zsnr95ICNj2jnPcreqY9KBInEVewSAnK0XjnluSi

Menghitung Mundur

Sudah lewat pertengahan Januari saja. Waktu berjalan tanpa mau menunggu. Makanya, catatan jadi sangat penting hari ini untuk masa yang akan datang. Dibaca lagi untuk mengingat masa-masa tertentu. Ini adalah catatan sebelum pergantian tahun kemarin.

7 JAM LAGI

Itu adalah malam terakhir sebelum tahun berganti. Kata Mama dan Tante, saya di rumah saja karena kalau tahun baru di luar, jalanan akan sangat rame dan akan terjebak diantara orang-orang itu. Saya oke-oke saja, kebetulan tidak ada ajakan juga malam tahun baru ini. Saya ke Gunung Jati sebelum Maghrib karena ada yang mesti saya urus, makan somay, dan pulang sebelum jam 8 malam.

4 JAM LAGI

Di rumah, saya cuma rebahan. Menunggu panggilan untuk barbeque-an di rumah Riki. Itu adalah agenda tahun baru kami. Karena diajak, kami mesti menunggu aba-aba sebelum ke sana, ke teras Riki yang terletak di sebelah rumah.

Sebelum ke rumah Riki, saya dapat panggilan tetangga sebelah untuk makan. Karena tidak enak, saya terpaksa makan saja tapi dengan porsi yang sedikit. Makanannya ikan bakar dan soto banjar. Malam tahun baru memang waktu terbaik untuk cheating. Ha ha ha.  Setelah makan, saya menepi karena kebanyakan disana adalah Ibu-Ibu dan Bapak-Bapak.

3 JAM LAGI

Saya duduk di deker sambil minum kopi karena ngantuk. Menunggu yang lain datang dan siap. Sebelum kopi tandas, Ari dan Thariq datang. Saya bilang tunggu sebentar untuk membawa gelas kopi masuk. Setelah keluar, ada Ombe juga. Kami ke teras Riki bersama. Sudah ada banyak orang di sana, orang-orang yang tinggal di rumah Riki.

Kami duduk di satu meja bundar tipe lesehan. Di situ sudah ada alat untuk barbeque, daging, dan selada. Ibu Riki membantu kami untuk menyetel kompor agar kami mudah dan tinggal menaikkan daging demi daging, sosis demi sosis. Selain itu, ada juga cumi yang sudah dipotong-potong. Kami tinggal menaikkan ke kompor, bolak-balik, dan memakannya sendiri. 

Cara makannya cukup variatif. Kadang kami makan dagingnya tanpa apa-apa atau kadang kami bungkus dengan selada biar kayak cara makan orang Korea (saya taunya bagian ini disebut ssam).

Menghitung Mundur
Selain barbeque, Ibu Riki juga menyiapkan sup ubi. Beberapa yang sudah puas makan daging, pindah ke sup ubi sebagai makanan beratnya. Alasan Indonesiawi, biar kenyang. Saya masih berkutat dengan daging-daging karena makan sup ubi tentu saja sudah tak bisa. Setelah makan, kami ke teras rumah Thariq. Di sana, ada Bapak Thariq, Om Unggul, dan Om Riki. Namanya Riki juga. Jadi sudah ada tiga. Riki Barbeque, Riki Ombe, dan Om Riki.

2 JAM LAGI

Kami membentuk cup-cup. Sudah lama tidak bermain game bola, ternyata kehausan itu membuat saya jadi makin semangat. Meski sempat menang lawan Om Unggul, tapi kalah setelahnya melawan Thariq. Cup-cup dimenangkan oleh Om Riki, orang yang memang jago main game. Tahun lalu juga sempat menang saat big cup kami adakan di teras kos.

Menghitung Mundur

30 MENIT LAGI

Kami tidak pergi kemana-mana. Menanti tahun baru dengan bermain PES dengan update-an baru itu saja sudah cukup. Setelah detik-detik pergantian tahun, satu demi satu kembang api meledak di langit. Kami menyaksikan dari teras tempat kami bermain. Pulang jam dua pagi dan saya baru tidur jam tiga lewat, sebelum adzan subuh.

2021

Paginya, hal pertama yang saya lakukan adalah mencukur habis rambut saya. Itu semacam tujuan jangka pendek saya, saat tahun 2021, saya ingin mencoba botak dalam waktu yang agak lama. Jadi kayaknya, sebulan sekali, atau tiga minggu sekali, saya akan mencukur habis rambut saya dengan clipper yang dikasih kak Eno.

Ternyata, cukur botak juga lumayan sulit. Saya kira tinggal menggeser clipper ke kepala, ternyata prakteknya lebih sulit dari perkiraan saya. Tapi tidak masalah. Saya masih punya cukup banyak waktu untuk belajar. Ohya, sudah tahun 2021. Cerita tahun baru kalian seperti apa?

Related Posts

10 comments

  1. Hebat banget bisa merekam detik-detik pergantian tahun baru lewat tulisan! Hahaha, aku nggak kemana-kemana malam tahun baru, Kak.

    Anyway, kepengin botak dalam kurun waktu lama emang suka sama style botak gitu kak?? Sudah pernah gondrong kah?

    ReplyDelete
    Replies
    1. Semua kebantu karena ada foto, chat, dan catatan. Sekarang mah kita sudah lebih dimudahkan 😁

      Kalo gondrong sampe bisa diikat sudah pernah. Botak ini semacam keluar dari kebiasaan aja, alasan kerennya untuk memberontak stigma πŸ˜…

      Delete
  2. Wah, mas Rahul masih hapal saja, hahahaha, saya nggak ingat apa yang saya lakukan pada detik-detik menuju tahun baru, kayaknya hanya makan malam, menonton serial terus tidur. Wk.

    By the way, ssam-nya looks delicious mas 😍 Memang makan BBQ ala Korea paling enak pakai selada, tapi si kesayangan justru nggak hobi makan di-wrap, hahaha aneh banget. Dia prefer makan daging terpisah dari sayurnya biar lebih terasa katanya πŸ˜‚

    Enak banget mas Rahul pesta makan, dari ikan bakar, Soto Banjar, sampai BBQ-an, saya baca ceritanya jadi telan ludah 🀀 Eniho, kenapa mendadak jadi ingin botak, mas? Jangan bilang gara-gara gagal potong rambut pakai clipper? Hahahaha.

    Semangat belajarnya ya, you can do it, mas! πŸ˜†

    ReplyDelete
    Replies
    1. Itu juga karena bantuan galeri foto, riwayat chat, dan catatan. Tanpa itu semua, saya juga ngga akan begitu ingat detil-detilnya πŸ˜„

      Saya curiga, kesayangan itu juga masuk #TimBuburTidakDiaduk πŸ˜† Alhamdulillah dikelilingi orang-orang yang baik. Jadi bisa makan enak tiap ada acara πŸ˜„

      Tidak kak Eno, saya botak cuma ingin keluar dari kebiasaan saja. Akan saya ceritakan secara detil pada pos yang lain.

      Siap kak Eno. Terimakasih sudah fasilitasnya 😁

      Delete
  3. Rahul, itu temanmu yang baju merah kayaknya sainganmu ya, dia juga ganteng *eh *mamak ganjen minta di keplak, wakakakakakkaaka :D

    Btw banyak yang menarik yang saya notice di sini.

    Pertama, Gunung Jati, itu kayaknya daerah tempat tinggal nenek saya.
    Saya lupa, tapi sepertinya nenek saya pernah bilang daerah rumahnya itu masuk gunung jati, rumahnya tuh dulu di atas bukit, kalau mau ke rumahnya kita kudu ngos-ngosan.
    Tapi asyiknya, dari atas rumahnya, kita bisa melihat dengan jelas pelabuhan Kendari :D

    Yang kedua, adik ganteng eh salah, sup ubi, how i miss makanan itu, saya mau bikin di sini, berkali-kali minta resepnya ama kakak saya, tapi nggak pede bikinnya, hadeh bilang aja malas hahaha.
    Dan setau saya di sini ga ada yang jual (eh masa saya jualan sup ubi aja yak? wakakakak)

    Yang ketiga apa ya tadi, oh iyaaa... itu cumiiii, duh kungiler! hahaha

    ReplyDelete
    Replies
    1. Itu teman saya kak Rey, teman sejak masih anak-anak, namanya Thariq, yang ngalahi saya juga pas main cup-cup πŸ˜†

      Benar kak Rey, dari atas gunung jati kita bisa lihat Pelabuhan dan beberapa kawasan yang ada di dataran rendah.

      Oh, di sana tidak ada Sup Ubi? Kayaknya memang bisa jadi ide bisnis yang menarik dan menjanjikan. Setau saya bahan-bahannya juga ngga perlu benar-benar harus dibikin semua. Mie bisa dibeli, daging bisa dibeli, ubi bisa dibeli, toppingnya pun bisa dibeli. Jadi tinggal di kix and match saja setau saya. Kuahnya pun kayaknya ngga terlalu sulit untuk dibuat. Apalagi untuk ukuran orang yang memang tau dan senang masak 😁

      Semangat kak Rey, siapa tau bisa jadi Bos Sup Ubi di Sidoarjo πŸ˜„

      Delete
  4. Halo Rahul.

    Komentarku gak jauh beda dengan Syifa dan kak Eno. Rahul masih ingat dengan jelas ya 7 jam sebelum pergantian tahun, sampe detail spt itu.

    Jadi rindu, terakhir kali ngumpul bareng sama temen untuk pergantian tahun baru waktu SMA, kurang lebih 9 tahun yang lalu πŸ˜‚ setelah itu gak pernah lagi menyempatkan waktu buat kumpul di malam pergantian tahun.

    Aku juga sudah tidak ingat malam tahun baru kemarin ngapain ya, sepertinya baca novelnya mba Ruwi meita sambil dibarengi dengan bunyi petasan dan kembang api. Tapi sekarang petasan deket rumah udah cukup berkurang peminatnya, lega deh jadi gak berisik banget hehe.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya kak Reka, padahal saya banyak kebantu dengan teknologi. Aslinya mah pelupa juga, makanya nulis catatan πŸ˜†

      Saya jarang tahun baru di luar. Paling cuma di dekat rumah untuk menyaksikan kembang api. Kebanyakan tahun baru dilakukan di rumah, selain karena ada makanan, jalanan juga lebih macet dari biasanya.

      Di tempatku juga kembang apinya rame hanya beberapa saat saja. Padahal dulu, dua hsri atau sehari sebelum tahun baru, orang sudah ngetes dan saling adu. Kayaknya orang yang main sudah besar dan punya preferensi berbeda. Anak sekarang juga hanya beberapa yang main petasan, jadi yah peminatnya juga semakin ngga ada

      Delete
  5. Malam pergantian tahun baru yang dilewatkan bersama teman-teman memang paling mengasyikan πŸ˜† mau acaranya ngapain kek, even main game bareng aja, sensasinya beda ya hahaha.

    Selamat menjadi botak, Hul πŸ™ˆ. Lumayan akan menghemat pengeluaran untuk membeli shampoo untuk beberapa saat kedepan wkwkwk.

    Malam tahun baruku kemarin juga aku habiskan dengan bermain bersama teman-temanku, Hul. Kami main board game sambil makan pizza. Sayangnya tahun ini kembang apinya tidak begitu meriah karena pandemi πŸ˜‚ tapi aku bersyukur karena masih diberi kesempatan untuk melihat kembang api πŸ˜†

    ReplyDelete
    Replies
    1. Masa remaja adalah masa-masa pertemanan. Kalo Tua sudah beda prioritas, mudah-mudahan bisa reuni.

      Sekarang, tiap tahun, kembang api tahun baru makin sepi. Kayaknya butuh gerakan angkatan lama untuk bisa ngeramein πŸ˜†

      Semenjak plontos, sudah lebih jarang gerah. Mandi juga lebih cepat. Semakin aturan tidak ada, esensi memberontak gondrong semakin tidak ada

      Delete
Terimakasih sudah membaca. Sila berkomentar terkait tulisan ini.