleh kebanyakan orang. Saya bicara seperti itu karena saya tidak ingin sendiri. Meski tanpa suara, saya tahu beberapa hal ini ada dibenak kalian. Jadi biarlah saya mencaci maki pandemi ini sebagai hal yang tidak saya inginkan. Bahwa pada akhirnya ada yang mendapat berkah dari sana, maaf-maaf saja.

Saya benci kuliah online. Atau, saya benci hal-hal yang dilakukan secara online karena pandemi. Dulu, hal yang dikerjakan secara online terlihat keren karena itu adalah opsi altenatif. Sekarang, orang malah menjadikan ini opsi utama. Kalau memungkinkan, barulah digunakan kalimat "mengikuti protokol kesehatan yang berlaku".

Saya benci kuliah online karena saya tidak lagi bisa membedakan mana waktu kuliah dan waktu saya istirahat dan bermain-main. Tentu intensitasnya tidak separah awal pandemi, tapi ini masih sangat menyiksa. Katakanlah saya bangun pagi sekali. Mempersiapkan diri untuk kuliah online dengan hanya mencuci muka. Info lalu datang dari ketua tingkat untuk mengatakan kuliah diundur ke jam atau hari yang lain.

Katakanlah saya tidak tahu apa yang dilakukan seorang dosen. Saya tahu ada hak yang ia harus lakukan, ada kewajiban yang harus ia jalankan. Tapi dengan mengundur waktu dengan cara sepihak bukan hal yang bisa saya terima. Kalau misalnya argumennya,"kan hal mendesak tidak bisa diprediksi.". 

Kalau mau fair, semua orang juga punya waktu mendesak untuk kuliah online. Memindahkan jadwal dengan hanya konfirmasi pada ketua tingkat, misalnya, kemudian itu di konfirmasikan lagi ke grup kelas. Lagi-lagi suara dominan yang berbicara. Bagaimana dengan kesepatakan yang sudah terjadi. Bisa saja, ada hal mendesak yang ditunda untuk hal yang dibatalkan secara sepihak.

Belum lagi dengan tugas, saya sebenarnya tidak ingin mengomel di dalam grup WhatsApp karena sudah terlalu banyak yang mewakili. Namun, dengan tugas yang tidak sebanding dengan materi adalah hal yang juga tidak bisa saya terima. Katakanlah argumennya,"kamu ini mahasiswa, harus mencari sendiri materinya". Oke, mari kita fair-fairan lagi. Bagaimana dengan teman-teman yang aksesnya kurang memadai. Bukan saya, tapi yang lain. 

Dipaksa Siap: Sebuah Ceracau

Ha ha ha. Saya tidak ingin menjual derita, tapi itulah yang terjadi. Banyak yang tidak punya jaringan sebagus saya untuk bisa mengikuti kuliah online. Mesti mencari tempat dengan koneksi stabil meski harus ke pantai. Namun ketika terlihat seperti belajar di luar ruangan dengan kondisi tidak siap, ia dipaksa keluar dengan argumen yang menurut saya sangat otoriter.

Apalagi, masalah jaringan ini begitu pelik. Ada beberapa teman saya yang kadang jika ingin masuk ke ruangan kuliah online, ia mesti keluar masuk karena kendala jaringan. Atau ketika jaringan tidak memadai seperti waktu itu, saya dikeluarkan karena tidak mendengarkan suara dosen mata kuliah saya. Padahal, itu karena jaringan, karena teknologi.

Saya sebenarnya tidak ingin menitikberatkan masalah ini kepada dosen. Ada banyak dosen keren yang bijaksana. Tapi ada juga yang tidak. Tanpa menyebut nama-nama beliau, mungkin itu kesalahan yang harusnya sama-sama dibenahi. Bahwa pandemi ini, bukan ajang untuk mengambil sikap otoriter sebagai empunya wewenang lebih.

Ada yang namanya kompromi. Kompromi antara mahasiswa dan dosen bisa dilakukan dengan baik. Saya senang dengan satu-dua dosen di dunia nyata, tapi merasa kecewa saat ia harus mengambil sikap otoriter ditengah situasi ini. Saya tidak senang dengan satu-dua dosen di dunia nyata, tapi nyatanya ia cukup bijaksana dalam menanggapi situasi ini.

Tidak ada argumen yang pantas lagi diperdebatkan selain mengambil sikap saling kompromi. Bahwa pada akhirnya kami menjunjung tinggi nama baik dosen, itu memang perlu. Bahwa pada akhirnya kami juga berhak menuntut sesuatu yang tidak benar, itu sebuah keberanian yang saya ambil. Pada akhirnya, saya tidak berbicara individu.

Saya bicara kepada semua. Ini masalah yang kompleks. Teknologi memang memudahkan, tapi dengan segala macam tetek bengek pandemi kita dipaksa untuk siap. Sehingga beberapa oknum yang tidak siap, memanfaatkan sikap otoriter agar bisa tetap merasa nyaman dan normal. Teman-teman saya tidak minta aplikasi Zoomnya keluar sendiri, saya tidak minta suara dosen yang mengajar tidak terdengar, kami tidak minta hal itu semua. Tapi situasi ini, memaksa kita menjalani itu semua. Kita dipaksa siap. Tapi dengan tau cara bersikap, kita sudah menunjukkan bagaimana diri kita sebenarnya.

--

Ini adalah ceracau saya beberapa bulan yang lalu, ditulis saat tugas saya sedang banyak-banyaknya. Saat dibaca lagi, saya seperti Ibu-Ibu yang sedang mengomel saat ditegur belok kiri sein kanan. Tidak masalah. Saya tetap publish untuk menutup 2020 dengan hal-hal yang tidak baik. Dengan harapan, semoga 2021 menjadi lebih baik dan 2020 adalah manual book yang bisa kita gunakan untuk bersikap.

Semoga menjadi bijaksana untuk menanggapi tulisan ini. Kondisi saya sekarang masih berkutat dengan tugas, meski tidak sebanyak kemarin-kemarin. Alhamdulillah. Bagaimana itu terjadi? Saya kira itu lahir dari kebijaksanaan semua orang, semua pihak, yang ikut terlibat dalam fase sebab-akibat kehidupan ini.

Related Posts

20 comments

  1. Been there done that mas. Bedanya bukan sebagai murid ..��

    Protes juga tidak berguna. Akhirnya sampai pada kesimpulan. Di masa pandemi ini, jangan kita berharap terlalu banyak pada manusia. Temukan cara cerdik kita sendiri keluar dari lubang masalah..

    Reaksi setiap orang hadapi pandemi baru kali ini kita alami sendiri. Ada yg tetap bertanggung jawab, ada yg berkembang, ada yg memanfaatkan kondisi, ada yg stress. Manapun tetap ada task yg hrs diselesaikan. Yg penting tujuan kita apa dan bgmn menuju kesana.
    Itu saja sih..

    ReplyDelete
    Replies
    1. Seharusnya memang seperti itu kak Phebie. Cari solusi ketimbang mengeluh. Tapi dengan catatan tidak merugikan orang lain.

      Perspektif yang menarik. Tapi kalo semuanya tentang bagaimana bisa sampai ke tujuan masing-masing, saya rasa dunia ini sudah begitu mengerikan. Macam sudah mencapai fase dystopian.

      Delete
  2. Sudah diwakilkan komentar saya oleh mba Phebie *eakh* πŸ˜‚

    Saya pun sebenarnya nggak begitu nyaman segala sesuatu dikerjakan lewat online, untungnya berjalan dengan waktu, masing-masing beradaptasi semua dengan keadaan. Jadi seperti yang mba Phebie bilang di atas, saya jadi bisa temukan cara cerdik untuk menghadapinya 😁

    Saya yakin, semua shock dengan pandemi ini dan belum terbiasa, alhasil, yang nggak siap akan terkesan otoriter, dan setiap personal jadi kelihatan bagaimana cara menyikapinya πŸ˜† Ada yang bagus, dan ada pula yang buruk. Hehehe. Kalau sudah begitu, tinggal bagaimana kita bereaksi terhadap apa yang kita hadapi di depan mata.

    Berhubung kita nggak bisa kontrol sikap mereka, dan yang bisa kita kontrol adalah diri kita, jadi kita fokus saja pada tujuan kita dan bagaimana cara untuk sampai ke sana (mengutip kata mba Phebie yang mantap) πŸ™ˆ

    Semangat mas Rahul, you can do it! πŸ₯³πŸŽ‰

    ReplyDelete
    Replies
    1. Perspektif yang menarik. Atau jangan-jangan, sayanya saja yang memandang demikian yak? Saya ngga mau berpikiran negatif dan tertutup oleh bias saya, tapi saya pikir ada jalan tengah yang namanya kompromi. Tapi kalau mau dipikir lagi, itu memang urusan individu masing-masing.

      Terimakasih perspektifnya kak Eno dan kak Phebie. Fokus ke diri kita memang adalah kata kuncinya. Semoga kita tidak tergolong orang yang demikian. Aamiin.

      Delete
  3. Setelah dibuat salfok dengan gambar John Wick, aku dibuat ketawa dengan pernyataan penutup dari Rahul perihal ibu-ibu yang mengomel ketika ditegur seins kanan malah belok kiri 🀣 ini nyata sekali adanya.

    Mengenai kuliah/pembelajaran online, sesungguhnya aku juga tidak suka dan tidak setuju melihat banyak sekali kendala dan kesulitan yang dialami lewat pembelajaran sistem online ini. Meskipun aku sendiri tidak mengalaminya, namun seringkali aku dengar curhatan mengenai hal ini, apalagi curhatan orangtua yang anaknya sekolah online. Aku rasa pembelajaran online ini tidak efektif, selain di satu sisi uang sekolah tetap dibayarkan dengan biaya normal, namun materi yang didapat tidak setimpal, bahkan untuk anak-anak SD cenderung orangtua yang mendadak dipaksa siap menjadi guru. Sungguh sangat tidak efektif.
    Juga kendala jaringan. Ini nggak bisa dipungkiri menjadi problem nomor 1. Apalagi jika dapat guru yang tidak mau mengerti problem yang ada...sungguh sangat disayangkan atas sikap yang diambil sang guru. Membaca cerita Rahul, membuatku lebih tidak mendukung dengan keberlanjutan pembelajaran sistem online. Semoga di tahun depan vaksin sudah siap dan pembagiannya merata sehingga siap untuk diadakan kembali pembelajaran lewat tatap muka.

    Tetap semangat ya, Hul πŸ’ͺ🏻

    ReplyDelete
    Replies
    1. Saya pilih poster film John Wick 2 sebagai representasi saja. Kalo perihal Ibu-Ibu itu, memang kebanyakan begitu, tapi tidak semua. Takut dimarahin Ibu-Ibu πŸ˜…

      Untuk kondisi saat ini, saya rasa kuliah online memang langkah yang paling baik. Saya cuma menitikberatkan pada cara orang-orang bersikap. Namun perspektif kak Phebie dan kak Eno sudah cukup untuk buat saya mikir lagi. Keren sekali kakak-kakakku itu πŸ˜†

      Siap, kak Lia juga tetap semangat dan riang gembira 😁

      Delete
  4. Lho lho, perasaan tadi siang saya baca nggak ada foto John Wick, baru ngeh pas baca komen kak Li, apa emang tadi kelewat yaa Rahul, tak kira iklan gituπŸ€”πŸ˜‚

    Well, Rahul, sayapun jengkel dengan situasi pembelajaran online begini, walaupun nggak fully merasakan. Soalnya saya nggak ngira akhirnya akan berlangsung lebih dari enam bulan kayak sekarang, turns out ekspektasi memang nggak pernah berbanding lurus dengan realita. Biar bagaimanapun, kita memang nggak bisa mengontrol mereka—yang seharusnya nggak menjadikan pembelajaran daring sebagai alasan untuk bersikap semena-mena (walaupun nggak semuanya begitu). Jadi saya setuju sama kak Eno dan kak Phebie yang super kerennn kalau udah berkomentarπŸ˜‚ yang paling baiknya berusaha fokus dengan diri sendiri, dan kalau perlu do'akan teman-teman dan juga para dosen agar tetap sehat dan semangat mengajarnya, supaya vibe positifnya juga bisa tertular ke mahasiswa😁

    Semangaatt Rahul! Hiyaat, bentar lagi libur semesteraaan!πŸ’ͺ🏻 ChayoooπŸ’ͺ🏻

    ReplyDelete
    Replies
    1. Mungkin memang kelewat Aina, soalnya saya udah pasang saat pertama kali publish πŸ˜…

      Iya, Aina, terimakasih sudah mengingatkan. Kalau ada satu hal yang menyelamatkan saya dari semua ketidakwarasan pandemi ini, itu adalah kawan-kawan saya, tontonan sebagai hiburan, dan menulis keresahan seperti ini. Bersyukur punya teman-teman keren yang bisa mengingatkan saya pada pemikiran negatif saya.

      Semangat juga untuk kamu, Aina 😁

      Delete
  5. Perlu anda ingat wahai sodara Rahul, bahwa dosen adalah tuhan. Sekeras apapun anda protes, tidak akan terdengar selama kampus anda tidak dirugikan dengan itu. Jadi daripada buang tenaga sia-sia buat protes, mending misuh-misuh. Biar lebih lega.

    Dosen seperti itu mungkin kurang ngerti teknologi, jadi tidak bisa kompromi dengan masalah-masalah tersebut. Atau mungkin dosen anda ini korban video tiktok yang dulu viral yang tentang cara ngakalin kuliah online biar terlihat menyimak padahal tidur. Jadinya dosen anda mengalami trust issue. Kasihan memang. Dosen anda perlu ke psikolog.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Suara kecil saya memang bukan untuk dosan, Mas Galuh. Suara saya untuk hati nurani orang-orang yang terlibat dari fase tersebut. Saya tidak pernah berekspektasi tulisan ini akan mengubah banyak hal, setidaknya saya sudah mengeluarkan keresahan saya. Itu saja.

      Saya tidak ada kuasa untuk berasumsi seperti itu. Mudah-mudahan tidak demikian. Meskipun demikian, tidak ada hak saya juga untuk melarang. Seperti kata kak Eno, mending sekarang lebih fokus ke diri saya sendiri saja

      Delete
  6. Saya berharap kak Rahul tetap bertahan dengan kondisi sekarang dan juga untuk semua pelajar yang saat ini sedang dalam keadaan sulit. Saat ini mungkin belum ada solusi tepat yang bisa mewakilkan, tapi bagaimana pun ya kita harus melewatinya kan?

    Tetep semangat ya, Kalo lagi jenuh dan gundah istirahatkan diri dulu. Stay safe kak Rahul! πŸ’ͺ😁

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya kak Reka. Saling menguatkan, saling mengingatkan.

      Terimakasih doanya kak Reka. Doa yang sama untuk kak Reka. Aamiin.

      Delete
  7. Memang benar sih, pandemi ini jadi mengacaukan segalanya. Aku juga sempat ngrasain waktu awal-awal pandemi waktu belum lulus, gimana harus absen kelas via online, harus ndengerin tutor untuk persiapan kenaikan kelas, padahal di sini nggak mudeng kudu ngapain. Apalagi kalau pas tiba-tiba guru ngasih tugas dadakan dan deadline yang mepet banget, rasanya pengin teriak :(

    Tapi apalah daya, mesti juga ujung²nya dikerjakan juga. Mau nggak mau kan??

    Ah, semoga pandemi segera usai, dan semuanya bisa pulih seperti sedia kala.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Oh, Syifana baru lulus pandemi ini? Memangnya sekarang umur berapa? Saya nangkapnya Syifana baru masuk kuliah, jika memang begitu, artinya Syifana tergolong mahasiswa yang menjalani semester awal secara online. Aduh, saya sekali. Experience awal itu indah sekali.

      Benar, Syifana. Apalah daya, semoga keadaan lebih baik kedepannya. Aamiin.

      Delete
  8. Ya Ampun Rahul. I feel you. But I dont have anything better to say.
    Tapi Iyah. Pandemi ini terjadi memang secara tiba-tiba dan masif. Maksa kita buat ngelakuin hal-hal yang belum terbiasa.
    Its Okay to be mad. tetapi, ingat marah-marah pun tidak menyelesaikan apapun. Apalagi posisi kita yang Mahasiswa dan nggak punya kontrol terhadap hal-hal yang dilakukan oleh orang lain. Yah memang satu-satunya jalan adalah saling mengerti tentang kesulitan yang dihadapi untuk jalan keluar yang lebih baik. Jika, mereka tidak bisa. Maka, bisa kita mulai dari diri sendiri ke orang lain.

    Semangat Rahul...

    ReplyDelete
    Replies
    1. Saling menguatkan saja mas Bayu. Itu sudah jauh lebih dari cukup dan bijaksana.

      Benar mas Bayu. Terimakasih sudah mengingatkan. Senang punya teman-teman keren

      Delete
  9. Komentarku sudah terwakili oleh mbak phebie dan mbak eno..πŸ˜…πŸ˜…

    Sudah sejak awal, banyak yang bilang kita tidak akan pernah siap dengan segala perubahan yang terjadi di masa pandemi seperti ini.

    Di dunia kerja pun juga mengalami hal yang sama. Bahkan jauh lebih parah. Semua mengeluh dengan keadaan yang terjadi. Dan selanjutnya banyak orang mulai menyesuaikan diri dan berkompromi dengan keadaan. Itu yang bisa dikerjakan. Lebih baik berkompromi, daripada menyalahkan keadaan yang terjadi.

    Semangat mas rahul.
    Ayo berkompromi dengan keadaan dan cari cara untuk menyelesaikan masalah yang terjadi πŸ˜„πŸ˜„

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya, mas Rivai. Dua komentar itu memang keren. Alangkah baiknya Tuhan memberi saya teman-teman keren seperti ini.

      Rencananya, saya tidak ingin menerbitkan tulisan ini. Ada banyak pertimbangan. Salah satunya adalah itu, apalah saya yang mengeluh ketika ada banyak orang, terutama teman saya yang punya resiko lebih besar ketimbang saya. Pertimbangan yang lain, saya ingin membuang tulisan ini dari draf saya. Caranya hanya dua, menghapusnya atau menerbitkannya. Agar tak sia-sia, saya menerbitkannya saja. Hitung-hitung membuang hal buruk dan menjadikan ini bahan tertawaan kedepannya πŸ˜…

      Terimakasih mas Rivai. Doa yang sama untuk mas Rivai

      Delete
  10. Mas Rahul yg lbh melek teknologi dan udah kuliah aja merasakan gt, aku kebayang gimana anak2 kecil yg terpaksa jg hrs kuliah online. Sering bgd di kelas anakku ujung2ny anaknya nangis krna ga ngerti jelas instruksi gurunya, sdangkan ortu nya ga bs nemenin krna hrs kerja..
    Tp yagitu, semua orang hrs berkompromi, karena semua ga bs berjalan dg sama. Jd semoga pandemi ini segera berlalu yaaa..

    ReplyDelete
    Replies
    1. Saya mungkin bukan contoh dan patokan yang baik. Tapi kalo mau dinilai begitu, tidak masalah. Semoga menjadi lebih baik kedepannya. Harapan saya cuma itu

      Delete
Terimakasih sudah membaca. Sila berkomentar terkait tulisan ini.