zsnr95ICNj2jnPcreqY9KBInEVewSAnK0XjnluSi

Membaur demi Tren dan Popularitas (Reply #02)

Saya baru ingat ada draft post soal ini. Isinya cuma: menanggapi tulisan Aina. Saya mengernyitkan dahi. Tulisan yang mana? Sampai pada saat saya nulis ini, judul sementaranya adalah Perihal Membaur. Kemudian saya ingat kalo draft post di blog itu biasanya menyematkan tanggal tulisan itu terakhir kali diedit. Saya cek, ternyata dari tahun 2020, tanggal 29 Desember, dua hari sebelum tahun baru.

Membaur demi Tren dan Popularitas (Reply #02)
Karena itu, saya ngecek arsip tulisan Aina tanggal segitu. Nemu! Ternyata tulisan tentang hal-hal yang sudah tidak lagi ia lakukan. Awal bulan Januari, ternyata saya pernah nulis hal yang sama yang terinspirasi dari tulisan Aina. Tapi sayangnya hal ini ngga ikut masuk dalam pembahasan saya. Makanya, ketimbang menghapus, saya ingin membahasnya dalam segmen terbaru saya, Reply.

Membaur demi Tren dan Popularitas (Reply #02)

Saya pernah berada difase sangat haus akan popularitas. Saya ikut berbagai macam kegiatan di SMP untuk membuat saya terlihat mencolok di sekolah. Aktif di sekolah semacam sebuah cara untuk populer demi menarik simpati cewek-cewek. Biasalah, anak remaja laki-laki.

Naik ke tingkat SMA, hal ini jadi semakin bergeser. Dari yang tadinya cuma aktif kegiatan ekstra, jadi membuat saya mesti ikut ke lingkaran pertemanan yang tidak saya inginkan. Perlu saya katakan bahwa jaman saya SMA adalah awal-awal kemunculan Instagram. Ia kemudian jadi besar dan Instastory jadi ladang adu pamer.

Sebagai orang yang tidak lagi senang merayakan ulang tahun, saya merasa risih ketika melihat orang mengucapkan lewat instastory. Saya lebih menghargai mereka yang masih mengucapkan lewat personal, entah ketemu langsung, telepon, atau bahkan chat whatsapp.

Mengucapkan lewat Instastory menurut saya adalah ajang adu pamer siapa kenal siapa. Kadang malah ada momen Si Orang yang ualng tahun sudah menyiapkan beberapa foto untuk teman-teman yang ingin upload story. Fotonya tentu yang keren, dengan pose yang biasanya dibarengi dengan senyuman bahagia.

Setelah itu, apa?

Si Orang tersebut punya desakan untuk mengajakan teman-temannya untuk booking hotel. Fungsinya untuk tempat bikin kejutan, kayaknya. Saya juga ngga gitu ngerti konsepnya. Terus siapa yang bayar hotel? Temannya atau Si Orang yang ulang tahun? Kalo untuk surprise, harusnya jadi tanggungan teman-temannya.

Dengan nyewa hotel, Instastory jadi lebih glamour. Mereka bisa Instastory sekaan-akan lagi party dengan teman-teman yang menyenangkan. Si Orang yang ulang tahun juga mesti terus senyum jika kamera menyorot ke mereka. Saya ngga tau setelah itu apa. Sisa sewa hotel itu mau digunakan untuk apa? Itu urusan mereka.

Jika harus berada dilingkaran pertemanan seperti itu untuk populer, kayaknya saya mending jadi orang yang tidak pernah dikenal saja. Saya beruntung punya teman-teman yang menyenangkan. Punya lingkaran teman yang menurut saya lebih dari cukup dan bisa buat saya nyaman ngobrolin sesuatu tanpa harus canggung.

Seorang teman pernah bertanya,"bagaimana rasanya jadi anak hits?"

Hits yang dimaksud adalah menjadi populer, setidaknya dikenal banyak orang yang punya akun Instagram dengan ribuan follower. Saya menjawab karena pertanyaan itu seakan-akan ditujukan untuk siapa saja yang mau menjawab,"jangan jadi anak hits, nanti hilang. Memangnya kau siap mesti berpura-pura senang dihadapan kamera depan mereka. Dengan ucapan 'long time no see', kemudian tidak ada obrolan setelahnya. Berharap yang mengucapkan lewat story bisa menjadi titik-titik jika direpost."

Kira-kira seperti itu jawaban saya. Aduh, saya merinding pas jawab itu. Seakan-akan, itu adalah uneg-uneg yang sudah lama ingin keluar. Saya pernah ke tempat seorang teman untuk mencoba makanan di lapaknya. Setelah itu, saya ditinggal ngobrol dengan teman-temannya. Bahas sesuatu tentang hal yang tidak saya mengerti. Saya cuma bisa diam dan sesekali tersenyum jika seseorang melempar guyonan.

Ini mungkin sifat preferensial. Saya yang tidak nyambung dengan mereka menjadi tidak nyaman berada dilingkaran mereka. Saya pulang, lebih tepatnya pergi ke Pondok bersama teman-teman saya. Waw. Rasa nyaman itu menyelimuti saya. Saya seperti berada di tempat yang seharusnya.

Kayaknya, kita mesti tau dimana sebenarnya kita berada. Seekor tikus tidak mesti berada di tempat yang bersih karena selokan adalah tempatnya yang nyaman. Membaur, adalah tentang rasa nyaman. Jika merasa tidak nyaman dan terancam, mungkin langkah yang harus kita lakukan adalah mencari tempat yang seharusnya kita berada, bukan berpura-pura nyaman di kawanan serigala dan melolong karena merasa itu sedang tren.

Related Posts

18 comments

  1. Aku jadi ingat juga masa-masa aku haus popularitas demi terlihat keren. Saat itu aplikasi Path masih ada, dan kalau pergi kemana-mana dengan rombongan "anak keren" wajib banget harus ngetag lokasi + belasan nama teman yang ikutserta saat itu. Rasanya keren. Tapi lama-lama, rasanya nggak nyaman. Baru punya followers IG yang nggak sampai 500 aja, rasanya nggak nyaman. Begitu aku hapus akun IG dan medsos lainnya dan menjadi tak terlihat, ternyata aku lebih nyaman. Ketika aku main sama teman-teman yang nggak peduli harus ngetag IGstory dulu saat pergi, ternyata aku lebih nyaman. Nggak pusing harus dikit-dikit keluarin hp saat sedang ngumpul bareng. Bersyukur karena kita telah menemukan titik nyaman kita, Hul 😊 mari kita jaga dengan baik lingkungan yang membuat kita nyaman ini.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Itu masa lalu yang tidak seharusnya kita hakimi. Saya melihat itu sebagai proses dari bertumbuh. Kehidupan tidak stagnan dan kita berubah. Mungkin ada yang prosesnya berbeda, dari yang tidak main IG, akhirnya nyaman berada di lingkungan seperti itu. Intinya mah itu, bersyukur bisa tau di mana tempat kita seharusnya. Aamiin kak Lia. Itu yang paling penting

      Delete
  2. Awal-awal main Instagram aku juga gitu. Mau story dan tag si A, si B, dll. Sekarang karna mulai mengurangi buka medsos, jadi aga lebih tenang.

    Awal main blog juga dikit-dikit cek dari dashboard berapa yg view dan komen. Kalau yg komen dikit merasa jiper kok yg lain bisa dapat komen banyak. Kalo view di dashboard rendah ngerasa kok ga ada yg mau baca tulisan ku. Padahal view dari dashboard ga gitu valid. Lagipula mau nulis kenapa malah jadi fokus jumlah yg liat dan komen.

    Akhirnya sekarang lebih mencoba untuk fokus ke isi tulisan. Perlahan mulai banyak yg baca dan komen dengan sendirinya. Jadi ngerasa lebih nyaman tanpa harus bentar-bentar cek dashboard.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Nah, daripada fokus ke hal eksternal mending fokus ke hal internal. Saya sendiri tidak senang ada kekangan di luar diri saya. Makanya, saya sulit nulis tulisan pesanan

      Delete
  3. waktu smp aku juga gitu rahul. ada beberapa hal yang masih aku sesali karena kayaknya kok saya tergelincir ke tempat yang aneh hahaha... Untung aku masih dilindungi Tuhan. Sepertinya wajar sih anak muda (ceile) masih berusaha mencari tempat di mana dia nyaman.

    Ketika menemukan tempat nyaman untuk diri sendiri, rasanya bahagia banget ya. Sekarang saya juga sudah meminimalisir social media presence dan mencoba lebih fokus pada hal yang saya suka saja seperti mbak dev di atas. saya suka nulis, terlepas dari berapa banyak respons orang. jadi fokus aja untuk menulis apa yang saya suka.

    at some point, manusia akan terus memiliki kewajiban "membaur". karena manusia makhluk sosial, karena silaturahmi itu amal jariyah, dsb, dkk.

    tinggal kita aja yang menentukan akan berubah menjadi "orang lain" dan jadinya memaksakan diri membaur, atau nyaman jadi diri sendiri dan mendapatkan tempat membaur yang cocok untuk kita....

    ReplyDelete
    Replies
    1. Sewajarnya memang seperti itu kak Mega. Kehidupan tidak stagnan dan manusia berubah. Ada yang seperti itu, ada juga yang malah sebaliknya. Tidak masalah. Karena yang paling penting adalah mencari tempat kita seharusnya, tempat kita yang nyaman.

      Nah, terlepas dari itu, kita memang bukan makhluk individual. Selalu butuh orang lain, bahkan sejak lahir sampai mati

      Delete
  4. Aku sebagai orang yang dari dulu nggak pernah punya teman banyak, selalu bertanya ke mereka dalam hati Kak Rahul. Mengabarkan salah satu teman mereka ada yang ulang tahun ke insta story, twitter, hingga snap WA, lalu nongki cantik pakai duit orang tua, gunanya apa ya? Lalu, kadang pakai caption "hey, happy birthday my bestie" , padahal Kak Rahul menurutku kualitas pertemanan tidak hanya dinilai dari siapa-siapa saja yang ingat tanggal lahir kita. Hm...

    Lalu hingga suatu ketika, aku memaklumi fakta, bahwa beberapa manusia memang ada yang haus akan pengakuan.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Tidak masalah, Syifana. Toh, ketika tidak merugikan diri kita apa yang harus kita sesalkan. Saya bahas ini cuma mau mengatakan bahwa jangan-jangan tempatmu sekarang bukan tempat di mana seharusnya kau berada. Maka ketika itu terjadi, kau menyadari dirimu telah menjadi orang yang sangat berbeda. Sekalipun mereka melakukan hal itu, saya tidak lagi mempermasalahkannya. Saya hanya sempat bertanta-tanya, apakah itu tempat nyaman mereka.

      Beberapa manusia memang akan melewati fase itu, Syifana. Sayapun pernah begitu. Kalo tidak sekarang, mungkin nanti. Manusia memang butuh validasi, setidaknya untuk dari diri sendiri

      Delete
  5. Mas Rahul, aku suka bgd sama bahasannya. Seperti biasa, mas rahul selalu berani mengomentari kebiasaa yg umum dilakukan orang2, padahal belum tentu kebiasaan itu sebenernya baik. Hal yg banyak orang lain lakukan, blm tentu itu baik dan cocok dg orang lain.

    Klo Mas rahul cerita tntng betapa bbrapa orang suka ikut2an agar dianggap populer pas sekolah dulu, aku malah skrng liatnya hal itu kejadian ga hanya di lingkungan sekolah. Di lingkungan kerja jg kaya gt. kaya akhir2 ini yg sempat hits bgd, sepedaan. Sampai sebagian besar temen2ku pd beli sepeda, tp ujung2ny ga dipake krna lbh buat keren2an aja bukan krna memang hobi.. Miris kadang klo udah liat yg kaya begini πŸ˜†

    ReplyDelete
    Replies
    1. Mudah-mudahan poin saya tersampaikan kak Thessa. Bukan ditangkap lain.

      Saya sebenarnya ngerti hal ini bisa terjadi di manapun. Hanya saya kasih konteks yang pernah saya lalui. Kalo saya kasih konteks dunia kerja, itu tidak akan valid. Ha ha ha

      Delete
  6. Baca tulisan ini dan baca komentar teman-teman, kayaknya memang kita semua mengalami yaa masa-masa ingin populer, ingin dianggap keren oleh orang lain, atau pengin berada di dalam pergaulan yang hits. Jadi kayaknya hal ini tuh, bisa dibilang termasuk ke dalam proses kehidupan ya kayaknya?

    Aku pernah berada di posisi yang menginginkan jadi populer atau tergabung dalam kelompok pertemanan yang hits, dan pernah juga membenci hal-hal macam itu ahaha. Ini lagi-lagi kayaknya proses, setelah ga bisa memiliki apa yang diingankan, justru jadi membenci hal-hal yang dulu diinginkan.

    Aku maklum banget kalau yang merasa seperti ini anak-anak remaja, karena memang mungkin namanya remaja yaa ingin mencoba dan tahu banyak hal. Cuma kalau yang udah menganggap dirinya dewasa juga suka masih seperti haus pengakuan, kok rada bikin mengernyitkan dahi juga ahaha.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Benar kak Eya, tapi saya ngga tau harus ngomong ini atau tidak. Soalnya, ada juga orang-orang yang memang menutup diri dari hal-hal ini. Jadi kalo saya bilangnya ini proses kehidupan, mungkin lingkupnya hanya mayoritas, tidak semua.

      Hal seperti ini memang penyakit. Melakukan sesuatu untuk mencari validasi orang lain. Beruntunglah yang sudah cepat-cepat menyadari. Remaja memang salah satu fase banyak nyoba-nyobanya. Tapi kalo hal itu, kayaknya beda kasus lagi. Ha ha ha. Memangnya ada orang yang seperti itu yah?

      Delete
  7. Topik yang menarik mas, untung saya tumbuh ketika era digital belum datang, jadi nggak ada kepikiran pusingnya dan betenya harus sedikit-sedikit insta story endeblabla. Apalagi sampai sewa hotel hanya demi foto bagus di sosial media ahahahaha πŸ˜‚

    Yang ada jaman dulu kalau ultah yaaa makan-makan sama sohibuls, traktir bakso Abang-abang atau ajak ke rumah, minta Ibu memasak menu banyak πŸ˜‚ Nah cuma bedanya, saya masuk pertemanan yang isinya banyak orang hits di sekolah, thankfully, nggak sampai merasa terpaksa blend in, and on top of that, I'm grateful sebab pertemanan yang saya punya adalah pertemanan positif plus menyenangkan 😍 Cocok sama saya kamsudnya ~

    Tapi saya setuju sama mas Rahul, kalau bisa, cari pertemanan yang nggak membuat kita berubah hanya demi agar bisa diterima, dan tetap bisa jadi diri kita apanya πŸ˜πŸ’•

    ReplyDelete
    Replies
    1. Meski lahir dan tumbuh diera ini, saya ngga terlalu mikiran juga akan ke sana. Sama seperti kak Eno, jaman ultah sesimpel traktir bakso abang-abangan aja sudah lebih dari cukup.

      Sebenarnya ngga masalah kalau ada yang sampai ada di lingkup seperti itu. Poin saya cuma mempertanyakan eksistensi mereka di sana kak Eno. Apakah hanya untuk populer, atau benar-benar karena itu tempat yang nyaman untuk mereka.

      Seandainya sudah menemukan pertemanan seperti itu, jangan dilepas lah. Sulit cari teman yang seperti itu. Ha ha ha

      Delete
  8. samaan kayak mba eno dan mba eya, jaman waktu aku sekolah dulu belum ada hape canggih, yang ada acara pengajian rutin dirumah masing masing siswa hehe, jadi pas misalnya bulan ini aku ulang tahun ya udah pengajian dan makan bareng.
    jaman dulu aku rasa lebih seru anak anaknya, ga ada pegang pegang hape, pasang instastory dan apapun itu. jadinya kenangan yang dipunya sekarang hanya sebatas memori di kepala saja.

    aku sendiri kayaknya ga terlalu populer banget waktu SMA, populernya waktu SMP aja hahaha
    mungkin kalau SMP jumlah siswanya ga terlalu banyak dibandingkan jumlah siswa SMA.
    beralih ke jaman kuliah pun nggak penting bahas populer juga, yang penting berteman sama sapa aja. ikut eksul diluar fakultas, ya palingan cuma populer sebatas "ooo anak fakultas hukum ya", gitu gitu aja

    pas udah kerja, malah ga kepikiran lagi pengen jadi populer, yang ada isiannya cuman dunia politik kerja

    ReplyDelete
    Replies
    1. Itu memang jadi plus-minus. Tapi kalo disuruh pilih, saya kayaknya lebih milih hidup dijaman itu. Sekarang semuanta serba mudah tapi tidak terasa begitu. Dulu, komunikasi tidak sebagus sekarang tapi tanpa kata 'otw', kita bisa datang tepat waktu.

      Saya malah kalo tidak ikut lembaga pers mahasiswa, jadinya ngga ikut apa-apa. Organisasi internal maupun eksternal tidak ada yang saya ikuti. Perangkat kampus juga begitu. Jadi kata populer sangar jauh juga dari kamus saya. Ha ha ha

      Delete
  9. Menariqueeee Rahul!
    Ini agak nyambung dengan tulisan siapa ya tadi? hahahaha *pikun kumat!

    Mungkin karena beda timing kali ya.

    Berbeda dengan Rahul atau beberapa anak muda zaman now, saya malah dulu setengah mati melawan minder agar bisa masuk geng teman-teman.

    Terutama saat kuliah.
    Waktu STM, saya diam aja meski saya nggak punya teman, ada sih, tapi teman buangan yang mau dekat sama saya, hahahaha.

    Setelah kuliah, saya nggak mau lagi diam sendiri, saya harus membaur, karena saya merasa nggak bisa terus-terusan menjadi diri sendiri yang (semacam) intorvert.

    Saya berusaha keras masuk ke dalam geng teman-teman.
    Cuman bedanya, saya nggak pernah pilih-pilih sih, semua saya temanin.

    Ada yang mau nerima saya langsung, ada juga yang pakai syarat nerima saya, salah satunya saya harus menguntungkan mereka, harus mau kasih contekan, harus mau bantuin tugas gambar dulu belom ada tugas komputer, dan mayoritas teman saya dari SMU, ga kenal gambar, saya kudu gambarin tugas mereka.

    Demi bisa masuk ke semua golongan.

    Tapi mungkin goal saya tuh bukan buat hits sih, cuman pengen bisa punya banyak teman aja, bisa mudah menyesuaikan diri.
    Ditambah sifat saya yang nggak enakan, ambyar sudah.

    Tapi bertahun kemudian, saya baru sadar, semua yang dulu saya lakukan, meski teman-teman saya kayak ngerjain saya, ternyata mereka masih ingat dan peduli loh sama saya :D

    ReplyDelete
    Replies
    1. Tulisan siapa kak Rey? Ha ha ha.

      Nah, poin saya memang di situ kak Rey. Saya tidak pernah menghakimi orang yang ingin mempunyai banyak teman dan membaur. Saya cuma mempertanyakan goals mereka. Lagipula, itu juga bukan urusan saya. Ha ha ha

      Delete
Terimakasih sudah membaca. Sila berkomentar terkait tulisan ini.