zsnr95ICNj2jnPcreqY9KBInEVewSAnK0XjnluSi

Alter Ego Itu Bernama Emosi

Seseorang teman pernah bertanya saat saya terlihat rajin mengucapkan kata "terimakasih" meski dari hal-hal yang terlihat kecil bagi dia. Sebuah informasi, misalnya. Mungkin untuk beberapa orang, termasuk dia itu adalah hal yang kecil. Tapi untuk saya, itu adalah hal yang besar. Apalagi, bisa menghemat waktu saya untuk mencari secara manual.

"Habis baca buku apa?" tanya teman saya itu.

Karena bingung saya bertanya kembali,"Maksudnya?"

Kemudian dia menjelaskan bahwa dimatanya, belakangan ini saya kerapkali mengakhiri percakapan dengan terimakasih. Mungkin hal itu yang tidak saya sadari sehingga membuat teman-teman saya menyimpan rasa curiga saya telah menerima sebuah argumen baru dari sebuah buku.

Padahal tidak juga. Saya saat itu banyak membaca tulisan teman-teman, yang kemudian mengantar saya pada tulisan kak Eno yang masih saya ingat bahwa apresiasi untuk hal sekecil apapun itu penting. Dari hal itu, semalaman saya berpikir, bahwa jangan-jangan selama ini saya hanya berterimakasih pada hal-hal yang saya anggap besar.

Dari situlah, saya mulai mengucapkan terimakasih pada semua hal yang saya terima. Itu karena saya menghargai waktu seseorang yang mau bersinggungan dengan saya. Ada waktu yang mereka bagi untuk ngobrol dengan saya, itu adalah hal yang saya syukuri. Mereka dengan rela atau terpaksa membantu saya dalam menjernihkan pikiran saya dari perintah tugas, itu adalah hal yang saya syukuri.

Makanya, ketika teman saya bertanya telah membaca buku apa, saya tidak begitu mengerti karena hal ini memang datang dari diri saya yang dipantik oleh tulisan kak Eno. Saya tidak mau denial juga kalo sebagai manusia, saya memiliki banyak kekurangan. Saya manusia pengeluh. Kalo membaca juga tulisan-tulisan lama saya (bahkan sampai sekarang), isinya kebanyakan keluhan.

Belajar untuk tidak mengeluh adalah tujuan besar yang masih saya asah. Tapi itu tidak sejalan dengan tulisan-tulisan saya diblog ini. Kebanyakan isinya curhat yang biasanya ditutup dengan keluhan. Mungkin kata-kata saja yang membuat saya terlihat kuat dan jarang mengeluh. Seorang teman blogger pernah mengatakan saya adalah manusia kuat karena respon saya dari tulisannya.

Saya membaca hal itu tersenyum getir dan tertawa. Sebagai manusia, aslinya saya tidak sekuat itu. Berbicara mungkin bisa semudah itu, tapi melakukan adalah hal yang lain. Sama halnya dengan memberi saran kepada seorang teman yang sedang terluka hatinya, seakan-akan kita sudah sangat ahli dengan gelar S2 percintaan. Padahal aslinya mah banyak gagal juga dalam asmara.

Kemudian, apa yang berbeda?

Ternyata, saya menemukan alasan untuk hal ini. Saya tidak mengeluh dan menjual rasa kasihan terhadap orang lain. Tulisan-tulisan saya, adalah terapi yang saya lakukan untuk bisa segera selesai dari keluhan. Itu memang benar, setelah menulis, semuanya jadi lebih baik dari sebelumnya. Membuat saya lebih berdamai dengan tugas dan mengambil hikmah bahwa saya nyatanya bisa kembali nonton serial Awas, Banyak Copet, misalnya.

Dengan mengambil perspektif itu, saya melihat ini bukan lagi sebagai keluhan. Tapi sebagai sebuah cara saya terapi untuk berbagi hal kepada teman-teman. Mungkin akan ada respon dari seseorang yang saya bilang tadi, orang yang seakan-akan sudah sangat ahli. Tidak masalah. Saya hanya butuh mengeluarkan hal itu. Ketika ada respon, sekalipun itu menyinggung saya, itu bukan lagi masalah untuk saya.

Menghindari perasaan pengeluh, juga membuat saya lebih terhindar dari fase egois yang berkepanjangan. Kadang-kadang, saya sendiri tidak sadar kalo saya cukup egois. Apa-apa tentang diri saya. Ketika saya mendapat masalah, seakan-akan saya mulai bertanya kepada Tuhan,"Kenapa harus saya? Saya masih punya masalah lain."

Tuhan dari sana mungkin akan menjawab,"Why not?"

Karena sikap egois itu, saya adalah orang yang cukup punya emosi negatif. Ketika jengkel, marah, dan kecewa, saya lebih memilih diam. Karena kalau mengikuti ego saya, semua jadi masalah yang berkepanjangan. Saya bisa meledak. Saya bisa marah jika hal itu benar-benar tidak dapat saya kontrol. Semua hal buruk itu, ada dalam diri saya.

Alter Ego Itu Bernama Emosi

Dalam film Avengers: Infinity War, digambarkan Bruce Banner yang belum bisa mengontrol alter egonya, Hulk. Saya melihat Bruce Banner seperti diri saya, berlatih untuk bisa mengontrol alter egonya sebagai Hulk dan saya yang berlatih untuk mengontrol alter ego yang bernama emosi. Hal ini memang tergolong self-improvement, bukan hal yang sedang saya kembangkan secara eksternal.

Makanya, ketika melihat seorang teman blogger menganggap saya manusia kuat dan mungkin 'baik', saya sontak tersenyum getir dan tidak bisa balik meresponnya. Itu mungkin kesalahan saya yang terlalu menggampangkan semua hal. Melihat diri saya seperti orang yang seakan-akan sudah sangat ahli itu, rasanya menjijikan.

Saya selalu ingin berkata hal ini kepada orang yang belum melihat sisi lain dari diri saya yang ini,"saya bukan orang yang baik, tapi saya juga bukan orang yang jahat."

Membaca tulisan kak Eno tentang dua hal yang ingin saya kembangkan dari diri saya, mungkin itulah jawabannya. Saya ingin mengembangkan hal internal bernama perasaan. Bagaimana saya agar bisa mengontrol emosi saya untuk bisa lebih baik, agar tidak jadi manusia pengeluh yang bisa jadi Hulk kalo tidak terkontrol. 

Menjadi lebih baik bukan dari orang lain, tapi dari diri saya yang kemarin.


Tulisan ini adalah bentuk partisipasi dari CR Challenge yang diadakan blog Cremano. Saya sebenarnya tidak ada draf tulisan soal ini, cuma kebetulan saya cukup sering bikin catatan dimemo. Salah satu pertanyaan besar dimemo itu punya relasi dengan tema yang ditentukan. Saya melipir sebentar dari tugas, saya mengetik tulisan ini dengan hape untuk kemudian saya edit menggunakan laptop.

Ohya, kabar baik untuk yang menanti Perspektif Majemuk, episod berikutnya akan tayang tanggal 29 Januari 2021 bersama kak Nisa dari blog Haloreka. Saya sudah beres menyusun, tinggal cari waktu untuk mengedit thumbnail dan sedikit merapikan tulisannya.

Related Posts

32 comments

  1. Semua orang pasti punya energi negatifnya masing2. Tinggal bagaimana cara menyalurkannya aja aga tdk berdampak tidak bagus. Dr pd terus dipendam blm trntu baik juga. Mas rahul menyalurkanny dlm tulisan, dan menurut aku itu malah bagus karena banyak orang yg bs berbagi perpektif dan memetik manfaat dr itu.

    Btw, ga sabar nunggu postingan kolas berikutnya. Ternyata kontributornya Mba reka yaa.. dan demi apa aku baru ngeh klo nama Mba Reka itu ternyata Nisa? Aku salah manggil dong selama ini 😂😂 klo baca ini, maafkan aku Mba Nisaaaa

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya kak Thessa, makanya saya ngga bilang itu buruk dan ingin menghilangian hal itu, tapi mengontrolnya.

      Siap kak Thessa, tulisannya akan tayang hari Jumat. Sebenarnya, saya juga sudah terbiasa panggil kak Nisa itu Reka, sampai sekarang malah. Cuma cukup tau aja kalo kak Reka punya nama asli yang bagus 😁

      Delete
  2. Menurut saya gapapa kok untuk sesekali mengeluh, sebagai manusia normal mengeluh adalah hal yang sangat lumrah. Yang nggak boleh adalah kita terlalu fokus untuk mengeluh terus menerus dan nggak berusaha untuk mengubah keadaan lebih baik. Seperti Mas Rahul bisa menemukan kenyamanan dari menulis supaya emosi tersebut bisa tersalurkan dengan baik adalah langkah yang tepat (:

    Aaaah nggak sabar dengan konten kolaborasi bersama Nisa! Semoga lancar dan sukses selalu, Mas Rahul!

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya kak Jane, terimakasih sarannya. Saya juga maunya begitu, mengontrol tapi tidak menghilangkan. Kebetulan dengan menulis, saya bisa mereduksi emosi itu.

      Siap kak Jane. Sudah siap publish. Tanggal 29, hari Jumat minggu ini 😁

      Delete
  3. Pembahasannya bisa panjang nih soal keluh mengeluh. Pasti ada yang bilang mengeluh tidak masalah karena bagian kehidupan manusia, tetapi ada sisi lain yang bilang mengeluh tidak ada gunanya.

    Kayaknya akan tergantung masing-masing.

    Hanya saya sendiri termasuk orang yang akan bilang, "Ngapain mengeluh karena mengeluh tidak akan memberikan solusi dan kerap cenderung justru menambah beban di hati?"

    Tidak berarti saya tidak pernah mengeluh, tetapi kalau ditilik lagi, saya jarang. Biasanya yang terjadi kalau saya "kecewa" atau apapun, saya cuma menarik nafas panjang dan kemudian diam.

    Setiap orang pada dasarnya punya emosi dan kalau saya sih tidak bisa memandang itu sebagai positif, negatif karena emosi itu bagian dari hidup manusia. Manusia saja yang gemar melabeli dengan positif atau negatif, jelek dan buruk.

    Marah tidak selamanya jelek, tidak selamanya bagus juga. Semua pasti tergantung pada sikon karena sering marah diperlukan dan berujung dengan hal baik (tidak selalu tapinya).


    ReplyDelete
    Replies
    1. Kalo mau seperti itu, kayaknya semua hal juga bisa dikaitkan dengan kalimat "tergantung masing-masing". Tapi kalo mengacu pada kebebasan berpendapat, itu tentu saja bisa dimaklumi.

      Saya sebenarnya tidak bermaksud untuk beranggapan bahwa emosi itu buruk, Mas Anton. Tapi kalo ditangkapnya begitu tidak masalah. Perkara positif dan negatif, itu tidak ada soal dengan baik maupun buruk. Terlepas dari stigma yang sudah melekat dan diamini oleh Mas Anton.

      Tapi saya juga setuju dengan Mas Anton kalau mengeluh itu sebenarnya tidak ada gunanya. Tapi mengeluh itu, sejauh yang saya lihat, sama dengan ketawa; reflek. Makanya, saya memilih untuk tidak mengatakan menghentikannya, tapi mengontrol.

      Terimakasih saran dan masukannya Mas Anton 🙏

      Delete
    2. Karena memang pada dasarnya tidak ada standarisasi..😂😂

      Lagi pula suliittt melakukannya karena begitu banyak faktor tang berbeda dalam diri manusia.

      Memang yang tertangkap oleh saya begitu dari tulisan di atas bahwa emosi ada yang baik dan buruk, ada yang harus dibuang ada yang harus disimpan ðŸĪŠðŸĪŠðŸĪŠ

      Delete
    3. Siap mas Anton. Terimakasih masukannya

      Delete
  4. Yeay! Akhirnya naik juga tulisan Rahul untuk CR Challenge 😁. Nice writing, Hulk(?) Eh, Hul~

    Semoga Rahul bisa berhasil mengendalikan alter egonya, walaupun mungkin prosesnya tidak mudah dan butuh waktu adaptasi yang lama, tapi semoga Rahul tidak menyerah 😁 anggap ini sebagai salah satu proses hidup untuk mendewasakan Rahul. Dan jika memang lewat menulis, emosi Rahul bisa tersalurkan, just write it 😁. Semangat berjuang, Hul! Tahun ini sepertinya tahun perjuangan besar untuk Rahul dalam segi emosi dan fisik ya ðŸĪ­

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya, kak Lia, saya nyicil nulis kemarin-kemarin dan ternyata bisa naik sebelum masa tenggatnya.

      Terimakasih kak Lia, saya ngga tau mau balas apa, kalo ngobrol langsung mungkin saya minta dipeluk atau kepala saya diusap saja :(

      Delete
  5. Hola mas Rahul, thank you sudah join CR Challenge ðŸĨģ🎉

    Hehehehe, bicara soal ucapan terima kasih, menurut saya, itu salah satu yang sudah agak terlupakan oleh kita, dan seperti yang mas bilang, kadang kita fokus pada hal besar sampai lupa bahwa yang kecil-kecil pun hadir untuk support yang besar. Jadi kalau bisa perlu diapresiasikan. That's why, berterima kasih akan hal kecil nggak ada salahnya 😁 Even sekedar seorang teman datang ke blog kita, terus kita berterima kasih sudah luangkan waktu, atau kita main ke blog teman, kemudian berterima kasih sudah berbagi tulisan bagus 😍

    Eniho, punya sisi emosional or sometimes suka mengeluh menurut saya sah dan normal. Namapun manusia diberkahi perasaan, namun jangan lupa bahwa kita punya akal. Jadi kalau bisa balance, seperti yang mas Rahul lakukan, ketika emosi, ingin mengeluh, penyalurannya ke tulisan, dari yang tadinya emosi negatif, berubah jadi positif, lalu menularkan sisi positif tersebut ke banyak orang, which is gewd 😁

    Semangat terus dalam berproses, mas 😉

    ReplyDelete
    Replies
    1. Terimakasih kembali kak Eno, saya juga terimakasih sudah memberi wadah untuk teman-teman menulis. Mungkin ini bisa jadi bahan refleksi teman-teman juga.

      Itulah mengapa saya mulai belajar untuk hal itu, mengucapkan terimakasih pada hal yang mungkin saya anggap kecil atau tidak ada. Saya tidak tahu, apakah dengan ini rasa terimakasih saya akan menjadi murah dimata orang lain. Tapi mudah-mudahan saja tidak.

      Semoga saja ditangkapnya begitu kak Eno, sebab saya tau ada juga yang tidak. Saya tidak berusaha menghilangkan hal itu, hanya berusaha mengontrol atau menyalurkannya pada hal yang lain. Saya juga tidak ingin menjadi manusia yang kehilangan rasa.

      Terimakasih kak Eno, love u more than words :')

      Delete
  6. Semua yang dialami Mas Rahul sepertinya alamiah. Mengeluh ataupun tidak bisa menghandle emosi emang itu sesuatu yang bisa terjadi kepada siapa saja. Bersyukur jika Mas Rahul merasa emosi negatif tersebut dan ingin memperbaikinya. Semoga bisa berhasil dalam mengurangi emosi negatif yaa Mas 😊

    ReplyDelete
    Replies
    1. Aamiin. Terimakasih saran dan masukkan kak Devina. Sayapun berpikir demikian.

      Delete
  7. selama ini kalau misalkan nih aku menampakkan mengeluh dikittt aja di depan temenku, pasti akan disangkutpautkan dengan kurangnya rasa syukur. Aku heran juga, kenapa dua kata ini selalu disandingkan bersama sama.
    kalau aku pribadi berpikiran ingin mengeluh akan suatu kerjaan, nasib atau apapun itu, aku berusaha berpikir positif dan nggak pernah juga sepertinya cerita ke temen soal mengeluh.
    mungkin lebih ke perasaan jenuh yang sesekali muncul dan butuh mood booster aja

    ReplyDelete
    Replies
    1. Mungkin mengeluhnya pada orang yang salah kak Ainun. Tapi itu juga jadi alasan saya curhatnya selalu pake tulisan. Feedbacknya lebih masuk ketimbang mesti dengar respon seperti itu

      Delete
  8. Mas Rahuuuul tos dulu sebagai sesama blogger yang suka ngeluh di blog xD asal punya kontrol untuk menyaring mana yang bisa ditampilkan dii publik dan mana yang hanya bisa disimpan offline sih nggak masalah kayaknya mengeluh di blog. Apalagi kalau cara tersebut adalah salah satu terapi untuk healing. Sebagai pembaca juga bisa milih untuk terus membaca atau berhenti membacanya, karena yang bisa dikontrol adalah diri sendiri.

    Kalau aku lihat-lihat Mas Rahul ini orangnya punya pikiran yang dalam terhadap sesuatu, apa ya hmmm susah nyari kata-katanya aku. Dan bener sih itu manusia memang abu-abu, nggak yang baik banget tapi juga nggak jahat.

    Wah jadi clue yang the girl with recorced mind itu mbak Reka ya, nggak sabar nunggu tulisannya naik.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Saya percaya kok, semua punya dan tau standar masing-masing yang mana bisa diceritakan dan yang mana tidak. Jadi ketika ada orang curhat masalah yang sangat personal, saya berusaha untuk tidak langsung menghakimi. Apalagi, saya yang baru datang dan tidak tau apa-apa untuk langsung mengomentarinya.

      Saya ngga tau apakah ini pujian atau apa. Ha ha ha. Saya memang cukup susah tidur dimalam hari, kak Endah. Biasanya banyak hal yang saya pikrikan dan pertanyakan. Bagus memang, karena hal itu biasanya jadi tulisan. Tapi waktu tidur saya jadi kepotong juga. Ha ha ha.

      Iya, saya cuma iseng terjemahin Rekaman Pikiran ke dalam Bahasa Inggris. Ternyata ada yang masih ngeh meski banyak yang bingung dan ketipu

      Delete
  9. It's ok not to be ok Rahul. I feel you ketika kamu mempertanyakan isi tulisanmu yang sepertinya berisi keluhan aja. Aku sempat mempertanyakan itu juga ke diriku sendiri. Dan akhirnya aku dapat jawaban yang oke, sama seperti kamu yang akhirnya menyadari bahwa menulis adalah terapi.

    Sama, menulis itu terapi juga buatku, lalu apa yang membedakan kita dengan orang-orang yang tidak menjalankan terapi ini? Yang lebih memilih untuk melampiaskan egonya tanpa cara yang tepat. Energi kita nggak sia-sia, bahkan saat kita menulis sebenernya kita berpikir dan merenung. Karena tulisan kita berisi harapan, semoga apa yang kita lalui, kesalahan yang kita perbuat tidak akan terulang lagi.So, it's ok Rahul, lanjutkan saja menulisnya!

    ReplyDelete
    Replies
    1. Saya jadi ingat judul drakor kak Pipir. Ha ha ha.

      Kadang memang kontemplasi lebih bisa ngasih jawaban ketimbang orang lain. Makanya, setiap malam, kepala saya selalu menagih untuk hal-hal itu.

      Dan itu memang betul sekali, selagi menulis kadang kita merenung dan mempertanyakan sesuatu,"memang benar yah saya seperti ini?". Mau nulis hal keren pun tidak bisa karena hati dan kepala sudah ngeblock itu duluan. Jadinya yang rilis tulisan-tulisan sederhana macam ini.

      Siap kak Pipit, terimakasih wejangannya

      Delete
  10. Hal yang ajaib dari menulis adalah ketika kita sedang gundah gulana atau punya segelitir pemikiran yg mengganjal di hati..

    Melalui tulisan kita berasa seperti sedang flashback, secara nggk langsung kadang terjadi Instropeksi ke diri sendiri sehingga kita jadi lebih taunya salah atau kurangnya dimana.. Iyah nggk sih Mas Rahul?? Heheh

    Semangat yah... kita memang manusia yg selalu memiliki kekurangan dan strugglenya masing2.. Semoga dalam kesempatan hidup ini kita bisa jadi pribadi yang lebih baik lagi.. Amin..😁

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya, Ma Bayu, seperrti yang dikatakan kak Pipit juga. Mungkin yang melakukan hal ini juga paham bagaimana maksud Mas Bayu.

      Setuju dengan hal itu. Terimakasih untuk doanya Mas Bayu, doa yang sama untuk Mas Bayu dan keluarga. Aaamiin

      Delete
  11. "Menjadi lebih baik bukan dari orang lain, tapi dari diri saya yang kemarin." >> Jadi inget pernah ada yang bilang kalau paling susah itu melawan diri kita sendiri. Mungkin kedengerannya kayak mudah-mudah aja, tapi sebenernya menjadi lebih baik dari diri kita yang kemarin itu ga semudah membalik telapak tangan.

    Btw aku tuh kagum lho sama anak-anak muda kayak Rahul, yang suka melampiaskan keluhan jadi tulisan. Gapapa sesekali mengeluh dan menumpahkan dalam tulisan sih, kalau setelahnya bisa bikin lebih tenang. Dan menurutku juga bagus banget Rahul bisa sadar sama emosi negatif di dalam diri dan berniat mengontrolnya.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Mungkin lebih tepatnya melawan ego sendiri. Kalo melawan diri sendiri, saya jadi ingat meme Spider Man. Ha ha ha.

      Jangan kagum sama saya kak Eya. Saya ngga pantas untuk dapat itu. Tapi kalo barometernya seperti itu, mungkin memang saya kelewat pengeluh yah? Ha ha ha

      Delete
  12. Karena mengeluh adalah normal, dan bagaimana cara kita menghadapi keluhan itulah yang penting... 😀 Setidaknya itu menurut saya. Kalau kita mengeluh dan mengeluh terus tanpa melakukan apa-apa, di sana lah mengeluh menjadi dosa. Tapi kalau kita mengeluh, lalu mengarahkan keluhannya ke arah yang benar, dan setelah itu berusaha kembali, justru mengeluh jadi outlet yang baik agar mental kita tetap sehat dan berimbang.

    Saya sendiri merasa ketika saya ngotot bilang ke diri sendiri "kok ngeluh, sih!" justru saya nggak akan berhenti marah pada diri sendiri hahaha. Jadinya ngeluhception. Ngeluh karena saya mengeluh. Proses penerimaan diri pun jadi lebih panjang. Makanya, paling baik buat saya adalah mengakui kalau saya memang capek, butuh mengeluh, lalu selesai. Tutup buku.

    Buat para bloger, nulis pasti jadi salah satu terapi paling ampuh ya. Bersyukur kita punya hobi ini, jadi bisa menyalurkan emosi yang menggantung atau tidak tersampaikan, plus nggak begitu mahal biayanya dibandingkan shopping spree, misalnya 😄

    Salam kenal ya, Mas Rahul Ji Chang-wook 😉

    ReplyDelete
    Replies
    1. Wah, terimakasih wejangannya kak Mega. Mudah-mudahan saya tidak tergolong orang yang seperti itu. Takut juga euy dosa karena ngeluh.

      Ngeluhception. Ha ha ha. Saya jadi ingat Inception. Tapi memang penerimaan hal yang paling masuk akal ketimbang hal lain.

      Iya, modalnya kecil pula. Cuma 10 ribu untuk kopi dan gorengan sudah bisa duduk lama untuk nulis. Ha ha ha.

      Salam kenal juga kak Mega

      Delete
  13. Bagus tulisannya mas Rahul :D.

    Menulis keluhan di blog, aku setuju lebih untuk self healing. Karena dulu aku ngerasain juga, tiap kali benci dengan sesuatu, marah, dapet masalah, dengan menuliskannya di blog, itu rasanya plong, lega. Tapi dulu aku nulisnya di buku harian yaaa :D. Kalo blog skr memang ga akan aku tulisin curhat.

    Makanya aku ngerti saat membaca bbrp blog yg isinya curhat, karena menurutku bagus seperti itu. Toh dia cuma ingin menyalurkan uneg2 di hatinya dalam bentuk tulisan. Krn tidak ada yg bisa untuk dicurhatin. Lebih bahaya kan, dipendam trus bisa meledak nanti :p

    ReplyDelete
    Replies
    1. Sekarang lebih sering buat ngiler sama lapar yah? Ha ha ha.

      Iya kak Fanny, setuju. Kalo tidak merugikan orang lain, kenapa harus menghakimi tulisan orang lain. Kita juga tidak benar-benar tahu apa yang ia alami, terus kita ujug-ujug datang dan menjatuhkan mentalnya. Aduh. Semoga saya tidak menjadi orang yang demikian.

      Ohya, terimakasih kembali untuk apresiasinya kak Fanny

      Delete
  14. Apresiasi dari tulisan ini adalah membuat hal sederhana menjadi tulisan yang luar biasa.

    Hal sederhana yang saya maksudkan adalah opini personal tentang mengeluh.

    Barangkali kata kunci mengeluh oleh sebagian orang adalah sesuatu yang serius; yang meminta perhatian lebih.

    Namun secara personal, saya menganggapnya sebagai hitam - putihnya kehidupan.

    Hadirnya keluhan merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari persepsi seseorang terhadap hidup itu sendiri.

    Misalnya ada orang yang menganggap hidup harus dinikmati maka keluhan barangkali berada di daftar paling buncit dari hidupnya.

    Tetapi bagi orang yang perfeksionis keluhan jadi indikator target yang tidak tercapai.

    Mengolah rasa (kata mas Rahul dalam tulisan ini - feaat mbak Eno) barangkali solusi tepat untuk dijadikan solusi.

    Rasa syukur terhadap hidup barangkali bisa jadi penengah yang bijak dari topik mengeluh. Nice shere mas Rahul..

    Opini cerdas dan bijak!

    ReplyDelete
    Replies
    1. Wih, terimakasih Bung Martin kalo dianggap demikian. Saya kadang kalo nulis hal diluar dari diri saya, suka susah dan ngga enak. Makanya ngegalinya yah hal yang personal biar gampang aja.

      Terimakasih wejangannya Bung, akan jadi bahan kontemplasi saya nih. Keren.

      Delete
  15. Mengeluh sama dengan kurang bersyukur. Gak tentu juga sih. Kadang kita memang butuh lho mengeluarkan uneg2 hati. Itu masih hal yang positif menerima perasaan kita yang sedang gundah gulana.
    Nah, menjadi negatif kalau ngeluhnya kebanyakan dan ke orang yang sama. Kasian temannya wkwkwk 😁

    Aku rasa itulah manfaat punya blog pribadi. Suka2 gue lah mau nulis apa, betul gak hahaha. Kan setiap orang punya cara masing2 untuk berkontemplasi. Kita sebagai pembaca, kalau suka kasih apresiasi, kalau nggak suka ya udah skip aja. Saling menghargai aja 😊😊

    ReplyDelete
    Replies
    1. Saya pernah bahas hal yang agak mirip kak Tika. Tentang bagaimana wejangan orangtua dulu tentang bersyukur tapi jangan cepat puas.

      Iya, kasian temannya mesti pura-pura terus peduli 😆 Bagus kalo dapat teman yang ngomongnya gamblang

      Iya kak Tika, terimakasih masukkannya 😁

      Delete
Terimakasih sudah membaca. Sila berkomentar terkait tulisan ini.