zsnr95ICNj2jnPcreqY9KBInEVewSAnK0XjnluSi

Ulasan Pendek Tontonan Sepanjang Tahun 2020

Tahun 2020 kemarin, dilaman Facebook saya cukup sering membagikan tulisan pendek tontonan saya. Baik bahas isi film maupun teknisnya. Karena lagi banyak tugas, saya kepikiran untuk mengumpulkan catatan itu untuk saya rilis dalam beberapa pos agar saya tetap ada tulisan ditengah kesibukan saat ini.

Sebenarnya, saya ngga terlalu senang dengan kata "ulasan", tapi tidak ada kata yang lebih cocok selain kata itu untuk menggambarkan kumpulan tulisan pendek saya ini. Dua tulisan berikutnya akan lebih jauh membicarakan diluar dari filmnya. Dinikmati saja dulu pos ini sebelum saya bisa ngedit draft post dan rilis tulisan baru.

Ulasan Pendek Tontonan Sepanjang Tahun 2020
Awalnya ingin saya sebut "Pendapat Pendek.." atau "Impresi Pendek.." atau "Komentar Pendek.." tapi semuanya kurang enak secara penyebutan dan ditelinga. Jadi kata "ulasan" yang saya maksud adalah kesan dan pendapat saya tentang film tertentu, bukan kritik atau membahas hal yang sangat teknis seperti kebanyakan reviewer film.

Children of Heaven (1997)

Berapa kalipun ditonton ulang, arahan Majid Majidi yang satu ini tetap jadi favorit. Manis, lucu, namun getir diwaktu yang bersamaan. Masih sangat relevan hingga saat ini.

12 Years a Slave (2013

Kalau tidak suka baca, ini mungkin jadi referensi alternatif jika ingin tau kisah pahit rasisme di Amerika. Pra-kebebasan budak di sana yang ternyata 'tidak benar-benar' bebas.

Last Fragment of Winter (2011)

Bicara kenangan, kepolosan, dan perasaan dalam potongan fragmen yang dijahit rapi membentuk puisi adalah ini, Last Fragment of Winter arahan Edmund Yeo. Cara bertutur yang indah.

The Favourite (2018)

Meski tidak sesakit "The Killing of Sacred Deer". Tidak seidealis "Dogtooth". Namun "The Favourite" tetap jadi favorit dari tangan dingin Lanthimos, seperti judulnya. Sebuah perayaan budget komersil dengan estetika festival. Seperti menonton film-film Tarantino, tapi dengan gaya klasik dominan dengan sinematografi lensa wide bak Wes Anderson. Yorgos Lanthimos mengawinkan itu semua bersama peran ciamik Colman, Stone, dan Weisz. Goks.

Happy Old Year (2019)

Beginilah maksudku, jika hidupmu baik-baik saja, harap tidak menonton film ini. Tentang seorang perempuan minimalis yang tengah beberes rumah dalam rangka merenovasi rumahnya agar minimalis. Ditengah memilah barang untuk dibuang, ia menemukan barang-barang pemberian, termasuk barang mantannya. Eksekusi yang dilakukan Nawapol cukup baik dengan membuat pace film lumayan bergerak lambat dengan shot simpel yang establish. Detil kecilnya juga sangat diperhatikan macam pakaian Jean (karakter utama) yang cenderung hitam dan putih saja mengambarkan gaya hidup minimalis yang coba dianutnya. Sepanjang film, pergolakan batin terus dibenturkan. Namun yang cukup menarik adalah bagaimana ternyata gaya hidup minimalis-secara sadar atau tidak-telah mematikan perasaan manusia. Untuk yang masih cukup emosional pada barang tertentu, disarankan untuk pemanasan dengan Hello, My Name is Doris (2015) sebelum ini. Prinsip membuang barang yang tidak esensial sangat berpengaruh dalam menggerakkan cerita dan membuat satu macam keadaan yang cukup dilematis. Seperti metafora bagaimana prinsip gaya hidup minimalis dilakukan: merelakan.

Pada akhirnya, sebagai manusia kita pasti punya satu kenangan dikepala yang cukup membekas. Mungkin kenangan itu menyamar jadi boneka kecil di tepi kamar, atau kaset Rocket Rockers, atau jaket jeans buluk. Pra-minimalis, semua itu normal. Bahkan orang-orang yang terjebak pada satu keadaan untuk merasa benar-benar hidup tenang dengan masa lalunya. Jika sudah begitu, saya berpikir bahwa minimalis adalah produk budaya yang coba dibuat oleh orang-orang yang mencoba untuk melupakan masa lalunya tapi tidak mau sendiri.

The Thin Red Line (1998)

Kalau ada film perang yang membekas untuk saya, mungkin salah tiganya ini selain Saving Private Ryan dan Hacksaw Ridge. Selain punya kedekatan emosional, arahan Terrence Malick ini sangat puitis. Punya porsi yang pas untuk tiap karakternya. Meski sarat narasi, aksinya tidak terbebani oleh skrip Malick yang cenderung melankolis.

Bad Genius The Series (2020)

Tanpa ingin membandingkan dengan versi filmnya, Bad Genius The Series adalah langkah yang jenius. Alih-alih menjadikan ini sebagai sebuah sekuel, GDH meremake dengan mengganti empat pemeran utamanya. Hasilnya tidak mengecewakan. Malah ini menjadi jembatan untuk hal yang lebih jauh dan serius. Ada semacam rencana besar yang mungkin dilakukan untuk musim dua (jika ada). Saya ingin menyebutnya ini sebagai langkah buruk yang jenius.

Ave Maryam (2018)

Setelah deburan ombak keras pasca pemutaran konvensional-digital, akhirnya bisa menikmati dengan tenang film Ave Maryam. Setenang permukaan danau, karena begitulah adanya. Kalau sedang haus, tontonan ini sangatlah cocok. Pelepas dahaga yang sarat agama, cinta, dan keimanan. Terakhir nonton film Indonesia seperti ini tahun 2017 saat masih SMA. Itu adalah perempuan Sumba berkuda 😁

Night Bus (2017)

Malam kamis kemarin, saya berada dalam bus bernama Babad menuju kota yang berada di ujung Pulau Santani. Kota tersebut bernama Sampar. Perjalanan memakan waktu 12 jam, sehingga sepanjang malam kami hanya duduk memandang gelap hutan, sesekali cahaya dari rembulan yang dimana suara jangkrik dan ranting pohon yang bergesekan terdengar begitu jelas. Itu kalau benar-benar melakukan perjalanannya, tapi saya hanya duduk didepan laptop, dan menyaksikan sebuah film yang sudah lama ingin saya tonton sejak SMA; Night Bus.

Night Bus adalah thriller Indonesia rilisan tahun 2017. Diangkat dari potongan kejadian nyata Rifnu Wikana saat tahun 1999. Sebagai film eksperimental, saya sangat takjub dengan pengembangan cerita dan karakternya. Berisik tapi tidak annoying. 2 jam lebih durasi pun tidak jadi soal karena ketegangannya sangat intens.

Isu yang diangkat juga krusial, beda dengan Into the Night yang terlalu scientific, Night Bus mengangkat isu kekacauan akibat aksi separatis yang terjadi di daerah Sampar. Aksi baku tembak, penjagaan ketat di tiap perbatasan, sampai kekerasan individual dan kelompok yang cukup menguras emosi.

Saya senang bagaimana film ini menggunakan alm. Toro Margens, aktor favorit Bapak saya di sinetron "Rahasia Ilahi" sebagai peran yang cukup ikonik difilm ini. Agak salah jika menyebut demikian, sebab film ini menjadikan belasan aktor mempunyai porsi yang seimbang. Selain Toro Margens, ada tiga aktor sesepuh yang saya rasa hanya film ini yang bisa menyatukan mereka: Tio Pakusadewo, Egi Fedly, dan Yayu Unru. Ketiganya bermain keren. Apalagi ada penampilan Tino Saroengallo yang bikin pangling itu.

Menonton film ambisius eksperimental macam ini memang mengasyikkan. Bagaimana mengeksekusi ide gila dengan budget yang tidak begitu besar, Tengkorak dan Night Bus membuktikan itu. Saya rasa, tidak perlu punya selera 'festival' untuk menonton ini, Night Bus cukup tahu bagaimana membawa dirinya kepada penonton. Disatu sisi ia akan menjadi menyenangkan, disisi yang lain ia juga berhasil membuka ruang diskusi yang sangat lebar.

Soul (2020)

Seingat saya, tidak ada film animasi panjang tahun ini yang bisa menandingi Pixar's Soul. Benar-benar tidak ada. Dia depresif dan cenderung gloomy, tapi bisa lucu disaat yang bersamaan. Sepanjang film seperti sedang duduk mendengarkan seorang dosen filsafat mengoceh tentang kehidupan. Ya benar, tentang kehidupan. Klise? Saya pikir hidup memang klise: hidup > berusaha bahagia > mati.

Kalau Pixar's Coco sentralnya kematian, Soul ini memang banyak membahas kehidupan. Bagaimana menemukan api didalam kehidupan, yang kita kenal sebagai gairah, atau passion, atau tai kucing apalah sebutan itu di tempatmu.

Saya selalu berpikir, saat beberapa orang menyarankan saya menjadi seorang guru,"apakah saya mau menjalani kehidupan seperti itu? Bangun pagi, mengajar, pulang, dan diam-diam menunggu akhir pekan". Kayaknya itu bukan hal yang saya cari.

Meski tidak semellow Coco, Soul tetap favorit saya. Alunan tembang jazz sepanjang film, benar-benar eargasm untuk telinga saya. Saya pikir, ini mesti jadi tontonan wajib setahun sekali untuk saya.


Itulah kumpulan catatan saya dari tontonan sepanjang tahun 2020. Tidak semua saya catat, tapi yang membekas dan kasih pengalaman yang menarik saja. Saya masih ada dua kumpulan tulisan lainnya dan satu tulisan terpisah tentang Coco yang belum saya tulis. Mudah-mudahan bisa segera saya garap satu-satu. 

Ohya, tahun kemarin film apa saja yang membekas untuk teman-teman?

Related Posts

6 comments

  1. Dari semua list mas rahul, aku baru pernah nonton yang 12 Years a Slave. Memang sempit nih perbendaharaan film2 aku. Hehehhe >.<
    Setuju klo film ini menggambarkan banget gimana rasisnya kondisi di amerika saat itu. Wajar klo sampe skrng pun rasis masih ada aja di sana, karena historisnya kaya gt. Ada lg salah satu film tntng rasis yg bagus. Man of Honor. Sedih tapi menginspirasi, dan kabarnya diangkat dari ceritanya nyata. Mas Rahul udah nonton belum?

    ReplyDelete
    Replies
    1. Bukan sempit kak Thessa, mungkin daftar diatas apa yang kak Thessa kebetulan belum nonton. Saya juga tidak banyak nonton film. Mungkin kalo kak Thessa bikin daftar, belum tentu ada yang sudah saya tonton.

      Oh, Man of Honor itu yang rilisan 2000? Tahun segitu saya baru lahir. Terimakasih rekomendasinya kak Thessa. Akan saya masukkin ke watchlist saya

      Delete
  2. Dari film-film yang Rahul ulas di sini, yang udah kutonton baru Ave Maryam, The Favourites, 12 Years A Slave dan Children of Heaven. Yang terakhir ini memang film yang membekas banget yaa Rahul, setiap nonton masih berasa harunya 🥺

    Favoritku di sini adalah The Favourites. Gimana film yang dilatarbelakangi perang tapi sama sekali ga menampilkan adegan peperangan, tapi tetap kerasa kalau mereka tuh sedang dalam masa-masa perang. Olivia Colman apik banget berperan semagai Your Majesty di sini, ga heran sampai dapat penghargaan ini-itu.

    Kalau film paling membekas yang kutonton tahun lalu sepertinya Little Women dan 1917, kebetulan juga dua film ini adalah film terakhir yang aku tonton di bioskop 😆

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya, Children of Heaven memang salah satu film favorit saya. Akan sangat senang menontonnya kembali kapan-kapan.

      Saya suka film-film Yorgos Lanthimos. The Favourite mungkin film Lanthimos yang paling normal. Kak Eya boleh coba nonton film-film dia yang lain. Tidak kalah keren.

      Ah iya, 1917 itu keren. Saya suka. Kalo Little Women saya belum nonton. Lagi-lagi alasannya mau baca bukunya dulu. Ha ha ha. Alasan klise yang bikin saya nunda-nunda kalo mau nonton film

      Delete
  3. Rahul, tontannya menarik semua nih. Jadi kepengin coba satu persatu. Belum ada yang ku tonton dari film diatas tapi sudah ada di wishlist; the favourite, soul sama night bus. Untuk thriller lokal aku sendiri belum pernah nonton, kayaknya night bus banyak adegan aksinya ya? Oiya, Rahul biasa nonton film lokal dimana?

    ReplyDelete
    Replies
    1. Silahkan kak Reka. Semua keren-keren. Night Bus ngga banyak aksi, tapi suspensi thrillernya tidak pernah putus. Seru. Kalau film lokal, tempat saya ada banyak. Dulu ada Hooq (yang sudah tidak) dan Iflix. Sekarang banyak nontonnya ke Netflix dan We TV. Kalo Night Bus sendiri saya tonton lewat festival online pake region luar. Memang pemutarannya sangat terbatas

      Delete
Terimakasih sudah membaca. Sila berkomentar terkait tulisan ini.