zsnr95ICNj2jnPcreqY9KBInEVewSAnK0XjnluSi

Hidup Ini Pendek, Lakukan Secara Perlahan

Ada satu kutipan yang cukup membuat saya terdiam untuk berpikir dalam waktu yang lama. Itu dari Mark Twain,"Life is short, break the rules forgive quickly, kiss slowly, love truly, laught uncontrollably, and never regret anything that made you smile". Pendek. Tapi benar-benar dalam.

Hidup Ini Pendek, Lakukan Secara Perlahan

Saya jadi berpikir untuk membreakdown satu-satu kutipan Mark Twain itu. Melihat lebih jauh, apakah saya yang berharap dan ingin kehidupan bebas sudah mendapatkan hal itu.

Break the Rules

Saya cukup pede jika mengatakan masa-masa remaja saya adalah hal yang cukup saya nikmati. Misalnya, ada banyak aturan atau pakem-pakem dari orangtua yang saya langgar. Misalnya saat saya bolos karena guru mata pelajaran setelah Jumat tidak datang. Atau bagaimana kami, keluar dari mata pelajaran Matematika karena merasa tidak ada yang kami dapatkan selain sakit kepala.

Ini bukan hal yang patut ditiru, meski dengan alasan apapun. Hal baik dan jahat itu sangat abu-abu. Tidak ada orang yang sepenuhnya baik, begitu pula tidak ada orang yang sepenuhnya jahat. Selalu ada dua sisi itu didalam dirinya. Misalnya orang yang dianggap baik yang mempunyai sisi egois didalam dirinya. Atau orang yang dianggap jahat tapi penyayang anak-anak.

Makanya, sekarang saya akan memperkenalkan diri saya sebagaimana adanya. Saya bukan orang yang baik, tapi saya juga bukan orang jahat. Saya manusia yang berperilaku dan bersikap seperti apa adanya. Punya sifat-sifat yang mungkin tidak akan kamu sukai. Tapi selama kamu baik kepada saya, saya akan mencoba untuk tidak melukaimu.

Bahwa pada akhirnya masih ada yang tak suka dan tidak saya senangi, itu adalah hal yang lain. Saya memilih untuk tidak membicarakan atau menggubris ketimbang membawa-bawa ia ke dalam hidup dan lingkungan saya. Tidak mungkin juga berharap ia akan menyenangi kita. Toh, yang senang sama kita saja sudah lebih dari cukup untuk dirangkul.

Forgive Quickly

Ketika marah atau kecewa, saya lebih banyak diam ketimbang mengungkit. Saya rasa, energi yang akan saya gunakan untuk marah tidak baik untuk sekitar dan saya juga tidak punya cukup banyak energi untuk melakukan hal itu. Kecuali memang jika itu tidak tertahankan.

Apakah dengan memaafkan akan membuat kita lebih tenang? Saya tidak tahu. Prinsip saya, jika ada sesuatu yang membuat saya marah atau kecewa, saya melihat dari sisi orang tersebut. Apakah memang ini jalan yang ia ambil untuk meminimalisir hal yang lebih buruk terjadi. Kalau iya, saya mencoba untuk memaafkan.

Terkadang, saya marah dan kecewa karena saya hanya berpikir dari sisi saya sebagai manusia. Bagaimana dengan mereka, dengan dia, yang kita kira adalah orang yang egois tapi berkecamuk dengan pilihan yang semuanya tidak enak untuk diambil. Kalau kata Ibu Sabar,"Dunia tidak berputar untuk kita saja".

Kiss Slowly, Love Truly

Mungkin kita terlalu banyak melihat keluar, sampai lupa melihat ke dalam. Ingin menggapai banyak hal, namun lengan kita terlalu pendek untuk memeluk dunia. Ada banyak yang ingin kita lakukan tapi apa yang sudah ada didepan mata tidak kita sadari. Contohnya orangtua. Mungkin kita terlalu haus kasih sayang diluar sana, ingin punya pasangan agar bisa saling menyayangi.

Padahal, kasih sayang lewat orangtua kita abaikan. Sesimpel ngobrol hal-hal kecil atau bantu mengangkat jemuran ketika hujan tiba-tiba turun. Kita mungkin terlalu sibuk mencari cinta, padahal kita lupa cinta bisa datang darimana saja. Selain dari orangtua, mungkin dari adik, tante, keluarga, ataupun teman-teman.

Bicara soal teman-teman, saya cukup beruntung punya teman-teman yang menyenangkan. Tumbuh bersama mereka sebagai seorang manusia remaja. Ada kalanya saya mendapat pemikiran baru dari mereka. Lewat obrolan ringan di meja kafe atau di warung sari laut atau di gorengan bude atau di teras rumah Riki atau di kamar saya.

Laught Uncontrollably, and Never Regret Anything That Made You Smile

Mungkin ada sebagian orang yang berpikir bahwa tolok ukur dewasa adalah usia dan menjadi lebih serius. Mungkin juga kita pernah menemukan teman yang dulunya aktif ngebanyol sekarang jadi lebih pendiam dan serius. Sama ketika saya bertemu teman SD di SMA. Tiga tahun adalah waktu yang cukup untuk mengubahnya menjadi lebih dingin dan serius.

Tapi untuk saya, dewasa itu bukan dari usia maupun jadi lebih serius terhadap banyak hal. Dewasa itu bukan fase yang bisa dikotak-kotakkan dari segi manapun. Dewasa itu tentang kebijaksanaan untuk tahu hal yang baik dan tidak baik untuk kita. Seperti kata orangtua saya,"Kamu itu sudah dewasa, sudah bisa menentukan baik dengan tidak.". Meskipun tidak bisa disangkal, barometer mereka tetap usia.

Singkat cerita, bersama teman SD saya yang lain, kami berhasil menarik teman SD saya ini kembali menjadi orang yang kami kenal. Orang yang bisa ketawa sampai orang merasa ingin tertawa juga. Orang yang bisa ketawa sampai bikin orang tersinggung dan melayangkan kepalan ke mukanya. Ha ha ha. Kami menarik dia dari gelembung yang selama ini mengekangnya. Dari stigma bahwa dewasa tentang sikap serius terhadap banyak hal.

Saya jadi ingat, waktu SD bisa ketawa karena teman saya punya cara ngomong yang lucu. Kalau kami ketawa, tambah dibuat-buat biar kami makin ketawa. Atau kami bisa sangat senang karena membicarakan soal asmara anak SD. Bagaimana dua sekolah yang disatukan oleh satu halaman, bisa punya gelombang ikatan yang begitu kuat.

Saya masih ingat betul ketika masa-masa SD, mendekati perempuan sekolah sebelah. Mencoba mendekatinya lewat Facebook, meski pada akhirnya saya tidak beranjak ke hubungan yang bisa disebut pacar. Padahal, ada masanya ketika ejekan ciee-ciee itu bisa berujung dengan timbulnya rasa suka. Masa yang menyenangkan untuk dikenang dan saya tidak pernah menyesali hal-hal yang sudah lewat.

Naif juga jika berkata saya tidak ingin berakhir dengan bahagia. Tapi itulah yang kehidupan dengan begitu banyak elemen. Kalau dalam film, saya tidak tahu harus mengkategorikan kehidupan ini sebagai genre. Ada komedinya, ada dramanya, ada misterinya, ada horornya. Dan terlalu sulit untuk mengkotak-kotakkan jika kehidupan hanya soal keseriusan.

Hidup ini singkat, kata Mark Twain. Saya tidak ingin berakhir menjadi orang serius yang menyebalkan dimata orang lain. Meski pada akhirnya, orang-orang akan membalasnya dengan, kenapa terlalu peduli dengan perkataan orang lain. Tidak. Bukan itu poinnya. Saya hanya ingin membuat lingkaran saya menjadi menyenangkan, dan untuk bisa mendapat feedback itu saya mesti melakukan hal serupa.

Related Posts

13 comments

  1. Wadawww deep sekali mas Rahul 😁
    Jadi kali ini, post-nya ditulis oleh Rahul Twain? πŸ˜†

    By the way, saya menikmati penjabaran mas Rahul di atas, dan meresapinya hehehe. Sedikit banyak membawa saya ke masa muda πŸ™ˆ Well, saya setuju mengenai, "Ini bukan tentang kita memikirkan perkataan orang lain, saya hanya ingin membuat lingkaran saya jadi menyenangkan." 😍

    To be honest, itu pula konsep hidup yang saya jalani sekarang. Being nice, doing a good thing, always full of love, laughing much, and be happy, saya coba lakukan, karena saya ingin punya lingkaran yang menyenangkan dan itu dimulai dari saya (nggak bisa berharap orang lain melakukannya duluan) πŸ˜†

    Dan bukan berarti pula dalam lingkaran tersebut jadi nggak boleh bersedih-sedihan, of course yang namanya manusia pasti ada gloomy dan sad-nya, however, kalau kita bisa enjoy the life because life is short seperti kata Mark Twain, saya rasa, itu akan membantu kita get over dengan rasa sedih lebih cepat 😁

    All in all, thank you for sharing such a good post, mas πŸ’•

    ReplyDelete
    Replies
    1. Ha ha ha, yang dalam itu mas Twain, saya cuma menceritakan ulang dari sudut pandang saya kak Eno πŸ˜…

      Membawa ke masa muda? Ha ha ha. Terdengar usang sekali πŸ˜†

      Iya, kak Eno, benar, itu yang saya sadari. Kerapkali kita ingin lingkungan yang menyenangkan, tapi tidak mau berusaha memulai dari diri sendiri. Jadi, kita hanya menjadi manusia penggerutu.

      Yap, itu poinnya. Merasa sedih, marah, kecewa, itu baik. Tanda bahwa kita masih manusia. Saya malah menyimpan curiga jika ada orang yang dihadapan saya selalu bahagia 🧐 Kayaknya kita mesti nerapin sedikit prinsip kecil itu untuk tau apakah kehidupan yang kita jalani dulu adalah cara yang salah.

      Sama-sama kak Eno. Terimakasih juga sudah merespon 😁

      Delete
    2. Ternyata alter egonya Mas Rahul ada lagi selain Rahul Holmes, yaitu Rahul Twain ya, Mba Eno πŸ™ˆ

      Delete
  2. Kalau di jaman now pak Twain itu bisa dibilang tim YOLO ya...��

    Padahal hidupnya lumayan lama juga...



    ReplyDelete
  3. Ini tulisan ketiga tentang hidup yang aku baca hari ini setelah Life is Funny-nya Mba Eno dan Life Goes On-nya Jane. Tulisan kalian bertiga berurutan di reading list dan temanya tentang hidup semua πŸ‘πŸ‘πŸ‘

    Suka banget sama paragraf penutupnya Rahul. Betul sekali, untuk menciptakan lingkarang yang menyenangkan, kita pun sebisa mungkin jadi orang yang menyenangkan dong yaa.. Dan ga ada yang salah dengan menjadi orang yang menyenangkan di lingkungan kok 😊

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya, saya sudah baca keduanya juga. Bisa gitu yah πŸ˜… Padahal tidak ada rencana sama sekali.

      Kak Eya orang kedua yang notice paragraf terakhir saya. Padahal itu saya tulis sebagaimana biasanya. Saya ngga nyangka bisa nge-hook teman-teman

      Delete
  4. Live life to the fullest. Suka bgd sama bahasannya Mas Rahul. Intinya, jangan pernah menyesal karena banyak mengisi waktu dg hal yg tdk kita suka.. Aku dulu pas SMA hanya 2 th krna akselerasi, dan banyak yg bilang sayang masa SMA yg menyenangkan hanya 2 th. Tp sbnrny trngntung gimana kita ngisi waktunya, dan aku juga dulu suka bolos klo udah capek belajar. Janjian bolos sama temen sekelas, ngatur waktunya gantian biar kelas ga kosong πŸ˜‚ Jd apapun itu, trngntng kita gimana bs hidup to the fullest..
    Oiya Mas Rahul, terima kasih jg pengingatnya tntng bagaimana kita jg hrs meluangkan waktu dg orang tua, jngan hanya sibuk mencari sayang dr luar aja πŸ™πŸ’–

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya kak Thessa, bukan masalah durasi tapi kontribusi. Dalam hal ini, kontribusinya ke lingkup pertemanan.

      Sama-sama kak Thessa, itu juga jadi pengingat untuk saya sendiri 😁

      Delete
  5. Tulisan yang keren, Rahul! Serius😍 Berawal dari kutipan Mark Twain, ternyata memang sedalam itu kalau kita kupas. Sebab setiap orang pasti pernah mengalami naik turun dan lika liku hidupnya masing-masing, entah karena menyesali segala hal di masa lalu, baik senang, atau sedih, bahkan sampai soal "breaking the rules". Namun seperti kata Rahul, banyak sekali orang-orang yang terjebak dengan makna dewasa, menganggap beberapa hal yang dianggap "kekanakan" yang telah terjadi di masa lampau bukan merupakan bentuk pendewasaan. Misalnya, "kalau lo masih suka melanggar aturan, berarti lo masih anak kecil". Padahal nggak juga, tergantung bagaimana situasi dan kondisi yang membuat kita mau atau harus mengambil sikap, bahkan saat "dewasa" sekalipun. Sebab kalau rules-nya sendiri nggak membawa kemaslahatan untuk banyak orang, nggak apa juga untuk kita langgar. Selama yg dilanggar bukan ketetapan Tuhan😁

    By the way, saya jadi penasaran, apakah "live to the fullest" ini bisa disimpulkan sebagai "ikigai"-nya Rahul? Atau itu beda soal lagi? Ehehe😬

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya Aina, saya melihatnya tergantung konteks saja. Saya juga tidak ingin bilang bahwa melanggar aturan itu boleh. Tergantung masing-masing saja. Bersikap sewajarnya. Dan masalah dewasa, itu adalah opini saya, mungkin benar mungkin saya.

      Saya ngga ngerti soal gitu-gituan Aina. Bagi saya, hidup jangan terlalu pake teori. Nanti bahagianya dikalkulasikan

      Delete
  6. Tulisan yang sangat apik, Mas Rahul. Saya bacanya sampai mengangguk-angguk entah berapa kali πŸ˜‚

    Tentang break the rules, jujur saya mikir apa yaa. Kalau di masa muda, pastinya udah lupa. Cuma kalau yang berhubungan dengan motherhood, mungkin "rules" yang saya break akhir-akhir ini adalah membiarkan ruangan yang berantakan dengan mainan anak. Sebagai yang suka kerapihan dan nggak bisa lihat barang yang tidak pada tempatnya, sebetulnya ini sangat mengganggu. Tapi entah kenapa melihat mainan berantakan tersebut malah membuat hati saya bersyukur, karena anak hepi bisa memainkan semua mainannya dengan baik. Kadang-kadang dia suka membuat bentuk-bentuk dari mainannya yang nggak pernah saya pikirkan sebelumnya dan saat dia pamerkan "hasil karyanya", saya ikut bahagia 😊

    Mungkin seiring bertambahnya usia, perlahan ingin lebih menikmati hidup dengan cara sendiri. Yang Mas Rahul bilang di bagian terakhir betul sekali. Tujuannya adalah menebarkan kebaikan dan cinta buat orang-orang sekitar. Dan sebelum itu bisa dilakukan, yaa love yourself first :D

    Terima kasih sudah menuliskan ini, Rahul Twain πŸ˜†

    ReplyDelete
    Replies
    1. Ini semacam tulisan refleksi kak Jane. Jadi sambil nulis, sambil belajar juga :)

      Wah, iya, kayaknya untuk menemukan kesenangan kecil kita mesti keluar dari comfort zone kita sejenak. Kemudian lihat dari sudut pandang yang lain seperti yang kak Jane lakukan. Saya ngga gitu ngerti soal parenting, tapi tadi malam saya nonton Modern Family dan senyam-senyum getir karena pusing ternyata hubungan keluarga bisa sekompleks itu. Apalagi kalo sudah punya lebih dari satu anak.

      Saya mulai menerapkan itu kak Jane, semoga bisa dan diterima dengan baik oleh lingkungan saya. Aamiin.

      Terimakasih kembali kak Jane 😁

      Delete
Terimakasih sudah membaca. Sila berkomentar terkait tulisan ini.