zsnr95ICNj2jnPcreqY9KBInEVewSAnK0XjnluSi

Film 'Soul' Adalah Manual Book dari Fase Pascaremaja

Sejak penayangannya, film Soul rame dibicarakan karena temanya yang cukup menyentil. Beberapa Blogger bahkan menuliskan tentang film ini. Mulai dari kak Rey sampai kak Endah. Setelah dua minggu lebih terbit di Terminal Mojok, akhirnya saya bisa nayangin tulisan ini diblog saya. Selamat membaca.


Pernahkah kalian menonton atau membaca satu buku dan berpikir setelahnya,"kayaknya ini menceritakan diri saya, deh". Memang, itu ada teorinya. Bagaimana membuat premis dan cerita yang punya relasi dan kebetulan karakter atau jalan ceritanya punya relasi. Tapi lebih jauh dari itu, saya cuma ingin bilang persetan lah dengan teori. Menonton film Soul ibarat melihat diri sendiri.

Film 'Soul' Adalah Manual Book dari Fase Pascaremaja
Sejauh ini, film Disney Pixar memang jarang tidak berhasil bikin saya nangis. Setidaknya bikin saya mikir dan feeling empy. Mulai dari seri Toy Story yang jadi favorit saya dan mungkin semua orang, atau bahkan yang cukup baru Coco, yang masih sempat saya saksikan di Bioskop. Sedih, tidak pernah seberjamaah itu.

Hal yang sangat disayangkan dengan Soul yang hanya bisa disaksikan dilayar hape, laptop, atau paling banter dilayar televisi. Untung-untung kalo punya proyektor untuk nonton bareng. Saya benar-benar rindu nonton ke Bioskop.

Saya tidak akan banyak bicara struktur ceritanya. Saya cuma mau bahas bagaimana film Soul membuat pertanyaan dan menjawab pertanyaan yang merefleksikan diri saya. Sehingga, seperti judul dan kalimat pembuka tulisan ini, saya seperti melihat diri saya dalam film ini.

Percaya Passion

Dulu waktu awal saya mulai senang bercerita dan mulai membuat blog, cita-cita besar saya adalah menjadi penulis terkenal. Untung-untung jika menerbitkan buku. Seiring berjalannya waktu, usia membuat saya jauh lebih mawas diri. Tentu ini bukan dari bentuk menyerah. Saya tidak menyerah. Cita-cita itu masih ada, bedanya saya tidak sengoyo dulu.

Saya pernah cerita tentang seorang teman yang bertanya, kenapa saya tidak menjadikan menulis sebagai tempat saya berbisnis. Itu istilah dia yang sedang nyemplung di dunia bisnis. Padahal bisa saya sederhanakan sebagai kenapa tidak menjadikan profesi penulis sebagai tempat cari uang?

Jawaban saya saat itu, bahkan sampai sekarang, saya belum bisa memetakan urusan kesenian dan bisnis. Menurut saya, menulis itu kesenian. Hobi yang saya senangi. Bisnis jauh lebih serius dari itu melibatkan hal duniawi bernama uang. Ada banyak hal yang saya korbankan, dan hal itu tidak worth it bagi saya jika harus memperjuangkan hal itu.

Lebih baik menjadikan hal ini sebagai hobi saja dan mencari uang dari hal yang lain, ketimbang mesti mengikuti hal yang tidak saya sukai untuk hal yang saya senangi. Saya sebenarnya tidak bisa menulis atas desakan diluar diri saya. Kadang, saya berpikir untuk apa menyia-nyiakan waktu untuk menulis hal-hal ini.

Tapi kadang-kadang saya masih bisa menemukan kesenangan kecil dari sana. Blog ini misalnya, adalah tempat saya bereksperimen. Dulu saya kebanyakan nulis diary atau jurnal (sekarang juga masih sebenarnya), sekarang saya lebih senang nulis hal-hal lain. Ketika orang menyebut itu esai, saya bertanya didalam hati,"oh, itu esai yah?"

Film Soul mengangkat isu ini dalam tokoh Joe Gardner, seorang guru les musik yang senang dengan jazz. Joe ini bisa dibilang sangat passionate dengan musik jazz. Namun karena beberapa faktor, ia malah meninggalkan hal yang ia cintai. 

Hal internal dalam diri Joe merasa ragu bahwa jazz bisa membuatnya hidup. Makanya, disela-sela menjadi guru les musik sebagai pekerjaannya, ia masih punya impian menjadi musisi jazz. Kecintaan ini datang dari masa kecil bersama Ayahnya, ketika memainkan musik, Joe merasa sedang tidak berada di tempat tersebut.

Hal eksternalnya datang dari desakan Ibu dan orang-orang terdekatnya yang merasa bahwa jazz sendiri tidak bisa membuat Joe hidup. Hal ini juga yang membuat Joe semakin meragukan, apakah ia mesti meninggalkan kecintaannya pada musik dan fokus pada kehidupannya. Menjadi guru les musik adalah pekerjaan yang selama ini masih membuatnya hidup.

Joe digambarkan hidup dalam apartmennya sendiri ketimbang tinggal bersama Ibunya. Padahal, Joe belum mempunyai pasangan atau bahkan calon. Ini bisa mengindikasikan bahwa seperti orang-orang yang memasuki fase ingin mandiri, Joe memilih hidup sendiri dengan dalih apa yang ia senangi bisa menghidupinya.

Saya melihat diri saya di sana. Masuk ke jurusan Sastra Indonesia karena merasa hal yang saya sukai adalah bercerita. Kebetulan Sastra Indonesia adalah yang paling dekat dan masuk akal. Sempat membuat Ibu saya kecewa karena pilihan saya hingga tidak ingin sekalipun membebaninya terkait biaya sampingan seperti buku pendamping yang mesti dibeli.

Makanya, saya bukan tidak percaya dengan passion. Tai kucing lah dengan passion kalo misalnya saya masih belum bisa bikin dapur ngebul. Tai kucing lah dengan passion kalo keluarga dan orang terdekat saya masih kelaparan. Beberapa orang dibekali dengan privilage yang bisa mengejar hal itu tanpa perlu merasa takut. Kebetulan, saya bukan orang yang punya privilage itu.

Mengejar Ego

Dalam film Soul, transisi dari perkenalan menuju konflik adalah ketika Joe terjatuh ke dalam sebuah lubang dan memasuki realitas alam bawah sadar. Istilah dalam film, Joe sedang diambang kematian. Namun Joe tentu saja menolak keras takdir kematiannya, apalagi ia terjatuh ketika hendak pulang bersiap-siap menjalani hal yang sudah lama ia nantikan: menjadi musisi jazz.

Perjalanan panjang akhirnya membawa Joe kembali ke realitas kehidupan. Ia sampai ke club Jazz milik Dorothea dan berhasil membuat ia percaya bahwa ia dilahirkan untuk bermain musik. Dengan alasan yang begitu kuat, Dorothea mengijinkan Joe untuk menjadi pianis dalam pentas klub malamnya.

Ketika tampil, Joe sangat menikmati penampilannya. Ia masih menjadi orang yang sama ketika dulu memainkan musik jazz. Bahkan, ia makin bersemangat ketika Ibunya datang untuk memberi dukungan dan menikmati bagaimana apa yang dicita-citakan Joe selama ini tercapai. Namun setelah penampilan itu, Joe merasa ada yang salah. Ia merasa kosong dan seakan-akan impiannya berada diujung antiklimaks.

Ia bertanya kepada Dorothea,"Berikutnya apa?"

"Kita kembali besok malam dan tampil lagi," kata Dorothea.

Joe terdiam. Dorothea bertanya,"Kenapa Pak Guru?"

"Aku sudah menunggu hari ini dari seumur hidupku," kata Joe.

Dorothea masih menunggu Joe berbicara.

"Aku pikir akan berbeda."

Itu adalah adegan yang paling membekas untuk saya. Saya ingat tahun 2019, saat cerpen pertama saya dimuat dikoran lokal. Impian saya untuk membuat buku, saya perkecil menjadi hal-hal yang saya pikir bisa saya raih. Meski tidak terlalu ingin menerbitkan cerpen itu, saat dapat kabar cerpen itu akan naik cetak saya juga ikut bahagia. Itu pengalaman pertama saya untuk bisa menerbitkan cerita pendek dimedia cetak.

Setelah itu, sama seperti Joe, setelah sekian lama menunggu, saya pikir akan berbeda. Ternyata sama saja. Saya masih ada di Bumi, bangun pagi dan minum kopi. Masih jadi mahasiswa yang dapat uang jajan dari orangtua. Tidak membuat hidup saya berubah. Toh, sama saja. 

Dorothea memberi anekdot tentang ikan kecil yang bertanya kepada ikan tua bahwa ia ingin mencari apa yang orang sebut dengan lautan. Ikan tua mengatakan bahwa tempat kau berada adalah lautan. Ikan kecil menjawab ini adalah air. Ikan kecil tetap bersikukuh,"Aku ingin lautan."

Related Posts

8 comments

  1. Rahul tahu nggak, semenjak aktif di dunia blog, aku malah ingin belajar bahasa Indonesia yang lebih baik lagi, sempat kepikir kenapa dulu nggak ambil sastra indonesia saat kuliah πŸ˜‚. Sekarang aku nggak heran kenapa kosakata dan susunan kalimat Rahul tuh bagus 😁
    Kapan-kapan kayaknya boleh bikin tulisan tentang belajar apa aja di jurusan sastra Indonesia, I would love to read it 😁

    Eh, jadi OOT deh komentar kali ini πŸ˜‚ maafkan yak πŸ™ˆ.

    Aku setuju kalau film Pixar nggak pernah nggak bikin nangis, bahkan adegan ending di film Soul ini sukses bikin air mataku netes terus saking sedihnya 😒.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Belajar bahasa, atau apapun itu bisa di mana saja sebenarnya kak Lia. Bedanya, kalo di dunia kuliah ada yang ingin dicapai atas nama kurikulum. Saya belum kepikiran untuk nulis itu. Untuk kosa kata, saya malah punya teman yang anaknya sangat KBBI. Apa-apa mesti sesuai ejaan. Saya mah apa atuh, standar saya cuma kalo saya ngerti harapan saya tulisan saya juga bisa dimengerti yang baca.

      Film Soul itu, adalah film kedua yang akan saya tonton setidaknya sekali setahun saking bagusnya

      Delete
  2. Ya ampun keren banget cerpennya mas Rahul bisa naik cetak di koran lokal T_____T walaupun telat, aku ucapkan selamaaat~~~ semoga nanti mimpi menjadi penulis terkenal beneran terwujud.

    Setelah nonton film Soul jadi agak kalem dikit ya menjalani hidup wkwkwkwk dulunya bener-bener kayak ngoyo banget sampai capek sendiri. Apalagi kalau dihadapkan dengan saran teman yang seperti mas Rahul ceritakan...hhhhhh asli lah. Malah jadi pusing sendiri. Terus lama-lama yaudah lah pelan-pelan aja yang penting diusahakan dan tidak membuat stres. Kalau udah jalannya nanti pasti dapat juga. Yang penting menikmati hidup yang dipunya saat ini dulu.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Terimakasih sebelumnya kak Endah, tapi itu sudah tidak lagi jadi mimpi. Cuma bagian kecil dari gairah kehidupan. Ha ha ha.

      Iya, sekarang hidup yah nikmatin hari ini saja. Kalo terlalu ngoyo terus besoknya mati, kasian juga

      Delete
  3. Sama kayak Lia, aku juga sejak aktif dengan blog jadi mikir kenapa dulu ga ambil jurusan Sastra Indonesia aja yaa? πŸ˜…

    Aku belum juga nonton Soul, tapi setuju banget soal film-film Pixar yang ga pernah bikin ga nangis, atau minimal feeling empty setelah nonton. Aku ngerasain itu waktu habis nonton Toy Story 4 dan Wall-e.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Ngga perlu ambil jurusan Sastra Indonesia sih kalo kata saya. Kak Eya kayaknya cocok kalo ngambil Sastra Jepang, sesuai hal yang kak Eya suka.

      Kalo niatnya mau belajar nulis, ngga perlu kuliah dijurusan Sastra juga ngga masalah. Tidak ada standarnya juga.

      Tontonlah kak Eya. Ini rekomendasi langsung dari saya, tanpa perpanjangan tangan siapapun atau pesanan dari manapun

      Delete
  4. Film Soul ini sudah jadi masuk list untuk Syifana tonton sejak Kak Rahul bilang di komen waktu itu. Sudah sempat nonton, tapi belum selesai. Rencananya akan nonton dari awal lagi, tapi setelah semua "urusan" Syifana kelar. Biar lebih fokus aja. Hahaha 🀣

    Syifana jadi mikir, apa iya kalau semua hal yang kita inginkan sudah tercapai, kita jadi tidak lagi merasa "terbakar"? Sangat menarik untuk didiskusikan.

    Lalu, menurut Kak Rahul sendiri apa makna anekdot yang diberikan oleh Dorothea?

    ReplyDelete
    Replies
    1. Itu film bagus untuk orang-orang yang baru atau sedang mencari eksistensi dirinya di dunia. Tontonlah, Syifana, meski sekali seumur hidup.

      Pertanyaan berat. Tapi mungkin, akan ada gairah lain yang membuat kita tertarik.

      Kalo untuk anekdot, saya mikirnya kita ngga usah terlalu jauh berpikir untuk memeluk dunia. Memeluk orang di sekitar kita saja sudah cukup

      Delete
Terimakasih sudah membaca. Sila berkomentar terkait tulisan ini.