zsnr95ICNj2jnPcreqY9KBInEVewSAnK0XjnluSi

Bertani Lewat Blogwalking

Belakangan, saya membaca tulisan teman-teman tentang blogwalking. Semuanya punya argumen yang saya hormati. Sebagai orang yang hampir tujuh tahun ngeblog, saya melihat satu fenomena menarik dalam dunia blogging bernama blogwalking. Sebuah kata yang memiliki pengertian berbeda-beda untuk setiap orang.

Ada yang melihat ini sebagai ajang saling komen, ada yang melihat ini sebagai tempat silaturahmi, ada yang melihat ini sebagai tempat promosi. Semua tidak masalah jika tidak merugikan orang lain. Sebagai blog personal, tentu saya punya pandangan sendiri tentang blogwalking. Bagaimana saya melihat blogwalking dengan pergeseran definisi dan tujuannya.

Definisi

Ada banyak definisi blogwalking untuk setiap orang. Seperti yang saya singgung diatas, ada yang memandang blogwalking sebagai ajang saling komen, ada yang menjadikan sebagai tempat silaturahmi dan lain-lain. Tapi untuk saya, definisi blogwalking itu adalah jejak impresi.

Tahun 2015 kira-kira, waktu awal saya mengenal blogging. Saya masuk ke salah satu komunitas blogger yang cukup terkenal pada masanya. Karena bergabung di sana, pengunjung blog saya bisa rame karena blogwaking. Sistem yang diterapkan adalah blogwalking list. Jadi, ada hari tertentu untuk setiap blogger yang mau blogwalking menaruh tulisannya agar yang mau ikut bisa berkunjung dan meninggalkan komentar.

Pandangan saya tentang blogwalking terbentuk dari sana.

Sekitar tahun 2018-2019, komunitas itu sepi. Saya beberapa kali mencoba membuat komunitas itu kembali ramai tapi sangat sulit dengan semua prioritas bloggernya yang mulai berbeda. Saya menyerah. Saya vakum dan menulis dalam rentang waktu yang cukup lama. Saya beralih menulis cerpen-cerpen, membaca buku, dan menonton film.

Mental Blogwalking

Saya menulis pos jika memang ingin. Publish sekali sebulan tidak masalah saat itu. Saya menganggap era blogger sepertinya sudah mati. Sampai akhirnya pandemi, saya kembali aktif menulis di blog. Tulisan comeback saya diapresiasi oleh dosen-dosen saya di laman Facebook. Dari situ, saya berniat untuk aktif kembali.

Saya terus menulis meski tidak ada komentar. Saya tidak peduli lagi dengan komentar, yang penting saya bisa membagikan tautan tulisan saya di Facebook sehingga beberapa orang bisa membacanya. Hingga akhirnya saya bertemu circle blogger yang baru. Dimulai dari adanya satu-dua komentar ditulisan saya. Kemudian saya berpikir,"apakah orang-orang ini adalah blogger yang masih berjuang mempertahakan eksistensinya?"

Tapi ternyata saya salah. Blogger tidak mati, circle saya yang mati. Rupanya, ada banyak blogger di circle yang baru saya temukan setelahnya. Saya berkunjung ke blog mereka, membaca tulisan mereka, merespon, dan mereka balik mengunjungi atau mereka yang lebih dulu mengunjungi. Perlahan, pandangan saya tentang blogwalking mulai bergeser.

Dari yang dulunya semacam "like for like" atau "follow for follow", sekarang lebih kepada saya membaca tulisan dan merespon jika memang saya tertarik pada tulisannya. Terlepas dari saya dikunjungi balik, itu hal lain. Saya mempunyai daftar blog dengan tulisan yang saya baca dan nikmati. Semuanya karena satu alasan: tulisan mereka personal.

Karena itulah, ketika ada masih menggunakan mental blogwalking macam "like for like" itu, sayangnya saya sudah tidak begitu. Ketika seseorang berkunjung dan meninggalkan komentar, saya akan berkunjung kembali meski tidak berjanji untuk meninggalkan komentar. Sekali waktu, saya pernah berkomentar pada blog otomotif. Saya tidak tau apa-apa dan komentar saya terkesan hanya ingin terlihat komentar

Dari situ, saya berhenti untuk berkomentar jika memang benar-benar tidak paham dengan isi tulisannya. Tidak paham dalam artian tidak tertarik juga. Jika tidak paham dan masih tertarik saya tentu bisa berkomentar dengan bertanya hal yang ingin saya tahu. Tentunya ini cukup fleksibel. Ada berbagai macam alasan internal yang cukup personal.

Blogwalking adalah Bertani

Karena mental blogwalking saya sudah berubah, tentunya tujuan saya juga berubah. Saya pikir, tidak berlebihan jika mengatakan separuh dari waktu blogging yang saya gunakan adalah untuk blogwalking. Alasan saya karena itu, mental saya sudah berubah dan tujuan saya juga berubah.

Selain untuk membaca tulisan teman-teman yang memang saya tunggu, saya menjadikan blogwalking sebagai tempat bertani. Benar, saya bertani saat sedang blogwalking. Apa yang saya tanam? Apa yang saya panen?

Bertani Lewat Blogwalking
Ketika blogwalking, saya meninggalkan komentar yang biasanya berisi pandangan saya tentang tulisan seorang blogger. Dari situ, saya menganalogikan itu sebagai cara saya menanam benih ide lewat diskusi komentar. Kemudian, jika diskusi sudah mulai mengarah ke arah debat yang tidak sehat, saya memilih berhenti, ini cara saya mengatasi agar panen bisa berhasil, dan melanjutkan untuk menulis pembahasan tersebut pada pos sendiri (jika memang diperlukan), adalah cara mengambil alternatif lain jika panen hampir gagal

Panen yang normal biasanya lahir dari tulisan dan diskusi teman-teman. Itu bisa jadi pemantik saya untuk menciptakan sebuah tulisan. Contohnya tulisan ini. Itu cara saya menyikapi blogwalking sebagai tempat saya bertani. Ada kalanya gagal panen, tapi kebanyakan berhasil. Intinya mah senang-senang aja. Duniawi. 

Itulah kenapa banyak tulisan saya lahir dari pandangan teman-teman. Tak jarang, saya terilhami oleh satu tulisan untuk membuat tulisan serupa dari pandangan saya. Makanya, ketika mengatakan separuh waktu yang saya gunakan untuk blogging adalah untuk blogwalking, itu tidak berlebihan. Jika tidak setuju, tidak masalah. 

Semua orang punya cara masing-masing. Terdengar sangat lucu jika merasa berpikiran terbuka tapi menganggap opini sendiri adalah segalanya.

Related Posts

18 comments

  1. Aku sama persis seperti Rahul nih dalam urusan blogwalking. Aku emang belum pernah sih ikutan blogwalking list dan mungkin memang gak akan ikut meskipun kayaknya hasilnya itu lumayan kan, blog ramai dan PV naik. Tapi, kayak kata Rahul sepertinya jadi terpaksa malah jadi buat komentar yang tidak ikhlas, kasian juga kalo si penulis dapet komentar setengah hati gitu.

    Aku juga sekarang hanya komen pada posting2 yang memang ingin aku komen aja atau menarik untuk di komen. Jadi, sekarang aku pun lebih sering berkunjung tanpa meninggalkan komentar sama sekali. Tapi, menurutku ini gak masalah sih karena ya tiap orang emang ada cara masing-masing dalam blogwalking 😊

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya kak Tika, dapat respon yang ngga nyambung memang kadang bikin kesel. Ha ha ha. Nulis apa, responnya apa. Jadi sekarang niatnya yah cuma nulis aja. Kalo ada yang komen, alhamdulillah. Kalo tidak yah ngga apa-apa.

      Tidak masalah kak Tika, semua orang punya cara dan haknya. Jangan seakan-akan jalan yang kita ambil adalah segalanya dengan mengatakan orang lain tidak

      Delete
  2. Seumur-umur, saya belum pernah ikutan blogwalking list. Malah baru tahu kalau ada yang namanya blogwalking list, comment instagram list, dan lain-lain sekira tahun kemarin (padahal ngeblog udah dari lama). Sejak dulu selalu komen post yang disukai, soal orang ngomen balik itu urusan nanti. πŸ˜†

    Blogwalking list tuh mirip mention list/retweet list yang ada di twitter circle kali ya. somehow di awal memang bisa membantu pageview dan menambah komen. tapi menurut saya pasti cuma sebentar saja, karena pada akhirnya yang membekas adalah komentar dan kesan yang genuine.

    Kalau saya ingin blog saya dikomentari orang yang genuine juga, berarti saya harus melakukan itu dari awal. Hanya komen kalau memang hati tergerak untuk komen, bukan karena merasa harus komen karena sudah dikomen. Sama seperti mbak Tika di atas yaa...

    Dan sepertinya, cara itu memang lebih nyaman buat saya. Karena lingkaran silaturahmi terbentuk secara alami, dengan keinginan memang mau berbagi ide dan saling mengenal. He-he....

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya kak Mega, dulu sistem seperti itu ada. Saya curiga, sistem itu masif dilakukan sejak pin train dan broadcast Instagram mulai populer. Ha ha ha.

      Kalo saya bilangnya, lebih personal dan memorable. Bahkan, saya cenderung senang membaca ulang respon yang menurut saya cukup dalam ngebahas hal yang saya bahas. Itu semacam refleksi juga untuk saya.

      Nah, intinya seperti itu. Apa yang kamu tanam, itu juga yang kamu tuai. Saya udah kayak bapak-bapak. Ha ha ha

      Delete
  3. Aku sendiri sekarang lagi join grup whatsaAp soal blog dan atribut blog lainnya, gunanya untuk mencari info soal blogging dan melihat ciri khas dari blogger lain. Sekedar itu aja sih, kalo ada yang ngajak blogwalking belum tentu juga aku akan ikut, tergantung isi tulisannya.

    Dan grup yang lagi aku ikuti itu masih seperti yang rahul bilang “Like for like” dengan isian komentar yang penting komentar dan sudah berkunjung πŸ˜…. Karena buatku sendiri untuk sekarang ngeblog adalah hobi sekaligus hiburan, jadi sebelum nulis di blog gak mau ngarepin yang muluk-muluk dulu ✌🏻

    Last. Perspektif rahul soal blogwalking ini menarik juga, dalam artian bertani untuk menanam ide 🧐, jadii blogwalking bagi Rahul adalah salah satu cara untuk menemukan ide ya?

    ReplyDelete
    Replies
    1. Ngga salah juga sih sebenarnya kak Reka, tapi poin saya, itu sudah cara yang sangat usang. Seiring circle kawan blogger yang sudah hilang satu-satu, saya perlahan sadar itu bukan lagi prioritas saya.

      Bisa dibilang begitu kak Reka. Pemantik. Tapi selain itu, tidak menutup kemungkinan saya dapat idenya dari luar dan hal internal dari kontemplasi tengah malam

      Delete
  4. Istilah memanennya ok banget. Saya sendiri tidak punya list blogwalking, sulit karena memang niat mengurangi jam online. Namun weekend sebisa mungkin saling kunjung. Saya tidak bisa komentar di semua topik jadi bila hanya yang menarik saja. Niatnya bersenang-senang dan mengambil hikmah dari pengalaman kawan-kawan blogger

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya, untuk nemu istilahnya itu dari hasil perjalanan. Intinya mah penerapannya.

      Untuk hal itu tidak masalah kak Phebie, semua orang punya caranya masing-masing. Tanpa menghakimi cara orang lain, itulah cara yang saya lakukan

      Delete
  5. Bicara soal blogwalking, saya jadi ingin cerita. Dulu saya sering lihat tipe-tipe komentar yang ada di blog itu selalu singkat singkat, kadang kurang nyambung sama topik yang ditulis, dan terkesan asal meninggalkan jejak. Yang mana menimbulkan satu pertanyaan, "apa mereka benar-benar saling kenal?" atau "apa benar-benar ada percakapan disana?". Sehingga akhirnya saya memutuskan untuk nggak meninggalkan jejak, sekalipun topiknya bagus. Karena saya nggak mau komentar saya nantinya hanya direspon dengan kata, "okay" atau "thanks"πŸ˜‚ Karena saat itu tipe komentar seperti itulah yang selalu saya jumpai.

    Barulah saat masuk tahun 2020 di bulan Juni dan gabung komunitas, saya mulai menemukan ritmenya bagaimana berkomentar yang baik, dan apa tujuan saya blogwalking. Waktu itu saya langsung kenal blog kak Eno, dan sejujurnya dari situlah saya belajar bagaimana cara berkomentar itu. Biasanya saya lihat orang singkat-singkat, ini koo friendly banget, panjang-panjang, dan nggak kelihatan asal🀧 Dan dari situ pula tujuan saya blogwalking akhirnya bukan sekadar ingin membaca, tapi ingin kenal dan bisa silaturahmi juga dengan empunya blog. Apalagi kalau topik-topiknya selalu menarik, itu jadi poin plus banget😍 Mungkin kurang lebihnya sama kayak Rahul.

    Tapi ngomong-ngomong, soal blogwalking list itu, saya juga baru denger sih, ternyata pernah ada yaπŸ˜†

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya, Aina, kalo sudah menemukan ritme sendiri pasti tau bagaimana harus berkomentar tanpa perlu teori dan panduan apa-apa. Makanya, saya tidak membuat tulisan ini seakan-akan adalah tutorial untuk diikuti, cuma sekadar berbagi saja 😁

      Dulu ada, tapi ngga tau apa masih ada. Kemarin kata kak Rey katanya masih ada untuk beberapa orang yang punya sponsor post atau endorse-an. Saya tidak bilang itu salah, tapi itu menurut saya adalah cara yang sudah usang dan saya tinggalkan. Lelah juga demi pagviews dan komentar malah harus memaksakan diri membaca dan berkomentar pada pos yang tidak menarik untuk kita

      Delete
  6. Aku pertama tahu list BW itu pas baca salah satu postingan Mba Rey thn lalu. Jadi katanya terutama buat sponsor post, mereka sering menerapkan itu agar klien jg happy postingannya rame. Dr situ aku baru ngeh dong ada BW list gt, kudet bgd rasanya 🀣

    Tp aku setuju sama Mas rahul, 'berkomentar karena memang ingin berkoemntar' itu terasa lbh hidup dan kerasa interaksinya. Silaturahmi jg lebih kerasa terjalin yaa. Dr pd sebatas pujian satu dua kalimat yg bahkan kadang ga nyambung sama cerita di postingannya πŸ˜†πŸ˜…

    Buat panen ide, itu jg iya banget. Bbrapa kali aku dpt ide nulis karena hasil interaksi sesama blogger di kolom komentar, atau bahkan dr postingannya sendiri. Hehehe..

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya, dulu memang pada jaman awal saya main BW list itu masih masif dipakai. Sekarang ternyata masih ada.

      Kadang saya suka ngira orang-orang itu kayaknya haus puja-puji. Memuji dengan harapan saya senang dan balik memuji dipostingannya. Tapi saya takut suudzon juga πŸ˜†

      Hal ini memang bukan hal yang saya lakukan sendiri. Cuma kebetulan nemu analogi yang cocok pas proses nulis πŸ˜†

      Delete
  7. Jaman ikutan komunitas blogging justru blog-ku malah sepiii banget hahaha ternyata mungkin karena saat itu belum ketemu temen-temen blogger yang ingin baca dan ninggalin komen di blogku kayaknya πŸ˜†

    Bener juga yaa kadang dari komen-komenan ini juga jadi kepikiran ide tulisan baru. Jadi kayak memanen 😊

    ReplyDelete
    Replies
    1. Kebetulan saya nemu analogi yang cocok. Istilahnya memang kayaknya dipake hampir semua blogger kak Eya πŸ˜†

      Mungkin waktu itu masih malu. Sekarang mah alhamdulillah sudah tidak

      Delete
  8. Pertama baca judulnya,aku mikir "berat", bertani dan blogwalking, woww jauh juga padanan katanya.
    Dari situ aku mikir, pasti ada sesuatu yang beda nih dari sudut pandang Rahul.
    Ternyata beneran kannnn ��

    Dulu aku awal ngeblogging termasuk nggak pernah ikutan bloglist untuk blogwalking. Komen komen ke blog temen tetep seperti biasa, dan tau ada blog yang belum pernah dikunjungi misalnya, ya dari komunitas di FB waktu itu yang aku ikuti

    Saat itu nggak pernah terpikirkan soal PV yang selama ini dibahas temen temen kalau terima sponsored post. Karena waktu itu nggak pernah terima sponsored post.

    Aku taunya kalau temen temen ngejar PV untuk sponsored post setelah join di grup WA. Dan baca post mba Rey juga waktu itu. Dan baru ngeh juga

    Misalkan sekarang ini aku terima sponsored post, hampir nggak pernah diikutkan ke dalam list BW.
    Kalau cuman dishared di Fanspage atau di-sharing biasa ke sosmed itu wajar, karena aku perlakukan juga ke post post yang organik.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Setiap orang punya preferensinya kak Ainun, saya juga tidak menampik bahwa orang-orang yang menjadikan blog sebagai tempatnya berpenghasilan itu salah, sehingga menjadikan blogwalking list sebagai tujuan. Tapi kalo cara yang saya gunakan sekarang sudah begitu.

      Dulu saya sangat peduli dengan PV dan comment, sekarang mah cuek-cuek aja. Ekspektasi coba saya turunin biar ngga ada gangguan lain diluar diri saya

      Delete
  9. Bener banget, Hul. Dulu saya berpikir era blogger sepertinya sudah selesai, ditambah boomingnya youtube sama tiktok, saya pikir blogger udah kayak friendster nasibnya.

    Sampai ketika masa pandemi kayak gini, saya di kantor nggak tau ngapain karena nggak ngajar, saya iseng-iseng coba blogwalking dari satu nama ke nama yang lain dan saya kaget. Ternyata dunia blogger masih sangat rame.

    Setuju juga bukan blogger yang mati, tapi circle yang udah mati. Contohnya dari temen2 Blogger Energy saya sampai kesulitan buat nyari bahan blogwalking karena banyak yang udah nggak aktif.

    Kalau sekarang, tujuan saya juga udah bergeser dari yang niat saling berkunjung, sekarang ngeblog cuma karena pengen nulis aja. Blogwalking juga nggak ngotot kayak dulu, berkunjung dan kalau tulisannya bisa dikomentarin ya saya komentar.

    Gitu.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Nah, karena perubahan itu saya juga perlahan mulai berubah. Dari yang tadinya niat saling berkunjung sekarang ngejadian blog sebagai tempat latihan nulis dan arsip tulisan. Kalo misalnya blogwalking, itu cuma cara biar tetap jaga ikatan circle dan cari ide. Intinya mah kalo yang komen juga tidak ada, saya udah bisa cuek. Ha ha ha

      Delete
Terimakasih sudah membaca. Sila berkomentar terkait tulisan ini.