zsnr95ICNj2jnPcreqY9KBInEVewSAnK0XjnluSi

Fitness untuk Pemula

Jika ditanya, bagaimana tips fitness untuk pemula, saya akan bilang,"biarkan saja ia latihan". Meski begitu, saya juga tidak ingin terlihat sotoy. Ini hanya catatan pengalaman pribadi saya. Bisa saja salah, mudah-mudahan menjadi bijaksana untuk tidak menjadikan ini sebagai rujukan utama.

Fitness untuk Pemulasumber: programfitness.com

Begini maksud saya, jika seorang teman ingin latihan bersama saya, saya akan membiarkan mereka latihan sebagaimana mestinya anggota fitness baru latihan. Pasti, mereka ingin mencoba semua alat. Sama seperti saya pertama kali masuk ke gym. Biarkanlah mereka mencoba semua alat terlebih dahulu. Biasanya hari-hari pertama seperti semangat api yang disirami bensin.

Sepulang dari latihan pertama, pasti seluruh tubuh akan terasa sakit dan pegal. Itu biasa. Saya tidak tahu istilahnya, tapi setahu saya itu terjadi karena ada gerakan baru yang dipakai oleh otot dan otot masih berusaha menyesuaikan. Hal ini akan terasa biasa setelah kurang lebih seminggu latihan. 

Kemudian, apa yang akan saya lakukan setelahnya?

Saya akan memberi edukasi tentang teknik-teknik latihan yang benar dari hal yang saya pelajari. Misalnya, jangan terlalu memaksakan pada beban tapi fokus kepada repetisi dan gerakan yang benar. Itu sangat penting daripada memaksa beban yang berat.

Repetisi adalah jumlah berapa kali kita bisa mengangkat beban dalam satu set. Biasanya, dalam satu gerakan digunakan formula 3-5 set dengan 12 repetisi. Set adalah semacam pengulangan dengan repetisi yang sudah ditetapkan. Jadi, 3 set dengan 12 repetisi, seseorang tersebut mesti mengangkat beban 12 kali dengan pengulangan sebanyak 3 kali. Sederhananya seperti itu.

Seorang pemula, biasanya banyak belajar dari observasi. Mereka melihat, mereka meniru. Itu juga yang saya lakukan. Meski pada akhirnya, beberapa gerakan yang masih tidak benar, akan diajarkan lagi kepada yang lebih ngerti. Makanya, sosialisasi itu penting. Jangan ragu bertanya, jangan ragu minta seseorang untuk mengajari.

Setidaknya, kita punya satu-dua kenalan di tempat gym yang cukup ilmu dan pengalaman. Kita bisa bertanya kepada mereka tentang hal-hal yang ingin kita ketahui. Misalnya, kita bisa bertanya, jika ingin membesarkan lengan, gerakan apa saja yang kita perlukan. Jika ingin membentuk dada, gerakan apa saja yang kita butuhkan.

Setelah mencapai tahap itu, kita akan belajar yang namanya pembagian hari latihan. Sederhananya, ada empat otot besar ditubuh kita. Ada lengan, punggung, dada, dan kaki. Dari keempat otot besar itu, kita bisa membaginya kedalam hari-hari latihan. Itu akan saya jelaskan pada tulisan yang lain.

Ketika sudah mencapai tahap ini, yang perlu kita lakukan adalan konsisten. Ada sebuah penelitian, jika melakukan sesuatu secara berkala selama 21 hari, hal tersebut akan membentuk sebagai sebuah kebiasaan. Makanya, melakukan hal itu dengan konsisten akan membuat kita jadi terbiasa dan menjadikan kegiatan tersebut sebagai kebiasaan.

Selain itu, konsisten juga membantu kita dalam mencari ritme latihan. Kita bisa tahu dari hasil konsisten itu kapan waktu terbaik untuk latihan. Kapan waktu terbaik untuk istirahat. Kapan waktu terbaik untuk hal-hal yang kita butuhkan. Lewat konsisten, kita bisa mendapatkan hasil daripada hanya sebuah niat besar diawal saja.

Saya tidak bilang bahwa niat besar itu salah. Tapi, bagaimana sebagai individu, kita bisa selalu ingat tujuan kita melakukan sesuatu agar prosesnya bisa maksimal. Kemudian, hal yang kita lakukan mestinya datang dari diri sendiri. Bukan dari orang lain. Sehingga, itu tidak menjadi sebuah ajang pembuktian semata.

Kenapa itu salah? Karena jika hasilnya tidak sesuai yang kita harapkan, kita akan kecewa. Padahal, yang mesti kita benahi adalah apa yang perlu kita perbaiki. Misalnya, kita sudah rajin latihan tapi berat badan belum turun dari yang kita harapkan. Mungkin bukan latihannya yang salah, tapi pola makannya. Kemudian perjuangan selama ini sia-sia karena kita menjadi kecewa dengan hal yang tidak perlu.

Pembuktian memang penting. Itu bisa jadi pecutan agar lebih semangat. Tapi saya harap itu bukan alasan utama. Ada alasan yang lebih penting ketimbang mencari validasi dari orang lain.

--

Saya bukan ahli. Apa yang saya katakan belum tentu benar. Kalau kata dosen saya,"jangan jadi gelas kosong, yang akan mempercayai apa yang keluar dari mulut saya". Untuk itu, saya membuatkan referensi bacaan yang berkaitan dengan tulisan saya. Semoga ini bisa meningkatkan literasi kesehatan kita semua untuk selalu haus akan pertanyaan.

 Referensi bacaan:

1. https://www.healthline.com/health/exercise-fitness/what-are-reps
2. https://www.nhs.uk/live-well/exercise/pain-after-exercise/
3. https://jamesclear.com/new-habit

Related Posts

10 comments

  1. Dulu, saat saya pertama kali gym, saya pun tipe yang mencoba semua alat dulu hahaha, saya pertama kali gym karena diajak sohibul saya untuk daftar. Kebetulan lokasinya di mall, jadi saya pikir boleh~lah, gym sambil nge-mall asik juga sepertinya πŸ˜‚

    Dan saya sempat pakai trainer, memang yang dia bilang nggak jauh beda dengan mas Rahul, fokusnya justru posisi yang benar dulu, nggak perlu masuk ke alat berat buru-buru, yang penting badan sturdier, terus repetisi perlahan naik πŸ€ͺ *susah bingits*

    Maklum saya tipe yang gerak sedikit langsung mengeluh cape hahahahaha. Jadi susah banget untuk memupuk rasa ingin olahraga, untungnya karena dibiasakan datang setiap hari, akhirnya jadi sedikit terbiasa. Walau alasan datang setiap hari lebih karena rugi sudah bayar πŸ˜†

    Ditunggu series menuju Ji Chang Wook lainnya, mas πŸ₯³

    ReplyDelete
    Replies
    1. Setidaknya ada motivasi untuk datang tiap hari, Kak 🀣🀣🀣
      Meskipun motivasinya karena biar nggak rugi wkwkwkwk

      Delete
    2. @CREAMENO: alasannya cukup realistis. Sama dengan prinsip yang saya terapkan. Saya bisa saja membeli alat, tapi saya tau jika membeli alat saya bukan akan rajin latihan, tapi akan melulu menunda latihan. Jadi lebih baik pake cara "terpaksa" itu: saya bayar member, biar ada dorongan untuk ke gym πŸ˜…

      Delete
    3. @Lia The Dreamer: Itu motivasi yang saya gunakan juga kak Lia, dan itu memang worth it untuk beberapa orang, termasuk saya 😁

      Delete
  2. Hul, berbagi pengalaman seperti ini sangat menarik bagi kaum awam seperti aku hahahaha meskipun nggak tahu akan gym atau nggak, tapi aku udah dapat pembelajaran dari pengalaman orang lain lewat tulisan ini 😁
    Thank you ya, Hul-wookie πŸ™ˆ

    ReplyDelete
    Replies
    1. Dapat nama baru lagi πŸ˜…

      Saya cuma sharing dengan tempelen sedikit tips yang saya pelajari. Mudah-mudahan bermanfaat 😁

      Delete
  3. Sebelumnya terimakasih Mas Rahul atas infonya... pasti brguna ketika hati saya sudah mantap buat ngegym.. heheh

    Seumur2 belum pernah ngegym soalnya.. tapi kalau masuk gym pernah, sekali... itupun diam2 terus langsung masuk ruang sauna... hahaha jangan ditiru.. trus langsung keluar lagi karena pengapnya naudzubillah...

    ReplyDelete
    Replies
    1. Aamiin mas Bayu. Semoga niatnya dimudahkan.

      Saya tidak bisa memberi saran untuk itu, tapi seperti saran saya diatas; coba saja semua alat dulu. Tidak usah yang berat-berat. Terus cari teman (kalau bisa). Minta bantuan Trainer (kalau mampu bayar jasanya)

      Delete
  4. Pernah ikut gym pakai personal trainer...lumayan, sih. Pengalaman mas Rahul banyak benarnya..

    Cuma saya kebetulan nggak cocok dg olahraga fitness dg alat karena sukanya yang tangan kosong...kelas yoga, kardio, zumba dsb..jadi sayang kalau nggak kepake semuanya

    ReplyDelete
    Replies
    1. Saya ngga pernah pake PT. Belajarnya learning by doing juga, sama observasi dan minta diajarin. Mudah-mudahan berguna.

      Tidak masalah. Semua orang punya cara dan tempatnya. Jangan dipaksakan. Ada banyak cara untuk mencapai tujuan yang sama

      Delete
Terimakasih sudah membaca. Sila berkomentar terkait tulisan ini.