zsnr95ICNj2jnPcreqY9KBInEVewSAnK0XjnluSi

Bagaimana Menyelesaikan Pekerjaan?

Tepat tanggal 5 Februari, tugas dan UAS untuk semester ini sudah selesai. Sebenarnya tidak benar-benar selesai, ada dua matkul yang mesti dikerjakan tapi tidak terlalu mengambil banyak waktu. Kemarin saya iseng-iseng membuka imel, terus ada imel otomatis dari Quora yang kebetulan kemarin saya register akun pake imel ini. 

Bagaimana Menyelesaikan Pekerjaan?

Pendahuluan

Quora ini cukup rutin ngirim buletin, jadi kadang ada pertanyaan menarik yang bikin saya ngeklik lagi. Padahal, sudah hampir beberapa bulan ngga pake Quora. Kemarin pas buka, saya lihat ada satu pertanyaan menarik: "Bagaimana Agar Tugas Cepat Selesai?"

Ada sembilan poin yang dijabarkan oleh akun bernama Tiur. Semuanya memang masuk akal, saya curiga dia juga cukup sering dapat tugas bejibun dari dosennya. Ha ha ha. Kali ini, saya mau menjawab pertanyaan tersebut tapi versi yang agak universal. Tugas saya ganti sebagai pekerjaan agar tidak merucut hanya kepada tugas pelajar. Mungkin bisa sesederhana pekerjaan membaca, menimba air di sumur, atau membeli gas LPG 3 KG.

Hasil dan Pembahasan

Dalam melaksanakan sebuah pekerjaan, apapun itu, ada dua hal yang bisa kita pilih. Dua pilihan ini juga berpengaruh pada tenggat waktu dan kesiapan orang yang akan melakukan pekerjaan tersebut.

1. Langkah Pertama

Jika tenggat waktunya panjang dan si pekerja merasa mampu melakukan pekerjaan dengan cepat, ada dua hal yang bisa ia pilih. Fokus kepada pekerjaan atau menikmati pekerjaaan. Ini dua hal yang berbeda, namun tujuannya tetap sama: menuntaskan pekerjaan.

1.1 Fokus Kepada Pekerjaan

Subpoin pertama ini biasanya digunakan orang yang tidak mau membuang waktu percuma. Ia lebih memilih fokus kepada pekerjaan ketimbang menikmatinya. Maksudnya, ketimbang mengerjakan tugas dengan mendengarkan lagu, ia lebih memilih mengerjakan tugas dengan keadaan hening sehingga mengurangi faktor yang bisa membuatnya terdistraksi.

1.2 Menikmati Pekerjaan

Berbanding terbalik dengan subpoin pertama, subpoin kedua lebih menikmati pekerjaan. Seperti contoh yang saya jabarkan diatas, pekerja ini lebih memilih menikmati pekerjaaan dengan misalnya mendengarkan lagu sambil mengerjakan tugas sehingga disela-sela waktu ia bisa ikut bernyanyi untuk mengusir rasa capek.

Saya sendiri menggunakan cara ini dengan menonton sinetron Awas Banyak Copet dan Preman Pensiun 4 sehingga saya tidak melulu fokus kepada tugas, namun bisa sekalian menikmati serial tersebut. Untungnya juga, dua serial itu mengandalkan dialog sehingga saya tidak mesti terlalu fokus kepada visual. Saya masih tetap bisa nyatat sambil mendengarkan percakapan, terus bisa sesekali menengok visualnya.

2. Langkah Kedua

Poin kedua adalah jika tenggat waktu yang diberikan sangat mepet sehingga pekerja mau tidak mau mesti menggunakan opsi dari subpoin poin 1: fokus kepada pekerjaan. Jika berada dalam poin ini, saya biasanya mengantisipasinya dengan dua hal. Pertama adalah tidak menunda tugas terlalu lama dan kedua adalah tidak bergantung kepada orang lain.

2.1 Tidak Menunda Tugas Terlalu Lama

Sebagai masyarakat Indonesia, sepertinya ini sudah jadi kebudayaan. Menunda pekerjaan dengan dalih "ah, sebentar juga bisa" atau "kayaknya nonton satu video dulu bisa nih". Memberikan reward kepada diri sendiri memang penting. Misalnya sudah mengerjakan tugas selama 45 menit - 1 jam, kita bisa memberi reward dengan menonton 1 episod drakor atau video YouTube sebagai masa istirahat.

Tapi jika memberi reward sebelum mengerjakan apa-apa, itu namanya panjar. Atau misalnya, rewardnya malah lebih lama ketimbang mengerjakan tugas. Itu mah rebahan dengan reward ngerjain tugas. 

Menunda tugas sampai dihari H memang baik. Ada semacam psikologi bahwa mengerjakan tugas disaat mepet membuat otak lebih encer dan kreatif. Tapi bagaimana kalo bertabrakan dengan tugas yang lain. Saya sebisa mungkin menyicil tugas yang waktunya masih agak lama, agar jika ada tugas baru tidak terlalu membuat pusing.

2.2 Tidak Bergantung Kepada Orang Lain

Mungkin sudah menjadi kebiasaan untuk menggantungkan pekerjaan kepada orang lain. Saya juga termasuk salah satu golongan itu, dulu. Apalagi jika merasa tugas itu kelewat sulit dan saya membutuhkan bantuan orang lain. Saya bisa kacau dan stres sendiri.

Ada dua cara yang saya gunakan untuk menghindari hal ini. Pertama adalah dengan mandiri dan yang kedua adalah tidak bergantung pada satu orang saja.

2.2.1 Mandiri

Hal ini yang memang sangat disarankan. Ketika bergantung kepada orang lain, siap-siap saja kecewa jika tidak sesuai dengan ekspektasi. Misalnya kita sedang ditugaskan mengerjakan pekerjaan yang cukup sulit untuk dikerjakan sendiri sehingga kita membutuhkan bantuan orang lain untuk bekerja kelompok. Namun, anggota kelompok sama sekali tidak peduli dan membebankan tugas itu kepada kita.

Langkah yang diambil biasanya cuma ada dua: bodo amat juga atau mengerjakan sendiri. Jika bodo amat sudah tentu pekerjaannya tidak akan selesai. Jika mengerjakannya sendiri pertanyaannya cuma satu: apakah kita rela? kalo iya, (dalam konteks tugas sekolah) apakah kita rela membiarkan orang itu mendapatkan nilai yang sama atau tidak?

2.2.2 Tidak Bergantung Kepada Satu Orang

Langkah berikutnya adalah tidak bergantung kepada satu orang saja sehingga kesempatan untuk dibantu bisa lebih besar. Ini sebenarnya saran yang tidak dianjurkan namun jika benar-benar tidak paham atau ngerti dengan pekerjaannya, hal ini bisa dilakukan guna untuk menyelesaikan pekerjaan tersebut.

Misalnya waktu itu saya meminta bantuan kepada Teman 1 untuk Matkul Bahasa Jepang, namun karena mereka punya beban moril terhadap syarat tugas yang diberikan, saya menghargai keputusan yang mereka ambil. Saya beralih ke Teman 2 (atau teman yang lain) untuk meminta bantuan. Dikasih? Pada waktu itu, iya, karena konteksnya meminta bantuan, bukan jawaban.

Kesimpulan

Dari dua poin tersebut, kita bisa melihat berada diposisi manakah kita. Setelah menelaah hal itu, kita bisa memetakan mau mengambil opsi yang mana yang akan kita ambil. Dari langkah yang kita ambil itu, bisa mempermudah kita dalam mengerjakan pekerjaan sehingga hanya ada dua kemungkinan cepat selesai atau selesai tepat.

Dari opsi yang kita ambil, itu juga bisa menentukan apakah kita mau mengerjakan sesuatu dengan fokus atau menikmatinya. Sebenarnya bisa dua-duanya, tapi saya rasa itu tidak mungkin bisa dilakukan semua orang. Fokus artinya memusatkan pikiran dan tenaga hampir 100% kepada pekerjaan sementara menikmati pekerjaan adalah bekerja dengan menikmati tiap menit pekerjaan tanpa terkesan diburu oleh waktu.

Daftar Pustaka

Bagaimana agar tugas cepat selesai?. (2021). Diakses 09 Februari 2021 dari situs Quora: https://qr.ae/pN3N9Q
Pengalaman Pribadi. (2008-2021). Diakses 09 Februari 2021 dari otak dan memori sendiri

Tulisan ini memang sengaja dibuat seperti jurnal dan makalah. Sepertinya, kepala saya masih terbiasa dengan hal ini. Ha ha ha. Tapi pembahasannya tetap saya tuliskan secara ringan dan mudah-mudahan bisa dimengerti.

Related Posts

12 comments

  1. Hul, berasa lagi baca laporan penulisan pas baca tulisan ini 🤣. Langsung berpikir apa aku salah masuk blog apa begimana 🤣. Menarik banget konsep dari observasi absurd kali ini wkwkwk

    ReplyDelete
    Replies
    1. Ini draf tulisan lama kak Lia. Pas lagi masih sibuk tugas. Makanya kebawa-bawa. Ha ha ha. Terimakasih kak Lia, mudah-mudahan dimengerti

      Delete
  2. Subhanallah, saya sampai lupa gimana ngerjain tugas waktu kuliah dulu :))

    Emang deadline itu bikin pecutan iman dan taqwa untuk segera membuat tugas kampus. Selain itu, kayaknya ga ada T.T

    ReplyDelete
    Replies
    1. Sekalian diingatkan dengan tulisan ini mas Andie. Ha ha ha.

      Iya, memang ada benarnya mas Andie

      Delete
  3. Baru saya mau komentar, kenapa formatnya ala makalah begini. Ternyata memang disengaja 🤣 dan ini mengingatkan saya pada zaman kuliah dulu... disuruh nulis laporan makalah begini nyerah dehh 😭

    Eniwei, menunda pekerjaan itu saya banget wkwkwk cuma sekarang udah tobat kok, sejak menggunakan sistem to-do list hanya mengerjakan 3 prioritas dalam sehari, saya udah jarang procrastinate hahaha

    Ngomongin soal konten diskusi Quora, memang banyak banget yang menarik di sana. Bahkan tema receh sehari-hari kayak gini aja banyak yang memberikan jawaban kece-kece. Sekarang Quora itu andalanku kalau lagi butuh ide nulis 😆

    ReplyDelete
    Replies
    1. Sebenarnya asik, kalo tidak ada syarat mesti ilmiah. Saya paling ngga bisa nulis ilmiah. Ha ha ha.

      Nah, saya juga baca tulisan kak Jane soal itu. Menetapkan tiga prioritas utama setiap hari kayaknya jadi program yang bagus untuk orang yang sering keteteran dengan deadline.

      Saya udah jarang main, tapi kalo ngecek imel dan nemu buletin menarik, saya ngga tahan pengen baca juga. Jawaban di sana memang keren-keren

      Delete
    2. Aku juga buka quora klo lg butuh ide nulis salah satu adegan di novel. Biasanya disana suka ada aja yg nyambung yg bisa jd masukan cerita di novel 🤣

      Tp klo yg email, dulu aku kaya mas rahul, pas ada yg menrik masuk ke email jd ga tahan buat ga nge klik. Akhirnya skrng aku unsubcribe aja biar ga masuk iklanny ke email 😆😅

      Delete
    3. @Thessa: saya pernah baca hal itu diblog kak Thessa. Orang-orang di Quora memang punya cerita-cerita yang menarik. Apalagi kalo nemu thread yang cocok.

      Saya malah senang, kalo buka imel jadi ada pertimbangan untuk bacaan baru. Jadi ngga melulu dari reading list blog, tapi dari banyak hal

      Delete
  4. Oot dr isinya, salah fokus soalnya sama gambarnya. Jd Mas Rahul asrama Gryfindor nih? Hehehe.. Salam dr aku yg Slyterin 🤣🤣

    ReplyDelete
    Replies
    1. Wah, kak Thessa dari Slytherin yah? Salam. Nanti kita nongkrong pas kelar kelas Ramuan-nya Prof. Snape

      Delete
  5. dari post lama kak Rahul yang pernah sebutin nama Quora, aku udah penasaran, tapi sampe sekarang belum aku kepo-in hahaha
    kesentil sama point menunda pekerjaan, sampe sekarang pemikiran kayak gitu masih menghantui terus. intinya seperti menganggap remeh kerjaan, halah nanti 10 menit juga selesai, ehhh bisa seharian ternyata ga selesai selesai karena disambi sama pekerjaan yang lain.
    jadi memang kudu tau prioritas utama, kerjaan yang bisa dipending sebentar, atau kerjaan mana yang bener bener urgent

    soal kerja kelompok, zaman sekolah pasti pernah mengalami kejadian kayak ini. apalagi kalau dapet temen kelompok yang males, dia nya nggak ngapa-ngapain, maunya terima beres, jadi temen lainnya yang usaha mikir keras buat ngerjain tugas itu.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Cara kak Jane itu sudah cukup baik, ngerjain tiga prioritas utama dulu, baru setelahnya ngerjain yang lain. Saya sendiri juga udah lama ngga main Quora, paling kalo ada imel yang masuk baru dibuka lagi.

      Kalo istilah main game, namanya beban. Tapi setidaknya yang digame tetap usaha, yang kerja kelompok kadang ngga ada usahanya. Ha ha ha

      Delete
Terimakasih sudah membaca. Sila berkomentar terkait tulisan ini.