zsnr95ICNj2jnPcreqY9KBInEVewSAnK0XjnluSi

Fenomena Tilik, Stigma Bollywood, dan Memberi Kesempatan

Selain nulis diblog, saya juga lumayan sering nulis di Facebook. Bedanya, tulisan di Facebook cenderung lebih pendek dan tidak bisa saya variasikan dengan ilustrasi dan video untuk tiap penjelasan. 

Saya kepikiran untuk merangkum tulisan-tulisan saya tentang film sepanjang tahun 2020-2021. Ohya, harap bersiap-siap dengan format tulisan yang tidak biasa saya terapkan ke blog ini.

Ini adalah tulisan tentang film bagian 1. Banyak  membahas hal diluar filmnya.

Tilik dan Fenomena Masyarakat Sosial

Fenomena Tilik, Stigma Bollywood, dan Memberi Kesempatan
Sejak film Tilik rilis, Bu Tejo kemudian menjadi viral. Menjadi meme dan bahan candaan dimana-mana. Salah satu pencapaiannya adalah menjadi stiker whatsapp yang bisa dipake pada WAG keluarga. Dari awal menonton ini, Bu Tejo memang banyak mengambil perhatian. Sebab katanya, ini katanya yah, menggambarkan kita pada lapisan masyarakat. Sejauh yang saya liat, karakter Bu Tejo memang sangat relevan di masyarakat. Banyak yang tersentil, banyak yang merasa. Namun fokus saya dari awal ada pada Bu Tri, tipe orang yang tidak punya pendirian. Berdiri pada masyarakat dominan. Menjadi api bagi sekitarnya. Ibaratnya Bu Tejo adalah api, Bu Tri ini yang menyiram bensinnya. Banyak yang notice juga dan mengatakan Bu Tri adalah the real villain. Saya rasa, ini hanya sekelumit catatan yang jarang dibahas. Kata Ifa Isfansyah, Tilik ini representasi sinema kita, sinema melayu yang cerewet. Atau bisa saya katakan sinema Asia. Saya senang menonton The Farewell, tanpa mengesampingkan sinematik, narasinya pun berjalan dengan sangat cerewet. Jika senang dengan Tilik, saya rasa Los Jogjakartoz akan sangat menyenangkan. Bagaimana mafia di Jogjajakarta membicarakan burung. Menangkap potret lain dari kota gudeg tersebut.

Stigma Joget Film Bollywood

Fenomena Tilik, Stigma Bollywood, dan Memberi Kesempatan

Saya lahir diera Kuch Kuch Hota Hai, maka tak heran jika nama saya terbuat dari proses kesemsem dalam film cinta segitiga itu. Tumbuh besar bersama film Bollywood, membuat saya sadar satu hal unik tentang stigma sinema di sana. Bahwa pada umumnya, stigma film Bollywood adalah tentang goyang-goyang-nyanyi-nyanyi. Padahal tidak selalu begitu. Kalau sudah nonton Drishyam, pasti tau bahwa ternyata film Bollywood tidak hanya soal tari. Gebrakan film thriller Bollywood memang layak untuk diakui. Ia punya segudang cerita yang memumpuni untuk diobrak-abrik, punya gagasan menarik namun tetap membumi. Tidak jauh dari sana, Bollywood juga punya film biografi yang keren macam Dangal dan Sanju. Ohya, honorary mention untuk film favorit saya, Dil Se.

Tentang Mengulas Film

1) Saya senang menonton film dan 2) senang membahas film, tapi sayangnya saya mulai 3) tidak suka jika diberi embel-embel mengulas film. Makanya, cara saya membahas film perlahan bergeser. Dari yang tadinya bahas teknis, jadi mulai bahas sisi yang lain. Contohnya tulisan ini, entah publishnya kapan ini jadi salah satu tulisan yang menarik secara kepenulisan. Bebas dan tidak terikat, tentu saja. Elemen bermain-mainnya sangat saya nikmati.

Memberi Kesempatan

Tepatnya saya lupa, akhir 2019 atau awal 2020. Namun seingat saya, film ini tidak saya tonton saat pandemi. Film yang bikin saya ngantuk dan memutuskan untuk tidak melanjutkannya sampai selesai. Jika mengacu pada kebanyakan ulasan di internet, seharusnya saya bisa saja menikmatinya. Atau, saya pura-pura menikmatinya dan mengatakan bahwa film ini memang layak untuk ditonton. Tangga awal karir Bale sebelum akhirnya terbang bebas di The Dark Knight Trilogy.

Fenomena Tilik, Stigma Bollywood, dan Memberi Kesempatan

Sayangnya tidak bisa, saya tidak mungkin berkhianat dengan perasaan sendiri. Sepanjang film berjalan, saya hanya menguap dan memutuskan waktu lebih baik dipakai untuk tidur. Sama seperti La La Land, orang bertanya tentang apa yang bagus dari kisah cinta romansa yang dibalut musik. Bagi saya, La La Land adalah gerbang untuk menikmati film-film musikal klasik macam Les Parapluies de Cherbourg atau Les Demoiselles De Rochefort.

Bicara film musikal, sebenarnya saya juga tidak terlalu bisa menikmatinya. Paling hanya segelintir saja. Ini mungkin bias saya saja sebagai masyarakat Indonesia. Sama seperti film musikal Indonesia yang bisa dihitung jari. Terakhir, saya menonton hasil restorasi Petualangan Sherina. Mengasyikkan sekali.

Kalau ditanya, apakah saya punya film musikal favorit, saya akan bertanya,"bisakah saya mengganti pertanyaannya menjadi "apakah ada pengarah film musikal favorit?"'

"Ya! Tontonlah film-film John Carney. Terutama Once dan Begin Again."

Masa SMP, dua film itu yang sangat mempengaruhi pertumbuhan masa remaja saya. Meski begitu, tentu saya tidak menikmati semua film musikal. Toh saya ngantuk juga nonton Into the Woods. Tapi satu yang saya tau, memberi kesempatan untuk film-film yang sekiranya tidak kita sukai. Ada berbagai aspek, mungkin genre film salah satunya.

Saya mungkin akan menonton ulang dan memberi pandangan berbeda. Sekaligus memberi kesempatan untuk film-film itu, memberi jarak agar saya menikmatinya.

Related Posts

10 comments

  1. Tunggu.. aku baru sadar bahwa nama Rahul terpengaruh dari Bollywood 😂 kalau ditarik garis, memang ada bau-bau Bollywoodnya hahaha. Akupun tumbuh besar bersama film Bollywood dan telenovela~ dan lahir diera telenovela, itulah sebabnya namaku hampir diambil dari salah satu nama pemeran telenovela terkenal di masa itu, tapi untungnya tidak jadi karena mamaku merasa namanya nggak cocok sama seleranya hahahaha.

    Perihal film musikal, aku bukan termasuk penggila film musikal, jadi waktu menonton La La La Land merasa kurang greget, tapi begitu nonton The Greatest Showman dan Petualangan Sherina malah aku bisa menikmatinya dengan baik. Mungkin jalan ceritanya juga yang membawa pengaruh selain gaya musikalnya sendiri hahahaha. Rahul pernah nonton The Greatest Showman?

    Ngomong-ngomong, membahas film dengan format seperti ini ternyata lebih menyenangkan, Hul. Lebih santai dan lebih banyak yang bisa didiskusikan 😁. Rahul di awal tahun ini membawa banyak perubahan untuk format tulisan ya, good job Hul! Idenya keren-keren 🙌🏻🙌🏻🙌🏻

    ReplyDelete
    Replies
    1. Saya kayaknya memang baru cerita ini, jadi wajar kalo banyak yang belum tau. Ha ha ha. Kalo dulu kak Lia hampir dikasih nama dari nama pemeran Telenovela, sekarang mungkin namanya apa yah? Marimar? Esmeralda? 😆

      Saya masih bisa menikmati La La Land. Malah, itu termasuk jadi film yang saya suka. Kak Lia nulis La La Land, "La"-nya offside. Kebanyakan itu mah. Ha ha ha. The Greatest Showman belum sempat saya tonton, padahal pengen liat Hugh Jackman nari-nari.

      Ini tulisan tahun 2020 yang saya kumpulkan kak Lia. Terimakasih kembali kalo kak Lia menikmatinya

      Delete
    2. Wkwkwkw jauh sebelum Marimar dan Esmeralda, ada series Telenovel terkenal yang nama perannya Maria. Jadi saat itu aku hampir dinamakan Maria seperti kebanyakan bayi perempuan yang lahir saat itu.

      WKWKW duh, nulis La-nya sampai offside, jadi ngakak sendiri. Soalnya kebiasaan ngomongnya La La La Land, lebih enak gitu lafalnya #plakk. The Greatest Showman lebih fun jalan ceritanya. Semoga kelak kalau Rahul nonton, bisa menikmati dan menyukai filmnya juga yaa, seperti Rahul suka dengan La La Land (hampir offside lagi nulis La-nya tapi keburu sadar jadi sempat dihapus wkwk)

      Delete
    3. Saya langsung search, yang dimaksud Maria Marcedes kah? 😆

      Kemarin sempat liat ada di Disney Hotstar. Jadi sudah saya masukkin watchlist juga, tinggal ditonton. Untuk La La Land memang kadang orang sering typo dan salah ucap, soalnya pelafalannya repititif. Ha ha ha

      Delete
    4. Iya Maria Marcedes 🤣 tapi nggak pakai Marcedesnya ya, hanya Maria 🤣. Saat itu karena famous banget, jadi banyak anak yang namanya Maria wkwk

      Delete
    5. Saya kira pake nama lengkapnya. Itu keren lho. Ha ha ha. Absen nama berasa absen nama mobil

      Delete
  2. Eh iya bener yaa, aku pas pertama kali denger nama Rahul juga keinget Kuch Kuch Hota Hai, inget dulu kayaknya hampir semua kalangan suka nonton Kuch Kuch Hota Hai 😆 Aku bukan penikmat Bollywood tapi ada beberapa film Bollywood yang aku suka seperti Three Idiots dan Peekay.

    Eh film Christian Bale yang Rahul maksud di sini American Psycho kah? Aku juga nonton itu rada-rada blahbloh ahaha ditambah pas nonton belum cukup terbuka sama genre slasher/gore gitu jadinya nontonnya di skip-skip karena ga kuat lihat darah 😂 Aku sendiri mulai suka Christian Bale sejak The Dark Knight Trilogy siih, dari situ selalu nonton film-filmnya dia dan kagum banget sama kebunglonannya hahaha. Ga pernah kayaknya dia main film dan terlihat sebagai Christian Bale, tapi beneran menjelma jadi karakter yang dia mainkan. Terakhir nonton filmnya Bale yang Ford v Ferrari dan keluar bioskop dengan berurai air mata tapi hati hangat hahaha.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Kak Eya suka dua film itu? Itu dari sutradara yang sama. Mungkin kak Eya bisa coba nonton film terbarunya, Sanju. Itu keren. Biografi aktor kawakan Sanjay Dutt.

      Iya, itu American Psycho. Memang saya ngga sebut judul karena waktu nulis di Facebook, saya sudah kasih ilustrasi. Ternyata pas ditaroh diblog, kesannya jadi hampir semua film Christian Bale ngga saya suka 😆 Christian Bale salah satu aktor yang totalitas bukan hanya dari segi akting, tapi penampilan fisik. Aduh, jadi pengen rewatch Ford v Ferrari

      Delete
  3. Oh baru tahu kalo ternyata kang Rahul penggemar film Bollywood juga, kuch kuch hotai memang fenomenal kang, katanya itu menjadi pendobrak film India lain untuk go internasional.

    Ngomong ngomong kata Rahul identik dengan nama India ya.😀

    Itu film Christian Bale yang judulnya apa kang, sepertinya aku belum pernah nonton, kalo baca komentar mbak Eya itu film American Psycho ya? Maklum aku bukan penggemar Bale, sukanya film aksi Bruce Willis atau superhero seperti Avengers.😂

    ReplyDelete
    Replies
    1. Bagaimana tidak suka, lah saya tumbuh bersama nama itu. Ha ha ha. Sebelum Kuch Kuch Hota Hai, sebelumnya ada juga film SRK yang cukup banyak digemari, Dilwale Dulhania Le Jayenge.

      Iya, itu American Psycho. Saya suka Bruce Willis, saya juga suka Avengers. Saya mah suka semua. Ha ha ha

      Delete
Terimakasih sudah membaca. Sila berkomentar terkait tulisan ini.