zsnr95ICNj2jnPcreqY9KBInEVewSAnK0XjnluSi

5 Hal yang Tidak Lagi Saya Lakukan

Terinspirasi dari tulisan Aina, pada pos ini saya ingin merekap apa saja hal atau paham yang tidak lagi saya lakukan. Saya tidak pernah berpikir untuk berada pada satu kondisi seperti ini, tapi semakin ke sini hal-hal yang saya terima, membuat satu kebulatan pemikiran baru yang kadang-kadang tidak bisa saya tolak dengan mudah.

Fitur WhatsApp

Secara menyeluruh, saya mulai mengurangi bermain sosial media. Bermain hanya kalau memang ingin. Kalau tidak, saya tidak melakukannya. Hal itu saya lakukan ketika menyadari diri saya berada pada satu keadaan,"kok ini likenya sedikit?", "kok ini yang lihat sedikit?". Dalam hati saya, kayaknya saya mulai sakit ini.

Saya unninstal Instagram selama hampir dua bulan dan tidak hidup dengan itu. Akhirnya saya mulai menemukan ritme saya kembali. Menemukan diri saya tidak lagi bergantung pada hal itu. Kalau memang mau bermain sosial media, saya bermain. Kalau tidak juga tidak masalah. Lagi pula, itu membuat saya terhindar dari poin no. 4.

Ngomong-ngomong soal WhatsApp, apa kaitannya dengan sosial media?

Kalau diperhatikan, semua sosial media sekarang sudah ada fitur konten 24 atau 48 jam. Orang-orang menyebutnya dengan update story. Saya tidak lagi ingin menjadikan WhatsApp saya sebagai sosial media, dan untuk melakukan hal itu, saya tidak lagi membuat atau mengupload konten di WhatsApp. Salah satunya tidak lagi menggunakan fitur story pada WhatsApp. 

Membeli Pengakuan

Saya pernah membahas tentang hal "Ini Bukan Kamu Banget". Dalam tulisan itu, ada poin dimana saya mengatakan tidak lagi membeli baju branded. Bukan, saya bukan anti kapitalisme. Kalau saya anti kapitalisme, mana mungkin saya menggunakan hape, laptop, dan barang lain yang sifatnya kapitalisme.

Hal yang ingin saya katakan, saya tidak lagi ingin terlihat memakai barang branded. Kalau dulu, saya membeli barang agar ingin dilihat mampu memilikinya, sekarang saya membeli atas dasar kepuasaan pribadi. Jika saya senang secara pribadi dengan barang branded, bukan tidak mungkin saya akan membelinya.

Saya tidak lagi mencari pengakuan, validasi, atau apalah itu. Saya rasa, itu sudah lewat untuk saya. Saya tidak bilang bahwa ini harus menjadi hal yang mesti orang ikuti. Semua orang hidup pada apa yang mereka yakini, pada hal yang menurut mereka nyaman. Jika nyaman yang mereka cari adalah mencari validasi tersebut, tidak masalah. Tapi sekali lagi, itu bukan saya.

Terlalu Obsesi

Saya tidak tahu, sifat ini lahir darimana. Tapi saya tergolong cukup obsesi pada beberapa hal, dan itu buruk untuk saya. Saya ingin menjadi penulis kala itu, membuat buku dan hidup dari sana. Saya rasa, itu bukan hal yang bisa saya pegang. Jika amit-amit, keluarga saya dalam keadaan yang tidak baik-baik saja, apakah saya akan tetap berpegang teguh pada obsesi itu?

Satu hal yang bikin saya merenung setelah nonton Pixar's Soul, saya kayaknya tidak perlu terlalu obsesi dengan segala hal. Saya hanya perlu menikmati kesenangan kecil disekeliling saya. Apakah ini artinya saya tidak punya obsesi? Tidak. Saya punya. Saya lebih senang menyebutnya ambisi. 

5 Hal yang Tidak Lagi Saya Lakukan

Jika pada akhirnya saya tidak bisa mencapai ambisi saya, tidak masalah. Saya punya ambisi lain yang bisa bikin saya bahagia. Saya tidak ingin mengatakan orang yang masih percaya passion adalah orang yang salah. Tidak. Ada yang memang konsisten hingga kesempatannya datang, ada yang tidak. Untuk mencegah hal itu terjadi, saya tidak mau menggantungkan sepenuhnya hidup saya pada kata 'passion'.

Merayakan Ulang Tahun

Kalau ada hal yang tidak lagi saya lakukan, pertama kali yang terlintas dikepala saya adalah tidak lagi memandang ulang tahun sebagai sebuah perayaan. Saya tidak lagi mengucapkan dan sebenarnya tidak ingin diucapkan. Tapi bagaimanapun, saya tidak bisa mengontrol orang untuk melakukan apa yang saya inginkan.

Hal yang bisa saya lakukan sebatas hal yang menyangkut diri saya sendiri. Misalnya, ketika saya berulang tahun, saya tidak bisa menyuruh teman-teman saya berhenti untuk mengatakan hal itu. Mungkin, belum saatnya. Tapi yang bisa saya lakukan adalah mengabaikan perasaan senang dari hal itu.

Saya tidak bisa menjabarkan alasan spesifik, tapi saya berpikir, hari ulang tahun memang hari bertambahnya umur di dunia, tapi di tempat yang lain umur kita berkurang. Jadi, mana mungkin saya tega memberi perayaan pada diri saya yang umurnya berkurang. Saya lebih senang mengajak teman-teman saya makan. Itu sudah lebih dari cukup sebagai sebuah rasa syukur.

Ini mengingatkan saya dengan kata Maeve dalam Sex Education saat ia ditanya tentang kebenciannya terhadap hari ulang tahunnya. Ia menjawab; 

5 Hal yang Tidak Lagi Saya Lakukan

Terdengar kasar, tapi jika ingin dipikirkan benar juga. Maeve adalah perempuan yang cukup aktif membaca buku-buku feminis. Jika fokus, kita akan melihat buku-buku itu di tempat tinggalnya. Hal yang ingin saya katakan, itu bukan kata yang kasar kalau tahu konteksnya.

Mempercayai Passionisme

Kejadian ini baru saja terjadi, ketika saya mengantarkan teman saya ke satu tempat. Kami bercerita soal hal yang kami lakukan. Kebetulan, ia sekarang senang berbisnis. Ia membuka usaha makan, kedai, dan sesekali jualan baju. Ia bertanya kepada saya kenapa tidak menjadikan hal yang saya sukai (dalam hal ini passion menulis), untuk menjadi sumber penghasilan.

Saya menjawab ditengah dinginnya angin malam,"Saya tidak bisa menggantungkan hidup saya pada apa yang saya sukai. Ketika orang-orang yang saya sayangi butuh makan, saya tidak mungkin mendahulukan ambisi saya. Hal ini juga sejalan dengan hal lain. Misalnya, saya mencari penghasilan lewat membuat cerita pendek di koran. Saya mesti mengikuti standar format tulisan koran. Harus panjangnya sekian, tidak boleh membahas hal itu, tidak bisa ini-itu, dan lain-lain. Itu mengekang saya dan saya tidak ingin dikontrol diluar dari diri saya. Apalagi dalam hal yang saya sukai,"

Kemudian ia bertanya,"Jadi?"

"Jadi apa?"

Mungkin maksudnya kepada,"apakah saya tidak ingin hidup dari passion?"

"Ingin. Sangat ingin. Tapi seperti yang saya katakan, jika orang-orang yang saya sayangi butuh makan, saya tidak mungkin mendahulukan passion. Lagipula, saya tidak bisa, eh maksudnya belum bisa mencampuradukkan antara kesenian dan bisnis. Mungkin orang lain bisa dan itu tidak masalah. Tapi saya tidak bisa, eh belum bisa maksudnya."

Kami sampai, ia turun dan saya pamit pulang.

 --

Untuk yang terbiasa dengan hal-hal yang tidak saya sebutkan, mungkin akan merasa saya sebagai orang yang menyedihkan, sok indie, atau tidak menyenangkan. Atau mungkin saya yang terlalu suudzon dan merendahkan pemikiran teman-teman. Maaf kalau demikian.

Saya tidak meminta lahir seperti apa dan dimana, tapi banyak aspek yang saya lewati sehingga bisa pada sampai pemikiran diatas. Ada banyak kontemplasi yang saya lakukan setiap malam, satu sampai tiga jam sebelum tidur untuk memikirkan hal-hal yang sebenarnya bisa saya gunakan untuk lebih dulu istirahat.

Makanya, satu yang saya pegang. Saya tidak ingin menutup sepenuhnya kedua telinga saya. Mungkin apa yang dikatakan orang disekililing saya ada benarnya, dan itu membantu saya untuk mengerem pada hal-hal yang saya lakukan kedepannya.

Hari ini, saya lihat di Facebook Aina berulang tahun. Pas sekali, menulis pos yang terinspirasi darinya dan ia sedang berulang tahun. Belakangan ini, blognya tidak bisa saya akses, padahal sangat ingin membaca tulisannya. Seperti poin no. 4, apakah saya akan mengucapkan selamat untuk Aina? Iya. Selamat sudah menjadi perempuan keren dimata saya. Saya tidak mengucapkan selamat ulang tahun, tapi doa tetap akan saya panjatkan.

Related Posts

20 comments

  1. Satu lagi yang menyelipkan film Soul sebagai referensi dalam tulisannya. Apakah ini tandanya saya harus segera nonton juga? 😁

    Seperti komen yang saya tinggalkan di tulisan Awl, menarik yaa seiring kita bertambah dewasa preferensi dan nilai kita tentang kehidupan juga ikut berubah. Soal main sosmed saya juga woles banget sekarang. Dulu waktu main sosmed jujur saya cari validasi dan pengakuan. Lama-lama capek ah πŸ˜‚ akhirnya tujuan main sosmed pun berubah, hanya betul-betul untuk "bermain" alias refreshing aja. Saya pastikan akun yang di-follow memberikan pencerahan dan hiburan, bukan malah jadi ajang perbandingan diri.

    Kalau soal ucapan ulang tahun, saya pastinya menghargai keputusan Mas Rahul. Sebagai gantinya, berarti saya boleh minta ditraktir aja kali ya wkwkwk *just kidding, jangan dianggap serius ya πŸ˜†*

    Tulisan yang keren, as usual!

    ReplyDelete
    Replies
    1. Saya ngga bisa bilang harus, tapi Soul akan cocok untuk orang-orang diatas 17 tahun, yang sudah akan mengalami fase yang orang sebut quarter life crisis.

      Saya tidak bisa bilang setuju, tapi faktor usia memang salah satunya. Selain itu, ada faktor lain yang lebih besar dari itu. Mungkin kondisi, lingkungan, ataupun referensi intelektual maupun non intelektual.

      Ha ha ha. Kalau saya main ke Bogor, atau Bali, mungkin bisa saja. Sambil sekalian kopi darat sama kak Jane dan keluarga πŸ˜†

      Terimakasih kak Jane. Tidak sabar JaneXLia bulan ini πŸ˜„

      Delete
  2. Rahul, kita sependapat. Sama dengan Rahul, aku sedang ada di tahap untuk mengurangi kebiasaan mengucapkan selamat Ulang tahun kepada siapa saja. Mungkin terdengar aneh untuk sebagian orang tapi aku setuju dengan pernyataanmu diatas

    “memberi perayaan pada diri saya yang umurnya berkurang”, memberi penghargaan dan perayaan thdp diri sendiri bisa dilakukan tidak pada hari ulang tahun saja, aku sering mikir lalu apa yang membuat spesial dari merayakan ulang tahun? πŸ˜…
    Oke mungkin ini jadi sedikit sensitif untuk sebagian orang ya.

    Ngomong2 tulisan yang bagus Rahul!

    ReplyDelete
    Replies
    1. Wah, ada yang sejalan dengan saya. Semoga kak Reka tidak memaksa lingkungan kak Reka untuk bersikap demikian. Ini bukan cara yang baik untuk terlihat normal πŸ˜…

      Terimakasih kak Reka. Tulisan kak Reka juga keren.

      Delete
  3. Saya paling suka membaca isi kepalanya anak-anak muda, terutama lelaki.
    Di mana usia kayak Rahul ini, masih berkutat dengan berbagai opini, dan saya kagum mungkin karena banyak baca, Rahul jadi lebih maju beberapa langkah di depan anak mudah kebanyakan.

    Cuman yang masalah tidak percaya passion, kayaknya sayang banget deh.
    Maksudnya, masih usia kayak Rahul, akan lebih baik, jika benar-benar mengeksplore passion, sebelum akhirnya berada di sebuah masa, di mana passion itu ya duit hahaha.

    Karena, banyak banget lelaki zaman sekarang, yang ketika udah menikah dan punya anak, malah tiba-tiba merasa hidupnya tak berarti, merasa pekerjaannya membosankan, dan merasa ada yang kurang di hidupnya, lalu tiba-tiba memutuskan mengejar passion, padahal ya udah telat sih menurut saya, kecuali dia punya modal untuk itu, karena tidak mudah mengejar passion, bahkan masih single aja, semua terasa penuh tantangan, apalagi udah punya segepok kewajiban.

    Tapi itu menurut saya sih, dan tentu saja kalau melihat dari kisah di Soul, kejarlah passionmu, tapi jangan lupa mengedarkan pandangan ke kanan kiri juga.
    Agar, yang terasa itu adalah perjalanannya, bukan hanya tujuannya :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Saya ngga banyak banyak kak Rey, cuma cukup rajin observasi. Kalau begitu, kak Rey cukup observer juga yah?

      Berbicara masalah passion, saya rasa itu hal yang akan panjang jika didiskusikan. Tapi sederhananya begini kak Rey. Jika saya terobsesi passion, dengan kondisi sebagai anak laki-laki pertama, saya merasa ada satu beban yang lain. Lagipula, menjadikan passion saya, dalam hal ini bercerita, sebagai sebuah bisnis untuk menghidupi saya, tidak mungkin saya lakukan ketika berhadapan dengan rasa keras kepala saya. Saya tidak suka diatur diluar diri saya. Saya adalah kontrol diri saya. Saya lebih tidak tega, melihat diri saya melakukan hal yang saya sukai dengan tekanan dari orang lain semata-mata karena hanya untuk bisa hidup.

      Untuk jawaban saya akan berpikir demikian ketika menikah, saya rasa sudah mendapat gambaran dari film Soul. Mungkin kak Rey perlu melihat ulang dialog di tempat cukur. Itu keren sekali.

      Mungkin akan saya bahas lain kali, ketika saya sudah benar-benar bisa membahasnya secara runut dan santai.

      Delete
    2. Komennya ikut nimbrung di sini aja deh πŸ˜†πŸ˜†

      Setuju Mas Rahul, pembicaraan tntng passion itu pembahasan yg ga akan bisa singkat.
      Klo aku pribadi, mikirnya kita hrs meluangkan waktu buat passion kita walaupun buat waktunya hrs disesuaikan dg keadaan. Misal dg semua tanggung jawab mas rahul sebagai anak pertama, mungkin blm tentu bs full untuk passion sperti orang lain.
      Tp passion mnrt aku ga melulu tntng penghasilan. Misal, buat aku passion adalah salah satu recharge energi untuk keluar dr rutinitas. Melakukan sesuatu dg passion membuat aku kaya punya smangat tambahan baru dlm hidup. Maaf kedengerannya lebay, tp memang gt kenyataannya πŸ˜…

      Btw, aku blm smpet nonton film Soul. Jd penasaran pengen nonton jugaa..

      Delete
  4. Aku...nggak pernah pakai fitur story whatsapp sampai hari ini xD belum nemu asiknya di mana, lihat-lihat story orang juga hampir nggak pernah. Paling lihatnya story ponakan atau orang tua, selain itu jarang banget buka karena yaaa...nggak pingin aja wkwk.

    Untuk merayakan ulang tahun itu tos! Aku juga nggak merayakan, entah dari kapan, kayaknya waktu lulus SMA dulu. Aku awkward kalau ada yang tau ultahku kapan hahahaha, tapi kalau didoakan ya aku amini dengan senang hati. Lebih suka ngerayain ulang tahun artis K-pop yang disuka sih xD

    Hmmmm...jadi makin pingin segera nonton film Soul nih.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Setiap orang punya sikap yang mereka percaya. Mungkij hal itu asik untuk mereka yang melakukannya, dan itu tidak masalah. Ketika orang mempermasalahkan centang biru dan tidak, saya malah biasa-biasa. Toh, ketika dia memutuskan untuk hanya membaca berarti kita bukan prioritas πŸ˜†

      Oke, tos. Saya tidak sampai awkward juga, sih. Biasa-biasa saja. Awkwardnta kalo ada orang mau ngerencanain suprise, tapi mesti pura-pura tidak tahu πŸ˜… Aduh, saya menarik diri dari kondisi itu

      Delete
  5. Rahul, terima kasih ya! Ucapan seperti ini buat saya justru lebih bermakna😍. Saya nggak merasa keberatan kalau nggak diucapin ulangtahun, karena semakin kesini saya juga semakin merasa nggak ada gunanya lagi sebuah perayaan—selain bersyukur masih diberi kesempatan hidup. Plus karena saya bukan orang yang termasuk punya geng instastory khusus ulangtahun sampai titik-titik, jadi udah terbiasa sama hari ulangtahun yang—memang imo seharusnya—biasa-biasa sajaπŸ˜‚. Soalnya saya juga sering lupa ulangtahun teman sendiri, dan it's totally fine karena hubungan kami sampai saat inipun masih baik-baik saja, wk. Toh kalau mau kasih hadiah seharusnya nggak perlu tunggu mereka ulangtahun sah-sah saja😁.

    Saya ingat pernah baca tulisan tentang keputusan Rahul yang tidak lagi merayakan/mengucapkan ulangtahun ini, dan tentang fitur whatsapp di kolom komentar blog saya. Beberapa hal ini seperti mengingatkan saya bahwa proses pendewasaan setiap orang itu betul-betul berbeda, nggak kenal waktu, usia, bahkan pelajaran apa yang menuntun mereka menempuh beberapa fase baru dalam hidup.

    Sekali lagi, terima kasih banyak, ya Rahul! Semoga sehat selalu dan semangat kuliahnya sampai lulus nanti, Aamiin😁✨

    By the way, soal blog, saya memang lagi tutup dulu untuk pribadi sementara ini. Takutnya konsentrasi saya terbagi-bagi dengan beberapa tanggungjawab. Tapi kalau dirasa saya sudah kepalang kangen sama teman-teman blogger, kayaknya saya bakalan buka lagi, RahulπŸ˜†

    ReplyDelete
    Replies
    1. Terimakasih kembali, Aina ☺

      Yap, saya setuju dengan hal itu. Memang itu tidak mengenal waktu dan usia. Meskipun tidak dapat dipungkiri, usia juga salah satu faktor yang cukup banyak terjadi pada kebanyakan orang.

      Aamiin. Doa yang sama untuk kamu, Aina.

      --

      Oh, alasannya gitu. Tidak masalah. Kerjakan prioritasmu dulu. Kalo sudah selesai, jangan lupa kembali 😁

      Delete
    2. Mba Awl, pantesan aku bbrapa kali pas mau berkunjung ke blog Mba Awl tp ga bisa..

      Apapun itu, take your time Mba. Semoga dg close (sementara) blog jd bisa bikin Mba Awl jd bs lbh fokus dg tnggung jawab yg lbh prioritas. Sukses selalu ya Mba 😊

      Delete
  6. Tulisan ini bikin merenung deh, Rahul.. Terutama soal ulang tahun itu, aaah kayaknya saya harus mulai nonton Sex Education nih πŸ˜‚

    Beberapa tahun belakangan juga udah ga pernah lagi nunggu-nunggu ulang tahun apalagi nunggu yang ngucapin.. Tapi saya masih selalu beli kado buat diri sendiri hahaha mungkin kedengeran aneh buat beberapa orang, tapi ini salah satu bentuk self love dan menghargai diri sendiri karena udah kerja keras selama setahun πŸ˜‚ Tapi harusnya ga usah pas ulang tahun juga bisa sih yaa? Wkwkwk

    Ngomong-ngomong soal blognya Awl, baru kemarin juga nyadar blognya ga bisa diakses.. Eh udah kejawab sama komentar orangnya langsung di atas πŸ˜†

    ReplyDelete
    Replies
    1. Jangan menganggap hal diluar kenormalan itu aneh. Preferensi dan referensi kak Eya berbeda dengan orang lain. Apa yang kak Eya jalani, berbeda dengan apa yang orang jalani. Jangan menganggap kecil hal tersebut. Saya ragu itu adalah cara otak menjaga itu agar tetap waras.

      Iya tuh, sudah dikonfirmasi sama yang empunya blog. Saya pikir tadinya mau merombak, tapi alasannya jauh lebih duniawi πŸ˜†

      Ohya, Sex Education itu keren. Tapi itu bukan hal yang bikin saya berpikir demikian.

      Delete
  7. Haii Rahul.. Saya sangat suka dengan beberapa yang udah kamu lakukan. Main media sosial jg saya udah kurangi dikit demi sedikit. Pun dengan ulang tahun... Saya tidak pernah merayakannya. Menurut saya, ulang tahun adalah sesuatu yang tidak penting. Biasa saja, sama seperti hari pada umumnya. Bahkan ukang tahun orang tua saja saya kadang tidak ingat. Kalo mengisi suatu biodata di kampus dulu, sering nge cek KK dulu hahaa
    Eh, gak. Sekarang juga masih gitu.. πŸ˜…

    ReplyDelete
    Replies
    1. Saya tidak sampai pada pemikiran seperti itu. Mungkin karena dulunya saya adalah orang yang masih merayakan sesuatu. Untuk saya, diri saya adalah diri saya. Dengan tidak merayakan ulang tahun, bukan berarti tidak menghargai orang yang merayakannya. Jika seorang teman, atau mungkin keluarga merayakannya, sayakan akan turut serta ikut meramaikan. Saya juga tidak ingin jadi orang yang kekeuh dengan pemikiran sendiri.

      Saya mengatakan hal tersebut untuk menghindari orang menyalahartikan maksud saya. Mudah-mudahan bijaksana.

      Delete
  8. Yupz,, menyadari hal2 kecil di sekitar yg membuat diri bahagia itu penting banget. Selain meningkatkan rasa fokus , juga meningkatkan rasa peduli akan hal2 sekitar..

    Kita yg muda2 mngkin lagi banyak banget opini2 bertebaran di sekitar kita yg terkadang bikin rumit buat menyadari mana yg kita banget.. Obsesif akan suatu hal tak apa sih menurutku asalkan tidak berlebihan. Toh rasa "obsesif" yg terkontrol bisa membantu kita buat mencapai tujuan.. iyah nggk sih??

    Kadang aku mikir. Enak banget yah yg punya penghasilan dari sesuatu yg ia suka.. karena jujur saya pun pengen begitu..hehe. soalnya Pekerjaan yg saya lakukan sekarang tak lebih dari soal berpikir rasional karena saya belum punya pondasi yg kuat.. mngkin waktu yg akan menjawab..

    Sukses buat segala sesuatu yg sedang diusahakan yah... Quater life crisis memang tak mudah.. heheh . Kalau kata orang Jepang. GANBATTE KUDASAI...

    ReplyDelete
    Replies
    1. Perjalanan itu adalah perjalanan menemukan apa yang sebenarnya kita cari. Apa yang saya percaya hari ini, besok belum tentu lagi saya percaya. Kehidupan tidak stagnan. Saya percaya dengan pemikiran majemuk, yang akan membuat saya juga ikut berubah.

      Siap mas Bayu. Doa yang sama untuk mas Bayu. Saya ngga tau mesti menyemangati dengan kalimat seperti apa, tapi saya hanya ingin bilang,"jika keluarga mas Bayu masih kelaparan, orang yang mas Bayu sayang masih hidup dalam ketidaknyamanan, persetan dengan passion."

      Delete
  9. Hampir semuanya sudah saya berhenti lakukan sejak usia 23 deh. Terutama ucapan ulang tahun. Saya sembunyikan dari medsos infonya. Dan enggak masalah sekalipun tak ada yang ingat maupun mengucapkan.

    Tapi perihal yang cari uang lewat menulis sebagai pemasukan utama ini diam-diam masih saya coba impikan dan belum nyerah sekalipun masih tetap butuh pekerjaan lainnya. Memang enggak mungkin mendahulukan idealis ketika perut lapar. Keburu mati.

    Soal InstaStory, WA Story, ataupun lainnya memang enggak pernah bikin. Lebih sreg mengisahkannya dalam bentuk tulisan atau twit aja kalau mau bahas sesuatu mah. Haha.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Ohiya, fitur itu kadang yang bikin ulang tahun ketahuan. Kayaknya saya sudah privasi info itu, tapi teman-teman dekat saya ingatannya masih cukup kuat.

      Sesekali juga masih saya lakukan. Tapi intensitesnya tidak se-hardcore dulu, kayaknya itu bukan lagi jadi obsesi utama saya. Seenggaknya itu sudah bisa saya kontrol.

      Paling benar memang seperti itu. Selain hanya selesai 24 jam, tulisan bisa lebih ekspresif dan genuine (mudah-mudahan)

      Delete
Terimakasih sudah membaca. Sila berkomentar terkait tulisan ini.