zsnr95ICNj2jnPcreqY9KBInEVewSAnK0XjnluSi

Setiap Orang Punya Struggle

Ada satu hal yang awalnya tidak begitu saya perhatikan, namun kini menjadi perhatian besar saya. Itu adalah struggle, atau perjuangan, atau hal yang diperjuangankan oleh seseorang. Perhatian ini dimulai ketika minggu pertama saya di gym saat pandemi ini. Memang, saya sudah berniat lama ingin olahraga tapi selalu terbentur oleh rasa malas.

Pandemi ini membuat saya jadi punya waktu luang untuk saya menyelipkan jadwal latihan harian. Akhir September kemarin, saya mulai mendaftar jadi anggota dalam salah satu fitness gym di kawasan pusat kota. Jarak dari rumah saya kurang lebih 5 KM. Tempat gym ini biasanya buka saat pagi dan sore hari. Saya kebanyakan main pada sore hari, datang paling awal bahkan sebelum buka.

Minggu pertama, saya melihat orang-orang asing namun ada beberapa yang masih saya kenali sejak dua tahun lalu main ke sini. Ada satu laki-laki hampir seumuran atau mungkin lebih tua dari saya. Jadwal masuknya mungkin tidak jauh berbeda dengan saya namun ia punya waktu latihan yang lebih intens ketimbang saya. Kalau biasanya saya main 1 jam sampai 1 jam 30 menit, ia biasanya main diatas itu.

Tak heran, lengannya lebih dulu membesar ketimbang saya. Tapi tidak mengapa, saya juga tidak ingin lebih besar dari apa yang tidak saya harapkan. Saya hanya ingin mempunyai badan yang proporsional, punya napas yang panjang untuk joging dan bermain futsal. Namun kalau secara tidak sengaja saya terjebak pada rutinitas latihan yang ekstrem dan mendapati tubuh saya besar berotot, itu juga tidak masalah.

Kembali bersama laki-laki tersebut, saya kemudian banyak melihat anggota lain. Ada yang punya otot kering, ada yang punya otot berisi, ada yang masih dalam proses, ada yang masih belajar. Tidak butuh lama untuk saya menguasai teknik menggunakan semua alat. Kebetulan, dua tahun yang lalu saya sudah sering main ke sini. Hanya berhenti sebelum mencapai tujuan yang saya harapkan.

Pengamatan saya, membawa saya pada satu percakapan dengan seorang anggota yang saya kenali. Saya sudah lama melihat sejak dua tahun yang lalu. Badannya kecil namun otot keringnya membuat ia terlihat keren. Ia bercerita tentang masa-masa tubuhnya kurus dan merasa tidak percaya diri. Hasil dari kerja kerasnya, ia mempunyai badan dengan otot kering seperti sekarang.

Hasil dari obrolan saya itu, membawa saya lagi pada satu pemikiran. Sepertinya, semua orang di sini punya strugglenya masing-masing. Sama seperti teman ngobrol saya barusan, sama seperti saya juga. Mungkin, ada seorang suami yang ingin terlihat keren dan selalu prima dimata istrinya. Mungkin ada seorang laki-laki yang ingin terlihat gagah didepan perempuan yang ia sukai. Atau mungkin ada perempuan yang ingin tampil percaya diri didalam lingkungannya. Atau sesimpel, ada yang ingin memakai baju-baju lama yang sudah tidak muat.

Beberapa waktu lalu, ada seorang anggota baru. Laki-laki bertubuh gempal, usianya mungkin diatas saya. Hari-hari pertama ia latihan, ia masih sendiri. Pemanasan sampai latihan ringan sesuai kemampuannya. Waktu perlahan membuat ia jadi lebih terbuka. Ternyata ia cukup asik untuk diajak bermain. Meski sering menjadi bahan lelucon, ia tidak masalah.

Saya malah berpikir, ia akan jauh lebih sedih kalau berada dalam lingkungan namun tidak dianggap dan hanya dijadikan objek ledekan semata. Toh disana ia juga diajar dan belajar banyak teknik latihan. Saya beberapa kali bertegur sapa dengannya. Di lingkungan itu, memang kebanyakan saya merasa diterima. Mau itu seusia Bapak kita atau mungkin sepantaran. Kalau pulang, biasanya kami akan memberi kode atau sekadar say good bye kepada semua.

Tidak sampai disitu, rasa pertemanan dan kekeluargaan itu sampai pada titik peduli. Saya ingat waktu itu sedang capek-capeknya tapi memaksa diri mengangkat beban 20 kg. Pada repitisi terakhir, saya hampir tidak bisa mengembalikan barbel ke penyanggah dan hampir menjatuhi dada atau muka saya. Sekejap tangan seorang Bapak menangkap dan membantu saya mengangkat barbel itu. Tanpa bicara, tanpa ngomong, karena karakter Bapak tersebut memang pendiam dan cenderung sendiri.

Dari situ, saya rasanya ingin menangis. Bahwa ternyata, selain punya rasa saling peduli semua orang di sini punya ikatan yang tidak biasa. Ikatan untuk sama-sama berjuang menghadapi apa yang sedang diperjuangkan. Saya tidak tahu apa tujuan bapak itu latihan. Mungkin sekadar ingin sehat atau mempunyai fisik yang bugar. Intinya semua orang di sini datang karena satu kecemasan yang mendorongnya.

Setiap Orang Punya Struggle

2018, Kolaka Utara

Saya datang ke sini karena saya tidak pede saat sedang berfoto bersama. Apalagi saat liburan ke permandian dan mengharuskan saya membuka baju. Saya tidak gemuk, tulang leher saya juga kelihatan. Namun sejarah bahwa saya pernah gemuk masih meninggalkan jejak pada beberapa bagian tubuh. Awalnya terlihat sepele, tapi apa yang saya lihat di tempat gym banyak mengajarkan saya tentang hal apapun itu tidak sesepele itu. Dorongan untuk bisa datang ke sini saja, adalah alasan bahwa alasan tersebut tidak sesepele itu.

Saya tidak ingin berbicara bahwa orang yang mencintai segala kekurangan tubuhnya itu salah. Ini hanya masalah perspektif. Ini hanya bagaimana seorang manusia melihat ini sebagai sebuah hal yang mendorong ia untuk berubah. Melihat ini sebagai satu kekurangan yang masih bisa ia ubah. Bahwa pada akhirnya usaha itu tidak berbuah, ia mendapat satu kemenangan bahwa ia sudah sukses mengapresiasi niat dihatinya. Bahwa pada akhirnya tujuan ia tercapai, adalah hal yang patut ia rayakan sebagai manusia yang berusaha untuk berubah.

Related Posts

15 comments

  1. waduuuhh, ada foto sekseh hahahahaha.
    Kece sih Rahul mau ngegym, adik sepupu saya waktu SMU eh kuliah sih, dipaksa mamanya ngegym, karena sejak SD sampai kuliah dia kurus kering, biar kata makannya kek orang kelaparan mulu hahaha.

    Ternyata ngegym bikin badannya jadi lebih proporsional, bukan hanya masalah otot, tapi lebih pas dan sehat, nggak kekurusan, juga nggak tambun, dan otot itu bonus ya.

    Dan bonus lainnya bisa kenal banyak orang lagi ya, membayangkan kumpulan cowok itu menyenangkan ya, mau di manapun semua membaur, kebayang kebayangak ciwi-ciwi, kalau di tempar gituan membentuk kelompok, dan biasanya saya jadi salah satu anggota yang masuk ke dalam semua kelompok, (baca: kagak dipilih tapi sok SKSD wakakakak)

    Thats why berteman dengan laki membuat saya nyaman sejak dulu :D
    Eh tapi itu dulu sih, semenjak nikah udah membatasi :D

    ReplyDelete
    Replies
    1. Kalimat pertama agak meragukan πŸ˜†

      Iya kak Rey, setau saya orang nge-gym itu ada dua jenis. Mau ningkatin massa otot atau menurunkan berat badan. Kalau macam saya, nurunin sama membentuk (istilahnya cutting). Kalau adik sepupu kak Rey itu istilahnya bulking. Akan saya bahas pada pos yang lain.

      Di sini, ada satu-dua kelompok cewek. Kadang mereka datang gerombolan. Saya bingung juga, padahal awal masuk sepi-sepi aja.

      Delete
  2. Hul, aku ikutan terharu membaca cerita saat seorang bapak membantu menahan barbel :') sungguh nggak disangka adanya kepedulian yang begitu tinggi. Padahal kalau di gym, kelihatannya semua sibuk dengan dunianya masing-masing, tapi nyatanya masih ada yang memperhatikan sekitar dan peduli.

    Menurutku, berubah untuk menjadi lebih baik bukan suatu hal yang salah. Seperti tindakan Rahul yang memilih untuk berolahraga. Semoga perjalanan menjadi Ji Chang Wook ala Rahul bisa konsisten dan berjalan lancar :D semangat Rahul!

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya kak Lia, padahal saya sudah ngga kuat saat itu. Cuma ada dua cara, saya pasrah barbel kema muka saya atau saya berusaha menghindar tapi cidera. Sekarang kalo tidak ada teman, saya trauma angkat beban diatas yang saya bisa.

      Aamiin. Semoa kak Lia juga diberi kemudahan dalam setiap rencananya.

      Delete
  3. Wuiiiih foto apa ituuuu πŸ™ˆπŸ™ˆ *tutup mata* hahahaha.

    Saya pun struggling mas, sama urusan kesehatan badan 🀣 Saya tipe yang sangat concern dengan penampilan, jadi jaga badan buat saya bukan hanya agar sehat, namun enak dipandang, minimal oleh pasangan 😁 Mana pekerjaan saya meminta saya untuk ketemu banyak orang, otomatis saya butuh badan yang membuat saya mudah bergerak πŸ˜†

    Baca cerita mas Rahul, membuat saya tersenyum, pertemanan itu memang bisa terjadi di mana saja ya, bahkan dengan alasan yang sama, yaitu sama-sama ingin menjadi lebih sehat. Semoga pertemanan mas Rahul dengan para member gym bisa bermanfaat dan bisa saling mendukung untuk tercapainya tujuan masing-masing pihak 😍

    ReplyDelete
    Replies
    1. Foto adonan roti sobek πŸ˜…

      Iya kak Eno, semua orang punya preferensi masing-masing. Ada yang seperti kak Eno, pekerjaanya menuntut hal itu. Ada juga yang lebih senang kulineran dan tidak terlalu masalah dengan penampilan. Semuanya tidak ada masalah.

      Iya kak Eno, saya juga terharu. Meski tidak saling tau, tapi kepedulian itu tetap ada.

      Delete
  4. Setuju sama Mba Eno, pertemanan itu bisa terjadi di mana aja. Apalagi kalau saling kenal di gym mungkin bisa saling dukung dan saling berbagi tips untuk badan yang lebih bugar lagi yaa...

    Ada kenalan yang dulunya kurus, tapi setelah nge-gym badannya jadi jauh lebih proporsional, memang nge-gym itu bukan serta merta buat kurus atau bikin otot aja yaa, tapi buat membentuk badan juga. Semangat Rahul dengan gym-nya! Semoga segera pede kalau nanti harus ke pemandian lagi πŸ˜†

    ReplyDelete
    Replies
    1. Betul kak Eya, teman bisa ditemukan di mana saja. Tinggal bagaimana kita bersikap dalam satu lingkungan.

      Setau saya, itu istilahnya bulking dan cutting. Akan saya bahas pada tulisan yang lain kak Eya 😁

      Delete
  5. Mantapp ikut gym...
    Saya juga termasuk yg concern sama kesehatan. Tapi kok malas banget buat olahraga.. haahah *ironi banget sih ini* smpe badan agak beleberan kemana2..
    Malah dikamar ada salah satu tempelan dinding tulisannya "cancel your gym membership" πŸ™ˆ hahah

    Paling sepedahan aja yg sering... itupun kalau pulang selalu bawa oleh2 macam nasi uduk atau gorengan. Zzz

    Berteman dengan siapa saja yah Hul.. soalnya kita nggk tau apa yg sedang ia usahakan. Dan jangan melihat dari fisik. Kadang yg gendut macam saya juga sering merasa insecure kalau ngeliat cermin karena sering jadi bahan ejekan.. heheh

    ReplyDelete
    Replies
    1. Sungguh motivasi yang salah. Ha ha ha.

      Meskipun tidak nge-gym, sayapun akan tetap jogging saja. Itu sudah lebih dari cukup. Sepedahan kayaknya bagus juga, tapi situasi di sini kurang kondusif dan nyaman untuk saya melakukan itu.

      Siap mas Bayu. Saya membuka diri dengan siapa saja, meski kadang perasaan saya tidak bisa bohong kalau sedang berada pada situasi yang tidak nyaman. Semua orang punya struggle mas Bayu. Kadang kita pikir, orang gendung punya beban yang lebih berat. Tapi ada orang kurus diluar sana yang mencoba untuk gemuk. Jadi, daripada menjual rasa sedih, mending saling menguatkan saja

      Delete
  6. Setujuuu mas Rahul. Mencintai kekurangan diri memang perlu . Tapi ga ada salahnya utk memperbaiki kekurangan itu kalo memang bisa diperbaiki :). Kecuali mengubah pake cara instan yg aku ga setuju.

    Dengan berolahraga, selain sehatnya dapet, body LBH bgs juga dapet. Dobel toh. Hati juga jd seneng dan makin PD. Kalo itu sih aku dukung bangettttt ;).

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya, dua-duanya ngga salah kak Fanny. Semua orang punya cara dan tempatnya masing-masing.

      Selama ngga merugikan orang lain dan diri sendiri, apapun itu dijalani saja. Perkara penting dan tidak penting itu sangat relatif

      Delete
  7. Kok aku suka bangeet yaa sama bahasan postingan kali inii? πŸ˜†πŸ˜† Aku dr dulu paling males sama orang yg suka mengambil kesimpulan seenaknya dg hidup orang tp tanpa tau sebenernya kaya gimana.. Makanya aku berkali2 bilang ke mereka, setiap orang punya struggle nya masing2. Kita ga perlu nge judge apa2, dan mereka ga ada kewajiban n jg ga perlu ngejelasin apa2 ke kita..
    Seperti yg mas rahul cerita, setiap orang pasti punya alasan n struggle masing2 sampai mau bela2in ngeluangin waktu buat berolah raga..

    Aku terharu sama bapak2 yg bantuin mas rahul. Semoga dia diberikan balasan atas kebaikan n kepeduliannya yaa 😊

    ReplyDelete
    Replies
    1. Tulisan ini sebenarnya lahir dari keresahan saya itu. Makanya, pembahasan pertama untuk serial Ji Chang-wook ini adalah masalah struggle ini.

      Aamiin kak Thessa. Bapaknya saya liat masih aktif nge-gym sampai saat ini. Beliau sehat fisik wal afiat.

      Delete
  8. sukak paragraf terakhirnya,,
    kekurangan yang masih bisa diubah selagi berusaha. ini berlaku untuk semua hal juga, dengan tujuan akhir yang sama "jadi lebih baik"
    dulu aku kalau ke gym cuman zumba, sesekali cobain alat fitness nya tapi yang nggak berat berat banget
    temen aku nyaranin buat fitness, waduuhhh bukannya aku nolak, tapi ntar ntar aja dah :D

    ReplyDelete
Terimakasih sudah membaca. Sila berkomentar terkait tulisan ini.