zsnr95ICNj2jnPcreqY9KBInEVewSAnK0XjnluSi

Mencari Validasi Lewat Komentar

Tulisan ini merupakan lanjutan dari tulisan sebelumnya yang membahas tentang sanggahan. Sedikit membahas tulisan sebelumnya, itu adalah keresahan saya dengan respon-respon orang yang ada diblog saya. Saya tidak tahu atensi teman-teman, tapi saya merasa tidak ada komentar yang benar-benar menyanggah isi tulisan saya.

Sampai datanglah kak Phebie dengan argumennya bahwa tidak semua sanggahan harus frontal. Kita bisa bermain halus dalam mengomentari sebuah opini atau fenomena. Saya kemudian membaca satu referensi yang dikasih kak Phebie tentang Seni Berkomentar yang ditulis dalam blognya. Bacalah. Itu tulisan keren.

Seperti yang sudah saya katakan, saya bukan manusia kebenaran. Ketika menjadikan blog sebagai tempat berekspresi, artinya saya tidak lagi terlalu memikirkan benar atau salah. Pertimbangan saya sangat subjektif dari hal itu. Kalau ada satu pertimbangan yang cukup dominan, mungkin hanya beban moral saya sebagai manusia. Itu saja.

Maka dari itu, ketika memutuskan menulis satu topik, bukan berarti saya absolut benar dengan topik yang saya bahas. Itu lebih kepada saya sedang tertarik untuk membahas itu, dan subjektifitas saya mengatakan itu kebenaran yang saya yakini. Maka dari itu, saya butuh orang-orang macam kak Phebie ini dikolom komentar saya. Benar-benar butuh.

Saya tidak ingin banyak berdebat, tapi mencoba membuka ruang diskusi. Untuk saya, diskusi yang sehat itu memang lebih baik dilakukan secara langsung. Intensi dalam kata, kalimat, sampai paragraf bisa begitu ambigu. Hanya karena saya memberi penekanan pada tulisan SEPERTI INI, saya bisa dianggap marah dan emosi.

--

Topik lainnya, saya beberapa hari ini sedang berpikir tentang turunan dari pembahasan kemarin. Karena sering menyanggah tulisan teman-teman, apakah atensi saya adalah mencari validasi terhadap hal yang saya percayai?

Saya mencoba berpikir ulang, mencari komentar saya diberbagai macam blog teman-teman, meninjau kembali, mengingat lagi apakah saya hanya mencari validasi itu atau benar hanya karena niatan awal saya: memberi opsi berbeda sebagai khasanah perspektif baru agar teman-teman tidak terjebak bias sendiri.

Mungkin iya. Mungkin tidak. Saya hanya manusia yang sedang berproses. Saya tidak ingin menjadi orang yang melulu mencari pembelaan. Sebagai blog sendiri, seharusnya ini tempat saya untuk jujur dan introspeksi diri. Tempat saya tumbuh dan belajar. Bahwa ternyata, saya mesti menjadikan perspektif teman-teman yang lain sebagai cermin untuk diri saya juga.

Memang lebih enak bertengkar dengan orang lain ketimbang diri sendiri. Kalau dengan orang lain, kita bisa tahu harus melayangkan kepalan tangan ke mana. Kalau ke diri sendiri, perbuatan itu hanya melukai diri sendiri. Menulis adalah cara saya mengurai benang-benang kusut dikapala saya. Kalau kata Dosan, saya mungkin sedang menghilangkan kekutu yang ada dipikiran saya. Sehingga, lebih mudah untuk memecahkan masalah setelahnya.

Mencari Validasi Lewat Komentar

 --

Sekarang, saya mulai menaruh pertimbangan dalam mengomentari sebuah tulisan. Dua pertimbangan adalah hal yang saya pelajari dari tulisan kak Phebie. Pertama, saya akan lihat dulu orangnya, apakah dia bisa atau biasa menerima sanggahan. Kedua, karena sanggahan saya berbentuk teks, saya akan mencoba lebih keras untuk lebih baik agar tidak menimbulkan atensi negatif. 

Tentu saya punya pertimbangan lain, seperti topik kali ini, saya akan berpikir ulang. Apakah saya hanya sekadar mencari validasi atau mencoba memberi perspektif baru kepada teman-teman? Itu dua hal yang berbeda. Contoh kecilnya seperti ini.

Kalau saya mencari validasi, saya mungkin tidak akan menerima ketika empunya tulisan bertahan dengan argumennya. Saya akan bersikeras dengan hal yang saya yakini. Kalau saya hanya berniat memberi perspektif baru, saya hanya akan menyanggah pada komentar pertama. Jika empunya tulisan bersikeras dengan argumennya dengan menancapkan bendera perdebatan, dadah. Saya akan mengalah.

Kecuali kalau empunya tulisan berniat untuk membuka ruang diskusi, saya akan sangat terbuka dengan itu. Sekali lagi saya tekankan, saya manusia dan tempatnya salah. Akan ada sisi yang tidak kalian sukai dari saya. Saya hanya mencoba untuk lebih baik dari hari kemarin. Semoga demikian karena begitulah yang saya maksudkan.

Related Posts

5 comments

  1. Wah di mention ��...terima kasih apresiasinya mas Rahul...pendapat saya juga tidak mutlak ya hanya share pengalaman. Namun bila bisa membantu syukurlah..��

    Semangat menulis terus ya mas Rahul. Tulisannya cukup membuat pembaca spt saya merenung dan berpikir...��

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya kak Phebie. Alhamdulillah ada impactnya juga ke saya 😁

      Wah, terimakasih kalau memang demikian 😄

      Delete
  2. Halo Mas Rahul, pertama kali main ke sini nih 🤠🤠

    Menarik nih topiknya. Mencari validasi atau mau berbagi perspektif?

    Aku sendiri dalam berkomentar lebih suka netral saja, karena tulisan lebih sering disalahartikan, imho. Daripada komentarku menyinggung lebih baik main aman saja. Kadang gemes sih pengen ghibah atau komentar sedikit nakal hahaha, tapi karna belum terlalu akrab jadi nggak berani 😋😋

    ReplyDelete
Terimakasih sudah membaca. Sila berkomentar terkait tulisan ini.