zsnr95ICNj2jnPcreqY9KBInEVewSAnK0XjnluSi

Lukisan dalam Film, Penulis Alkoholik, dan Trailer Film Sebagai Seni Berdikari

Ini adalah tulisan lanjutan dari kumpulan tulisan pendek tentang film kemarin. Dalam pos ini, akan banyak membahas hal-hal diluar film. Mulai dari lukisan dalam film, trailer, sampai poster film. Kumpulan tulisan ini dirilis dalam laman Facebook pribadi saya dalam rentang tahun 2020-2021. 

Pos kemarin menuai respon yang positif, kalau pos ini disukai saya akan mengumpulkan lebih banyak tulisan pendek saya lainnya.

Lukisan dalam Film

Lukisan dalam Film, Penulis Alkoholik, dan Trailer Film Sebagai Seni Berdikari

Pasca Velvet Buzzsaw, saya jadi senang dengan lukisan. Banyak me-notice lukisan yang masuk dalam frame film atau sempat diselipkan pada narasi sebuah buku. Atensi saya lebih kepada lukisan-lukisan lama. Bukan Van Gogh, da Vinci, dan kawan-kawannya. Tapi yang secara penampilan sangat asing, unik, dan punya catatan sejarah. Pada satu waktu, saya melihat sebuah lukisan tentang peristiwa tragis di New Orleans yang melibatkan mafia. Itu keren, meski lahir dari goresan tragedi. Di waktu yang lain (tepatnya tadi malam), saya menonton ulang serial Friends dan menyadari sebuah lukisan di apartemen Monica. Lukisan itu adalah Maina yang dilukis oleh L. Galice. Sadar atau tidak, alam bawah sadar saya mulai bekerja pada atensi ini. Didukung sisa-sisa begadang saat bulan Ramadhan.

Mank, Citizen Kane, dan Penulis Alkoholik

Lukisan dalam Film, Penulis Alkoholik, dan Trailer Film Sebagai Seni Berdikari
Ha!! Pagi ini, setelah kulon dan minum kopi. Poster resmi Mank rilis sebagai bentuk kebahagiaan kecil. Ini semacam cara terbaik untuk menikmati masa-masa pandemi. Desember? masih lama. Tapi diantara itu masih banyak juga film bagus macam The Devil All The Time yang terakhir saya tonton. Kalau mengesampingkan tetek bengek kapitalisme yang sering kau ungkit, ada banyak kesenangan yang bisa kita nikmati. Macam Netflix ini, saya sudah hampir setahun berlangganan saat belum ada akses bebas di Indonesia dan saya mesti memakai bantuan Virtual Private Network. Kalau mau tahu, Mank ini semacam biografi Herman J. Mankiewicz, penulis skrip alkoholik yang dikenal lewat (katanya) mahakarya Citizen Kane rilisan tahun '41. Katanya, filmnya menyorot dibalik pembuatan film itu. Berbanding terbalik dengan The Disaster Artist yang disenangi sebagai tribut untuk film kelas B, The Room. Trivia singkat ini hanya pengantar. Saya takut jadi cerewet dan terlihat puber intelektual. Saya hanya senang membicarakan ini. Percayalah.

Trailer Film Sebagai Seni Berdikari

Semakin banyak bahas film, saya semakin sadar bahwa lingkup tontonan saya sangat kecil. Bertemu dengan orang yang bisa nonton 3-5 film sehari atau ada kisah parenting seorang ayah-anak yang mengijinkan anaknya putus sekolah asal mau menonton film yang dipilihkan Ayahnya.

Tapi itu hanya basa-basi, saya hanya mau bahas "trailer film", media atau alat promosi untuk sebuah film. Saya memang tipikal yang senang menonton trailer film tertentu. Asik saja. Saya menemukan banyak hidden gems disana. Bahwa ada trailer yang dikemas lebih menarik ketimbang isi filmnya, ada. Bahwa ada cuplikan trailer yang tidak ada dalam film, ada. Itu menarik untuk saya.

Bicara soal trailer film, bagi saya itu lebih dari alat promo. Bagaimana membuat orang yang memang menunggu tambah excited, bagaimana memperkenalkan dunia dalam film tanpa membuka banyak isi cerita, bagaimana dan bagaimana itu adalah cara trailer film bekerja. Sekarang istilahnya sudah banyak. Ada sneak peek, ada teaser, dan lain-lain. Trailer film bagi saya adalah seni yang bisa berdiri sendiri.

Saking sukanya nonton trailer film, saya sampai mengumpulkan trailer film yang saya suka. Salah satunya trailer film A Copy of My Mind. Diluar dari filmnya memang bagus, pengemasan trailernya juga tak kalah keren. Cantik dan otentik. Apalagi dipadu dengan alunan musik Stars on Rabbit, Like It Here. Aduh, take my money. Saya ingin nonton ini lagi di layar besar.

Film dan Kapsul Waktu

Lukisan dalam Film, Penulis Alkoholik, dan Trailer Film Sebagai Seni Berdikari
Dunia bergerak bersama waktu dan saya dipaksa untuk ikut bersamanya. Itu kira-kira tahun 2016 atau 2017 ketika saya datang ke sekolah lama saya di SMP dalam rangka ngambil SKHU. Ditemani kawan-kawan SMA pas istirahat. Satu-dua tahun meninggalkan sekolah itu, ia sudah banyak berubah. Setidaknya tampilannya sudah dirombak habis. Jalan yang dulu saya lewati untuk pergi ke kantin kejujuran kini sudah menjadi bagian dari lapangan tempat upacara. Gedung kelasnya dibongkar, dan dibangun ulang menjadi dua tingkat. Apa yang salah? Tidak ada. Saya hanya melihat hal-hal yang saya tinggalkan terus berubah. Sama ketika hari ini, hampir atau sudah setahun tidak kuliah tetap muka membuat saya jarang ke Kampus. Paling hanya sekali-dua kali karena kebutuhan yang memang mendesak untuk ke sana. Selebihnya, saya hanya mengandalkan jaringan internet untuk memasuki ruang-ruang kelas atau diskusi online. Keadaan mulai berubah, terutama beberapa waktu lalu saat saya melihat pagar kampus yang mulai dibangun. Tidak ada lagi sela-sela untuk mahasiswa yang berjalan kaki dari lorong-lorong tempat mereka tinggal untuk memotong jalan. Mereka benar-benar harus ke pagar untuk menembus ruang-ruang pendidikan. Allahuakbar. Saya tidak menyalahkan kemajuan jaman. Itu diluar hal yang bisa saya kontrol. Saya masuk ke dalam dan melihat proses pembangunan plang fakultas yang mulai dibangun. Tidak mewah dibanding yang lain, tapi itu tetap keren dimata saya. Ada begitu banyak rasa kagum. Saya diam disana sebentar, duduk di pinggiran setapak tempat kongkow jika mata kuliah sudah berakhir untuk menunggu mata kuliah lanjutan. Yang ada hanya kesunyian. Mungkin karena sudah sore dan muadzin mungkin sudah siap-siap. Ini seperti waktu saya mengunjungi SMP saya untuk mengambil SKHU. Ada perasaan senang, tapi kesedihan menyelimutinya. Ingatan membawa saya pada hari-hari pertama saya kuliah. Saya biasanya melewati jalan menuju Pasar Wua-Wua. Dulu, tahun 2018, jalan belum beraspal sehingga saya terkadang ke kampus lewat jalan alternatif yang mengarah ke Perdos. Dunia bergerak dan saya dipaksa untuk mengikutinya. Malam ini, saya menonton salah satu film pendek Jason Iskandar, Balik Jakarta. Tentang seorang perantau yang bekerja menjadi ojek di Jakarta, mengantar seorang Bule untuk menemukan rumah lamanya setelah 20 tahun. Disepanjang perjalanan mencari rumah Bule tersebut, mereka hanya tertimpa masalah dan berujung tidak menemukan rumah tersebut. Sang Ojek dan Bule menyerah. Di pemberhentian terakhir, mereka ngobrol soal hal yang begitu personal. Tentang betapa banyak hal yang berubah. Apalagi meninggalkan sebuah tempat dalam kurun waktu dua abad. Apa yang bisa kita harapkan? Jika mau membandingkan, dalam kurun waktu setahun-dua tahun, sekolah lama saya saja sudah banyak berubah. Guru-guru pensiun, digantikan dengan guru baru. Sudut-sudut yang biasa kami kenali sudah menjadi kenangan bagi orang baru. Dunia bergerak bersama waktu dan saya dipaksa menjalaninya.

Film, Agama, dan Spritualitas

Lukisan dalam Film, Penulis Alkoholik, dan Trailer Film Sebagai Seni Berdikari
Belakangan ini, saya banyak mengerjakan tugas yang ada hubungannya dengan keagamaan. Saya kepikiran tiga judul film ini yang sedikit-banyak mempengaruhi pemikiran saya soal agama, keyakinan dan spiritualitas. Kalo ada waktu, akses, dan niat, tontonlah. Semuanya dari Asia. Setidaknya ada faktor yang bisa saya katakan bahwa kebudayaannya cukup dekat dan setidaknya pemantik kekeringan dikelopak matamu.

Related Posts

6 comments

  1. Rahul, semakin kagum denganmu karena genre tontonanmu sungguh beragam sekaliiii. Belum pernah ada yang aku dengar dari judul-judul yang Rahul mention di atas 😂. Hanya 1 film yang aku tahu karena pernah tonton yaitu Along With The Gods. Foto pertama di bagian penutup, dari film itu kan ya? Film yang bagus dan worth to watch 👍🏻

    ReplyDelete
    Replies
    1. Tontonan saya ngga begitu banyak kak Lia, inipun tontonan tahun kemarin. Ha ha ha. AwtG memang bagus. Saya suka. Fantasy tapi tetap believable

      Delete
  2. Eh beberapa tahun lalu (entah tahun kapan soalnya udah sejak sebelum pandemi) pernah nemu akun twitter yang bahas lukisan-lukisan yang muncul di dalam film. Ga cuma lukisan sih, ada bahas soal poster-poster juga dan beberapa dikaitkan sama kepribadian si karakternya. Menarik banget ini.

    Rahul nyebut A Copy Of My Mind, jadi keinget salah satu penyesalanku adalah ga nonton film ini di bioskop. Udah diniatin tapi bahkan di bioskop dekat tempat tinggalku film ini tayangnya ga sampai seminggu hadeeeh... Setelah berkesempatan nonton di netflix, aku tepuk tangan banget karena menurutku ini adalah film terbaiknya Joko Anwar deh. Apalagi kalau melihat betapa low budget-nya film ini tapi tetap luar biasa bagusnya 😊 aduh maaf jadi oot hahaha

    ReplyDelete
    Replies
    1. Nah, itu juga jadi penyesalan pas ngga sempat nonton di bioskop. Tapi seingat saya waktu itu juga ngga tayang di kota saya, jadi kesalnya bukan ke diri sendiri. Ha ha ha. Kak Eya sudah nonton Kala? Itu juga keren euy. Film Jokan favorit saya.

      Masih ingat akunnya ngga kak Eya? Saya penasaran

      Delete
  3. Keren banget Kak Rahul! Entah kenapa, tulisan ini justru sangat dalam bagi aku. Can't say anything. Rasanya, aku nggak begitu banyak paham tentang film. Mungkin aku juga perlu menambah wawasanku tentang film.

    Yang tiga judul film yang terakhir itu apa Kak?

    ReplyDelete
    Replies
    1. Mungkin judul film atau series diatas asing diteling Syifana, tapi percayalah, wawasan saya juga masih cetek sekali. Ha ha ha.

      Diurut dari gambar paling atas: Along with the God, PK, dan Mencari Hilal

      Delete
Terimakasih sudah membaca. Sila berkomentar terkait tulisan ini.