zsnr95ICNj2jnPcreqY9KBInEVewSAnK0XjnluSi

Waktu yang Salah Untuk Refreshing

Jika ada yang saya rindukan selama pandemi selain nonton di bioskop, itu adalah mendaki. Kalo saya bilang, mendaki itu memang sulit, capek, tapi ngangenin. Apalagi kalo sudah jam-jam malam, ngobrol hal yang sifatnya personal. Mungkin ada yang ingat adegan ngobrol Genta dan Riani dalam film 5 CM. Genta ngungkapin perasaan, tapi Riani ternyata sukanya ke Zafran. Sementara Zafran sukanya ke Dinda, tapi dan Dinda sukanya ke Genta. Cinta segiempat. Ha ha ha.

Saya tidak berharap obrolan seperti itu, tapi maksud saya, itu adalah momen-momen untuk ngobrol dan refleksi diri. Ditengah kesibukan tugas dan UAS kemarin, tanggal 20 Januari, saya mengiyakan ajakan senior untuk mendaki di Puncak Amarilis, tempat yang sering dijadikan spot muncak orang-orang yang tinggal di daerah bagian perkotaan.

Bisa dibilang, Puncak Amarilis cukup mudah untuk para pendaki pemula. Ia tidak terjal, juga tidak jauh. Paling hanya tiga puluh menitan untuk sampai ke atas. Dibagian bawah juga tersedia lahan parkir berbayar untuk menyimpan kendaraan. Biasanya, orang naik pada waktu sore atau malam hari. Sebenarnya paling enak naik dimalam hari kalo ramean, kalo cuma sendiri atau berdua mending naik sore. 

Saat itu, saya sudah di tempat pukul 4 sore, diantar oleh adik saya no. 2. Saya menunggu di sebuah pos, tidak jauh dari gerbang masuk lorong Amarilis. Atma sudah datang juga, tapi berada di warung bibinya yang tidak jauh dari sana. Hampir sejam menunggu, saya pergi ke Atma karena merasa bosan, ternyata kami ketemu di persimpangan jalan karena ia juga sedang mengarah ke saya.

Sudah hampir maghrib dan gelap, saya bilang mending ke tempat bibinya. Di tempat saya tadi sudah hampir gelap dan banyak nyamuk. Anak-anak yang menemani saya tadi sudah pulang karena maghrib. Kami ke tempat tante Atma, duduk di depan warung menunggu yang lain. Setelah maghrib, mereka datang. Satu angkot semua, bersama. 

Setelah semua berkumpul, kami memulai perjalanan ke atas. Jumlah kami ada sebelas orang. Tujuh laki-laki dan empat perempuan. Dengan beberapa senior dan teman kelas saya. Kami singgah sebentar ke Mesjid untuk beberapa teman yang melaksanakan salat. Setelah selesai, kami melanjutkan perjalanan. 

Sebelum benar-benar naik, kami dicegat oleh beberapa orang. Katanya, kemi mesti membayar biasa mendaki. Saya sempar bersikukuh untuk tidak usah membayar, tapi senior saya tidak mau memperpanjang masalah. Jadi kami membayar, sekalian yang lain belanja makanan ringan dan kopi.

Pemberhentian terakhir sebelum benar-benar memulai pendakian adalah di depan pagar, area terakhir sebelum memasuki kawasan hutan. Kami berhenti di sana untuk berdoa bersama sebelum naik, memohon restu baik dan keselamatan bersama. Setelah itu, kami berhitung dan berbaris sesuai dengan kelompok yang sudah di bagi.

Kelompok bagian depan adalah laki-laki dan pemegang senter untuk menerangi medan. Baris kedua adalah perempuan, berada dibagian tengah. Dan baris ketiga atau bagian belakang adalah laki-laki, termasuk saya didalamnya. Meski barisan depan sudah menyalakan senter, namun malam itu terlalu gelap. Apalagi cahaya bulan tidak terlalu bisa menembus area jalan kami.

Waktu yang Salah Untuk Refreshing
Barisan tengah memilih untuk menyalakan senter juga. Saya sebenarnya tidak terlalu butuh dengan senter itu. Selain membuat silau, senter yang dipegang juga kadang bikin pusing karena cahayanya ke sana kemari akibat tangan yang memegang senter juga menyesuaikan dengan orang yang sedang berusaha menyesuaikan dengan medan yang ada.

Kami berhenti dibeberapa titik untuk beristirahat. Kemudian sebelum naik ke atas, kami belok ke tempat mata air untuk wudhu dan ngambil air. Dari sana, puncaknya sudah tidak jauh. Hanya beberapa ratus meter lagi. Kami memilih puncak yang paling atas. Kebetulan, suasana tidak serame biasanya.

Setelah salat, kami langsung mendirikan tenda. Ada empat tenda yang didirikan. Satu yang dibawa Harni, tiga yang dibawa oleh senior. Mendirikan tenda ternyata butuh waktu yang agak lama, sebab tenda yang paling besar cukup sulit untuk didirikan. Itu membuat kami sedikit kesulitan. Saya sebenarnya tidak terlalu butuh tenda, bisa tidur hanya beralaskan terpal.

Waktu yang Salah Untuk Refreshing
Selain karena panas, saya juga tidurnya lumayan banyak gerak. Tidak cocok untuk tidur berhimpit-himpitan. Ketika yang lain pergi mencari kayu bakar, saya memilih untuk tetap berada di tempat. Alasannya untuk menjaga tenda, barang, dan teman perempuan. Ha ha ha. Padahal aslinya saya capek dan malas jalan lagi. Sudah dalam posisi wuenak.

Pencari kayu bakar sudah kembali dengan kayu yang banyak. Setelah api menyala, air panas dinaikkan. Itu untuk menyiram Pop Mie yang dibawa. Padahal, saya juga ngga bawa Pop Mie karena malas ngeluarin uang lagi. Kebetulan masakan Mama saya masih lengkap saat itu, saya bawa saja bekal dari rumah. Sekalian menghemat pengeluaran. 

Waktu yang Salah Untuk Refreshing
Teman saya Harni, meminta nasi dan lauk saya karena hanya membawa Pop Mie. Kebetulan malam itu saya bawa lauk ikan yang lebih, saya oper ke teman yang lain. Itu adalah bagian dari rasa menyenangkan. Biasanya pake alas daun pisang, tapi karena ini sedang di bukit, ada banyak keterbatasan. Intinya makan bersama-sama.

Kelar makan, kami main kartu sementara yang lain nyanyi di depan tenda. Setelah capek, beberapa memilih masuk ke dalam tenda, termasuk saya karena merasa cuaca tidak baik-baik saja. Masuk ke dalam tenda lebih dulu adalah opsi yang paling baik saat itu. Meski panas, saya tetap memaksakan diri untuk tidur, selain karena ngantuk saya juga ngga tau lagi mesti ngapain.

Waktu yang Salah Untuk Refreshing
Saya ketiduran akhirnya, bangun jam 1 pagi dan kepanasan. Udara di dalam tenda pengap, saya keluar untuk duduk di terpal bagian luar. Di sana, ada Hayul, senior saya yang belum tidur. Saya duduk sambil mengecek hape, sesekali kami ngobrol singkat. Setelah Subhan, senior saya yang lain, bangun, suasana jadi lebih cair. Kami ngobrol banyak hal.

Lebih tepatnya mereka yang ngobrol, saya cuma nyeletuk kalo memang penasaran. Kebanyakan yang diobrolkan masalah dunia kampus. Salah satu topiknya adalah tentang KKN. Kebetulan, saya sudah akan menjalani masa-masa KKN. Jadi, ada rasa penasaran yang begitu tinggi. Saya mencoba meredam itu dengan lebih banyak menyimak.

Sebenar-benarnya, saya juga tidak terlalu ingin, hanya ada perasaan ke luar kota yang rasanya akan mengasyikkan. Namun karena kondisi pandemi sekarang, kayaknya saya mesti menurunkan ekspektasi. Tidak terlalu ngoyo untuk menjalani KKN, tapi kalo bisa yah alhamdulillah.

Kami ngobrol panjang sampai jam empat pagi. Saya masuk ke tenda lagi karena perasaan ngantuk datang lagi. Tidur dan bangun karena ribut dan sesak. Ternyata sudah ada lima orang lain di dalam tenda yang sedang main domino. Saya terbangun meski masih ngantuk. Gerimis sejak tadi malam akhirnya berbuah hujan dipagi hari. 

Waktu yang Salah Untuk Refreshing
Beberapa tenda merembes, hanya menyisakan satu tenda besar yang masih aman. Itulah kenapa tenda itu jadi tempat nongkrong saat hujan yang cukup lama pagi itu. Perasaan lapar dan bingung membuat kami sulit mengambil keputusan saat hujan masih awet. Kami memutuskan untuk menunggu sebentar lagi, mudah-mudahan hujan lekas berhenti.

Benar, hujan berhenti setelahnya. Kami buru-buru menurunkan dan menggulung tenda, terpal, dan mengatur barang untuk segera turun. Sebelum benar-benar turun, kami lebih dulu foto bersama. Jelas, ini sudah jadi semacam kebudayaan. Sekadar dokumentasi untuk update postingan dan story. Kalo untuk saya sudah jelas untuk blog post.

Waktu yang Salah Untuk Refreshing
Kami turun terbagi dari beberapa bagian. Kebetulan karena kondisi yang lain beda-beda dan saat itu juga sudah pagi. Ada yang berada dibagian pertama, dengan gerakan cepat sudah turun lebih awal. Saya berada dibagian kedua, meski pada akhirnya bagian itu membelah diri hingga akhirnya menyisakan saya dan Harni, kemudian saya sendiri karena memilih berjalan cepat.

Waktu yang Salah Untuk Refreshing
Kondisi tanah yang lembab dan becek bekas tadi malam membuat kami sedikit berhati-hati. Subhan, senior saya sudah sempat terpeleset. Itu cukup jadi pelajaran untuk lebih berhati-hati ketika melihat ada gumpalan tanah yang terlihat mengkilat atau tanda-tanda yang bisa membuat kami terpeleset.

Setelah sampai di bawah, kami membersihkan diri di tempat lahan parkiran motor. Saya cuci muka sembari menunggu yang lain sampai. Setelah sampai, kami turun bersama. Dua senior yang naik motor turun lebih dulu. Entah karena bersemangat dan lapar, saya jadi aktif dan menjadi barisan depan saat menuju gerbang.

Sampai-sampai, kami hampir diburu oleh seekor anjing yang ada di sana. Istilah jangan lari yang sering diucapkan tidak lagi berlaku. Saya sudah lebih dulu mengambil ancang-ancang sebelum benar-benar bisa menyiapkan mental. 

Di Pos, kami beristirahat sejenak sambil bercerita tentang insiden anjing tadi. Setelah semuanya siap, kami berjalan menuju gerbang. Teman-teman yang lain menyebrang ke area tempat mengambil angkot yang mengarah ke ats, sementara saya dan Atma tinggal menunggu angkot yang mengarah ke bawah. Saya mengatakan minggir di lorong yang tembus ke jalan rumah saya. 

Berjalan sebentar sebelum sampai. Saya kira, itu waktu yang baik untuk istirahat. Tapi jadwal hari itu adalah presentase kelompok saya. Setelah refreshing, akhirnya kembali ke rutinitas normal. Saya sering bingung ketika ada yang sering post story dengan caption "back to reality", tapi kayaknya itu cuma ungkapan pasrah dari kenyataan yang mesti dijalani. Ha ha ha.

Related Posts

20 comments

  1. Kereen nih Rahul suka ndaki gunung yaaak.. Saya belum pernah 😅

    ReplyDelete
    Replies
    1. Ini juga saya waktu itu iseng karena diajak teman mas Dodo. Kalau niat sendiri mah gak ada juga ndaki-ndakian. Ha ha ha

      Delete
  2. Waah mendakinya memang malem-malem ya Rahul, apa ga seram? Hahaha pasti gelap banget soalnya ngelewatin hutan 😔

    Musim hujan begini memang cukup menyulitkan yaa buat yang suka kemping atau mendaki atau hiking, karena jalanan jadi becek dan seperti yang dialami Rahul dkk, tendanya kena rembes air hujan. Tapi yaa cuaca jaman sekarang sulit diprediksi, sepanjang hari terang benderang, eh malamnya bisa hujan besar 😔

    ReplyDelete
    Replies
    1. Kalo seram yah pasti seram juga kalo naiknya sendiri kak Eya. Ha ha ha. Tapi sejauh ini, saya selalu naik malam. Soalnya medan Amarilis ini kan ngga terlalu nanjak, terus durasi ke atasnya juga ngga terlalu tinggi. Salah satu keuntungan naik malam adalah tidak terlalu panas dan capek karena ngeliat medan.

      Cuaca sekarang mah suka php. Kadang pagi cerah, sorenya mendung. Kadang siangnya mendung, tapi sepanjang hari ngga turun hujan juga. Jadi lebih baik diam di rumah kalo tidak begitu penting

      Delete
  3. Woah, ternyata Kak Rahul suka mendaki? Sesuatu yang belum pernah aku lakukan! Selain karena takut hilang serta alasan takut lainnya, sepertinya kondisiku tidak begitu mumpuni 😂 Aku jadi salut sama empat teman perempuan Kak Rahul! Berani!

    Kak Rahul mulai mendaki di usia berapa?

    ReplyDelete
    Replies
    1. Kalo dibilang suka sih tidak juga, tapi untuk selingan boleh lah. Saya belum kepikiran mesti beli peralatan mendaki. Soalnya kalo naik malas bawa yang berat-berat. Paling cuma peralatan tidur sama makan. Kalo di tempat saya itu, alhamdulillah kalo kasus hilang kayaknya belum pernah. Soalnya itu kan bukan gunung juga, cuma bukit. Durasi dan medannya juga cocoklah untuk saya. Ha ha ha. Kalo Syifana mau coba mendaki, mending cari teman dulu aja yang suka mendaki. Terus cari spot yang durasi dan medannya tidak terlalu ekstrem. Kalo benar-benar baru, ikuti apa yang dilkaukan Ian 5CM, banyak jogging biar stamina lebih siap pas mendaki, ngga kaget

      Pertama kali mendaki itu kayaknya pas udah kuliah, diajak teman. Kalo mendaki untuk ke rumah teman mah sering, dari SD. Ha ha ha

      Delete
  4. Aku jadi ikut membayangkan naik gunung bersama rombongan Rahul 🤭. Menarik karena durasi pendakiannya bisa dibilang singkat. Kayaknya di daerahku kalau mendaki gunung sampai berjam-jam deh. Aku selalu ingin coba mendaki gunung gituuu, tapi ada 1 hal yang bikin takut yaitu takut kesasar 😂 mana gelap kan terus kesasar, haduu serammm *kebanyakan baca cerita hantu di gunung*

    ReplyDelete
    Replies
    1. Nah, itu dia enaknya di sini. Kalo dengar cerita pendakian orang-orang kan durasinya berjam-jam atau bahkan berhari-hari. Ada posko segala macam. Ini mah tidak. Lebih lama satu episod drakor lah kalo mau naik.

      Kalo ketakutannya itu, mungkin kak Lia bisa cari teman mendaki yang sudah sering. Terus cari spot yang durasi sama medannya ngga terlalu ekstrem. Kalo kebanyakan cerita hilang biasanya karena terpisah dari rombongan atau naiknya sendiri

      Delete
  5. Itu anjingnya sampe ngejar gt mas rahul? Ga kebayang deh licin2 trus harus lari klo dikejar anjing 😆😆

    Back to reality ya, jd seolah2 klo liburan itu bukan real, tp sebatas dream. 😁 Padahal mau liburan, mau kuliah, ayau kerja, semua sama nyata-nya, that's real and that's life 😁

    ReplyDelete
    Replies
    1. Karena anjing rumahan, jadi ngejarnya cuma sebatas pagar. Ngga kebayang nemu anjing liar, pasti saya sudah lari sampai ke rumah. Ha ha ha.

      Seakan-akan mereka hanya hidup dan kerja untuk hari weekend. Canda weekend. Ha ha ha

      Delete
  6. hoaah... bisa bentar gitu ya mendakinya. jadi inget gunung di daerahku yang rata-rata poskonya tiga atau empat. aku sih rombongan yang berhenti di posko dua terus tidur, besoknya ya ke bawah lagi. HAHAHAH.

    still, kemping itu asik ya. despite the kerepotan (halah), main domino di gunung selalu asik padahal aslinya gak suka main, begitu juga dengan minum kopi dan jerang teh yang ribet-ribet. serta popmi.

    Terakhir ke gunung itu lama banget, pas masih kuliah... kayaknya 10 tahun lalu deh ada 😂😂

    ReplyDelete
    Replies
    1. Nah, kebetulan ini bukan gunung kak Mega, cuma bukit. Jadi ngga pake posko-posko. Kalau naik gunung, saya juga belum yakin bisa.

      Iya, kegiatan di gunung memang asik. Main domino sambil minum kopi.

      Kak Mega juga sudah lama banget ngga mendaki. Ada kepikiran untuk mendaki lagi?

      Delete
    2. sayangnya enggak, rahul. soalnya buaku yang bikin asik tuh emang temen-temen. Sekarang udah nggak ada temen lagi buat main ke gunung. mendaki sendiri mungkin beda banget rasanya. dan simply sekarang udah mageran aja hahahaha...

      kalau ada waktu, iya sih pengen kemping lagi. meskipun mungkin nggak akan sama kayak waktu kuliah pas masih sama temen-temen. sekarang kayaknya bakal lebih rewel karena udah berubah jadi manusia dengan berbagai keluhan tulang belakang 😂

      Delete
    3. Saya kira kak Mega masih sering sering naik gunung juga. Biasanya kalo reuni itu akan banyak ngobrolnya. Apalagi sudah lama ngga ketemu. Naik gunung jadi opsi yang cocok

      Delete
  7. wowww view dari atas bukit masih bisa lihat lampu lampu kota ya,mirip kayak di Rembangan di kota Jember sini
    aku terakhir camping desember lalu, pas musim hujan juga, air sempet masuk ke tenda juga, dan tidur beralas matras aja
    seru juga kalau bisa nge-camp rame rame kayak gini, pasti ada aja yang bikin ketawa terus, dari temen yang suka nge-banyol gitu

    ReplyDelete
    Replies
    1. Nah, yang keren memang itu. Gara-gara itu, saya jadi ke blog kak Ainun untuk baca tulisan tentang itu

      Delete
  8. Seru banget massss, apalagi kalau perginya sama teman-teman 😍

    Saya cuma bisa gigit jari hahahaha, karena saya nggak pernah mendaki gunung, kecuali gunung yang dikasih tangga macam gunung Bromo atau beberapa gunung pendek di Korea 😂

    Buat saya, mendaki gunung itu nggak mudah, even gunungnya pendek dan nggak makan waktu lama. Apalagi jika dilakukan malam-malam, big no, nggak akan berani saya. Entah kenapa kawatir lihat yang seram-seram hahahahaha *penakut anaknya* 😆

    So you are cool, mas! Lanjutkan 🤣

    ReplyDelete
    Replies
    1. Ini juga hitungannya bukan gunung sih kak Eno, lebih ke bukit atau puncak. Tidak ada posko-posko juga, jadi rutenya ngga sepanjang naik gunung. Medannya juga masih aman untuk orang yang mau belajar mendaki.

      Saya juga sebenarnya ngga berani naik malam-malam kalo cuma berdua. Minimal bertiga lah. Tapi kalo naik malam, bisa lebih enak karena ngga perlu ngeliat rutenya. Jadi jalan-jalan-jalan, eh tau-tau nyampe.

      Terimakasih kak Eno, meski sampai diatas saya ngos-ngosan juga. Ha ha ha

      Delete
  9. wakakakakaka, udah baca dengan syahdu, sampai di adegan dikejar anjing kok ya jadi buyar syahdunya :D

    Btw memang ya, kalau udah di depan anjing, trus dia pamerin giginya, udah lupa semua trik hahahaha.
    Padahal, sebenarnya kalau kita diam dan perlahan megang sepatu aja, anjingnya udah kabur.

    Setiap kali ke blog ini, saya selalu seperti terlempar ke masa-masa muda dulu *cieeehhh yang udah uzur wakakaka.

    Teringat pertama kali nginap di tenda itu pas kuliah, tapi berbeda dengan di sana, di sini tuh nginap di tenda, saya malah sesak nafas saking dinginnya.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Kayaknya beda anjing, beda cerita kak Rey. Ada juga anjing yang memang beneran galak. Mau kitanya berani, dia lebih berani. Ha ha ha.

      Comment off the day!! Saya senang sekali dengarnya kalo kak Rey benar nostalgia. Tapi kalo saya ngga suka tidur di tenda malah karena hawanya pengap. Di luar dingin, tapi udaranya sejuk dan bebas untuk saya yang tidurnya banyak gaya. Ha ha ha

      Delete
Terimakasih sudah membaca. Sila berkomentar terkait tulisan ini.